Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana ruang rapat langsung membeku.

Semua anggota yang tadi bersiap bergerak ke lapangan berhenti di tempat. Tatapan mereka serempak mengarah kepada Revan seolah baru saja melihat orang kesurupan.

Di mata mereka, Revan pasti sudah kehilangan akal.

Baru saja Kapolres selesai membagi tugas penyelidikan, tapi polisi muda itu malah meminta cuti dengan santainya.

Bahkan kalau memang ada urusan mendesak, seharusnya cukup melapor kepada kepala tim, bukan langsung kepada Kapolres.

Sikap itu jelas dianggap tidak sopan.

Wajah Kombes Dedi langsung mengeras.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, AKP Budi Santoso sudah lebih dulu angkat bicara.

"Revan, kamu sudah gila, ya?"

Pria itu tertawa sinis.

"Baru diangkat jadi penyidik penuh, sudah besar kepala."

"Semua orang lagi mati-matian buru pelaku, malah kamu minta cuti."

"Memangnya kamu nggak punya rasa tanggung jawab?"

Beberapa anggota lain ikut menggeleng.

Ada yang berbisik pelan.

Ada pula yang terang-terangan mencibir.

Kombes Dedi hanya menghela napas kecewa.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menutup mapnya lalu meninggalkan ruangan.

Melihat atasannya pergi, AKP Budi semakin percaya diri.

Ia melangkah mendekati Revan sambil tersenyum mengejek.

"Lihat sendiri, kan?"

"Kamu benar-benar bikin malu."

"Cuma bilang badan nggak enak langsung minta cuti."

"Memangnya sakit apa?"

"Atau jangan-jangan lagi datang bulan?"

Ucapan itu langsung disambut gelak tawa satu ruangan.

Namun...

Brak!

Tanpa peringatan, Revan meraih gelas kopi di atas meja.

Byur!

Isi kopi panas langsung melayang ke wajah AKP Budi.

"Arrgh!"

Pria itu refleks mengangkat tangan.

Gelas berhasil ditepis.

Namun kopi panas sudah lebih dulu membasahi seragamnya.

Gelas pecah berkeping-keping di lantai.

"Revan! Kurang ajar!"

Wajah AKP Budi memerah menahan marah.

Belum sempat ia melangkah maju...

Buk!

Revan menerjang menggunakan bahunya.

Tubuh Budi terpental beberapa meter hingga menghantam papan presentasi.

Papan itu roboh bersama foto-foto kasus yang berhamburan ke lantai.

Revan menunjuk tepat ke wajahnya.

"Dari dulu gue udah muak sama kelakuan lo."

"Suka kopi, kan?"

"Nih, gue kasih sekalian!"

Seluruh ruangan sontak kacau.

Tak seorang pun menyangka polisi yang selama ini selalu diam tiba-tiba berubah seperti preman jalanan.

"Revan! Lo udah sinting!" teriak Budi sambil bangkit.

Sebagai wakil kepala unit, harga dirinya benar-benar diinjak.

Ia mengepalkan tinju dan hendak membalas.

Namun Revan justru melangkah lebih dulu.

Tatapannya dingin.

Sedikit pun tidak terlihat takut.

Melihat keduanya hampir baku hantam, beberapa penyidik buru-buru memisahkan.

Namun mereka justru berusaha menahan Revan agar AKP Budi bisa melampiaskan emosinya.

Sayangnya...

Mereka salah orang.

Revan yang sekarang adalah mantan eksekutor organisasi kriminal.

Tenaga dan refleksnya jauh di atas orang biasa.

Sekali mengibaskan tangan...

Dua orang langsung terpental.

Seorang lagi menabrak meja hingga komputer jatuh dan monitornya pecah.

Ruangan investigasi berubah menjadi berantakan.

Kompol Maya ikut maju mencoba menghentikan keributan.

Sementara Nina buru-buru berdiri di depan Revan agar situasi tidak semakin buruk.

Revan sama sekali tidak peduli.

Ia menyapu semua orang dengan tatapan tajam.

"Dengerin baik-baik!"

"Selama ini kalian seenaknya nindas gue."

"Gue ingat semuanya."

"Mulai hari ini..."

"Kalau masih ada yang berani macam-macam sama gue..."

"...jangan salahkan kalau gue balas lebih keras."

Ruangan kembali sunyi.

Semua orang hanya bisa saling pandang.

Tak ada yang mengerti.

Ke mana Revan yang pendiam itu pergi?

