Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Pertemuan Rahasia dengan Komisioner
Panggilan dari Ridwan Ananta datang pagi itu, singkat dan langsung seperti kebiasaan lamanya. "Satya bersedia bertemu. Sore ini, di rumah peristirahatan pribadinya di luar kota — bukan kantor, bukan tempat yang bisa diawasi mudah."
Raka mengecek jadwalnya sendiri, menghitung waktu yang semakin sempit. Malam ini pula, ia dan Bara seharusnya bersiap untuk infiltrasi ke Cendana esok malam, bersamaan dengan shift maintenance Dimas.
"Aku akan datang, Pak," jawabnya, memutuskan untuk mempercayakan persiapan teknis malam ini kepada Wulan dan Bara.
Rumah peristirahatan Komisioner Satya Prawira sederhana namun terawat rapi, jauh dari kesan kantor pemerintahan yang formal. Pria di depannya, berusia lima puluhan dengan sorot mata tajam yang tak pernah benar-benar rileks, menyambut mereka dengan sopan tapi waspada.
"Ridwan bilang ini menyangkut sesuatu yang besar," kata Satya, mempersilakan mereka duduk di teras belakang rumahnya yang menghadap kebun kecil. "Aku harap ini sepadan dengan risiko bertemu diam-diam seperti ini."
Raka menyerahkan folder yang sudah disiapkan — foto Setiawan, catatan soal Jenderal Wirawan, foto gelas beracun, dan ringkasan temuan Wulan soal Cendana Data Nusantara.
Satya membaca dalam diam, wajahnya semakin serius di setiap halaman, sampai berhenti lama di foto Wirawan.
"Aku pernah mendengar rumor soal kematiannya yang terlalu rapi," gumam Satya akhirnya. "Tapi rumor tanpa bukti hanya akan membuatku dipecat lebih cepat daripada membongkar apa pun, kalau aku bergerak gegabah."
"Kami mengerti itu, Pak," jawab Raka. "Karena itu kami di sini bukan untuk minta Anda bergerak sekarang, tapi untuk memastikan Anda siap bergerak begitu bukti yang lebih kuat kami dapatkan."
"Bukti apa yang kalian maksud?"
"Dokumen finansial dan kontrak dari Cendana Data Nusantara," jawab Ridwan, menjelaskan singkat rencana infiltrasi yang sedang disiapkan timnya. "Kalau kami bisa membuktikan aliran dana dan struktur kepemilikan yang menghubungkan Cendana langsung ke Wirawan, itu akan cukup kuat untuk dasar penyelidikan resmi."
Satya menyandarkan tubuhnya, menatap jauh ke kebunnya sendiri, mempertimbangkan risiko yang jauh lebih besar dari sekadar kasus korupsi biasa. "Kalau ini benar sebesar yang kalian gambarkan — jaringan bayangan yang dibangun perwira tinggi yang secara resmi sudah meninggal, menyusup ke infrastruktur data keamanan negara — ini bukan lagi kasus yang bisa ditangani lembagaku sendirian. Ini akan butuh koordinasi lintas lembaga, mungkin bahkan melibatkan pihak militer yang bersih."
"Kami mengerti," kata Raka. "Tapi seseorang harus menjadi langkah pertama, Pak. Dan kami membutuhkan seseorang di posisi Anda, yang cukup berani untuk menerima bukti ini tanpa langsung menguburnya demi keamanan kariernya sendiri."
Untuk sesaat, ketegangan di wajah Satya melunak sedikit, digantikan sesuatu yang menyerupai penghormatan. "Ridwan selalu tahu bagaimana memilih orang untuk didekati, bahkan setelah pensiun." Ia menatap Raka lebih lama. "Bawa aku bukti yang kau jelaskan itu, dan aku akan mulai menyiapkan tim internal tepercaya — diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun yang bisa membocorkannya lebih dulu. Tapi aku memberimu peringatan, Nak."
"Saya dengar, Pak."
"Kalau bukti yang kau bawa nanti tidak cukup kuat, atau kalau operasi kalian gagal dan malah membuat mereka lebih waspada, aku tidak akan bisa membantu lebih jauh. Aku hanya satu orang di dalam sistem yang jauh lebih besar dari diriku sendiri." Satya menutup folder itu, menyerahkannya kembali. "Simpan ini untuk sekarang. Aku tidak ingin ada jejak fisik yang menghubungkan kita, sampai waktu yang tepat."
Dalam perjalanan pulang, Ridwan menatap Raka yang duduk diam di kursi penumpang, pikirannya jelas masih berputar memproses semua yang baru terjadi.
"Kau khawatir soal operasi besok malam," kata Ridwan, bukan pertanyaan.
"Kita hanya punya satu kesempatan, Pak," jawab Raka. "Kalau Dimas gagal membuka celah yang ia janjikan, atau kalau ada sesuatu yang tidak kita perhitungkan di dalam sana, kita tidak hanya kehilangan bukti — kita mungkin kehilangan satu-satunya jalan menuju Komisioner Satya yang baru saja kita bangun dengan susah payah."
"Kau sudah terlatih untuk situasi seperti ini, Raka," Ridwan mengingatkan, nada suaranya kembali menjadi instruktur yang dulu membentuknya. "Ketakutan akan kegagalan itu wajar. Tapi jangan biarkan itu membuatmu ragu di saat yang paling kau butuhkan keyakinan penuh."
Raka menatap keluar jendela mobil, ke arah kota yang mulai menyalakan lampu-lampunya menjelang malam, menghitung jam yang tersisa sebelum operasi paling berbahaya yang pernah ia dan Bara lakukan sejak mereka "mati" tiga tahun lalu.
"Besok malam," gumamnya pada dirinya sendiri, "kita akan tahu, apakah semua ini cukup untuk menghentikan mereka, atau justru membuka perang yang lebih besar dari yang bisa kita bayangkan.