Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Jebakan
Viktor
Ponsel bergetar dalam gelap, terus-menerus, merenggut tidurku dengan paksa. Aku mengumpat pelan, meraba-raba sampai menemukan layar menyala dengan nama Maxim berkedip di sana.
"Sialan, Maxim... kalau kau tak ikut, setidaknya jangan ganggu urusan ranjangku..." gerutuku, suaraku serak, masih setengah tersesat antara tidur dan kenyataan.
Tapi dia tak menanggapi guyonanku.
Suaranya keluar tegang. Ada yang salah.
"Perempuan dari bar itu masih bersamamu?"
Kalimat itu langsung menyadarkanku.
Aku memalingkan wajah pelan, melirik ke samping.
Si pirang masih di sana, terkapar di ranjang, benar-benar pulas, rambutnya tersebar di bantal, tubuhnya hanya tertutup seprai.
Terlalu diam.
"Masih," jawabku, lebih waspada sekarang.
"Jangan biarkan dia pergi. Ini jebakan, Viktor."
Nada bicaranya tak menyisakan ruang untuk ragu.
Sesuatu menjalar di sepanjang tulang punggungku.
Dingin.
Berbahaya.
"Mengerti. Aku yang urus."
Aku memutus sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.
Kamar ini terasa berbeda sekarang.
Berat.
Salah.
Aku bangkit dari ranjang, menyalakan lampu tanpa peduli apa pun. Cahaya menyerbu ruangan dengan kasar, menyingkap setiap detail... termasuk dia.
Perempuan itu bergerak sedikit, terusik, tapi tak terbangun.
Aku melangkah ke arah tas yang tergeletak di lantai.
Kubuka.
Kuobrak-abrik tanpa hati-hati.
Dompet.
Kartu identitas.
Kutarik keluar.
Ekaterina Popova.
Namanya cocok.
Tapi itu tak berarti apa-apa.
Tidak di sini.
Tidak sekarang.
Rahangku mengeras.
Kuambil pistolku dari meja samping ranjang.
Lalu kembali ke ranjang.
"Bangun, sialan."
Suaraku keluar keras, tanpa kesabaran sedikit pun.
Kucengkeram lengannya dan kutarik tanpa kelembutan.
Dia terbangun kaget, langsung duduk, wajahnya tegang, matanya membelalak berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Seprai naik otomatis, melindungi tubuhnya.
Tapi aku tak tertarik pada itu.
"Siapa yang mengirimmu?"
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Dia membeku.
Berkedip.
Napasnya cepat.
"Aku... aku butuh uangnya..." suaranya keluar gemetar, tersendat, "aku tak punya pilihan..."
Air mata mulai menggenang.
Tapi aku tak termakan.
Tidak hari ini.
Tidak setelah telepon tadi.
Aku mendekat sedikit lagi.
"Siapa. Yang. Mengirimmu."
Setiap kata keluar lebih rendah.
Lebih berat.
Lebih berbahaya.
Bibirnya bergetar.
Tatapannya goyah.
Lalu dia hancur.
"Ivan Orlov."
Nama itu jatuh di kamar seperti sebuah vonis.
Dan di saat itu...
semuanya masuk akal.
Aku menjauh darinya lalu duduk di sofa, mengusap wajah, berusaha menata pikiran sementara semuanya mulai tersusun dengan cara yang sama sekali tak kusukai.
"Ayo... ceritakan semuanya."
Suaraku keluar dingin, tanpa kesabaran, tanpa ruang untuk cerita yang mengada-ada.
Dia menarik seprai lebih erat ke tubuhnya, seolah kain itu bisa melindunginya dari sesuatu. Matanya merah, berkaca-kaca, wajahnya dipenuhi ketakutan.
Lalu dia mulai bercerita.
"Aku bekerja... di kantor ayah Ivan..." suaranya tersendat, tapi dia melanjutkan, seakan tahu berhenti sekarang justru lebih buruk, "dia menawariku uang untuk pergi ke bar... untuk mendekatimu..."
Aku diam.
Hanya mendengarkan.
Hanya mengamati.
Setiap detail.
Setiap tarikan napas yang tak beraturan.
Setiap getar.
Dia menahan tangis, tapi tak sanggup.
"Aku butuh... aku butuh uangnya..." air matanya mengalir tanpa kendali, "itu untuk operasi adikku... aku tak punya pilihan..."
