H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Malam kian melarut, namun kehangatan di rumah orang tua Mahika terasa menguap begitu saja. Ruang makan yang biasanya menjadi tempat berkumpul kini terasa dingin dan penuh dengan kepalsuan.
Di dalam kamar, Mahika baru saja selesai mandi dan merapikan pakaian kerjanya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menahan emosi dan mengatur strategi, namun pikirannya sangat jernih. Tidak ada lagi rasa iba sedikit pun untuk Pak Bambang. Pria yang dulunya ia panggil Bapak itu kini terbukti tak lebih dari penjahat berselimut kepasrahan seorang ayah yang secara sadar ikut melindungi perselingkuhan Gisella dan Reno, membiarkan anak sekundernya dimanfaatkan demi melapangkan jalan untuk anak kesayangannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar Mahika terdengar kasar dan tidak sabaran. Tanpa menunggu sahutan dari dalam, suara Gisella menyusul dengan nada ketus.
"Mahika! Keluar tuh! Ada Gojek di depan ngantarkan makanan buat kamu!" seru Gisel dari balik pintu, suaranya sarat akan nada tidak suka.
Mahika menyunggingkan senyum dingin di depan cermin. Ia sengaja memesan paket makanan mewah lewat aplikasi online beberapa menit yang lalu sebuah aksi balas dendam kecil namun menohok yang dulunya tak pernah berani ia lakukan di rumah ini.
Dulu, setiap kali ingin membeli makanan mahal yang ia inginkan, Mahika selalu menahan diri. Ia merasa bersalah jika membeli makanan enak hanya untuk dirinya sendiri tanpa membelikan seisi rumah. Ujung-ujungnya, uang gajinya selalu habis dipakai membelikan makanan favorit Gisella dan ibunya, sementara dirinya sendiri sering kali hanya kebagian sisa atau dipaksa mengalah memakan hidangan yang tak menyelerakan baginya.
Tapi malam ini, aturan lama yang membodohinya itu sudah mati.
Mahika melangkah santai membukakan pintu. Gisella masih berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap Mahika dengan pandangan menilai yang tajam.
"Kamu beli makanan apa sih? Tumben banget pakai pesan Gojek segala," cetus Gisel sinis saat Mahika melewatinya. "Padahal Ibu kan masak nasi goreng sama telur balado di meja makan."
Mahika menghentikan langkahnya sejenak, menoleh pada kakaknya dengan sorot mata dingin tanpa emosi. "Aku lagi mau makan Wagyu Steak lada hitam sama Mushroom Soup dari resto favoritku, Kak. Nasi goreng Ibu terlalu berminyak, aku lagi enggak selera."
Gisella melotot, kaget mendengarkan nada bicara adiknya yang terkesan terang-terangan meremehkan masakan ibunya. Tanpa memedulikan raut pias di wajah kakaknya, Mahika terus berjalan menuju pintu depan untuk menerima kantong plastik besar bernuansa emas dari tangan pengemudi ojek online.
Bau harum rempah, daging panggang gurih, dan saus jamur yang pekat langsung menyeruak begitu Mahika membawa kantong plastik itu ke area ruang makan.
Di meja makan, Bu Maya dan Pak Bambang sedang duduk berhadapan. Di tengah meja, tersaji piring berisi nasi goreng dan telur balado sederhana masakan yang selalu dibuat Bu Maya kalau sedang malas memasak masakan rumit.
Bu Maya menghentikan suapannya, matanya menatap tajam kantong plastik berlogo restoran ternama yang diletakkan Mahika di atas meja. Pak Bambang di sebelahnya juga menatap Mahika dengan kening berkerut tebal.
"Kamu beli apa itu, Mahika?" tanya Bu Maya dengan nada suara meninggi, keningnya berkerut dalam.
"Beli makan malam, Bu," jawab Mahika santai. Ia menarik salah satu kursi kayu, mendudukkan diri di sana tanpa rasa canggung sedikit pun.
Dengan gerakan perlahan dan teratur, Mahika mengeluarkan wadah-wadah makanan berbahan box eksklusif itu satu per satu. Ada piring steak daging sapi kualitas premium, porsian Mushroom Soup kental, dan kentang goreng rempah yang aromanya memenuhi seluruh ruangan.