Orang yang berdiri di depan mereka sekarang benar-benar seperti preman yang baru keluar dari penjara.

AKP Budi menggertakkan gigi.

"Revan..."

"Gue pastikan karier lo selesai."

Revan hanya tertawa kecil.

"Karier?"

"Gue nggak peduli."

"Lagian kalau isinya cuma senior sok jago kayak kalian..."

"Unit ini nggak ada yang bisa dibanggakan."

Setelah berkata demikian, Revan membalikkan badan.

Ia berjalan santai menuju pintu.

Bahkan sempat bersiul pelan.

Brak!

Pintu ruang investigasi dibanting begitu keras hingga seluruh ruangan bergetar.

Beberapa detik setelah ia pergi...

Barulah seseorang berani bicara.

"Revan kenapa?"

"Kok berubah total?"

"Biasanya dia pendiam."

"Iya... sekarang malah kayak preman."

AKP Budi masih berdiri dengan wajah merah padam.

Ia mengepalkan kedua tinjunya.

"Tunggu saja..."

"Gue bakal bikin dia menyesal."

Keluar dari kantor polisi, Revan menghirup udara dalam-dalam.

Entah kenapa, melampiaskan semua kekesalannya barusan membuat dadanya terasa jauh lebih lega.

Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikirannya.

Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Apakah ia benar-benar mengambil alih tubuh orang lain?

Lalu ke mana pemilik tubuh ini?

Ingatan yang baru ia terima terus bermunculan.

Revan yang asli ternyata lahir di sebuah desa kecil di Jawa Tengah.

Orang tuanya hidup sederhana.

Sejak kecil ia belajar mati-matian hingga akhirnya diterima di Akademi Kepolisian dan menjadi penyidik muda.

Sementara dirinya...

Memilih jalan kekerasan.

Hidup di dunia hitam.

Dua orang dengan nama yang sama.

Tanggal lahir yang sama.

Tetapi nasib yang bertolak belakang.

Revan tersenyum tipis.

"Dulu gue dikejar-kejar polisi..."

"Sekarang malah jadi polisi."

Ironis.

Ia lalu berpikir lebih jauh.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Mengundurkan diri lalu kembali menjadi preman?

Atau tetap menjadi polisi dengan kehidupan yang lebih tenang?

Tak sampai semenit berpikir...

Revan langsung mengambil keputusan.

"Ah, bodo amat."

"Gue baru aja lolos dari hukuman mati."

"Yang penting nikmatin hidup dulu."

Selama dua tahun mendekam di penjara, ia tak pernah benar-benar merasakan kebebasan.

Sekarang kesempatan itu datang lagi.

Tentu saja ia ingin memuaskan semua keinginannya lebih dulu.

Revan melambaikan tangan.

Sebuah taksi berhenti di depannya.

"Bang, jalan."

"Mau ke mana, Mas?" tanya sopir.

Revan menyebutkan sebuah kawasan hiburan malam di Jakarta.

Mobil pun melaju.

Di dashboard, ia melihat sebungkus rokok milik sopir.

Tanpa basa-basi, ia mengambil sebatang.

Sopir hanya tersenyum ramah lalu menyodorkan korek api.

Revan menyalakan rokok itu.

Baru satu isapan...

"Uhuk... uhuk... uhuk!"

Ia batuk keras sampai matanya berair.

Dadanya seperti terbakar.

"Sial..."

"Jangan bilang tubuh ini nggak pernah ngerokok."

Belum selesai ia menggerutu...

Tiba-tiba terdengar suara asing di dalam kepalanya.

"Sistem Keberuntungan berhasil diaktifkan."

Revan langsung menoleh ke arah sopir.

Pria itu tetap fokus menyetir seolah tidak mendengar apa pun.

Berarti...

Suara itu hanya terdengar olehnya.

Beberapa detik kemudian suara itu kembali berbunyi.

"Ramalan hari ini: Gunung bertemu danau."

"Keberuntungan sedang mendekat."

"Ikuti arus."

"Hadiah akan datang."

Setelah itu...

Sunyi.

Revan mengernyit.

"Sistem?"

Matanya perlahan membesar.

Bukankah di cerita-cerita tentang orang yang berpindah kehidupan selalu ada semacam sistem seperti ini?

Kalau benar...

Berarti ia juga mendapatkannya?

Revan tersenyum lebar.

"Oke..."

"Kalau memang ada sistem..."

"Terus... gunanya buat apa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!