Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 IGNITION OF WAR
Langit di ufuk barat Cikampek, tepatnya di kawasan Tirtamulya, tidak lagi menampakkan warna jingga yang tenang.
Debu-debu aspal beterbangan, bercampur dengan aroma bensin dan keringat dari ratusan petarung yang sedang beradu nyali.
Di sebuah persimpangan luas daerah Karangsinom, tanah seolah bergetar hebat. Dua fraksi besar dari wilayah barat laut Cikampek ini sedang terlibat dalam bentrokan masif yang melumpuhkan jalur distribusi wilayah tersebut.
Di satu sisi, berdiri Fraksi KRS—penguasa sah wilayah Karangsinom. Di sisi lain, muncul Fraksi Satelit, kelompok pembangkang yang secara terang-terangan menolak kepemimpinan KRS pasca kenaikan tahta Oky Febrian sebagai Ruler ketiga di wilayah Barat.
"Mundur, Juan! Lu gak ada kaitannya ama masalah ini!" teriak Iky Smntry, pemimpin KRS, sambil menyapu darah di sudut bibirnya. Tubuh Iky yang tegap memancarkan aura ketegasan khas petarung Galactian yang sudah melampaui batas fisiknya.
Ahmad Juanda, pemimpin Fraksi Satelit, hanya tertawa sinis. Ia berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, menatap Iky dengan tatapan penuh kebencian. "Hah! Coba saja kalau bisa, Iky! Selama gua masih berdiri, lu gak bakal bisa lewat dari Karangsinom!"
BAM! BAM!
Keduanya melesat maju, saling melayangkan tinju mentah yang menghantam rahang masing-masing. Adu jotos itu bukan lagi sekadar tawuran biasa; ini adalah benturan dua kekuatan besar yang ingin menentukan siapa yang paling layak memegang kendali di daerah Karangsinom.
Di sekeliling mereka, puluhan anggota KRS dan Satelit saling hantam menggunakan pipa besi dan balok kayu, menciptakan chaos total yang memekakkan telinga.
"Kenapa lu halangin gua buat ke Krajan, Juan?!" bentak Iky di tengah pertukaran pukulan. "Lu tahu wilayah Barat udah panas gara-gara OKOM!"
"Karena gua pengen Krajan hancur! Gua tahu lu ke sana mau bantu Krajan, kan?!" balas Juan dengan teriakan murka. Juan melayangkan tendangan melingkar yang berhasil ditangkis Iky, namun tekanan angin dari serangan itu sempat meretakkan ubin jalanan.
Iky mendesis, matanya menyala liar. "Gua gak sudi buat bantu Krajan! Tetapi jika Krajan hancur, Barat akan semakin dekat dengan wilayah kita! Kalau pertahanan mereka jebol, Oky bakal masuk ke Karangsinom dan lu tahu apa artinya itu buat kita?!"
Juan terdiam sejenak, napasnya memburu. "Emang gak ada cara lain apa?!"
Keduanya berhenti menyerang, berdiri saling berhadapan dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jantung. Udara di sekitar mereka mendadak terasa pekat dan memberat—sebuah fenomena tekanan hawa keberadaan petarung Galactian yang sedang berada di puncak emosinya.
"Oke kalau gitu," ucap Juan dengan nada rendah namun mematikan. "Kalau gua menang lawan lu, lu harus ngikutin kemauan gua. Kalau gua kalah, gua ikutan kemauan lu. Gimana?"
Iky menyeringai miring, merenggangkan otot lehernya hingga berbunyi benturan tulang. KRAK! "Oke. Kalau itu mau lu!"
Seketika, pertarungan keduanya mencapai puncaknya. Iky melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia biasa, menciptakan bayangan tipis di udara—sebuah gerakan yang mengingatkan pada gaya bertarung monster-monster di Bayoer.
Jomin Barat – Cikampek Timur
Adegan berpindah secara halus menuju sisi timur kota yang sedang membara.
