Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Bayangan di Meja Belakang
Aroma manis boba gula jawa di atas meja mendadak kehilangan kehangatannya. Cassandra terpaku menatap layar ponselnya, membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal itu dengan napas tertahan.
Di sampingnya, Narendra bereaksi dengan sangat tenang namun penuh perhitungan khas peretas ulung. Jemari tangan kanannya bergerak cepat mengotak-atik jam tangan pintarnya untuk memverifikasi koordinat sinyal geolokasi yang baru saja menyala.
"Jangan berbalik tiba-tiba, Cas," bisik Narendra dengan suara amat pelan namun menekan. "Tetap bersikap seolah kita lagi minum boba biasa."
Cassandra mengangguk pelan, mencoba menetralkan raut wajahnya seraya menggenggam erat sedotan plastik minumannya. Jantungnya berdegup kencang, beradu dengan ketegangan yang mendadak merayap di area outdoor kedai boba tersebut.
Melalui pantulan kaca jendela kedai yang berada di depan mereka, Narendra dengan cermat mengamati deretan pengunjung yang duduk di area belakang.
Seorang siswa pria berpakaian seragam SMA Garuda yang dilapisi jaket hoodie hitam tampak duduk sendirian di meja sudut dekat pot bunga besar. Siswa itu menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk mengusap layar ponselnya dengan gerakan jemari yang sangat cepat.
"Sinyal aktif itu terpancar tepat dari meja sudut dekat pot bunga," gumam Narendra seraya menyunggingkan senyum miring yang tipis. "Gue kenal sama struktur jaket dan bentuk sepatu kets yang dipakai cowok itu."
Cassandra melirik ke arah pantulan kaca jendela, mencoba mengenali sosok siswa yang dimaksud oleh Narendra. Mata cokelatnya membelalak pelan begitu menyadari identitas siswa berpakaian hoodie hitam tersebut.
"Itu kan... Bimo?!" panggil Cassandra terkejut, hampir tak percaya bahwa sang ketua kelas sendiri yang berada di balik pesan anonim di grup sekolah.
Narendra mengangguk perlahan, merangkul bahu Cassandra lembut seraya memberikan dorongan rasa tenang. "Bimo yang paling pertama menyebarkan isu pemanggilan Kepala Sekolah pagi tadi, Cas."
Narendra berdiri dari kursinya dengan santai, membawa gelas boba yang masih tersisa separuh di tangannya. Ia mengulurkan tangan kirinya pada Cassandra, mengajak cewek itu berjalan menghampiri meja sudut di belakang mereka.
Cassandra menyambut uluran tangan Narendra, menyatukan jemari mereka dengan erat di tengah rasa penasaran yang membuncah. Langkah kaki mereka yang teratur tidak memicu kecurigaan dari Bimo yang masih sibuk menunduk.
TAK!
Narendra meletakkan gelas bobanya tepat di atas meja Bimo dengan ketukan yang cukup nyaring. Bimo tersentak kaget, mendongak seketika dengan raut wajah yang berubah menjadi amat pucat pasih.
"Lagi asyik mengabari siapa di grup obrolan anonim, Bim?" tanya Narendra dengan nada santai seraya menyunggingkan senyum khasnya.
Bimo dengan panik berusaha mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket hoodie hitamnya. "Narendra... Cassandra...? Kalian kok masih di sini? Gue... gue cuma lagi nongkrong nunggu jemputan!"
Cassandra menggelengkan kepalanya pelan, menatap ketua kelasnya itu dengan pandangan penuh kekecewaan. "Kenapa lu tega melakukan ini, Bim? Kenapa lu yang menyebarkan dokumen fitnah itu di grup angkatan kita?"
Bimo menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kayu kedai. Masker ketenangan yang biasa ia tampilkan sebagai ketua kelas teladan runtuh seketika, berganti menjadi tatapan serba salah dan rasa penyesalan yang mendalam.
"Gue terpaksa, Cas," aku Bimo dengan suara lirih yang bergetar rapuh. "Akun anonim itu menghubungi gue dua hari lalu dan mengancam bakal menyebarkan rekaman kunci jawaban ujian semester milik gue kalau gue enggak menuruti perintah mereka."
Narendra menyandarkan tubuhnya pada tepi meja Bimo, menatap cowok di hadapannya dengan sorot mata yang penuh pengertian namun tetap tegas. "Siapa yang menyuruh lu menyebarkan dokumen itu?"
Bimo merogoh sakunya, lalu menyodorkan ponselnya yang menampilkan tangkapan layar percakapan anonim tersebut ke depan Narendra dan Cassandra. "Gue cuma disuruh mengunggah file yang sudah disiapkan itu ke grup sekolah pada jam istirahat."
