Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Usapan lembut telapak tangan Dayang yang merata di atas perutnya membuat otot-otot perut Rimba mendadak menegang kaku.
Jantung sang CEO berdetak begitu kencang hingga dadanya naik turun tak beraturan.
Belum pernah ada perempuan yang menyentuhnya dengan cara sesederhana dan setulus ini.
Sensasi hangat minyak kayu putih yang menjalar di kulitnya membuat akal sehat Rimba buyar seketika.
Karena terlalu gugup menahan desiran aneh di dadanya, jemari tangan kanan Rimba refleks mencengkeram pinggiran bale-bale kayu hingga berderit pelan, disusul napasnya yang terengah halus.
Gerakan kecil itu tak luput dari penglihatan tajam Dayang.
Jemari Dayang yang tadinya mengusap perut Rimba seketika terhenti.
Matanya menajam memperhatikan lipatan dahi dan kelopak mata pria di hadapannya yang sedikit bergetar.
"Eh? Mas?" panggil Dayang pelan, menarik kembali tangannya dan dengan sigap menurunkan kembali kaos biru yang melilit perut Rimba.
Sadar penyamarannya hampir berantakan akibat reaksinya sendiri, Rimba mengerjapkan matanya perlahan.
Ia berpura-pura linglung, menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sembari melenguh pelan seolah baru saja melintasi batas antara pingsan dan sadar.
"Ugh," Rimba memegangi pelipisnya, berusaha keras menampilkan raut wajah ringkih yang siap memancing rasa iba.
"Saya, ada di mana?"
Dayang menatapnya intens selama beberapa detik, memastikan pria itu benar-benar sudah sadar.
Aura ketegasannya sedikit melunak saat melihat sorot mata Rimba yang dibuat-buat tampak rapuh.
"Mas ada di bedak belakang lapak ikan saya, di Pasar Matahari," jawab Dayang tenang seraya meraih gelas teh hangat dari meja kayu.
"Mas tadi pingsan di depan lapak. Jangan mendadak duduk dulu, rebahan aja dulu sebentar."
Rimba memosisikan tubuhnya bersandar pelan pada dinding papan kayu, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan kecil yang berbau kayu kering dan rempah.
Ia menatap kaos biru pudar yang kini melekat di tubuhnya, lalu beralih menatap gadis cantik bercelemek hitam di depannya.
"Minum dulu nih, teh hangat manis. Biar perutnya nggak kram," sodor Dayang sembari mengulurkan gelas beruap itu.
Rimba menerima gelas tersebut dengan jemari yang dibuat sedikit gemetar.
Saat bibirnya menyentuh pinggiran gelas seng tua itu, rasa manis dan hangat teh melintasi tenggorokannya, membasahi kerongkongannya yang memang terasa kering.
"Terima kasih." bisik Rimba dengan suara serak yang dibuat seolah-olah sudah tak bertenaga.
"Maaf, saya sudah merepotkan Mbak."
Dayang menarik kursi kayu kecil dan duduk di samping bale-bale.
Ia mengamati penampilan pria di hadapannya—garis wajahnya tegas dan tampan, bahunya tegap meski terbungkus kaos lusuh punya Jamal, dan tangannya... walau sedikit kotor, tak tampak seperti tangan pekerja kasar yang kapalan.
Namun, melihat raut wajah pucat dan mata Rimba yang memancarkan keputusasaan buatan, Dayang menepis keraguan kecil di hatinya.
"Nama Mas siapa? Kok bisa sampai pingsan kelaparan di lorong pasar begini?" tanya Dayang jujur tanpa basa-basi.
Rimba menunduk dalam-dalam, meremas gelas teh di genggamannya.
Ia menarik napas panjang, menyusun kebohongan yang sudah ia rancang matang-matang sejak dari dalam mobil mewahnya tadi.
"Nama saya, Bima, Mbak," bohong Rimba pelan, menyebutkan nama samaran yang mirip dengan nama aslinya.
"Saya perantau dari luar kota. Sudah seminggu ini saya cari kerja di kota ini tapi ditolak di mana-mana. Bungkusan baju saya dicuri orang kemarin lusa, saya belum makan dari kemarin pagi."
Rimba mendongak sedikit, menatap mata bening Dayang dengan raut memohon yang amat meyakinkan.