Gisella yang mengekor dari belakang mendadak membelalak melihat hidangan mewah di atas meja. Steak wagyu mahal itu adalah salah satu makanan yang paling ingin dicobanya sejak lama.
"Wah, kamu beli makanan mahal banget, Mahika!" seru Gisel, matanya berbinar rakus. Tangannya refleks terulur hendak meraih kotak berisi steak tersebut. "Pas banget, aku dari tadi emang lagi malas makan nasi goreng."
Plak!
Dengan gerakan cepat dan dingin, Mahika menepis jemari Gisella sebelum sempat menyentuh wadah makanannya. Suara tepukan tangan itu terdengar cukup keras di ruang makan yang hening.
"Aduh! Kok ditepis sih, Mahika?!" jerit Gisel meringis, memegangi punggung tangannya yang memerah. Ia menatap adiknya dengan tatapan tak percaya. "Aku cuma mau minta steak-nya sedikit."
"Ini makanan aku, Kak. Minta izin dulu kalau mau ambil barang orang," tegur Mahika datar, matanya menatap Gisella tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Mahika!" semprot Bu Maya keras, membanting sendoknya ke piring hingga menimbulkan suara dentingan nyaring. "Kamu ini kenapa kasar banget sama Kakakmu?! Cuma gara-gara makanan doang kamu tega nepis tangan Gisel?!"
Pak Bambang ikut menggebrak meja pelan, menatap Mahika dengan raut wajah galak dan menyalahkan. "Kamu ini semakin hari semakin tidak bersopan santun ya, Mahika! Ada makanan bukannya ditawarkan ke orang tua dan Kakakmu, malah kamu tepis begitu!"
Mahika menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan tenang, lalu membuka tutup wadah steak dagingnya sendiri. "Aku enggak kasar, Bu, Pak. Aku cuma menegaskan hak milik. Aku beli makanan ini pakai uang aku sendiri, murni dari hasil kerja keras aku. Jadi wajar kan kalau aku menentukan siapa yang boleh makan dan siapa yang enggak?"
"Kamu beli makanan sebegitu mahal cuma buat kamu sendiri?!" tanya Bu Maya, suaranya makin meninggi penuh emosi. "Kamu lihat Ibu sama Bapak lagi makan nasi goreng, dan kamu malah enak-enakan makan daging mahal di depan kami tanpa ada niat buat bagi-bagi? Mana hati nurani kamu sebagai anak?."
"Hati nurani?" Mahika tertawa kecil sebuah tawa dingin yang terdengar sangat asing dan menusuk di telinga mereka. "Kenapa Ibu sama Bapak baru bicara soal hati nurani dan kebersamaan sekarang?"
Pak Bambang menunjuk wajah Mahika dengan nada menegur yang keras. "Mahika! Jaga mulutmu! Tidak usah membawa-bawa hal lain hanya karena kamu pelit membagikan makanan!"
"Pelit?" Mahika memutar pandangannya menatap sang ayah. Tatapannya begitu tajam hingga Pak Bambang tertegun sejenak. "Dulu... waktu aku kerja sampai larut malam, waktu gajiku habis cuma buat bayar perbaikan rumah ini dan bayar tagihan-tagihan yang bukan kewajibanku, pernah enggak Ibu atau Bapak belikan makanan yang aku suka? Pernah enggak Kak Gisel menyisihkan sedikit uang gajinya buat belikan aku makanan enak?"
Suasana ruang makan mendadak hening seketika. Gisella menggigit bibirnya, sementara Bu Maya menatap Mahika dengan napas memburu.
"Selama bertahun-tahun, aku selalu mengalah," lanjut Mahika, menyendok potongan daging sapi mahalnya dan mengunyahnya dengan tenang. "Aku selalu makan apa saja yang tersisa di rumah ini. Setiap kali aku mau beli barang atau makanan enak buat diriku sendiri, Ibu dan Bapak selalu bilang'ingat Kakakmu, jangan pelit sama keluarga. Tapi malam ini, aku sadar... uang yang aku cari susah payah itu hak aku sepenuhnya."
Bu Maya berdiri dari kursinya, menunjuk wajah Mahika dengan telunjuknya yang bergetar karena marah. "Kamu ini benar-benar anak durhaka ya, Mahika! Baru punya uang sedikit saja lagaknya sudah seperti penguasa di rumah ini! Kamu memperhitungkan makanan di depan orang tua yang sudah membesarkan kamu?!"
