"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di ruangan balai desa yang sederhana namun hangat, tim BEM sudah bersiap melaksanakan sesi edukasi mengenai kebersihan dan perilaku hidup bersih. Beberapa ibu-ibu duduk bersama anak-anak mereka, sementara beberapa bapak berada di bagian belakang ruangan.
Sekar dan Rafka berdiri di depan papan tulis yang dipenuhi gambar serta poin-poin sederhana. Azel berdiri di samping mereka, sesekali membantu memastikan anak-anak tetap memperhatikan.
"Baik, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak," Sekar membuka sesi dengan senyum ramah. "Hari ini kita akan belajar tentang pentingnya menjaga kebersihan, terutama untuk anak-anak."
Sekar menunjuk gambar di papan. "Mulai dari mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan kamar mandi, sampai membuang sampah pada tempatnya."
Setelah beberapa penjelasan, Sekar memberi kesempatan kepada Azel untuk menerangkan bagian berikutnya.
Azel maju dengan senyum lembut. "Sebetulnya menjaga kebersihan itu nggak harus dimulai dari sesuatu yang besar, Bu. Yang penting adalah kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari."
Ia menunjuk gambar seorang anak yang sedang mencuci tangan. "Misalnya, biasakan anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah bermain di luar. Kalau anak-anak sudah dibiasakan dari kecil, insyaallah mereka akan terbiasa sampai besar."
Cara Azel menjelaskan begitu sederhana. Tidak terlalu banyak istilah. Tidak terdengar menggurui. Bahkan ketika seorang anak bertanya, Azel langsung berjongkok agar sejajar dengannya.
"Kalau lihat sampah di lantai, harus diapain?"
"Diambil, Kak!"
"Lalu?"
"Dibuang ke tempat sampah!"
Azel tersenyum lebar. "Nah, pintar."
Beberapa ibu-ibu yang sejak tadi mendengarkan mulai tersenyum.
Salah seorang ibu bahkan mengangkat tangan. "Neng..."
Azel menoleh. "Iya, Bu?"
"Eta mah gampang pisan dipikahartosna."
Azel tersenyum. "Alhamdulillah, Bu."
"Abdi mah resep ningali budak-budak ayeuna. Mun ti alit geus diajarkeun beberesih, engkéna moal hese.
Seorang ibu lain ikut menyahut. "Neng, ieu teh nami na saha?"
Azel menunjuk dirinya sendiri. "Saya, Bu?"
"Iya. Namina saha?"
"Azel, Bu."
"Azel?"
"Iya."
Ibu itu langsung tersenyum lebar. "Atuh geulis pisan, Neng Azel!"
Beberapa ibu lainnya langsung tertawa. "Iya euy, geulis pisan. Putih, bageur deuih."
Azel langsung salah tingkah. "Aduh, Ibu... Ulah dipuji terus, atuh. Abdi jadi isin."
Salah seorang ibu terkekeh. "Isin naon? Geulis mah geulis wae."
Azel tertawa kecil. "Muhun, Bu. Hatur nuhun."
Ibu yang tadi bertanya kembali memperhatikan Azel. "Neng Azel tos gaduh kabogoh?"
Sekar yang berdiri di sampingnya langsung menahan tawa.
Azel membulatkan mata. "Eh? Teu acan, Bu."
"Teu acan?"
Azel menggeleng. "Teu acan."
"Alhamdulillah..."
Ibu itu langsung tersenyum penuh arti. "Mun kitu mah masih tiasa dicarikeun."
Ruangan langsung dipenuhi tawa. Azel menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Allah, Ibu..."
Sekar sudah tidak kuat menahan tawanya. "Hahaha!"
"Diam, Sek!" Azel mencubit pelan lengan Sekar.
Sementara itu, di sudut ruangan, Fariz memperhatikan semua itu. Senyum kecil muncul di wajahnya. Ia semakin kagum melihat cara Azel berinteraksi dengan warga, terutama anak-anak.
Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan. Memang seperti itulah Azel. Lembut. Ramah. Dan mudah sekali membuat anak-anak merasa nyaman di dekatnya.
