Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Beberapa hari kemudian, Adrian memboyong Sasi kembali ke rumah utama.

Rumah mewah itu kini sudah benar-benar steril dan dibersihkan secara menyeluruh dari seluruh jejak keberadaan Fitria.

Tak ada lagi aroma atau barang yang tersisa dari wanita itu.

Secara simbolis, Adrian telah mengganti seluruh dekorasi kamar utama—mulai dari cat dinding, sprei, gorden, hingga perabotan baru yang dipilih khusus sesuai dengan ketenangan yang disukai Sasi.

Adrian ingin menghapus sepenuhnya trauma masa lalu Sasi sekaligus menegaskan posisi wanita itu sebagai satu-satunya nyonya rumah yang sah di rumah tersebut.

Sasi berdiri di tengah ruang utama, menatap sekeliling rumah besar itu dengan perasaan haru yang membuncah.

Rumah yang dulu menjadi tempatnya tertekan dan penuh intrik, kini terasa begitu hangat, lapang, dan memancarkan rasa aman yang nyata di bawah naungan kasih sayang Adrian.

Adrian berjalan mendekat dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sasi dengan lembut lalu mendaratkan dagunya di bahu sang istri.

"Sudah siap bulan madu besok?" bisik Adrian mesra di dekat telinganya.

Sasi mengulas senyum manis dan menganggukkan kepalanya pelan.

Namun, ia kemudian membalikkan badan di dalam dekapan Adrian, menatap suaminya dengan binar mata penuh harapan.

"Tapi aku ingin bertemu dengan Ayah dulu, Mas." tutur Sasi lirih.

Adrian tersenyum hangat, mengusap pipi Sasi dengan ibu jarinya.

"Iya, sayang. Nanti sore kita ke rumah sakit untuk jenguk Ayah ya, sebelum kita berangkat esok hari."

Sasi menganggukkan kepalanya sambil menuju ke kamar.

Sore harinya, Adrian dan Sasi tiba di rumah sakit tempat ayah Sasi dirawat.

Kondisi kesehatan sang ayah sudah jauh membaik, namun raut wajah tua itu mendadak mengeras begitu pintu ruang rawat terbuka dan melihat Adrian melangkah masuk di belakang putrinya.

Sasi bergegas mendekati ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang kurus.

Sementara itu, Adrian berjalan perlahan dengan raut penuh penyesalan.

Di hadapan pria tua itu, Adrian merendahkan tubuhnya, berlutut tepat di samping ranjang dengan menundukkan kepala secara mendalam.

"Bapak, saya datang untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya," tutur Adrian dengan suara parau yang bergetar jujur.

"Saya sadar betapa buruk dan kejamnya saya memperlakukan Sasi selama ini karena kesalahpahaman dan manipulasi orang lain. Saya tahu maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus rasa sakit yang saya berikan pada putri Bapak."

Ayah Sasi membuang muka, dadanya naik turun menahan emosi yang membuncah.

Amarah seorang ayah yang tak terima buah hatinya disakiti terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam.

"Maaf?" ujar ayah Sasi dengan nada dingin dan menusuk.

"Kamu pikir hanya dengan kata maaf, rasa sakit anak saya bisa hilang?! Kamu membawanya ke rumahmu bukan untuk dibahagiakan, tapi untuk diinjak-injak! Kalau bukan karena Darren yang memberi tahu dan membantunya, saya tidak akan tahu betapa menderitanya anak saya di sana!"

"Ayah," sela Sasi pelan, air mata haru tergenang di pelupuk matanya.

Ia meraih jemari ayahnya yang gemetar, mengusapnya dengan lembut.

"Ayah, sekarang Mas Adrian sudah berubah."

Sasi menatap Adrian yang masih berlutut tulus di sampingnya, lalu kembali menatap sang ayah dengan senyum hangat yang yakin.

"Mas Adrian sudah menyelesaikan semuanya, Yah. Dia yang menyelamatkan aku, melindungiku dari orang-orang jahat itu, dan membawaku kembali ke tempat yang aman. Mas Adrian sudah membuktikan rasa cintanya dan benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik sekarang."

Mendengar kesaksian tulus dari putri kesayangannya, pertahanan dan amarah di wajah ayah Sasi perlahan melunak.

Pria tua itu menatap Sasi yang kini memancarkan binar kebahagiaan yang nyata—bukan lagi wajah ketakutan yang sering ia khawatirkan.

Ayah Sasi menghela napas panjang, menghembuskan beban amarah yang sempat memenuhi dadanya.

Pandangannya beralih menatap Adrian yang masih berlutut pasrah, menantikan penghakiman dengan kepala tertunduk.

"Berdiri, Adrian," panggil ayah Sasi dengan suara berat namun tak lagi sekeras tadi.

Adrian mendongak, lalu perlahan bangkit berdiri dengan penuh rasa hormat.

Ia menanti ucapan mertuanya dengan dada berdebar keras.

"Sebagai seorang ayah, sangat sulit bagi saya untuk melupakan air mata putri saya," ujar pria tua itu seraya menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.

"Tapi,melihat Sasi sendiri yang membela dan memercayaimu lagi. Saya akan memaafkanmu. Tapi ada satu syarat mutlak."

Adrian langsung mengangguk tanpa ragu. "Katakan, Pak. Apapun syaratnya, akan saya penuhi."

Ayah Sasi meraih tangan Sasi, lalu meletakkannya di atas telapak tangan Adrian, menyatukan jemari mereka berdua di depan matanya.

