Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MURKA SANG DIPLOMAT
Suara deru baling-baling helikopter diplomatik membelah kesunyian subuh di kamp perbatasan utara.
Angin kencang yang dihasilkan pendaratan darurat itu menerbangkan gulungan debu tanah merah dan mengencangkan tali-tali tenda militer di sekitarnya.
Ziva berdiri mematung di pinggir landasan pacu darurat, jaket relawan sipilnya yang kotor dan penuh noda tanah berkibar tertiup angin keras.
Wajahnya pucat, jemarinya terkepal di samping tubuh.
Ia tahu betul, pelarian nekatnya dan petualangan "cegil"-nya telah berakhir secara tragis di tempat ini.
Pintu helikopter langsung terdorong buka bahkan sebelum putaran baling-baling berhenti berputar sempurna.
Bramantyo Adriana turun dengan langkah lebar dan cepat.
Wajah diplomat senior yang biasanya selalu tenang, elegan, dan berwibawa itu kini merah padam oleh amarah murni yang membakar dada.
Di belakangnya, dua pengawal pribadi bersetelan gelap mengikuti dengan siaga.
"ZIVA ADRIANA!" suara Bramantyo menggelegar hebat, mengalahkan deru pekat mesin helikopter.
Ziva tertunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat di bawah bayangan ayahnya.
"Pa..."
PLAK!
Sebuah pukulan keras tidak mendarat di wajah Ziva, melainkan tangan Bramantyo menghantam tiang besi penyangga tenda di samping putrinya hingga penyok untuk melampiaskan emosinya yang meledak.
"Apa yang ada di dalam otakmu, Ziva?!
Kamu pikir zona pertempuran ini tempat bermain teater?!" bentak Bramantyo dengan suara yang serak menahan geram.
"Kamu membohongi mamamu, membohongi Papa, hanya untuk mengejar pria yang bahkan tidak pernah menginginkanmu di sini?!"
"Ziva cuma mau memastikan Om Gibran baik-baik saja, Pa!" balas Ziva, tangisannya yang ditahan sejak semalam akhirnya pecah juga.
"Dia terluka parah kemarin!"
"Cukup!
Jangan banyak alasan!
Masuk ke helikopter sekarang juga!" perintah Bramantyo tanpa memberi ruang bantahan.
Namun, Bramantyo tidak langsung membawa Ziva terbang meninggalkan lokasi.
Langkah besarnya berbalik menuju tenda perawatan perwira tempat Gibran dirawat.
Ziva yang panik segera berlari mengekor di belakang ayahnya, takut sang papa akan melakukan hal nekat kepada pria yang sedang bersimbah luka itu.
Bramantyo menyibakkan kain tenda medis dengan kasar hingga terlempar ke udara.
Gibran, yang sedang berusaha bersandar di pembaringan meski perutnya dibebat perban tebal bersimbah bercak darah baru, menatap kedatangan sahabat lamanya itu.
Manik mata hitam sang Jenderal tetap tenang, meski ia sadar betul badai besar sedang menghantamnya.
"Gibran," suara Bramantyo berubah menjadi sangat rendah, namun dipenuhi penekanan yang menusuk tulang.
"Saya menitipkan putri saya di Jakarta untuk kamu awasi sebagai sahabat dan orang yang saya percaya.
Tapi apa yang saya temukan hari ini?
Dia berada di tengah hujan peluru medan perang hanya karena mengejarmu!"
Gibran menarik napas panjang, menahan denyut nyeri yang membakar dari luka serpihan granat di perutnya.
"Bram, saya sudah berkali-kali mengusirnya secara tegas.
Saya tidak pernah meminta atau membiarkannya datang ke sini.
Jika ada yang harus disalahkan atas kenekatan ini, itu adalah caramu mendidik anak yang terlalu melonggarkan kendali."
Bramantyo tertawa sinis seuah tawa dingin yang menyembunyikan kekecewaan mendalam.
"Cara saya mendidik?
Kamu tahu kenapa dia nekat begini, Gibran?
Karena kamu tidak pernah benar-benar tegas!
Sikap 'dingin' dan penolakan setengah hatimu itu justru membuatnya makin penasaran!
Kamu tahu persis posisi kita, Gibran.
Kamu tahu rahasia apa yang kita pegang dan bayangan tragedi sepuluh tahun lalu!"
"Pa, stop!
Jangan bawa-bawa masa lalu!" teriak Ziva histeris dari ambang pintu tenda, menatap kedua pria itu bergantian.
Bramantyo menoleh tajam ke arah putri tunggalnya.
"Masa lalu yang kamu tidak tahu apa-apa ini adalah alasan kenapa pria di depanmu tidak akan pernah bisa mencintaimu, Ziva!
Gibran merasa bersalah pada almarhumah Elena, dan dia merasa berutang nyawa serta kehormatan pada Papa!
Dia tidak akan pernah melihatmu sebagai wanita, Ziva.
Bagi Gibran, kamu tidak lebih dari sekadar beban moral yang mengganggu hidupnya!"
Kalimat ayahnya menghantam dada Ziva bagai gada besi.
Ia membeku di tempatnya.
Gibran mencoba berdiri dari pembaringan.
Keringat dingin mengucur deras di dahi dan rahang tegas sang Jenderal.
Meski perban di perutnya kian memerah akibat jahitan yang tertarik, ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegap sempurna, mengembalikan wibawa militernya di hadapan sahabatnya.
"Cukup, Bram.