Fariz tau Azel memang menyukai anak-anak. Melihatnya berinteraksi dengan mereka membuat kekagumannya kepada gadis itu semakin bertambah.
Namun... Tidak semua orang menikmati pemandangan tersebut.
Di sisi lain ruangan, Sarah hanya diam. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Tatapannya tertuju kepada Azel yang kini kembali menjelaskan materi kepada seorang ibu dengan senyum ramah. Apalagi ketika beberapa warga kembali memuji Azel.
"Geulis pisan."
"Bageur pisan."
"Budakna oge resep ka manehna."
Pujian-pujian itu justru membuat dada Sarah terasa semakin panas. Ia tidak suka. Tidak suka melihat semua orang mudah menyukai Azel. Tidak suka melihat Fariz terus memperhatikan gadis itu. Dan yang paling membuatnya kesal seolah-olah di mana pun Azel berada, selalu saja ada orang yang memujinya.
Sarah menggenggam tangannya semakin erat. Dalam hati ia berbisik, "Kenapa semua orang selalu melihat dia?"
Sementara Azel sama sekali tidak menyadari kebencian yang kembali tumbuh di sudut ruangan. Ia justru sedang sibuk membantu seorang anak kecil mencuci tangan dengan benar.
"Pelan-pelan. Sabunnya jangan sedikit. Nah, gosok sampai sela-sela jarinya."
Anak itu terkekeh. "Iya, Kak."
Azel ikut tersenyum. Dan dari kejauhan, Fariz semakin yakin bahwa kekagumannya kepada gadis itu bukan sekadar karena kecantikannya. Melainkan karena hati dan caranya memperlakukan orang lain.
Setelah sesi edukasi mengenai kebersihan selesai, kegiatan tidak langsung berakhir. Sesuai rundown yang telah disusun, para mahasiswa melanjutkan rangkaian program berikutnya.
Sekar menutup sesi dengan senyum ramah. "Baik, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk belajar bersama kami. Semoga setelah ini kita bisa sama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan perilaku hidup bersih di rumah."
Tepuk tangan terdengar dari warga.
Azel kemudian membantu mengarahkan warga untuk beristirahat sejenak sebelum kegiatan berikutnya dimulai.
***
Beberapa saat kemudian, divisi ekonomi mulai mengambil alih.
Fariz berdiri di depan bersama beberapa anggota BEM lainnya. Di papan tulis telah tertulis beberapa poin sederhana mengenai cara mengatur keuangan usaha.
"Kalau usaha kita ingin berkembang, bukan cuma soal berapa banyak uang yang masuk," jelas Fariz "Tapi kita juga harus tau berapa uang yang keluar. Jadi, pemasukan dan pengeluaran sebaiknya dicatat."
Beberapa ibu mulai membuka buku catatan mereka. Azel kemudian ikut membantu memberikan contoh agar materi lebih mudah dipahami.
"Misalnya Ibu punya usaha gorengan. Setiap hari ada uang hasil jualan. Jangan langsung dianggap semuanya sebagai keuntungan."
Azel menulis beberapa contoh angka di papan. Misalnya, hari ini hasil jualan Ibu mencapai seratus ribu rupiah. Tapi untuk membeli tepung, minyak, gas, dan bahan-bahan lainnya, Ibu mengeluarkan enam puluh ribu rupiah. Berarti setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk usaha, masih ada selisih empat puluh ribu rupiah."
Azel menunjuk angka di papan. "Tapi, Bu, jangan langsung menganggap empat puluh ribu itu semuanya keuntungan yang bisa dipakai. Kita tetap perlu mencatat semua pengeluaran supaya tahu berapa sebenarnya keuntungan usaha kita."
Seorang ibu mengangguk-angguk. "Berarti artos modal sareng artos hasil jualan ulah dicampur, nya, Neng?"
(Berarti uang modal dan uang hasil jualan jangan dicampur, ya, Neng?)
Azel langsung tersenyum. "Muhun, Bu. Saéna dipisahkeun."
(Iya, Bu. Sebaiknya dipisahkan.)
"Supados langkung gampang terang mana modal, mana hasil usaha." (Supaya lebih mudah mengetahui mana modal dan mana hasil usaha.)