Cassandra mengamati baris demi baris pesan singkat di layar ponsel Bimo dengan dahi berkerut halus. Gaya bahasa dan tanda baca yang digunakan dalam pesan anonim itu terasa sangat familier di ingatannya.
"Pola bahasanya singkat dan selalu pakai tanda titik dua di akhir kalimat," bisik Cassandra seraya memandang Narendra. "Ini gaya penulisan yang sama persis kayak pesan dari Nabila waktu itu!"
Narendra tersenyum tipis, mengacak rambut Cassandra pelan sebagai bentuk apresiasi atas analisis tajam ceweknya. "Pinter banget cewek gue. Itu artinya Bimo cuma dimanfaatkan sebagai pion perantara buat memecah konsentrasi kita."
Pukul 18.30 WIB.
Suasana malam di sekitar stasiun kereta api mulai dihiasi pendar lampu-lampu jalanan yang cantik dan romantis. Angin malam yang sepoi-sepoi berembus pelan, membawa ketenangan baru setelah misteri pesan anonim Bimo terpecahkan.
Narendra dan Cassandra berjalan bergandengan tangan menyusuri trotoar menuju tempat parkir motor. Rasa lega melingkupi perasaan Cassandra karena ternyata teman-teman sekelas mereka tidak benar-benar membenci mereka.
"Makasih ya, Ren," ujar Cassandra pelan seraya mempererat genggaman tangannya pada jemari Narendra. "Gue sempat mikir kalau seluruh sekolah beneran membenci kita."
Narendra menghentikan langkahnya di bawah lampu jalanan yang hangat, memutar tubuhnya menghadap Cassandra. Cowok itu menatap wajah cantik Cassandra dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kasih sayang yang begitu tulus.
"Selama ada gue di samping lu, lu enggak perlu takut sama prasangka orang lain, Cas," kata Narendra lembut seraya mengusap pelan pipi Cassandra yang merona merah. "Lagian, siapa yang berani membenci cewek paling sempurna di SMA Garuda ini?"
Cassandra tertawa kecil, menutupi wajahnya yang makin memerah akibat godaan manis khas anak sekolah dari Narendra. "Gombalannya makin makin ya sekarang! Belajar dari mana sih?"
Narendra tertawa lepas, lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat dan lembut di dahi Cassandra, membuat cewek itu terpaku manis di tempatnya. "Belajar sendiri demi bikin lu senyum tiap hari."
Momen manis dan hangat di bawah sinar lampu jalanan itu terasa begitu sempurna bagi mereka berdua. Segala kerumitan masalah peretasan seolah menguap, menggantikannya dengan cerita cinta remaja yang polos dan bahagia.
Narendra membukakan helm untuk Cassandra, memastikannya terpasang dengan pas di kepala cewek kesayangannya itu. Cassandra naik ke jok belakang motor sport milik Narendra, merapatkan pelukannya di pinggang tegap cowok tersebut.
Motor melaju kencang membelah kemacetan kota Jakarta yang indah di malam hari. Cassandra menyandarkan kepalanya di bahu Narendra, menikmati tiupan angin malam yang terasa sangat menenangkan hati.
Pukul 19.30 WIB.
Motor Narendra berhenti mulus di depan gerbang rumah Cassandra yang megah dan tenang. Cassandra turun dari motor, menyerahkan helmnya kembali pada Narendra dengan senyuman paling manis yang ia punya.
"Makasih buat hari ini ya, Narendra," ucap Cassandra riang seraya melambaikan tangannya. "Jangan lupa mandi terus belajar buat ujian besok!"
Narendra menyunggingkan senyum miringnya yang khas, mengacak pelan rambut Cassandra sebelum memakai helmnya kembali. "Siap, Kanjeng Ratu. Lu juga langsung istirahat ya."
Narendra memutar gas motornya dan berlalu pergi membelah kegelapan malam, meninggalkan Cassandra yang masih berdiri di teras rumah dengan senyum bahagia.
Cassandra melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sepi dan hangat. Namun, baru saja ia hendak melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, langkah kakinya mendadak terhenti seketika.
Pintu ruang tamu rumahnya tampak terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah amplop hitam elegan berstempel lilin merah tergeletak di atas meja kaca.
Cassandra mendekati meja tersebut dengan dahi berkerut heran, merogoh isi di dalam amplop hitam tersebut.
Di dalam amplop itu terdapat sebuah kartu undangan fisik berbahan beludru mewah, bertuliskan nama lengkap Cassandra dan Narendra di bagian depannya.
Ketika Cassandra membuka kartu undangan beludru tersebut, sebuah tulisan dengan tinta emas yang berkilau terpampang jelas di bagian dalam: "Selamat atas kelulusan ujian kecil kalian, Cassandra dan Narendra. Babak final catur yang sebenarnya baru saja dimulai, di aula pernikahan ibu Cassandra minggu depan."