"Saya benar-benar nggak punya uang sepeser pun, Mbak. Saya cuma butuh kerjaan apa saja asal bisa makan."
Dayang terdiam mendengar penuturan itu. Hatinya yang sekeras baja terhadap orang kaya dan penindas, seketika luluh mendengar kisah penderitaan rakyat kecil yang berdiri di ambang kelaparan.
Di mata Dayang, pria bernama 'Bima' ini hanyalah nasib malang berikutnya yang dikirimkan ke hadapannya untuk ditolong.
Dayang menghembuskan napas panjang, menepuk pelan lututnya sendiri sebelum berdiri.
"Ya sudah. Mas istirahat dulu di sini sampai lemasnya hilang," ucap Dayang dengan nada bicara yang kembali tegas namun tak lagi dingin.
"Nanti ikut saya pulang ke rumah. Di pasar ini nggak ada tempat tidur yang layak buat orang sakit."
Rimba menatap Dayang dengan binar mata terkejut—kali ini bukan pura-pura.
Ia tak menyangka taktik penyamarannya akan berhasil secepat ini hingga membuat gadis preman pasar yang paling ditakuti itu mau menampung musuh besarnya sendiri di rumah pribadinya.
Dayang kembali ke lorong depan untuk menyelesaikan penjualan ikannya bersama Jamal.
Hanya dalam waktu satu jam, berkat kelincahan Dayang menimbang dan sorakan lantang Jamal yang meramaikan lorong, seluruh sisa udang vaname, cumi, dan ikan asap di meja seng laris manis tak bersisa.
"Ini buat kamu, Mal. Terima kasih sudah bantu dari tadi," ucap Dayang seraya mengulurkan beberapa lembar uang kertas hasil penjualan.
Mata Jamal berbinar gembira. "Wah, matur nuwun sangat, Mbak Dayang! Sering-sering saja pingsan itu mas-masnya, kalau rezeki saya jadi lancar begini!" seloroh Jamal diselingi tawa renyah.
Dayang hanya terkekeh pelan sembari menyapu sisa es batu dan menarik terpal tebal untuk mengunci lapaknya.
Usai membereskan barang, ia melangkah ke ruangan belakang tempat Rimba duduk menunggu di atas bale-bale.
"Ayo, Mas. Ikut saya," ajak Dayang tegas.
Rimba menganggukkan kepalanya pelan, berdiri berakting sedikit sempoyongan demi menjaga peran 'Bima' si pria malang yang masih lemas.
Mereka berjalan menyusuri pelataran pasar menuju area parkiran.
Rimba menahan napas saat Dayang menghentikan langkah di samping sebuah motor sport gagah berwarna hitam legam.
Tanpa ragu, Dayang naik ke atas jok tinggi, mengenakan helm full-face, lalu menyalakan mesin yang seketika meraungkan suara bass bertenaga.
"Naik, Mas," perintah Dayang dari balik kaca helmnya.
Rimba tertegun sejenak. Sang CEO raksasa yang biasa duduk santai di jok belakang mobil mewah berpendingin udara kini harus memanjat jok belakang sebuah motor sport becekan pasar.
Dengan agak canggung, Rimba menaiki jok tinggi tersebut.
Begitu motor melesat membelah jalanan pagi, kejutan tenaga dari mesin membuat tubuh Rimba terdorong ke belakang.
Refleks, kedua tangan Rimba langsung melingkar, memegang erat pinggang Dayang.
Jantung Rimba berdegup kencang di balik kaos lusuh kepunyaan Jamal.
Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya dibonceng oleh seorang wanita—yang tak lain dan tak bukan adalah musuh bebuyutannya sendiri yang kemarin baru saja melempar koper uangnya ke lumpur.
Aroma wangi alami tubuh Dayang bertiup menerpa penciumannya, membaur dengan dinginnya angin pagi.
Di tengah perjalanan membelah jalanan kota yang mulai ramai, Dayang sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.
"Mas, kita cari sarapan dulu ya," seru Dayang di balik helmnya, suaranya menembus deru angin.
Rimba yang masih terpaku memegang pinggang ramping gadis itu hanya bisa menyahut gugup,
"I-iya, Mbak." ucap Rimba.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