Ibu lainnya ikut bertanya. "Terus upami artosna dicampur, kumaha, Neng?" (Kalau uangnya terlanjur dicampur, bagaimana, Neng?)
Azel menjawab dengan lembut. "Teu nanaon, Bu. Ti ayeuna tiasa mimiti dipisahkeun." (Tidak apa-apa, Bu. Mulai sekarang bisa mulai dipisahkan.)
"Upami tiasa, nyieun catetan alit unggal dinten." (Kalau bisa, buat catatan kecil setiap hari.)
"Naon wae anu dibeli kanggo usaha, ditulis. Teras sabaraha hasil penjualanana, ditulis deui." (Apa saja yang dibeli untuk usaha, dicatat. Kemudian berapa hasil penjualannya, dicatat juga.)
Seorang ibu mengangguk dengan wajah semakin paham. "Oh, janten teu kedah rumit, nya?" (Oh, jadi sebenarnya tidak perlu rumit, ya?)
Azel tertawa kecil. "Muhun, Bu. Anu penting mah konsisten." (Iya, Bu. Yang penting konsisten.)
Fariz yang berdiri di samping Azel ikut menambahkan, "Betul, Bu. Kalau pencatatannya sudah terbiasa, nanti kita juga lebih mudah menghitung keuntungan dan menentukan berapa uang yang bisa diputar kembali untuk usaha."
Salah seorang ibu tiba-tiba memperhatikan Fariz dan Azel secara bergantian.
"Eh..."
"Naon, Bu?" Fariz bertanya.
Ibu itu tersenyum lebar. "Aranjeun duaan mah..."
Ia menunjuk Fariz dan Azel bergantian. "...cocog pisan, euy!" (Kalian berdua itu cocok sekali!)
Beberapa ibu langsung tertawa.
Azel seketika membulatkan mata. "Eh, Ibu..."
Ibu lainnya ikut menimpali. "Leres!" (Benar!)
"Ti tadi mah katingalina kompak pisan." (Dari tadi kelihatannya kompak sekali.)
"Nu hiji nerangkeun, nu hiji deui nulungan ngajelaskeun." (Yang satu menjelaskan, yang satunya lagi membantu menerangkan.)
"Mun kitu mah, tiasa janten pasangan bisnis..."
Ibu itu sengaja berhenti sejenak.
"...atanapi pasangan hirup." (Kalau begitu, bisa jadi pasangan bisnis... atau pasangan hidup.)
Seketika ruangan dipenuhi tawa.
Wajah Azel langsung memerah. "Ya Allah, Ibu..."
Sekar yang berada tidak jauh dari mereka sampai menutup mulut menahan tawa.
Fariz sendiri hanya tersenyum canggung. "Ah, Ibu bisa saja."
"Abdi mah serius, Neng." (Saya serius, Neng.)
"Fariz sareng Azel mah katingalina sami-sami bageur." (Fariz dan Azel kelihatannya sama-sama baik.)
"Pas pisan!"n(Cocok sekali!)
Azel semakin salah tingkah. "Ibu, urang di dieu mah bade diajar literasi keuangan, sanés milarian jodo." (Ibu, kita di sini mau belajar literasi keuangan, bukan mencari jodoh.)
Seketika para ibu kembali tertawa.
"Atuh teu aya salahna!" (Ya, tidak ada salahnya!)
"Diajar keuangan bari diajar milarian jodo." (Belajar keuangan sambil belajar mencari jodoh.)
Azel hanya bisa menggeleng sambil menahan malu. Sementara Fariz diam-diam tersenyum. Namun dari sisi ruangan yang lain, Sarah yang sejak tadi ikut membantu divisi konsumsi mendengar seluruh percakapan itu. Tangannya yang sedang memegang botol air berhenti bergerak. Wajahnya langsung berubah masam.
"Cocok apanya sih..." gumamnya pelan.
Tatapannya tertuju kepada Fariz yang masih tersenyum kepada Azel. Apalagi ketika salah seorang ibu kembali berkata,
"Geulis sareng kasep. Cocog pisan!" (Cantik dan tampan. Cocok sekali!)
Sarah mendengkus. "Baru juga kegiatan beberapa hari, sudah dijodoh-jodohkan."
