Indonesia
NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

...oOo...

Di dalam kamar utama sayap utara, udara dingin merayap melalui sela-sela jendela tinggi berukir. Baxeena duduk tegak di pinggir peraduan. Gaun tidurnya yang terbuat dari sutra krem jatuh membungkus tubuhnya yang tampak sedikit lebih kurus setelah diterjang morning sickness berturut-turut.

Di sampingnya, Dr. Harrison baru saja selesai merapikan alat-alat medis ke dalam tas kulit hitamnya.

"Suhu tubuh Anda sudah membaik, Nyonya," tutur Dr. Harrison pelan, seraya membungkuk hormat. "Namun detak jantung janin membutuhkan ketenangan mutlak. Saya sangat menyarankan agar Anda tidak terlalu banyak memikul beban pikiran."

Baxeena menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman anggun yang menyimpan daya tahan luar biasa. "Terima kasih, Dokter. Saya tahu cara menjaga diri saya dan calon anak Alistair."

Begitu pintu ganda kamar tertutup rapat di belakang sang dokter, langkah kaki kaku yang sangat dikenalnya berderak di atas karpet tebal koridor. Tidak ada ketukan. Pintu ganda kembali terkuak lebar, menampilkan Ratu Lizzeebeeth yang berdiri dengan gaun kebesarannya yang kaku berwarna biru tua.

Di belakangnya, dua orang sekretaris kerajaan membawa sebuah gulungan perkamen tebal bersampul kulit hitam dengan segel lilin merah dinasti.

"Kau tampak cukup segar untuk seseorang yang kemarin berteriak-teriak soal menguasai istana," sindir Ratu Lizzeebeeth dingin. Matanya memicing, meneliti Baxeena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan keangkuhan yang belum pudar.

Baxeena tidak bangkit berdiri dari tepi ranjangnya, juga tidak membalas sindiran itu dengan nada tajam. Ia hanya melipat kedua tangannya dengan santai di atas pangkuan, menatap sang Ratu dengan sorot mata yang teramat tenang—begitu jernih hingga membuat siapa pun yang menatapnya merasa gundah.

"Selamat Siang, Ibu Ratu," pangkas Baxeena halus. Suaranya mengalun bagai beludru, mahal dan tak tersentuh emosi. "Ada hal penting yang membuat Anda mendatangi kamar saya?"

Ratu Lizzeebeeth mendengus pelan. Ia memberi isyarat tangan kepada sekretaris di belakangnya. Sekretaris itu melangkah maju, meletakkan gulungan perkamen hitam itu di atas meja bundar di samping peraduan Baxeena.

"Itu adalah Kodifikasi Protokol Kehamilan Kerajaan untuk Calon Pewaris Utama," ujar Ratu Lizzeebeeth dengan nada menuntut dan berwibawa. "Sebagai wanita asing yang tidak memahami setitik pun soal tradisi darah murni, kau wajib mematuhi setiap pasal yang tertulis di dalamnya tanpa terkecuali."

Ratu Lizzeebeeth melangkah mendekati meja, mengetukkan Jarinya di atas permukaan meja mahoni yang mengilat.

"Pertama," cerocos sang Ratu, membacakan poin-poin dengan intonasi mematikan. "Kau tidak diizinkan meninggalkan lingkungan sayap utara tanpa izin tertulis dari Dewan Senior Kerajaan. Kedua, seluruh asupan makanan dan minumanmu akan diawasi sepenuhnya oleh tim koki khusus yang ditunjuk olehku. Ketiga, tidak ada kunjungan dari pihak luar—termasuk keluargamu di Los Angeles—hingga bayimu lahir dan dibaptis secara resmi di Katedral."

Sang Ratu berhenti sejenak, memiringkan kepalanya demi mencari raut panik, amarah, atau keberatan di wajah menantunya.

"Dan yang paling utama," tambah Ratu Lizzeebeeth dengan senyum kejam yang tipis, "seluruh komunikasi telepon, surat, dan media dengan Alistair di daerah konflik akan disaring terlebih dahulu oleh sekretariat kerajaan demi menjaga fokus perangnya. Kau tidak diizinkan mengirim kabar soal kehamilanmu ini secara pribadi kepadanya."

Suasana di dalam kamar seketika menjadi membeku. Aturan-aturan itu secara praktis mengisolasi Baxeena dari dunia luar, memotong akses keuangannya, menahannya sebagai tahanan rumah yang megah, serta merampas haknya untuk berbagi kebahagiaan dengan suaminya sendiri.

Setiap wanita dari Los Angeles yang berjiwa bebas pasti akan meledak, menolak, atau setidaknya memaki aturan tidak masuk akal tersebut. Ratu Lizzeebeeth telah bersiap untuk melayani adu argumen panas berikutnya—ia bahkan telah menyiapkan pengawal di luar untuk menyegel kamar jika Baxeena mengamuk.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat napas sang Ratu tertahan di tenggorokan.