"MATI LU, ANJING!!"
BUGHH!
Kepalan tangan Alfriza Farizy (Friza) mendarat telak di wajah seorang berandalan luar yang mencoba memprovokasi wilayah Slonong Boys. Tubuh musuh itu terlempar menabrak tumpukan ban bekas hingga tak sadarkan diri.
Friza, sang pemimpin CBC (Cikampek Boys Celebrity), berdiri tegak dengan napas yang masih stabil meski emosinya sedang mendidih.
"Gua gak kalah ama si Oky bangsat! Gak usah bikin berita yang aneh-aneh di jalanan!" teriak Friza ke arah kerumunan massa yang mulai berkumpul.
Di belakang Friza, telah berdiri dua pilar raksasa aliansi Slonong Boys lainnya: Rega Raditya dari WARJO (Jomin) dan Dimby Fatkay dari TOP (Pangulah). Ketiga pemimpin ini berkumpul di sebuah jalanan besar di Jomin Barat, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat di Cikampek—penyatuan tiga pilar utama aliansi agresif Slonong Boys.
"Udah lah, Za, lu mukulin berandalan kayak mereka mana bisa bikin lu puas," ucap Rega tenang, mencoba meredam amarah Friza.
Dimby mengangguk setuju, melirik jam tangannya. "Jadi gak? Gimana kita? Slonong Boys udah hampir berkumpul semua."
Benar saja, dari arah kegelapan jalanan Jomin Barat, raungan mesin motor mulai terdengar bersahutan. VROOMM! VROOMM! Puluhan, bahkan ratusan motor berdatangan dari berbagai arah.
"Woy! Jadi gak kita ini?!" seru sebuah suara dari atas motor sport. Itu adalah Adrian dari fraksi Poesat Crazy, penguasa daerah Pucung di Cikampek Utara.
"Kagak sabar udah pengen bantai OKOM anjing!" timpal Revan dari fraksi Georgia, penguasa wilayah Kalioyod di Cikampek Timur.
Di samping Revan, muncul Dimyat, pemimpin dari Crazy Friends wilayah Cariu, Cikampek Timur. "Sabar, Van, kita tunggu yang lainnya."
Atmosfer di Jomin Barat seketika berubah menjadi lautan jaket hitam dan lampu sorot motor. Satu per satu fraksi besar dan kecil yang bernaung di bawah bendera Slonong Boys tiba dengan membawa ratusan massa:
Rendy memimpin barisan Vanity Destroyed dari Gandoang.
Dimas membawa pasukannya dari TOG wilayah Karang Salam.
Asep Kun Kun memimpin Tambun 18 dari Bakan Tambun.
Remon datang dengan CS Youth wilayah Daringo.
Tak ketinggalan fraksi-fraksi lain seperti Terminator, Parung, Child, Warbin, hingga GS ikut memenuhi jalanan hingga tidak ada celah tersisa.
Friza melompat ke atas kap mobil pickup yang terparkir, menatap ke arah ratusan pasukannya dengan mata yang menyala liar. "BENTAR LAGI PERANG BESAR DIMULAI! KITA HANCURIN MEREKA!!"
"AGHHHHH!! SB! SB! SB! SB!!"
Ratusan orang berteriak kencang, menyuarakan nama aliansi mereka. Di langit malam Cikampek Timur, puluhan petasan dilemparkan ke udara. DAR! DER! DOR! Cahaya warna-warni dari petasan itu menjadi pertanda mutlak bahwa wilayah Timur telah siap tempur dan akan meratakan siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
Cikampek Pusaka – Cikampek Selatan
Berbeda jauh dengan hiruk-pikuk di Timur dan Barat, wilayah Cikampek Pusaka di Selatan justru diselimuti keheningan yang kontras. Di sini, lampu-lampu jalanan tampak redup dan suasana terasa lebih "malas".
