Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang yang Mulai Terisi
Pagi harinya, aku bangun dengan semangat baru. Ada sesuatu yang meletup-letup hangat di dalam dada, entah apa namanya. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap menuju rumah Naura. Saat keluar kamar, aku mendapati Ibu sedang duduk sendirian di meja makan sambil mengelap beberapa sendok dan garpu.
"Ibu enggak ke toko hari ini?" tanyaku.
"Nanti agak siangan, Ibu sedikit enggak enak badan," jawab Ibu. "Kamu mau ke mana rapi-rapi pagi begini?"
"Aku ada janji ke rumah Naura, Bu. Aku berangkat ya," pamitku singkat.
"Enggak sarapan dulu?" teriak Ibu dari meja makan.
"Nanti aja di rumah Naura, Bu!" jawabku seraya melangkah keluar.
Hubunganku dan Ibu memang tidak terlalu dekat. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan, mungkin sejak Ayah makin sering bertugas ke luar kota dan jarang pulang. Setiap kali Ayah pulang, ujung-ujungnya mereka pasti bertengkar. Aku tidak pernah mau tahu apa yang mereka perdebatkan. Padahal, aku sebenarnya lebih dekat dengan Ayah, beliau jauh lebih santai dan terbuka diajak berdiskusi dibanding Ibu yang cenderung kaku dan galak.
Aku melajukan motor Scoopy merahku menembus angin pagi menuju rumah Naura. Di sepanjang jalan, bayangan Adrian mendadak berputar di kepalaku. Aku suka caranya mendengarkanku, aku suka binar antusias di matanya saat menunggu jawabanku, aku suka senyumannya, dan... aku sangat suka saat dia meraih jemariku lalu menyilangkannya di pinggangnya malam itu. Tanpa sadar, aku tersenyum-senyum sendiri di balik helm.
Sesampainya di rumah Naura, aku memarkirkan motor di halaman. Seperti biasa, kakak Naura yang membukakan pintu dan mempersilahkanku langsung masuk ke kamar adiknya.
Kubuka pintu kamar dan langsung menubruk manusia yang masih terlelap di atas kasur itu dengan sebuah pelukan erat.
"Aduhhh... berat, Ser! Lo kenapa sih?" ringis Naura sambil mengucek mata dan berusaha mendorong badanku dari atas tubuhnya.
"Kesambet apa lo? Datang-datang senyum-senyum sendiri!" cerocosnya begitu melihat wajahku. "Buka dulu tuh helm!"
"Astaga, gue lupa!" seruku kaget sambil buru-buru melepas helm.
"Lo kenapa sih? Balikan lo sama Ray?" tebak Naura menyelidik.
Aku menggeleng cepat.
"Terus apaan? Parah lo enggak cerita-cerita!"
"Mending lo mandi dulu sana, bau jigong!" ledekku mengalihkan pembicaraan.
"Enak aja lo!" sahut Naura sembari beranjak bangun. "Yaudah gue mandi dulu. Nih rasain jigong gue, HAH!" godanya sengaja mengembuskan napas ke arahku.
"Bau orang gilaaa!" pekikku sambil menutup hidung rapat-rapat.
Selagi Naura mandi, aku duduk di kasurnya sambil memeluk boneka capybara kesayangannya erat-erat, meresapi rasa hangat yang masih asing ini. Lamunanku terbuyarkan oleh denting notifikasi WA. Buru-buru kuambil ponselku, dan senyumku makin mengembang begitu melihat nama pengirimnya.
“Pagi Sera, lagi apa?”
Jemariku bergerak lincah membalas:
“Pagi juga, Mas. Sera lagi di rumah Naura nih, sahabat Sera. Mas sendiri lagi apa?”
“Mas lagi santai di rumah aja, Ser.”
Naura keluar dari kamar mandi dan langsung melempar handuk basahnya ke arahku. "Gila lo, mesem-mesem sendiri!"
"Yeee, enak aja!" Aku menaruh ponsel lalu melemparkan balik handuk itu padanya.
"Si Ray kemarin nyamperin gue ke kelas," cerita Naura sambil membongkar lemarinya mencari pakaian.
"Terus?"