Aku melepas tawa pendek, tanpa humor sedikit pun.
Aku tak mudah percaya.
Tak pernah.
"Berhenti menangis." Aku memotong, tajam, sudah mulai kesal. "Kau mulai membuatku muak."
Dia berusaha mengendalikan diri, mengusap wajah dengan tangan, tapi tubuhnya masih gemetar.
Aku sedikit mencondongkan tubuh ke depan, menopangkan kedua siku di lutut, menatapnya lebih saksama sekarang.
Karena ini bukan sekadar soal dia.
Tak pernah begitu.
Ini soal rencana itu.
Soal siapa yang menarik tali di baliknya.
Dan aku sudah tahu namanya.
Ivan Orlov.
Rahangku mengeras lagi.
Kuambil ponsel tanpa mengalihkan pandangan darinya.
Kutekan nomor ayahku.
Dia mengangkat dengan cepat, seperti biasa.
"Bicara."
"Kita punya masalah." Aku langsung ke inti. "Dan masalah itu punya nama."
Aku menatap perempuan di depanku, masih gemetar, berusaha menguasai diri.
"Ivan Orlov. Dia merencanakan sesuatu terhadap Maxim. Pergilah ke rumah Olga. Perempuan bekas dari bar itu ada bersamaku."
Keheningan di seberang sana hanya berlangsung sedetik.
Tapi itu cukup.
Karena aku tahu...
masalah ini baru saja jadi jauh lebih besar.
"Aku tunggu instruksinya..."
Aku memutus sambungan.
Aku kembali menatap perempuan itu, yang kini menangis lebih dalam dalam diam.
Aku keluar ke balkon tanpa berkata apa-apa lagi, udara malam menampar wajahku sementara aku berusaha mendinginkan kepala. Rokok menyala di antara jari-jariku, dan kuhirup asapnya dalam-dalam, membiarkannya membakar di dada.
Di dalam sana, kamar itu masih memikul beban dari semua yang baru saja terjadi.
Kuembuskan asapnya pelan, menatap kota tanpa benar-benar melihat apa-apa. Pikiranku ada di tempat lain. Pada detail-detailnya. Pada apa yang nyaris berjalan salah... atau mungkin memang sudah.
Menit demi menit berlalu lambat sampai ponsel bergetar lagi di tanganku.
Dmitry.
Aku langsung mengangkat.
"Kau boleh melepas perempuan itu, Viktor." Suaranya keluar tegas, tanpa berbelit. "Ivan sudah ditangkap. Terluka, tapi masih hidup."
Aku diam, mencerna.
"Dia menyerbu rumah Maxim dengan orang-orang bersenjata. Olga terluka... tapi dia baik-baik saja."
Napasku tertahan sesaat di dada.
Olga.
Terluka.
Aku memejamkan mata sejenak, mengusap wajah.
"Mengerti."
Sambungan terputus.
Dan keheningan kembali.
Lebih berat.
Lebih nyata.
Kumatikan rokok dengan keras, seolah bisa sekaligus memadamkan seluruh kekacauan yang terjadi, lalu kembali masuk ke kamar.
Perempuan itu masih di sana, duduk di tepi ranjang, meringkuk, menunggu.
Aku tak banyak melihatnya.
Aku tak punya kesabaran.
Kuambil dompetku, kutarik beberapa lembar uang dan kulempar ke arahnya.
"Untuk malam ini." Aku berkata, datar. "Enyahlah dari sini."
Dia tak menjawab.
Hanya mengambil uang itu dengan tangan gemetar, bangkit cepat lalu mulai berpakaian tergesa-gesa.
Aku memunggunginya, kembali ke balkon.
Aku tak ingin melihat.
Aku tak peduli.
Aku hanya menunggu.
Detik-detik berlalu sampai kudengar pintu tertutup.
Sunyi.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Akhirnya.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu.
Satu detail yang masih tak pas.
Aku kembali ke kamar perlahan.
Pandanganku menyapu ranjang...
Dan terhenti.
Uang itu masih di sana.
Tak tersentuh.
Dia tak membawanya.
Tapi bukan itu yang menahanku.
Ini soal seprainya.
Ternoda.
Oleh darah.
Rahangku mengeras.
Karena sekarang...
ini bukan sekadar jebakan.
Ini sesuatu yang lebih buruk.