Baxeena mengulurkan tangannya yang halus, meraih perkamen tebal itu dengan gerakan yang sangat tenang. Ia membalik lembarannya satu per satu, membaca beberapa pasal dengan ketelitian yang dingin, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah," ucap Baxeena singkat.

Ratu Lizzeebeeth terpaku. "Apa?"

Baxeena mendongak, menatap Ratu Lizzeebeeth dengan senyuman paling tulus dan paling tenang yang pernah disaksikan oleh istana ini.

"Saya menerima dan akan mematuhi seluruh peraturan ini, Ibu Ratu," sahut Baxeena dengan intonasi datar, sama sekali tidak ada nada sarkasme, kemarahan, atau keputusasaan dalam suaranya. "Jika ini adalah protokol resmi yang Anda tetapkan demi keselamatan calon pewaris, maka saya tidak punya alasan untuk membantahnya."

Baxeena meraih pena di atas meja, lalu menandatangani lembar persetujuan di bagian bawah perkamen tersebut dengan guratan tanda tangan yang rapi dan tegas. Setelah itu, ia menyerahkan kembali dokumen tersebut kepada sekretaris yang terpana.

"Semua sudah selesai," tutur Baxeena lembut. "Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan dari saya, Ibu Ratu?"

Ratu Lizzeebeeth berdiri mematung di tempatnya. Wajah tuanya yang biasanya penuh kendali kini memperlihatkan kebingungan yang amat dalam. Ini bukanlah reaksi yang dibayangkannya.

Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman soal keluarga Desmon, tidak ada tangisan penderitaan. Kepatuhan total yang ditunjukkan Baxeena terasa sangat tidak alami—bahkan terasa jauh lebih berbahaya daripada perlawanan terbuka.

Sang Ratu mengibaskan tangannya, menyuruh kedua sekretarisnya keluar dari kamar. Setelah pintu ganda tertutup dan menyisakan mereka berdua saja di dalam ruangan, Ratu Lizzeebeeth melangkah mendekati tempat tidur Baxeena. Tangannya terangkat sedikit, menunjuk Baxeena dengan ketidakpercayaan yang membakar.

"Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan, Baxeena?" desis Ratu Lizzeebeeth, suaranya bergetar oleh kecurigaan yang memuncak. "Kau tidak mungkin mematuhi aturan isolasi ini begitu saja tanpa protes! Kau gadis liar dari Los Angeles yang memaki-maki hukum kerajaanku kemarin! Apa yang sebenarnya kau inginkan?!"

Baxeena menyandarkan punggungnya pada bantal berlapis beludru. Ia mengelus perutnya yang masih rata dengan jemarinya yang lentik, menatap sang ibu mertua dengan tatapan yang amat dalam.

"Apa yang saya inginkan?" ulang Baxeena dengan nada suara yang begitu anggun dan berkelas. "Saya hanya menginginkan apa yang seharusnya menjadi hak suami dan anak saya, Ibu Ratu."

Baxeena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna. "Anda memberikan peraturan ini karena Anda berpikir isolasi akan melemahkan saya, bukan? Anda berpikir bahwa dengan mengurung saya di sayap utara dan memutus komunikasi saya dengan Alistair, saya akan frustrasi, ketakutan, lalu menyerah dan pergi membawa anak ini."

Ratu Lizzeebeeth tidak menjawab, namun kilatan matanya membenarkan setiap patah kata Baxeena.

"Tapi Anda lupa satu hal," lanjut Baxeena, suaranya melunak bagai bisikan namun memotong keheningan kamar dengan sangat tajam. "Dengan menetapkan peraturan resmi ini, Anda secara hukum telah mengakui kehamilan saya sebagai kehamilan resmi calon pewaris Kerajaan. Anda sendiri yang menyegel status anak di dalam rahim saya sebagai pewaris sah Alistair di atas kertas berkop dinasti."

Deg.

Mata Ratu Lizzeebeeth membelalak lebar. Seketika itu juga, kesadaran menghantam dada sang Ratu bagai godam berat.

Baxeena tidak bertindak bodoh. Dengan mematuhi aturan tersebut tanpa protes, Baxeena justru menjebak sang Ratu ke dalam permainannya sendiri.

Dokumen yang baru saja ditandatangani oleh Baxeena bukan sekadar surat isolasi, melainkan bukti otentik yang mengikat Kerajaan untuk melindungi keselamatan Baxeena dan bayinya. Jika terjadi sesuatu pada Baxeena selama berada di dalam pengawasan kaku sang Ratu, maka Ratu Lizzeebeeth-lah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh seluruh dunia dan oleh Alistair saat ia pulang nanti.

"Kau..." bisik Ratu Lizzeebeeth dengan napas tercekat, menyadari betapa cerdasnya taktik bertahan yang dimainkan oleh menantunya.