"Kelas gue kan lagi ramai, disangkanya gue pacaran sama Ray! Gila kali," dumalnya.
"Hahaha, terus-terus?"
"Dia nanyain lo. Kayaknya dia udah putus deh sama Indah," bisik Naura.
"Masa sih? Tahu dari mana lo?"
"Coba aja lo buka HP gue, lihat bio IG-nya Indah. Udah enggak ada nama Ray," ujar Naura menunjuk ponselnya di meja.
"Ogah ah, biarin aja," balasku santai. Anehnya, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengeceknya.
"Lo udah tahu? Balikan kan lo sama dia?" tebak Naura sembari memakai kausnya.
"Enggak, Nau! Sumpah!"
"Terus kenapa lo aneh gini? Datang-datang meluk-meluk gue terus cengar-cengir kayak orang gila baru?" cerca Naura kepo.
"Gue enggak tahu... tapi yang pasti ini bukan soal Ray," jawabku jujur.
"Ada yang baru yaaa? Hayooo ngaku lo!" serbu Naura menyenggol bahuku.
Aku hanya tersenyum malu-malu menatapnya.
"Parah, enggak cerita! Siapa, Sera?"
"Gue baru jalan sekali doang, belum ada hubungan apa-apa juga. Tapi yang kali ini tuh beda, Nau. Gue nyaman banget sama dia," jelasku pelan.
"Iya, siapa namanya?"
"Adrian."
"Siapa tuh?" Naura mengernyit bingung. "Teman sekelas lo?"
"Abangnya teman sekolah gue."
"Gila looo! Udah tua dong?" pekik Naura kaget.
"Ya enggak tua-tua amat! Cuma lebih dewasa aja dari gue, beda tiga atau empat tahun kayaknya," jelasku membela diri.
"Idih, kalau gue sih takut ya, Ser! Udah kayak om-om itu mah!"
"Enak aja!" sungutku tak terima.
"Teman gue kakaknya baru buka kafe baru, ke sana yuk!" ajak Naura.
"Ayok! Tapi lo yang traktir ya?" candaku.
"Aman!" sahut Naura mantap.
Selesai bersiap-siap, Naura berpamitan pada Kak Citra. Aku berjalan menyusul di belakangnya.
"Mau ke mana, Dek?" tanya Kak Citra dari ruang tengah.
"Mau ngeramein launching kafe kakaknya temenku, Kak. Kakak enggak usah masak ya, aku makan di luar aja sama Sera," jawab Naura.
"Hati-hati di jalan ya," pesan Kak Citra.
"Pamit ya, Kak," ucapku yang dibalas senyuman ramah oleh Kak Citra.
"Lo aja yang bawa motor dong!" pintaku pada Naura saat di halaman.
"Pas baliknya aja deh!" tawar Naura.
Kami pun melaju menuju lokasi kafe tersebut. Di perjalanan, aku bertanya penasaran, "Temen lo ini cewek atau cowok nih?"
"Cowok, hahaha!" jawab Naura puas.
"Temen biasa atau gebetan lo?" tanyaku memastikan.
"Temen, Ser! Temen ekskul gue di sekolah, Bastian namanya," jelas Naura.
"Satu ekskul sama Ray juga dong?"
"Gitu deh..." jawab Naura pelan.
"Berarti nanti Ray ada di sana juga dong?" tanyaku cemas.
"Mana gue tahu," sahut Naura cuek.
Perasaanku mendadak tidak tenang. Bagaimana kalau Ray benar-benar ada di sana? Aku pasti bakal canggung setengah mati. Apalagi kalau Ray datang bersama Indah... Pikiranku mendadak berkecamuk tak karuan.
Tak lama, kami sampai di depan kafe tersebut. Safehouse Brew, begitu nama yang tertera di papan penanda. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi terasa sangat nyaman dan estetis. Konsepnya didominasi warna hitam, putih, serta sentuhan hijau. Gaya vintang-nya terasa kuat dengan sedikit nuansa gotik. Banyak ornamen band rock klasik menghiasi sudut-sudut ruangan, ada poster Billie Joe Armstrong hingga James Owen Sullivan alias The Rev yang sedang beraksi memainkan drumnya.