Devi yang berada di sampingnya melirik. "Kenapa, Sar?"
"Apanya yang kenapa?"
"Lo kelihatan kesel."
Sarah langsung menggeleng. "Enggak."
"Terus kenapa mukanya begitu?"
Sarah memasang wajah datar. "Gerah."
Devi melirik ke sekeliling ruangan yang justru cukup sejuk. "Gerah?"
"Iya."
"Padahal di sini dingin."
Sarah tidak menjawab. Ia kembali menatap Fariz dan Azel. Entah kenapa, melihat keduanya berdiri berdampingan membuat dadanya semakin panas. Selama ini ia selalu berharap Fariz akan melihat dirinya. Namun sekarang justru semua orang seakan melihat Fariz dan Azel sebagai pasangan yang cocok.
Sarah menggenggam botol minumnya semakin erat. "Jangan harap..." gumamnya lirih. "...gue bakal tinggal diam."
Setelah itu, giliran divisi kesehatan. Delia bersama Raka dan beberapa anggota lainnya menjelaskan mengenai pola hidup sehat, kebersihan lingkungan, serta pentingnya memperhatikan kondisi kesehatan keluarga.
Mereka juga melakukan pemeriksaan sederhana bagi warga yang ingin memeriksakan tekanan darah.
Azel kembali sibuk membantu mengatur antrean. "Yang sudah diperiksa bisa duduk di sebelah sana dulu, Bu. Jangan berdesakan."
Seorang anak kecil yang sejak tadi menempel pada ibunya justru menarik tangan Azel. "Kak..."
"Hm?"
"Kalau aku sakit, disuntik nggak?"
Azel tertawa kecil. "Belum tentu. Takut?"
Anak itu mengangguk.
Azel berjongkok di depannya. "Kalau sakit, kita harus berani diperiksa. Nanti Kakak temenin."
Anak itu akhirnya tersenyum. "Iya."
***
Menjelang siang, kegiatan berlanjut dengan pelatihan pengelolaan sampah. Para mahasiswa mengajak warga memilah sampah organik dan anorganik. Beberapa tempat sampah diberi label sederhana agar warga lebih mudah membedakannya.
Rafka bahkan ikut turun langsung mengumpulkan sampah bersama beberapa anak muda desa.
"Yang ini masuk organik!"
"Kalau botol plastik?"
"Anorganik!"
Anak-anak berseru dengan semangat. Azel ikut membantu mereka sambil sesekali mengingatkan agar tidak menyentuh sampah secara langsung.
"Kalau sudah selesai jangan lupa cuci tangan."
"Siap, Kak!"
Suasana yang awalnya seperti kegiatan penyuluhan berubah menjadi kegiatan gotong royong yang penuh tawa.
Sore harinya, mahasiswa dan warga bergerak menuju lahan kosong di sekitar desa. Beberapa bibit pohon telah disiapkan. Ihsan memberikan arahan singkat.
"Kita tanam bersama-sama. Harapannya, pohon-pohon ini bukan cuma jadi bagian dari kegiatan hari ini. Tapi bisa dirawat dan tumbuh untuk warga desa beberapa tahun ke depan."
Para mahasiswa kemudian berbaur dengan warga. Azel mendapatkan satu bibit kecil. Ia menggali tanah bersama seorang anak perempuan yang sejak pagi mengikutinya.
"Kak, nanti pohonnya gede?"
"Insya Allah."
"Kalau sudah gede, ada buahnya?"
Azel tersenyum. "Kalau kita pilih pohon yang berbuah, nanti bisa."
"Terus harus disiram?"
"Iya."
"Kalau nggak?"
"Pohonnya bisa mati."
Anak itu langsung mengangguk serius. "Berarti aku harus jagain."
Azel tersenyum bangga. "Nah, pintar."
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, suasana di posko mulai mereda. Ibu-ibu dan warga desa yang sejak siang memenuhi balai desa satu per satu telah kembali ke rumah masing-masing.
Sekar, Azel, dan Bella duduk di salah satu meja sambil merapikan catatan serta perlengkapan edukasi yang masih berserakan.