"Jangan pernah buat air mata penderitaan jatuh dari mata Sasi lagi," tegas ayah Sasi dengan raut wajah sangat serius namun sarat akan kasih sayang.

"Sekali saja saya mendengar kamu menyakiti, meragukan, atau membuatnya merasa sendirian lagi, saya sendiri yang akan mengambil Sasi kembali dari sisimu, tidak peduli seberapa kaya atau berkuasanya kamu."

Mendengar syarat itu, Adrian meremas lembut jemari Sasi.

Matanya berkaca-kaca menahan haru, merasakan bobot kepercayaan besar yang baru saja diserahkan kepadanya.

"Saya berjanji atas nama Tuhan dan hidup saya sendiri, Pak," ucap Adrian mantap dan tanpa rasa ragu sedikit pun.

"Saya akan menjaga, memuliakan, dan membahagiakan Sasi seumur hidup saya. Jika saya melanggarnya, saya rela kehilangan segalanya."

Ayah Sasi menatap kesungguhan itu, lalu perlahan mengulas senyum tipis yang lega.

Ia menepuk punggung tangan Adrian yang memegang tangan putrinya.

"Pegang janjimu," bisik sang ayah pelan.

Sasi tak sanggup lagi menahan rasa harunya.

Ia memeluk ayahnya erat-erat, meluapkan rasa syukur karena kehangatan keluarga yang sempat retak kini telah kembali utuh.

Adrian berdiri di samping mereka dengan senyum paling bahagia, tahu bahwa benteng terakhir penyesalannya kini telah berganti menjadi restu yang suci.

Setelah mendapatkan restu yang utuh dari sang ayah, suasana di dalam ruang rawat itu terasa begitu hangat dan lega.

Adrian memeluk mertuanya sekali lagi dengan penuh rasa hormat, menegaskan kembali janjinya sebelum mereka berpamitan untuk bersiap berangkat bulan madu ke Maldives keesokan harinya.

"Jaga kesehatan ya, Yah. Semua kebutuhan medis Ayah sudah diurus, dan Darren juga akan tetap memantau perkembangan Ayah di sini," tutur Sasi lembut seraya mengecup tangan sang ayah dengan mata berkaca-kaca penuh keharuan.

"Kalian hati-hati di jalan. Nikmati waktu kalian di sana dan pulanglah dengan bahagia," balas ayah Sasi tersenyum tulus, melepaskan kepergian putri dan menantunya dengan rasa tenang yang luar biasa.

Perjalanan kembali dari rumah sakit menuju rumah utama terasa begitu menenangkan.

Di dalam mobil, Adrian mengemudi dengan santai, sementara tangan kirinya tak pernah melepaskan genggaman jemari Sasi di atas pangkuan.

Keheningan yang tercipta bukan lagi canggung atau mencekam, melainkan diisi oleh rasa hangat dan lega yang merayap di dada mereka berdua.

"Terima kasih ya, sayang," bisik Adrian pelan saat berhenti di lampu merah, menoleh dan menatap Sasi penuh kehangatan.

Sasi menyunggingkan senyum manisnya. "Untuk apa, Mas?"

"Untuk kesabaranmu, untuk pembelaanmu di depan Ayah tadi, dan karena sudah memberi Mas kesempatan kedua untuk membahagiakanmu."

Adrian mengusap lembut punggung tangan Sasi sebelum menyatukan jemari mereka kembali.

Sasi menyandarkan kepalanya di bahu kiri Adrian dengan nyaman.

"Kita mulai semuanya dari awal ya, Mas. Tanpa rahasia, tanpa rasa takut lagi."

Tak lama kemudian, gerbang tinggi rumah utama terbuka menyambut kedatangan mereka.

Mobil meluncur mulus melintasi pekarangan yang kini tampak jauh lebih asri dan terang.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, beberapa pelayan menyambut dengan senyum tulus dan penuh hormat.

Aura rumah ini telah berubah sepenuhnya—luas, lapang, dan tak lagi menyimpan bayang-bayang kepalsuan.

Adrian menuntun Sasi menuju kamar utama di lantai dua. Ketika pintu kayu tebal itu dibuka, Sasi terpana pelan.

Pencahayaan kamar terasa sangat hangat, dihiasi sprei linen berwarna krem lembut dan aroma lavender yang menenangkan.

Tidak ada satu pun sudut yang mengingatkannya pada masa-masa kelam dahulu.

Di atas meja rias, terlihat koper-koper mereka yang sudah tertata rapi, siap untuk penerbangan menuju Maldives keesokan paginya.

Adrian merengkuh tubuh Sasi dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sasi yang wangi.

"Bagaimana? Kamu suka suasana kamar barunya?" gumam Adrian lembut.

"Suka sekali, Mas. Suasananya bikin tenang," balas Sasi seraya mengelus lengan kokoh Adrian yang memeluknya.

"Malam ini kamu harus istirahat total ya. Besok penerbangan kita cukup jauh," ujar Adrian seraya membalikkan tubuh Sasi agar berhadapan dengannya.

Pria itu menatap manik mata Sasi dengan sorot penuh cinta dan kepemilikan yang murni.

"Mulai malam ini dan seterusnya, rumah ini resmi milikmu, dan hati Mas sepenuhnya jadi milikmu."

Sasi tersenyum haru, berjingkat sedikit untuk mendaratkan kecupan hangat di pipi Adrian.

Adrian menyunggingkan senyum paling bahagia dalam hidupnya, lalu menarik Sasi ke dalam dekapan erat, siap menyongsong lembaran baru kehidupan mereka yang penuh cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!