Aku langsung jatuh cinta pada tempat ini. Rasanya sangat mewakili diriku, semua yang kusukai ada di sini. Beberapa pot tanaman rimbun di sudut ruangan makin menambah kesan sejuk dan teduh.
"Sera, itu temen gue, Bastian!" seru Naura mengagetkanku sambil menunjuk seorang laki-laki seusia kami. Perawakannya tinggi, berkacamata, berkulit manis, dengan poni yang hampir menutup dahi. Dia mengenakan kemeja hitam dan celana chinos krem. Bastian melangkah mendekati kami.
"Hai Ra, datang juga kamu," sapanya pada Naura.
"Datang dong, masa enggak. Ini kenalin sahabatku, Sera," ucap Naura mengenalkanku.
Laki-laki itu mengulurkan tangan ramah. "Hai Sera, aku Bastian. Salam kenal ya."
"Hai, Sera. Salam kenal juga," balasku tersenyum.
"Ayo sini, aku kenalin ke abangku," ajak Bastian menuntun kami masuk lebih dalam.
Mataku masih sibuk menyapu setiap sudut ruangan, benar-benar mengagumi interior kafe ini.
"Bang, kenalin nih temen gue. Ini Naura, terus ini sahabatnya, Sera," ucap Bastian pada pria di balik meja bar.
Pria itu menoleh. "Halo Naura, gue Bram. Salam kenal ya," sapa abang Bastian ramah.
"Hai Kak, aku Naura," balas Naura. Ia lalu menyenggol bahuku yang masih sibuk mengamati sekitar.
Pria itu memandangi wajahku lalu terperanjat. "Lho, Sera? Sera yang kemarin, kan?"
Aku ikut terkejut. "Kak Bram? Kafe ini punya Kakak?"
"Kalian udah saling kenal?" tanya Bastian bingung.
"Baru kemarin dikenalin sama Iyan," jawab Bram tersenyum lebar. "Iya Sera, masih kecil-kecilan. Tapi akhirnya kesampaian juga punya tempat sendiri, cita-cita gue dari dulu nih."
"Wah, keren banget kafenya, Kak! Aku sampai melongo lihat seisi kafe ini," puji tulus.
"Bisa aja kamu, Ser," sahut Bram tertawa pelan. "Duduk yuk! Udah pada makan belum?"
"Kebetulan belum, Kak," jawab Naura jujur.
"Dek, bawa mereka ke meja ya, ntar gue bawain menunya," perintah Bram pada adiknya.
"Siap, Bang!"
Bastian mengantar kami menuju meja nomor 5. Mejanya lumayan besar, terbuat dari kayu jati yang kokoh dan cukup untuk enam hingga delapan orang.
Tak lama Bram datang menyodorkan daftar menu. "Ini menunya. Guys, gue tinggal dulu ya, enjoy!"
"Makasih, Kak!" jawabku dan Naura kompak.
"Lo mau pesan apa, Ser?" tanya Naura.
"Gue ini aja deh, rice box cumi hijau. Minumnya... air putih aja deh," jawabku.
"Aku pesan rice box se'i sapi matah, minumnya air putih juga. Kebetulan kita belum sarapan, jadi ngopinya nanti aja habis makan, hehe," tutur Naura pada Bastian.
"Oke, aku pesenin dulu ya," kata Bastian.
"Makasih, Bas," ucapku.
"Aman," balas Bastian tersenyum lalu beranjak menuju kasir.
Begitu Bastian menjauh, aku langsung menyenggol lengan Naura. "Gak salah nih, udah pakai 'aku-kamu' aja?" ledekku pelan.
"Sssshhh! Berisik!" bisik Naura dengan wajah memerah.
Tiba-tiba pandangan Naura tertuju ke arah pintu masuk. "Eh, Ray!" teriaknya melambaikan tangan.
Jantungku rasanya langsung merosot ke perut. Benar dugaanku, Ray datang. Tapi dia tidak bersama Indah, melainkan bertiga bersama teman-temannya yang tidak kukenal.
Ray menoleh ke arah panggilan Naura lalu melangkah menghampiri meja kami.
"Aduh... ngapain lo panggil sih, Nau! Gila lo!" bisikku panik setengah mati.
"Biar ramai, Ra!" jawab Naura santai tanpa berdosa.