Azel sedang memasukkan beberapa lembar materi ke dalam map ketika suara Sarah terdengar dari belakang.
"Lo tuh kenapa sih harus selalu caper?"
Gerakan tangan Azel berhenti. Sekar langsung menoleh. Bella mengangkat wajahnya, tampak tidak suka dengan nada bicara Sarah.
Azel menarik napas pelan sebelum menatap Sarah. "Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
"Jangan pura-pura nggak tahu."
Sarah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Dari tadi semua orang cuma ngomongin lo. Ibu-ibu desa sampai muji-muji lo. Terus lo juga yang paling sering maju ngomong sama warga."
Azel mengernyit. "Karena itu memang tugas gue sebagai Humas, Kak."
"Humas bukan berarti harus mengambil semua kesempatan!"
"Saya nggak mengambil kesempatan siapa-siapa."
Nada suara Azel masih tenang. "Kalau ada warga yang bertanya, saya jawab. Kalau mereka butuh bantuan, saya bantu. Memangnya saya harus diam saja?"
Sarah mendengus. "Ya, jangan selalu merasa paling bisa!"
Sekar langsung berdiri. "Eh, Sarah. Dari tadi gue masih sabar, ya. Kalau Azel menjelaskan karena warga lebih mudah memahami cara dia menjelaskan, itu bukan salah Azel."
Sarah menatap Sekar tajam. "Gue ngomong sama Azel, bukan sama lo."
"Terus gue juga ngomong sama lo." Sekar tidak mau kalah.
Suasana yang tadinya tenang mulai memanas.
Azel segera berdiri. "Udah, Sek."
Kemudian ia menatap Sarah. "Kak Sarah kalau memang ada yang kurang dari cara kerja saya, bilang saja. Jangan bilang saya caper."
Sarah tertawa sinis. "Ya karena kenyataannya memang begitu."
"Bagian mana yang saya caper?"
"Lo tuh selalu aja kelihatan paling menonjol."
Azel terdiam sesaat. Kemudian ia menjawab dengan suara lebih tegas. "Kalau saya terlihat menonjol karena saya menjalankan tugas, saya harus bagaimana?"
Sarah hendak menjawab, tetapi sebuah suara laki-laki lebih dulu terdengar.
"Sudah." Fariz yang sejak tadi berada di meja sebelah akhirnya berdiri dan menghampiri mereka.
Ia menatap Sarah lebih dulu. "Kita datang ke sini buat mengabdi, bukan buat menjatuhkan satu sama lain."
"Tapi, Fariz—"
"Saya belum selesai." Nada Fariz tetap tenang, tetapi cukup tegas untuk membuat Sarah terdiam.
Fariz kemudian menoleh kepada Azel. "Dan kamu juga, Zel."
Azel mengangkat alis. "Kalau sudah mulai panas, jangan diladeni."
"Saya cuma menjawab, Kak."
"Saya tau." Fariz tersenyum tipis. "Tapi nggak semua ucapan harus dibalas."
Sekar menghela napas. "Kalau nggak dibalas, nanti dia makin seenaknya."
Fariz menatap Sekar. "Makanya saya yang bicara."
Kemudian pandangannya kembali berpindah kepada Sarah. "Sarah, kalau ada masalah dengan cara kerja Azel, sampaikan secara profesional. Jangan menyerang pribadi."
Sarah mengepalkan tangan. "Tapi lo selalu membela dia."
Ruangan mendadak hening.
Fariz terdiam sesaat. "Saya membela siapa pun yang diperlakukan tidak adil."
Jawaban itu membuat Sarah semakin terdiam.
Azel sendiri tampak tidak nyaman. "Kak, udah."
Ia mengambil map di atas meja. "Saya nggak mau masalah ini jadi panjang."
Azel hendak pergi, tetapi Fariz memanggilnya.
"Zel."
Azel menoleh.
"Besok kamu tetap satu tim sama saya untuk kegiatan UMKM."
"Iya, Kak."
"Jangan pikirkan omongan yang tadi."
Azel mengangguk kecil. "Baik."
Sarah hanya bisa memandang mereka dengan rahang mengeras. Perasaan kesalnya kepada Azel bukannya mereda, justru semakin besar.
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.