"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi harinya, Azel sudah tampil rapi dengan gamis dan hijab berwarna mahogani favoritnya. Tas kuliahnya telah tersampir di bahu, sementara jas milik Ibra yang sudah dicuci dan disetrika rapi ia lipat di dalam paper bag.
Baru saja ia hendak melangkah keluar, suara Kiai Abidzar menghentikannya.
"Kamu yakin mau masuk kuliah, Nak?"
Azel menoleh sambil tersenyum kecil. "Iya, Bi. Insya Allah Azel sudah sehat. Kemarin cuma hari pertama aja, makanya perutnya sakit banget."
Kiai Abidzar memperhatikan wajah putrinya beberapa saat. "Pusing masih?"
"Enggak."
"Perutnya?"
"Masih sedikit ngilu, tapi udah jauh lebih enakan."
Uma Azzura yang baru keluar dari dapur membawa bekal ikut menyahut. "Kalau mulai sakit lagi, jangan dipaksakan, ya. Langsung istirahat."
"Iya, Uma."
"Nih." Uma menyerahkan kotak bekal ke tangan Azel. "Jangan sampai telat makan."
Azel tersenyum lalu memeluk singkat ibunya. "Siap, Uma."
Kiai Abidzar mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja. "Ya sudah. Ayo, Abi antar."
Sesampainya di depan mobil, Kiai Abidzar kembali berpesan. "Nanti kalau kuliahnya sudah selesai telepon Abi. Abi jemput."
Azel menggeleng kecil. "Abi, nanti ngerepotin."
"Tidak ada istilah merepotkan untuk anak sendiri. Apalagi kamu habis sakit."
Kalimat itu membuat Azel tersenyum hangat. "Baik, Abi. Nanti Azel telepon."
"Bagus." Kiai Abidzar mengusap lembut kepala putrinya sebelum keduanya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, suasana dipenuhi obrolan ringan. Sesekali Kiai Abidzar menanyakan persiapan kegiatan pengabdian masyarakat yang tinggal beberapa hari lagi.
Tak terasa, mobil pun memasuki area kampus. Begitu mobil berhenti di depan gedung fakultas, Azel membuka pintu.
"Assalamu'alaikum, Bi."
"Wa'alaikumussalam. Belajar yang sungguh-sungguh."
"Iya, Abi. Oh iya..." Azel tiba-tiba teringat sesuatu.
Ia mengambil paper bag dari dalam tasnya. "Nanti ada yang harus Azel balikin dulu."
"Barang siapa?"
Azel sedikit gugup. "Jas... Pak Ibra."
Kiai Abidzar mengangguk pelan. "Oh... Kalau begitu jangan lupa sekalian ucapkan terima kasih lagi."
"Iya, Bi." Azel mengangguk sambil tersenyum.
Ia pun turun dari mobil dan melambaikan tangan hingga mobil sang ayah perlahan meninggalkan halaman kampus.
Begitu mobil Kiai Abidzar perlahan meninggalkan halaman kampus, Azel melangkah menuju gedung fakultas sambil membawa tas ransel dan paper bag berisi jas milik Ibra.
Baru saja ia sampai di depan kelas...
"Zeeeel!" Sekar langsung menghampirinya dengan langkah cepat. "Lo udah baikan?"
Azel tersenyum kecil. "Udah."
"Yakin?"
"Iya, Sek. Ini tinggal agak ngilu dikit aja, tapi udah enakan."
Sekar memperhatikan wajah sahabatnya dari atas sampai bawah. "Warna muka lo udah balik sih. Kemarin sumpah bikin gue takut."
Bela yang baru datang ikut bergabung. "Gimana sekarang? Masih sakit?"
"Udah jauh lebih baik, Bel."
"Alhamdulillah." Bela mengembuskan napas lega. "Kemarin gue kira lo bakal izin beberapa hari."
Azel terkekeh pelan. "Mana bisa. Beberapa hari lagi kita berangkat kegiatan. Kalau bolos terus, bisa ketinggalan banyak."
"Nah itu." Sekar mengangguk setuju. "Tapi kalau nanti masih sakit, jangan dipaksain."
"Iya, dokter Sekar."
"Cih. Emang harus."
Ketiganya tertawa kecil.
Pandangan Sekar kemudian tertuju pada paper bag yang dibawa Azel. "Eh... Itu apaan?"
Azel refleks melihat paper bag di tangannya. "Oh... Ini jasnya Pak Ibra."
Mata Sekar langsung membulat. "Loh? Yang kemarin?"
"Iya."
"Mau dibalikin?"
"Iya lah. Masa mau gue simpen."
Sekar menyenggol pelan lengan Azel. "Ciee..."
Azel langsung melotot. "Cie apaan?"
"Balikin jas sambil ketemu dosen favorit."
"SEKAR!"
