Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHILANGAN SEKUTU
"Cassandra apa kamu juga merindukan ku, sayang," batin Erik, sendu .
Cassandra, wanita yang sangat Erik cintai, wanita masa lalu nya, yang sampai saat ini masih melekat di ingatan nya, walaupun dia terlahir kembali.
Entah kenapa tiba-tiba, wajah Kalyca muncul di ingatan nya, cara gadis itu menatap musuh nya dan caranya berbicara, semua nya terasa sama dan juga nyata,
"Kalyca? Cassandra? apa mungkin?" batin Erik tertegun.
Erik ingat pertama kali dia bertemu dengan Kalyca, tatapan mata gadis itu terasa sangat familiar.
"Aku harus menyelidiki nya, kalau dia benar-benar Cassa, aku tidak akan melepaskan nya," batin Erik, dengan sorot mata penuh kerinduan.
Di waktu yang sama, saat ini Charlotte sedang berada di istana kerajaan Zafira, wanita paruh baya yang sudah di butakan dengan dendam dan kekuasaan itu sedang menghadap Raja Hector Zafira.
"Yang Mulia, Anda harus mendengarkan saya. Kerajaan Veldora baru saja melakukan tindakan sewenang-wenang! Mereka membunuh putri mahkota tanpa belas kasihan!" seru Charlotte dengan suara serak, napasnya memburu menahan amarah dan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Raja Hector mengangkat sebelah tangannya, menghentikan kalimat Charlotte dengan ekspresi tanpa iba, pria itu sudah mendengar tentang eksekusi yang dilakukan oleh kerjaan Veldora, atas perintah Grand Duke Erik Klaus yang di setujui oleh Raja Veldora.
"Kami sudah mendengar beritanya, Nyonya Charlotte, dan justru karena berita itulah, kehadiran Anda di sini sekarang adalah sebuah kesalahan besar," ucap Raja Hector, dingin.
Charlotte tertegun, matanya membelalak lebar, mendengar ucapan penguasa di depan nya itu.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Kerajaan Zafira berjanji akan mendukung aliansi kita untuk menjatuhkan Veldora!" ucap Charlotte, keras.
"Kesepakatan itu dibuat saat Anda menjanjikan kemenangan dan situasi yang terkendali, bukan saat Anda membawa malapetaka dan menjadi buronan paling berbahaya," ucap Pangeran Roland, putra mahkota Zafira, yang berdiri di sisi sang ayah dengan wajah kaku nya.
"Seluruh kerajaan tahu siapa Grand Duke Erik Klaus. Pria itu adalah monster berdarah dingin di medan perang, hanya orang bodoh yang berani mencari gara-gara dengannya?" lanjut Pangeran Roland, tegas.
"Kalian pengecut!" maki Charlotte, marah.
"Kalian takut pada Erik Klaus hah?!" bentak Charlotte, dengan wajah memerah padam.
"Bukan takut, Charlotte, tapi kami tahu diri," jawab Raja Hector, penuh penekanan.
"Kerajaan Zafira tidak akan sudi terseret dalam kehancuran hanya demi membalaskan dendam pribadi Anda yang gagal merencanakan kudeta. Mulai hari ini, aliansi kita batal. Bantuan pasukan yang Anda minta tidak akan pernah ada!" lanjut Raja Hector, tegas.
"Kalian tidak bisa melakukan ini pada ku!" teriak Charlotte histeris, melangkah maju namun langsung dicegah oleh dua prajurit pengawal istana.
"Pengawal! Usir wanita ini dari istana kami! Dan pastikan tidak ada satupun rakyat atau prajurit Zafira yang berani memberikan tempat persembunyian untuknya. Kita tidak boleh memancing amarah Veldora dan Grand Duke Erik!" titah Raja Zafira tegas.
"Baik, Yang Mulia!" seru para pengawal serempak.
"Lepaskan aku! Brengsek kalian semua! Pengkhianat!" maki Charlotte meronta-ronta saat dua pengawal istana, menyeret tubuhnya yang masih terluka keluar dari aula utama tanpa ampun.
"Kalian semua akan menyesal! Kerajaan Zafira akan hancur di tanganku!" jerit Charlotte terus memberontak, suaranya perlahan menghilang seiring langkah seretan yang membawanya keluar dari gerbang istana.