"Sera? Ngapain di sini?" tanya Ray kaget.
Laki-laki itu... seseorang yang sudah bersusah payah kucoba lupakan. Suaranya yang dulu selalu menghantuiku setiap malam, sosok yang baru saja berhasil kurelakan dan kulepas dari benakku, kini mendadak muncul tepat di hadapanku. Dia menyapaku, dan aku harus mendengar suaranya lagi.
"Aku diajak Naura," jawabku sedikit canggung.
"Gabung aja sini!" seru Naura santai.
Spontan aku menginjak kakinya di bawah meja sambil memelototinya tajam.
Naura meringis kesakitan. "Aduhh... Apa sih, Ra? Sakit, tahu!" ringisnya menahan umpatan.
Aku hanya melemparkan senyum canggung pada Ray yang kebingungan memperhatikan tingkah aneh kami berdua.
"Boleh nih?" tanya Ray memastikan.
"Duduk aja," sahutku berusaha bersikap sewajar mungkin.
Ray pun menarik kursi dan duduk tepat di sebelahku.
"Teman-teman lo enggak ikut gabung ke sini?" tanya Naura pada Ray.
"Enggak, mereka bakal mengisi acara akustik di sini. Lagi pada persiapan di belakang sama yang lain," terang Ray. Ia lalu beralih menatapku. "Kamu udah pesan, Ra?"
"Eh, udah kok," jawabku masih diselimuti rasa canggung.
"Kamu pesan apa?" tanya Ray seraya membuka buku menu di meja.
"Itu... eeh... apa sih tadi, Nau? Aku lupa," tanyaku mengoper pertanyaan pada Naura.
"Rice box cumi sambal hijau," sahut Naura cepat.
"Aku pesan itu juga deh," kata Ray menutup kembali buku menu lalu tersenyum tipis ke arahku.
"Mau gue panggilin Bastian sekalian biar bikin pesanan lo?" tawar Naura.
"Lo udah ketemu dia, Nau?" tanya Ray.
"Udah, tadi sih bilangnya lagi bikin pesanan gue sama Sera. Gue panggilin dulu ya, biar nanti kita bisa makan barengan," ucap Naura.
"Boleh," jawab Ray tenang.
Aku memberi sinyal lewat tatapan mata pada Naura. Bisa-bisanya dia membiarkanku berduaan dengan Ray! Aku curiga ini memang bagian dari rencananya.
"Aman, Ra. Ray enggak bakal gigit kok, kayak baru kenal aja," bisik Naura jahil. "Gue ke Bastian dulu ya!"
Tega banget si Naura ninggalin gue berdua sama Ray. Awas aja dia! gerutuku dalam hati.
"Kamu apa kabar, Sera?" tanya Ray memecah keheningan.
"Aku baik. Kamu gimana?" balasku mencoba tersenyum.
"Aku juga baik. Gimana sekolah baru kamu? Betah?"
"Betah, kok."
Ray memandangku lekat-lekat. "Kamu kok beda sekarang?"
"Beda gimana?"
"Lebih cuek... dan enggak seceria dulu," ucapnya pelan.
Sebenarnya, aku hanya merasa serba salah duduk berdua begini dengannya. Apalagi sekarang dia sudah punya pacar. Aku sama sekali tidak ingin merusak hubungannya dengan Indah. Bagaimanapun juga, aku adalah mantannya, dan situasi ini akan sangat sensitif jika Indah tahu Ray duduk berduaan mengobrol denganku di kafe ini.
"Aku enggak apa-apa kok, Ray. Aman aja," sahutku berusaha membatasi diri.
"Sera... aku boleh tanya sesuatu?" bisiknya halus.
"Boleh, tanya aja."
"Mmmm..." Belum sempat Ray menyelesaikan kalimatnya, dari kejauhan samar-samar aku mendengar sebuah suara bernada kencang memanggil namaku.
"Sera?"
Aku menoleh. "Mas Adrian?!"
Senyumku mendadak merekah kaget. "Mas, di sini!" panggilku sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Adrian yang baru saja melangkah masuk ke dalam kafe langsung mengarahkan pandangannya padaku, lalu berjalan mendekat ke arah meja kami.