Jangan pernah merendahkan putri kandungmu sendiri di depan saya," ujar Gibran dengan suara tajam dan berat.
Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya, menatap langsung ke dalam mata Ziva yang berkaca-kaca.
"Ziva, dengarkan saya untuk terakhir kalinya," lanjut Gibran tanpa ada setitik pun kehangatan di raut wajahnya.
"Ayahmu benar.
Kehadiranmu di sini hanya membuat semua orang berada dalam bahaya.
Keberadaanmu adalah beban terbesar bagi komando operasi saya.
Pergilah bersama ayahmu, dan jangan pernah berani muncul lagi di hadapan saya."
Ziva menatap lekat-lekat manik mata hitam Gibran, berusaha mencari celah kebohongan atau keraguan di sana.
Namun, Gibran adalah seorang prajurit terlatih yang sempurna dalam menyembunyikan rasa.
Matanya tetap sedingin es, menatap Ziva seolah gadis itu hanyalah orang asing yang paling tidak diinginkan dalam hidupnya.
"Om... beneran mau aku pergi?" tanya Ziva pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara debu angin luar.
"Setelah semua hal yang aku taruhkan?
Setelah aku hampir mati cuma buat memastikan Om masih bernapas?"
"Ya," jawab Gibran tanpa keraguan seribu detik pun.
"Pergi sekarang.
Dan bawa seluruh perasaan konyolmu itu bersamamu."
Ziva tersenyum getir.
Air mata yang tadinya merembes di pipinya mendadak berhenti mengalir, digantikan oleh rasa hampa dan kekosongan yang amat dalam.
Seluruh keberanian, godaan manja, dan strategi "cegil" yang ia banggakan runtuh berkeping-keping.
Ia berpaling dan menatap ayahnya dengan pandangan kosong.
"Oke, Pa.
Ziva pulang.
Ziva nggak akan pernah mengganggu Letnan Jenderal kesayangan Papa ini lagi."
Ziva melangkah keluar dari tenda dengan bahu yang merosot layaknya jiwa yang telah hilang.
Bramantyo menatap Gibran untuk terakhir kalinya memberikan tatapan peringatan yang keras sebelum akhirnya berbalik mengekor langkah putrinya.
Begitu deru mesin helikopter diplomatik perlahan menjauh meninggalkan garis perbatasan dan suasana kamp kembali sunyi, pertahanan tegap Gibran runtuh seketika.
Pria itu ambruk berlutut di atas tanah tenda sebelum akhirnya menghenyakkan tubuhnya kembali ke tempat tidur darurat.
Tangannya mencengkeram sprei kain hingga robek.
Luka jahitan di perutnya terbuka lebar, darah segar merembes cepat membasahi balutan perban putihnya, namun Gibran sama sekali tidak memedulikan rasa sakit fisiknya.
Ia menatap langit-langit tenda kusam dengan napas yang memburu.
Kata-kata tajam yang baru saja ia lontarkan adalah kebohongan terbesar yang pernah terucap dari bibirnya.
Saat ia merengkuh tubuh Ziva di tengah ledakan dan hujan peluru kemarin siang, Gibran tahu pasti... tembok es yang ia bangun selama sepuluh tahun telah retak tak bersisa.
Ia merasakan dorongan protektif yang amat dahsyat untuk melindungi gadis itu dengan nyawanya sendiri.
Namun, ia adalah seorang prajurit komando berpangkat bintang tiga, dan Bramantyo adalah sahabat yang teramat ia hormati.
Ia tidak boleh dan tidak akan pernah membiarkan Ziva masuk ke dalam dunianya yang gelap, penuh darah, dan dikelilingi ancaman kematian.
"Maafkan saya, Ziva..." bisik Gibran lirih pada kesunyian tenda, matanya dihiasi kelelahan yang mendalam.
"Kamu terlalu berharga untuk hancur di tangan pria seperti saya."
Sementara itu, ratusan meter di atas udara, di dalam kabin helikopter yang dingin, Ziva menatap hamparan hutan perbatasan yang membisu melalui jendela kaca.
Wajah cantiknya kaku, tanpa ekspresi.
Ia tidak lagi menangis.
Perjudian besarnya telah gagal total.
Ia telah mempertaruhkan harga diri, keselamatan, dan hatinya, namun yang ia dapatkan hanyalah pengusiran dingin yang meremukkan seluruh martabatnya.
"Papa puas?" tanya Ziva dengan nada suara yang datar dan dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Bramantyo yang duduk di seberangnya menghela napas panjang, merapikan setelan jasnya.
"Papa hanya menyelamatkanmu dari luka yang jauh lebih besar di masa depan, Ziva."
"Papa salah," gumam Ziva pelan, matanya menatap awan kelam di luar.
"Luka terbesarnya bukan karena Om Gibran menolak aku.
Tapi karena Papa dan Om Gibran sama-sama menganggap aku nggak punya hak buat menentukan kebahagiaan aku sendiri."
Ziva memejamkan matanya rapat-rapat.
Di balik diam dan keheningannya, sebuah tekad baru yang jauh lebih gelap mulai tumbuh di benaknya.
Bukan lagi rencana untuk mengejar atau menggoda.
Kali ini adalah rencana untuk menghilang .
Jika Letnan Jenderal Gibran Mahendra memang menginginkannya pergi dari dunianya, maka Ziva akan menghilang begitu jauh hingga sang Jenderal sendiri yang harus berlutut mencarinya jika pria itu memang masih memiliki hati.