"Saya mematuhi aturan Anda karena saya tidak perlu membuang energi untuk bertengkar dengan Anda," ujar Baxeena tenang. "Tugas saya sekarang hanyalah menjaga kesehatan tubuh saya dan anak Alistair. Biarlah istana ini dikelilingi oleh tembok kaku Anda... tapi ingatlah, Ibu Ratu, semakin rapat Anda mengurung saya di sini, semakin kuat alasan suamiku untuk meruntuhkan kekuasaan Anda saat dia kembali."

Ratu Lizzeebeeth terhuyung mundur satu langkah. Tenggorokannya terasa kering. Wajah Baxeena yang terpancar di bawah pendar lampu dinding tampak begitu berkuasa—sebuah keanggunan tanpa senjata yang justru jauh lebih menakutkan daripada pasukan militer mana pun.

"Kau sangat licik, Baxeena Valerio Desmon..." desis sang Ratu dengan gigi terkatuk rapat.

"Saya tidak licik," pangkas Baxeena halus, menyunggingkan senyum hangat yang teramat mahal. "Saya hanya seorang ibu yang sedang melindungi masa depan anaknya dari serigala-serigala bermahkota. Sekarang, jika Anda tidak keberatan... saya ingin beristirahat. Bukankah aturan Anda menyatakan saya harus cukup tidur demi kesehatan janin ini?"

Ratu Lizzeebeeth mencengkeram Tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi untuk membalas keanggunan dingin menantunya, sang Ratu memutar tubuhnya kasar dan melangkah keluar kamar dengan kekalahan terselubung yang meremukkan harga dirinya.

Ketika pintu kamar tertutup rapat, Baxeena menarik napas panjang, merilekskan bahunya yang sempat tegang. Ia menyelipkan jemarinya ke bawah bantal sutranya, menarik keluar sebuah lipatan kertas tipis yang disembunyikan Violet pagi-pagi sekali—sebuah surat rahasia beraroma minyak kayu cedar yang diselundupkan oleh jalur pengawal setia Alistair dari garis depan perang.

Baxeena membuka surat itu dengan jemari yang bergetar haru. Tulisan tangan tegas suaminya terukir indah di sana:

'Untuk Baxeena-ku, jiwa dan kehidupanku... Tetaplah bertahan sebentar lagi. Apapun yang ibuku lakukan, jangan biarkan dia menyentuh senyummu. Aku akan pulang membawa kemenangan, dan kita akan membangun dunia kita sendiri bersama putri kita dan calon anak kita.'

Baxeena memeluk surat itu di dadanya, mengusap perutnya dengan senyuman penuh kehangatan.

Di balik benteng kaku dan isolasi istana, ia tahu... perang ini baru saja dimenangkannya satu langkah lebih maju.

1
Mei TResna Rahmatika
nunggu kebenaran tentang violet terkuak
Mei TResna Rahmatika
landon junior high school apakah yg punya landon Desmon kakek nya baxeena ?
Rosdianah 🌷: Huhu author typo itu kak, London (ibu kota inggris) 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
bagussssss
Ainun Mahya
up lagi kakak😍😍😍😍
Mita Paramita
go baxenaa 🔥 tunjukan pesona mu bikin Mak Lampir kesel 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nenek sihir makin panas 🤣
Rosdianah 🌷: Hahah Desmon dilawan 🤭🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
sudah kuduga violet bukan anak alistair
Mei TResna Rahmatika
wahh si lizbet belum tau ntar kalo aj sama braxley tau bisa hancur itu kerajaan 🤣
Mei TResna Rahmatika
🙏ohh ini Lizzie yg dulu di tolong aj ya pas penculikan 🤣
Rosdianah 🌷: Haha iya kaa🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
kau mengirim anak mu ke neraka Zephyr, sblm kau nikahkan knapa tdk cari tau maksud dan tujuan pernikahan itu. suami mu pengusaha sukses, jgn bodoh lah n kau punya koneksi. mudah2 an rahim xeena tdk kering n bisa mengandung.
Mita Paramita
mertua laknat 🤣🤣🤣
untung lawan nya xeena 😝
Rosdianah 🌷: wkwkw🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
jd gk seru, knapa gk dipisahkan aja seenaknya dgn Ali n krg suka klu lakiknya bekas jalang dan ibu mertua mendukung. knapa malah skrg ibunya menikahkan mreka, jls2 dia tau xeena anak mantanya dulu. lagian mommy Zephyr tega membuat anaknya mnikah dgn lelaki duda seperti tdk ada lg lelaki lbh dr Ali. kluarga pengusaha koq n bkn org biasa.
Rosdianah 🌷: Ada kebenaran setelah nya kak, selamat membaca y kaa🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Kita liat nanti diapa yg akan menag ratuelizabet atau bezena
Asriani Rini
Prrsng ternuka di mulsi antara ratu lizabet dan bezena siapakah yg nanti menang
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!