Beberapa anggota fraksi Slaughter, Crazy Boys, dan Warmin hanya duduk-duduk di depan posko mereka, menatap ke langit jauh tempat petasan dari wilayah Timur meledak.
"Males banget gua... perang mulu," gumam salah satu pimpinan Slaughter sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Meskipun ketiga fraksi di Selatan ini terkenal bermusuhan satu sama lain, mereka memiliki kesamaan unik: mereka sama sekali tidak tertarik pada pertempuran luar daerah.
Bagi mereka, satu-satunya musuh yang layak dihadapi hanyalah fraksi-fraksi di daerah mereka sendiri di Pusaka. Mereka adalah wilayah yang terisolasi secara ego, tidak peduli meski Cikampek sedang berada di ambang kehancuran total.
Basecamp Rooftop – Pusat Kota
Ryuka Wijaya berdiri di tepian rooftop gedung tua pusat kota, menghisap Sampoerna Mild-nya dengan tatapan kaget. Di sekelilingnya, langit Cikampek tampak dipenuhi oleh kilatan petasan dari berbagai penjuru.
"Ada apa ini, Bang Denza? Sebas? Kenapa petasan ada di mana-mana?!" tanya Ryuka heran, menoleh ke arah teman-temannya.
Gilang melangkah mendekat, wajahnya tampak tegang. "Itu artinya wilayah itu udah siap tempur, Ka. Dan lu lihat ke arah Timur... petasannya paling banyak di sana. Itu tandanya Slonong Boys mulai bergerak secara masif."
Denza, yang biasanya santai, tiba-tiba membuang rokoknya dan berlari menuju tangga darurat. "Gua harus pergi. Sepertinya gua harus lapor ke petinggi Mahkamah Agung soal ini. Situasi udah gak bisa dikontrol lagi!" seru Denza sebelum menghilang di balik pintu tangga.
Sebas merapikan sarung tangan putihnya, menatap Ryuka dengan pandangan yang sangat serius. "Tuan Muda, Gilang, Elisa... Siap-siap. Malam ini bukan lagi soal tawuran sekolah. Situasi di kota ini akan menjadi chaos total. Hukum rimba yang sebenarnya akan segera berlaku di setiap jengkal tanah Cikampek."
Ryuka menyeringai lebar, mengepalkan tinjunya hingga berbunyi KRAK! "Bagus... Gua udah nunggu saat-saat ini."
Karangsinom – Kembali ke Wilayah KRS
Pertarungan antara Iky dan Juan akhirnya mencapai titik final. Di bawah pendar lampu merkuri yang berkedip, Ahmad Juanda tersungkur di tanah dengan napas tersengal.
Iky Smntry berdiri di hadapannya, bajunya compang-camping namun dominasinya tak tergoyahkan.
Iky mengulurkan tangannya ke arah Juan. Juan menatap tangan itu sejenak, lalu terkekeh pelan dan menyambutnya untuk berdiri.
"Gua kalah," ucap Juan seraya menyeka darah di dagunya. "Sesuai janji, Satelit bakal ikut di belakang KRS."
Juan menatap ke arah anggota Fraksi Satelit yang tersisa dan memberi isyarat agar mereka menurunkan senjata. Ia kemudian menoleh ke arah Iky dengan senyuman miring yang penuh arti. "Kayak nya kita bakal party lagi, teman lama."
Iky hanya tersenyum tipis, menatap lurus ke arah jalan raya menuju Krajan. "Bukan cuma party, Juan... Perang besar era sekarang resmi dimulai malam ini!"
Diiringi raungan mesin motor dari puluhan anggota KRS dan Satelit yang kini bersatu, Cikampek resmi memasuki babak paling berdarah dalam sejarahnya. Era lama telah berakhir, dan era baru yang dipicu oleh ambisi para kaisar bayangan mulai membakar setiap sudut kota terkutuk ini.