"Aduh... Gue bercanda."
Bela ikut tertawa melihat wajah Azel yang mulai memerah. "Udah, udah. Kasihan Azel. Itu mukanya merah lagi. Kan jadi malu."
"Itu bukan malu! Gerah!"
"Iya... gerah." Sekar mengangguk-angguk dengan wajah jahil. "Gue percaya seratus persen kok."
Azel mendengus pelan. "Nyebelin. Udah ah, yuk masuk."
Ketiganya pun memasuki ruang kelas.
Tanpa mereka sadari, dari ujung koridor, seseorang baru saja berhenti melangkah. Ibra yang hendak menuju ruang dosen sempat menangkap suara tawa mereka.
Tatapannya tanpa sadar jatuh kepada Azel. Melihat gadis itu sudah tampak lebih segar dibanding kemarin, tanpa sadar ia mengembuskan napas lega.
"Syukurlah... Dia benar-benar sudah membaik."
***
Ibra sedang menjelaskan materi di depan kelas ketika seorang petugas administrasi mengetuk pintu.
Tok. Tok.
"Permisi, Pak."
Ibra menghentikan penjelasannya lalu menoleh. "Iya, silakan."
Petugas itu melangkah masuk dengan sopan. "Maaf mengganggu, Pak. Ada tamu yang sedang mencari Bapak."
Ibra sedikit mengernyit. "Tamu?"
"Iya, Pak. Beliau sekarang menunggu di ruangan Bapak."
"Siapa ya?"
"Maaf, Pak. Saya kurang tau. Beliau hanya bilang ingin bertemu langsung dengan Bapak."
Ibra melirik jam tangan. Lima belas menit lagi kelasnya memang selesai.
"Baik. Tolong sampaikan saya akan ke ruangan setelah jam mengajar selesai."
"Siap, Pak." Petugas itu mengangguk lalu keluar kembali.
Pintu kelas kembali tertutup. Suasana sempat hening beberapa detik.
Ibra berdiri memandang ke arah pintu dengan dahi sedikit berkerut. "Siapa yang mencariku?"
Ia mencoba mengingat apakah hari ini memiliki janji dengan seseorang. Tidak ada.
Orang tua mahasiswa? Pihak kampus? Atau... Teman lamanya?
Namun rasanya tidak mungkin. Ia menggeleng pelan, lalu kembali menghadap mahasiswa.
"Baik. Kita lanjutkan. Saya beri waktu lima belas menit untuk menyelesaikan soal yang ada di layar. Kerjakan sendiri. Kalau ada yang belum paham, silakan bertanya."
"Iya, Pak." Mahasiswa kembali fokus mengerjakan.
Sementara Ibra sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa tamu yang datang kali ini bukanlah tamu biasa. Ada firasat aneh yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Siapa sebenarnya yang mencariku?"
***
Akhirnya jam kuliah selesai. Ibra menutup laptopnya, mengucapkan salam kepada para mahasiswa, lalu berjalan cepat menuju ruang dosen. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan.
"Siapa sebenarnya tamu itu?"
Langkahnya semakin cepat. Sesampainya di depan ruangan, ia segera memutar gagang pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Di dalam ruangan, seorang perempuan duduk membelakanginya. Rambut panjang bergelombang terurai hingga punggung. Mendengar pintu terbuka, perempuan itu tetap belum menoleh.
Ibra mengernyit. "Maaf... Anda siapa?"
Perempuan itu perlahan berdiri. Lalu membalikkan tubuhnya.
Begitu wajah itu terlihat, mata Ibra langsung membelalak.
"Celine..."
Perempuan itu tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Hai, Mas. Apa kabar?"
Ibra masih mematung beberapa detik. Ia sama sekali tidak menyangka perempuan itu berani datang mencarinya.
"Celine, ngapain kamu di sini? Kenapa kamu bisa tau saya mengajar di kampus ini?"
Celine tersenyum santai. "Ah... Itu gampang. Bukankah Mas suka mengajar? Kebetulan temanku kerja di kampus ini. Jadi nggak susah buat cari tahu."
Rahang Ibra mengeras. "Cepat katakan. Mau apa lagi kamu menemui saya?"
Celine melangkah mendekat. "Mas..."
"Tetap di tempatmu!" Suara Ibra terdengar begitu dingin hingga membuat Celine berhenti.
Untuk sesaat, perempuan itu menundukkan kepala. Kemudian air matanya mulai menggenang.
"Aku ke sini buat minta maaf. Aku nyesel, Mas. Aku pengen kita kayak dulu lagi. Aku....kangen sama Arjun."
Mendengar itu, Ibra justru tertawa pelan. Tawa yang terdengar getir.
"Kangen sama Arjun? Menyesal? Hahaha... Celine, Celine... Kamu pikir aku masih sebodoh itu untuk percaya?"
