Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diner
Pukul tujuh tepat.
Lampu kristal besar di ruang makan utama dinyalakan, memancarkan cahaya kuning keemasan yang menerangi seluruh ruangan. Meja makan marmer putih itu kini telah disulap menjadi panggung kemewahan. Taplak meja sutra putih terbentang rapi, peralatan perak mengilap, dan gelas-gelas kristal anggur tersusun sempurna.
Di sudut ruangan, sebuah stasiun memasak live telah disiapkan. Seorang koki berseragam putih tinggi dan topi koki khas berdiri di sana, wajahnya serius dan fokus. Di atas kompor portable, wajan besi sedang memanas. Aroma bawang putih, mentega, dan rempah-rempah mulai menyebar, bercampur dengan aroma laut segar dari lobster raksasa yang masih bergerak-gerak lemah di atas es batu dekoratif.
Aku duduk di kursi sebelah kanan Samudra. Ibu duduk di sebelah kirinya. Posisi kami membentuk segitiga kecil di kepala meja, tempat Samudra bertakhta seperti raja.
Samudra hari ini mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang terlihat sangat mahal. Potongannya longgar di bagian perut untuk mengakomodasi buncitnya, tapi tetap terlihat berwibawa. Dia tersenyum puas, matanya berkilat saat melihat hidangan-hidangan mewah yang mulai disajikan.
"Selamat datang di malam spesial kita," ucap Samudra dengan suara beratnya, mengangkat gelas anggur merahnya. "Hari ini, Chef Andre akan menyajikan steak Wagyu A5 langsung dipanggang di depan kita, serta lobster termidor yang legendaris."
Ibu tersenyum lebar, tampak sangat bangga. Dia mengangkat gelasnya juga. "Terima kasih, Pak. Ini sungguh berlebihan, tapi Ibu senang sekali."
Aku hanya mengangguk kaku, mengangkat gelas air putihku. Aku tidak berani minum anggur. Aku perlu pikiranku jernih.
Chef Andre mulai bekerja. Dengan gerakan cepat dan ahli, dia membumbui potongan daging merah muda yang indah itu dengan garam laut dan lada hitam kasar. Suara desisan keras terdengar saat daging itu menyentuh wajan panas. Asap putih mengepul, membawa aroma daging panggang yang menggugah selera bagi orang lain mungkin, tapi bagiku, aromanya terasa mual.
Samudra menatap proses memasak itu dengan mata berbinar, lalu tiba-tiba menoleh padaku. Tangannya yang besar dan gemuk terulur, menutupi tanganku yang diletakkan di atas meja. Kulitnya hangat, lembap, dan berat.
"Angela," bisiknya, hanya cukup untuk kudengar, meski Ibu sedang asyik menonton koki membalik lobster. "Kamu belum menyentuh minumanmu. Apakah ada yang salah?"
Jantungku berdegup kencang. Sentuhan tangannya membuat kulitku merinding. Aku ingin menarik tangan itu, tapi aku tahu itu akan dianggap tidak sopan.
"T-tidak, Pak," jawabku pelan, mencoba tersenyum tipis. "El cuma... agak gugup melihat kemewahan ini. El tidak terbiasa."
Samudra tertawa kecil, suaranya bergema rendah di dadanya. Jari-jarinya menekan punggung tanganku lebih kuat, seolah memberi peringatan halus. "Kamu harus terbiasa, Nak. Karena inilah hidupmu sekarang. Hidup di puncak. Dan Ayah akan memastikan kamu selalu di puncak... bersama Ayah."
Matanya menatapku dalam-dalam, penuh makna tersembunyi yang membuatku ingin lari.
Chef Andre akhirnya menyajikan piring pertama. Steak wagyu yang dipotong tipis-tipis, berwarna merah muda sempurna di tengah, disajikan dengan saus truffle hitam. Lobster termidor dengan keju leleh yang kecokelatan diletakkan di piring terpisah.
"Mari kita mulai," kata Samudra, mengambil garpu dan pisau emasnya.
Dia memotong sepotong steak, lalu dengan gerakan yang sengaja lambat, dia menyodorkan potongan itu ke arah mulutku.
"Buka," perintahnya lembut, tapi nada otoriter itu tidak bisa disalahartikan. "Rasakan sendiri kualitas cinta Ayah padamu."
Ibu tersenyum bahagia, mengira itu sekadar gesture romantis seorang suami pada istri muda atau ayah pada anak tiri yang dimanjakan. Tapi aku tahu kebenarannya. Itu adalah uji kepatuhan. Itu adalah cara dia menegaskan kepemilikannya di depan umum, di depan Ibu, dan di depan koki yang mungkin saja adalah mata-matanya.
Aku menatap potongan daging di garpu emas itu. Air liurku kering. Tenggorokanku tercekat.
Dengan tangan gemetar, aku membuka mulutku perlahan. Samudra memasukkan potongan steak itu ke dalam mulutku. Dagingnya lembut, lumer di lidah, rasanya luar biasa enak. Tapi bagiku, rasanya seperti abu. Seperti racun.
"Enak?" tanya Samudra, matanya tidak lepas dari wajahku, menunggu reaksi.
Aku menelan dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. "Enak, Pak. Terima kasih."
Samudra tersenyum puas. Dia kemudian mengambil serbetnya dan mengelap sudut bibirku yang tanpa sadar sedikit basah karena saus. Sentuhan kain itu kasar, tapi gerakannya intim dan posesif.
"Bagus," gumamnya. "Makanlah yang banyak. Kamu perlu tenaga untuk nanti..."