"Aku tidak memperhitungkan masakan Ibu," sahut Mahika dingin, menatap lurus mata ibunya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Ibu sama Bapak mau makan nasi goreng itu sampai habis juga silakan. Tapi makanan di wadah ini adalah milikku. Aku beli murni untuk diriku sendiri. Beli pakai uangku, bukan uang rumah dan bukan uang Reno."
Kata uang Reno diucapkan Mahika dengan penekanan yang sangat kentara, membuat Gisella, Bu Maya, dan Pak Bambang tersentak kaget. Wajah Gisel mendadak pucat, teringat pada barang-barang belanjaan mahal yang dibelikan Reno kemarin sore.
"Kamu... kamu nyindir siapa, Mahika?!" tuduh Gisel dengan suara bergetar panik.
"Aku enggak nyindir siapa-siapa, Kak," balas Mahika tersenyum manis sebuah senyuman penuh ancaman tersembunyi. "Aku cuma bilang, makanan ini aku beli pakai uang halal dari keringatku sendiri. Jadi maaf ya, Kak Gisel... steak-nya enggak boleh dimakan. Kalau Kakak mau makan makanan mahal, minta saja sama orang yang biasa belikan Kakak barang-barang mewah."
Gisella membatu di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu. Ia menatap orang tuanya dengan pandangan penuh ketakutan, panik setengah mati menduga bahwa Mahika mungkin sudah mencium hubungan gelapnya dengan Reno.
Pak Bambang dan Bu Maya yang juga menangkap gelagat bahaya itu bergegas mengalihkan pembicaraan dengan bentakan yang lebih keras untuk menutup rasa panik keluarga mereka.
"Cukup, Mahika! Jangan ngomong ngawur!" teriak Bu Maya, dadanya kempas-kempis menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. "Kamu kalau mau pamer harta dan makan makanan mahal kamu itu, makan di dalam kamar sana! Jangan bikin racun di meja makan ini."
"Iya! Masuk kamar kamu sekarang!" tambah Pak Bambang tak kalah galak, mencoba menyelamatkan muka anak kesayangannya.
Mahika menatap ketiga anggota keluarganya satu per satu. Ibunya yang penuh kepalsuan, ayahnya yang sama jahatnya demi membela kebohongan, dan kakaknya yang gemetar ketakutan.
Tidak ada lagi rasa hangat. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa hormat. Di mata Mahika, mereka bertiga adalah sekumpulan penjahat yang sedang menunggu waktu untuk dieksekusi.
Mahika menghembuskan napas pelan, lalu mulai merapikan wadah-wadah makanannya kembali ke dalam kantong plastik emasnya.
"Baik, kalau Ibu dan Bapak merasa terganggu, aku bisa makan di kamar," ucap Mahika tenang, berdiri dari kursinya dengan anggun.
Sebelum melangkah pergi, Mahika menghentikan langkahnya di samping kursi Gisella. Ia menunduk sedikit, berbisik tepat di samping telinga kakaknya yang masih mematung.
"Nikmati nasi gorengnya ya, Kak," bisik Mahika dengan suara sehalus sutra namun sedingin es. "Soalnya sebentar lagi... mungkin Kakak enggak bakal bisa menikmati makanan enak apa pun lagi dalam hidup Kakak."
Gisella meremang hebat, bulu kuduknya berdiri seketika mendengar bisikan itu.
Tanpa memedulikan tatapan murka dari orang tuanya, Mahika melangkah santai menuju kamarnya. Ia menyeret langkahnya dengan penuh percaya diri, membawa serta makanan mewahnya, dan menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang tegas.
Di dalam kamar yang tenang, Mahika meletakkan makanannya di atas meja kerja. Ia menyalakan lampu meja, menatap piring daging panggangnya dengan rasa puas yang luar biasa.
Taringnya baru saja diperlihatkan sedikit, dan efeknya sudah membuat rumah ini bergetar ketakutan. Mahika tersenyum dingin, menyendok makanannya dengan nikmat.
Permainan ini baru saja dimulai dan ia akan memastikan setiap orang di rumah ini membayar harga yang sangat mahal untuk setiap pengorbanan yang pernah mereka sia-siakan.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