BRAKKK
Tubuh Charlotte dilemparkan begitu saja ke luar gerbang utama Istana Zafira, wanita berambut putih itu meringis kesakitan, luka-luka di balik perbannya kembali berdenyut hebat akibat.
"Sialan! Sialan kalian semua!" geram Charlotte dengan napas terengah-engah.
"Dengar baik-baik, wanita tua! Jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di sekitar wilayah Zafira, atau kepala-mu sendiri yang akan kami serahkan langsung ke hadapan Grand Duke Erik!" ancam komandan pengawal istana dari balik gerbang tinggi.
"Kalian pikir dengan mengusirku, kalian bisa lolos? Bodoh! Tanpa bantuan pasukan kalian pun, aku masih punya cara lain untuk membumihanguskan Veldora!" teriak Charlotte, tertawa terbahak-bahak.
Di tengah amarahnya yang membara, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri tepat di hadapan Charlotte.
"Wah, wah, pemandangan yang sangat menyedihkan untuk seseorang yang dulunya begitu diagungkan," ucap sebuah suara suara dingin dan penuh cemoohan dari sosok bertudung hitam yang berdiri di sana.
Charlotte menyipitkan matanya, berusaha mengenali orang yang baru datang.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku!" tanya Charlotte, dingin.
Sosok itu perlahan membuka penutup kepalanya, memperlihatkan senyuman dingin nya.
"Tidak perlu tahu namaku, Nyonya, tapi aku adalah seseorang yang memiliki musuh yang sama denganmu, dan berniat memberikan apa yang sedang kamu butuhkan saat ini," ucap orang itu, dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Charlotte, mendengus curiga.
"Aku tahu Anda butuh kekuatan baru setelah sekutu pengecut mu ini mencampakkan mu," bisik sosok bertudung itu sambil melangkah mendekat, mengulurkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat.
"Cairan ini bisa memulihkan tubuhmu, dan segera bangkitkan jiwa kegelapan itu secara utuh, karena hal itu cukup untuk membuat Grand Duke Erik dan keluarga kerajaan Veldora bertekuk lutut memohon ampun," bisik orang itu, tersenyum miring.
Deg
"K-kamu-"
Ucap Charlotte lidahnya terasa keluh.
Orang itu hanya tersenyum miring, melihat wajah terkejut wanita di depan nya itu, dia bisa saja balas dendam langsung atas kematian ayah nya, tapi balas dendam menggunakan tangan orang lain, jauh lebih menarik.
"Apa yang kamu inginkan dari ku? Tidak mungkin kamu memberikan ini secara cuma-cuma?" tanya Charlotte, memicingkan matanya.
Orang bertudung itu tidak langsung menjawab, tapi tangan nya terkepal kuat dengan sorot mata berkilat tajam.
"Kebetulan musuh mu dan musuh ku sama, aku hanya ingin melihat mereka semua hancur, seperti yang mereka lakukan pada keluarga ku," jawab nya, dingin.
Charlotte mengangkat sebelah alisnya, dengan senyum miring yang tersungging di wajahnya.
"Dendam masa lalu rupanya," gumam Charlotte, mengangguk kan kepala nya, paham.
Orang itu tanpa banyak bicara lagi, langsung pergi dari sana sebelum ada orang yang mengenalinya.
Charlotte menatap botol kecil berisi cairan hitam pekat di genggamannya sesaat, lalu tanpa ragu membuka tutupnya dan meneguk isinya hingga tandas.
Cih...
Rasa pahit langsung membakar tenggorokannya, disusul sensasi panas yang menjalar luar biasa cepat ke seluruh pembuluh darahnya.
"Luar biasa, rasa sakit di tubuh ku benar-benar hilang, dengan begini aku bisa langsung membangkitkan dia," batin Charlotte tersenyum miring.
"Kali ini mereka tidak akan selamat, aku akan menghancurkan mereka semua, sampai menjadi debu," batin Charlotte, penuh percaya diri.
Tawa serak Charlotte mendadak pecah di, menggema menyeramkan, dengan cepat wanita itu pergi dari sana, dengan rencana busuk yang sudah tersusun di kepala nya.