Kalimatnya menggantung di udara, tidak selesai, tapi maknanya jelas bagi ku. Untuk nanti di kamarnya.
Ibu terus menikmati makanannya, oblivious terhadap ketegangan mematikan yang terjadi di antara kami. Dia bercerita tentang rencana liburan ke Bali bulan depan, sementara aku duduk di sana, menyuap makanan mewah yang terasa seperti hukuman, terjebak dalam permainan psikologis Samudra yang semakin mengerikan.
Aku menelan suapan terakhir steak itu dengan perlahan. Rasanya memang luar biasa, gurih dari daging wagyu yang lumer, manis dari karamelisasi permukaan daging, dan sedikit pedas dari bumbu rahasia Chef Andre. Perpaduan rasa yang sempurna di lidah, tapi terasa seperti racun di hati. Setiap kunyahan terasa berat, seolah aku sedang menelan kepatuhan paksa.
Sementara aku sibuk bergulat dengan makanan dan perasaanku sendiri, suasana di meja makan justru terlihat sangat harmonis. Ibu dan Samudra tampak asyik berbincang, wajah mereka bersinar dalam cahaya lampu kristal.
"Jadi, untuk villa di Bali nanti, Ibu mau yang ada private pool-nya, Pak," kata Ibu dengan antusias, matanya berbinar saat membayangkan kemewahan itu. Dia memainkan garpu emasnya dengan anggun, sepenuhnya tenggelam dalam fantasi liburan mewah. "Biar Angel bisa belajar berenang juga. Selama ini kan dia jarang sekali liburan."
Samudra mengangguk, sambil menyeruput anggur merahnya. Wajahnya yang bulat dan berkeringat sedikit terlihat rileks. Dia tersenyum pada Ibu, senyum yang terlihat hangat di mata orang luar, tapi bagiku, itu adalah topeng yang sudah terlalu sering kupakai.
"Tentu saja, Sayang," jawab Samudra dengan suara beratnya yang serak. "Apa pun keinginan kamu akan Aku penuhi. Villa terbaik di Uluwatu sudah ku pesan. Pemandangan lautnya spektakuler. Dan tentu saja..."
Dia berhenti sejenak, lalu menoleh padaku. Tatapannya berubah dari hangat menjadi tajam dan menusuk, meski hanya berlangsung sepersekian detik sebelum kembali lembut saat melihat Ibu.
"...tentu saja, Angel juga harus ikut. Kita bertiga. Keluarga kecil yang bahagia," lanjut Samudra. Kata 'keluarga' diucapkannya dengan penekanan khusus, seolah itu adalah janji sekaligus ancaman.
Ibu tertawa senang, pipinya merona merah karena anggur dan kebahagiaan semu. "Wah, syukurlah! Papa Samudra memang yang terbaik. Angel, kamu dengar itu? Kita bakal liburan mewah!"
Aku memaksakan diri untuk tersenyum tipis, meski otot-otot wajahku terasa kaku. "Iya, Bu. El dengar."
Dalam hati, aku merasa mual. Liburan bertiga? Di villa terpencil dengan kolam renang pribadi? Itu terdengar seperti skenario film horor bagiku. Tidak ada orang lain. Tidak ada saksi. Hanya aku, Ibu yang polos, dan Samudra yang obsesif. Apa rencana sebenarnya di balik liburan itu? Apakah dia berencana untuk "mengklaim" aku sepenuhnya di sana, jauh dari mata masyarakat kota?
Chef Andre datang lagi, kali ini membawa hidangan pencuci mulut: Creme Brulee dengan lapisan gula gosong yang renyah. Suara sendok kecil memecahkan lapisan gula itu terdaring nyaring di keheningan sesaat.
"Makanan penutup," announced Samudra. Dia tidak menyentuh dessert-nya. Matanya tetap tertuju padaku. "Setelah ini, Angel, kamu naik ke kamar dulu. Bersih-bersih. Ayah akan menyusul sebentar lagi. Ada... dokumen penting yang perlu Ayah tunjukkan padamu. Tentang warisan keluarga."
Warisan keluarga?
Alibi baru. Selalu ada alasan yang terdengar masuk akal di depan Ibu, tapi penuh makna ganda bagi ku.
Ibu mengangguk puas. "Iya, Nduk. Dengarkan Papa. Jangan nakal-nakal ya. Ibu mau istirahat dulu di kamar, kepala Ibu agak pusing karena anggur."
"Iya, Bu," jawabku pelan.
Aku berdiri dari kursi, membungkuk sopan. "Permisi, Pak. Permisi, Bu."
Samudra hanya mengangguk singkat, matanya mengikuti setiap gerakanku saat aku berbalik dan berjalan menuju tangga. Aku bisa merasakan tatapannya menempel di punggungku, panas dan berat, seperti tangan tak kasat mata yang siap mencengkeram kapan saja.
Saat kakiku menginjak anak tangga pertama, aku mendengar suara Samudra berbisik pada Ibu, "...dia sudah mulai menurut, Sayang."
Aku mempercepat langkahku, hampir berlari naik ke lantai dua. Begitu sampai di koridor atas, aku langsung masuk ke kamarku dan mengunci pintu. Klik.
Aku bersandar pada pintu, napasku tersengal-sengal. Tanganku gemetar hebat. Dokumen warisan? Bohong. Semua itu bohong. Dia ingin aku sendirian di kamarnya. Atau mungkin... dia ingin aku menunggu di kamarnya sendiri, sementara dia menyiapkan sesuatu yang lebih mengerikan.
Aku melihat jam dinding. Pukul 20.15.
Waktu terus berjalan. Dan aku semakin dekat dengan jurang yang tak terlihat.