"Mas, kali ini aku serius. Aku sadar kalau aku salah. Aku benar-benar menyesal. Aku pikir Mas Andra laki-laki yang bisa bikin aku bahagia. Tapi ternyata dia kasar. Dia sering marah. Dia juga—"
"Saya tidak peduli." Suara Ibra memotong tegas. "Rumah tangga kalian bukan urusan saya. Sekarang pergi dari ruangan saya."
Celine menggeleng kuat. "Nggak bisa! Aku ibu kandung Arjun. Aku punya hak atas anakku!"
Kalimat itu membuat emosi Ibra yang selama ini ditahan akhirnya meledak.
"Hak? Kamu bicara soal hak? Mana hak itu waktu Arjun menangis mencarimu? Mana hak itu saat dia sakit? Mana hak itu saat dia jatuh dan terus memanggil seseorang yang bahkan bukan ibu kandungnya?"
Napas Ibra mulai memburu. "Mana ada ibu yang meninggalkan anaknya sendiri demi laki-laki lain. Mana ada ibu yang rela menyerahkan hak asuh anaknya hanya karena menganggap anak itu menghalangi hidupnya. Mana ada seorang ibu yang menuntut hak asuh hanya karena ingin harta warisan!"
Celine terdiam.
"Apa kamu tau, Arjun sekarang bahkan takut setiap kali mendengar kata 'Mama'. Apa kamu tau dia pernah bertanya ke saya apakah dia memang tidak pantas disayang ibunya sendiri?"
Air mata Celine akhirnya jatuh. "Mas... Tolong... Kasih aku kesempatan."
Ibra menggeleng. "Terlambat. Arjun sudah belajar hidup tanpa kamu. Dan dia sudah punya seseorang yang benar-benar menyayanginya."
Celine mengernyit. "Maksud kamu?"
Ibra menatapnya lurus. "Arjun udah punya calon ibu."
Wajah Celine berubah. "Gak mungkin."
"Mana mungkin! Aku tau kamu bohong Mas. Aku yakin, kamu masih mencintai aku."
"Hah percaya diri sekali kamu. Kamu tidak pantas untuk saya, celine!"
"Oh ya?! buktikan kalau memang ada perempuan lain yang bisa bikin kamu move on dari aku bahkan dia harus lebih baik dari pada aku."
Belum sempat Ibra menjawab...
Tok. Tok. Tok.
Pintu ruangan kembali diketuk.
Di waktu yang hampir bersamaan tadi. Azel baru saja selesai kuliah. Ia membawa paper bag berisi jas yang sudah dicuci rapi.
"Sek, gue ke ruangan Pak Ibra dulu ya. Mau balikin ini."
Sekar melirik paper bag itu sambil menyeringai. "Oke. Lo pulang sama siapa?"
"Sama Abi. Udah gue chat. Nanti beliau jemput."
"Oke deh. Semangat ya. Jangan debat lagi!"
Azel tertawa kecil. "Hahaha. Iya, bawel."
Tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di balik pintu ruang dosen, Azel melangkah menuju ruangan Ibra.
Sesampainya di depan pintu. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum Pak."
"Wa'alaikumussalam." Ibra mengenali suara itu.
Ini kesempatan yang bagus.
Azel yang baru saja melangkah masuk langsung menghentikan langkahnya.
Di hadapannya, seorang perempuan berpenampilan elegan berdiri menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sementara Ibra berdiri di samping meja kerjanya dengan rahang mengeras.
"Maaf, Pak. Saya nggak tau kalau Bapak lagi ada tamu. Saya nanti aja—"
Azel hendak berbalik.
Namun... "Zel."
Suara Ibra menghentikannya.
Azel menoleh bingung. "Iya, Pak?"
Ibra mengalihkan pandangannya kepada Celine. "Tadi kamu bertanya siapa perempuan yang bisa membuat saya melupakan kamu."
Celine menyunggingkan senyum sinis. "Iya. Buktikan kalau memang ada."
Ruangan seketika hening. Beberapa detik tak ada yang berbicara.
Lalu... Tanpa diduga, Ibra melangkah menghampiri Azel.
Azel semakin bingung. "Pak...?"
Belum sempat ia bertanya lagi, Ibra menggenggam pergelangan tangannya dengan hati-hati.
Bukan kasar. Namun cukup membuat Azel terpaku.
"Pak..."
"Ayo." Ibra membawanya berdiri beberapa langkah lebih dekat.
Lalu menatap lurus ke arah Celine.
"Dia." Suara Ibra terdengar mantap. "Dialah perempuan yang saya maksud."
Azel langsung membulatkan mata. "Hah...?"
Ibra melanjutkan ucapannya. "Dia calon istri saya. Dan... calon ibu bagi Arjun. Arjun memilihnya. Saya pun mencintainya."
Deg!
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel