Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bab. 1

***

Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Aurelia. Kelopak matanya terasa seberat beton, namun ia memaksa untuk membukanya. Cahaya lampu putih yang terang benderang sempat membuatnya pening, memaksa Aurelia mengerjap berkali-kali.

"Gue... masih hidup?" bisiknya parau.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri lebih lembut dan merdu, seperti denting porselen mahal.

Ingatan terakhirnya melintas seperti kilatan film horor. Jalanan yang basah setelah hujan, senyum lebar karena saldo ATM baru saja terisi penuh setelah gajian, lalu... BRAAAK!

Truk tangki raksasa itu menghantam tubuh kecilnya hingga terpental. Harusnya ia sudah menjadi bubur sekarang, atau setidaknya sedang mengantre di depan gerbang akhirat.

"Ibu? Alhamdulillah, Ibu sudah sadar?"

Aurelia menoleh ke samping. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan yang sangat rapi berdiri di sana dengan raut wajah cemas yang berlebihan.

Aurelia mengernyit. Ibu? Siapa yang dia panggil Ibu? Gue baru dua puluh dua tahun, wey! Nikah aja belum pernah, pacaran aja selalu gagal di tengah jalan!

"Mbak... panggil siapa ya?" tanya Aurelia bingung.

Pelayan itu tampak terkejut, matanya berkaca-kaca. "Tentu saja memanggil Ibu. Ibu Nadia, ini saya, Bi Sum. Ibu sudah pingsan selama dua hari sejak terjatuh di tangga mansion. Ya Allah, saya takut sekali terjadi apa-apa pada Ibu."

"Nadia? Mansion?" Aurelia tertawa garing.

"Mbak, kayaknya Mbak salah orang. Nama saya Aurelia. Saya tinggal di kosan gang sempit, bukan mansion. Dan tolong, jangan panggil Ibu, panggil 'Kak' atau 'Nona' biar lebih estetik sedikit."

Bi Sum tampak semakin pucat. "Ibu jangan bercanda... Dokter bilang Ibu mungkin sedikit syok, tapi—"

"Saya memang syok! Syok kenapa saya nggak mati padahal ditabrak truk segede rumah!" potret Aurelia emosional.

"Truk? Ibu jatuh di tangga saat hendak membawakan teh untuk Tuan Raditya," sahut Bi Sum bingung.

Aurelia terdiam. Raditya? Siapa lagi itu? Ia mencoba bangkit untuk duduk, namun ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada beban yang tidak biasa di bagian tengah tubuhnya. Perutnya terasa berat dan... kencang.

"Aduh, perut gue kenapa kram ya? Kayaknya usus gue melilit gara-gara ketabrak tadi," keluh Aurelia sambil memegang perutnya.

Wajah Bi Sum langsung berubah panik. Ia segera mendekat. "Aduh, Ibu! Jangan ditekan perutnya! Nanti bayinya kaget! Perlu saya panggilkan dokter sekarang Bu, jika ada apa-apa dengan kandungan ibu?"

Detik itu juga, jantung Aurelia serasa berhenti berdetak.

"Apa? Tunggu... kandungan? Siapa yang hamil?"

Bi Sum menatap Aurelia dengan tatapan seolah-olah majikannya itu baru saja kehilangan akal sehat. "Ibu... Ibu sedang mengandung empat bulan, Bu. Apa Ibu lupa? Dokter bilang janinnya sangat kuat meski Ibu sempat jatuh."

"EMPAT BULAN?!" teriak Aurelia hingga suaranya melengking memenuhi ruangan VVIP itu.

Tanpa memedulikan rasa pening di kepalanya, Aurelia langsung menyibakkan selimut putih yang menutupi tubuhnya. Matanya membelalak sempurna. Di balik piyama sutra yang ia kenakan, perutnya tidak lagi rata seperti biasanya. Ada gundukan nyata yang sudah menonjol. Perut buncit yang sangat nyata!

Ia meraba gundukan itu dengan tangan gemetar. Ini bukan lemak gorengan... ini... ini isi bayi?!

"Enggak, enggak! Ini pasti mimpi!" Aurelia mulai histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Mbak! Ambilkan cermin! Sekarang!"

"Ba-baik, Bu!" Bi Sum berlari kecil mengambil cermin rias dari atas meja.

Saat cermin itu berada di depan wajahnya, Aurelia nyaris melempar benda itu. Wajah yang terpantul di sana bukanlah wajah Aurelia yang kusam karena debu jalanan dan kurang tidur. Wajah itu... sangat cantik. Kulitnya putih bersih, glowing alami seolah tidak pernah terpapar sinar matahari langsung. Rambutnya hitam legam, panjang, dan halus. Matanya bulat dengan bulu mata lentik yang sempurna.

"Gila... ini siapa? Cantik banget kayak bidadari turun mandi," gumamnya takjub, namun segera tersadar. "Eh, tapi tunggu! Nama gue siapa tadi? Coba ulangi pelan-pelan!"

"Ibu Nadia Atmaja, Bu," jawab Bi Sum dengan suara bergetar. "Istri dari Bapak Raditya Hadiwinata sekaligus calon ibu dari anak beliau."

Aurelia ternganga. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Jadi, fiksi transmigrasi yang sering ia baca di aplikasi novel itu nyata? Ia masuk ke tubuh wanita kaya raya bernama Nadia Atmaja yang sedang hamil empat bulan, sementara jiwanya yang asli si Aurelia perawan ting ting mungkin sudah dikubur dalam tanah.

"Nadia Atmaja... kaya, cantik, tapi bumil," Aurelia bergumam pada dirinya sendiri. "Tapi sebentar, gue kan nggak pernah begituan sama cowok. Kok bisa langsung hamil empat bulan? Ini namanya buy one get one atau gimana?"

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Oke, setidaknya ia tidak jadi penghuni kubur. Setidaknya ia jadi orang kaya yang kulitnya licin kayak perosotan TK.

"Lalu... di mana suami saya? Siapa tadi namanya? Raditya?"

Bi Sum menunduk, wajahnya tampak ragu. "Bapak sedang berada di kantor, Bu. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, katanya."

Mendengar itu, sisi "barbar" Aurelia langsung mendidih. "Apa?! Istrinya baru saja bangun dari koma, perutnya buncit bawa anaknya, dan dia lebih milih rapat? Dia manusia atau robot kulkas?"

Bi Sum tersentak mendengar nada bicara Nadia yang mendadak kasar. Biasanya Nadia hanya akan menangis dalam diam jika diabaikan oleh suaminya.

"T-tapi bapak sudah membayar semua biaya rumah sakit, Bu..."

"Halah! Uang mah bisa dicari, perasaan istri mana ada di toko bangunan!" semprot Aurelia. "Mm, dasar laki-laki nggak punya perasaan. Mentang-mentang kaya, seenaknya sendiri."

Aurelia menyandarkan punggungnya di bantal empuk. Ia memandangi perut buncitnya lagi. Meskipun ia bingung dan syok setengah mati, ada getaran aneh di hatinya saat merasakan "sesuatu" bergerak pelan di dalam sana.

"Oke, Nadia. Kalau ini takdir gue, gue nggak bakal jadi Nadia yang lemah lembut dan nangisan," tekad Aurelia dalam hati. Matanya berkilat penuh rencana. "Mansion mewah, suami kaya tapi dingin, dan perut buncit... Mari kita lihat seberapa kuat Raditya Hadiwinata menghadapi Nadia versi baru yang bakal bikin darah tingginya naik tiap hari."

Aurelia menoleh pada Bi Sum yang masih berdiri mematung. "Bi! Saya lapar. Saya nggak mau bubur rumah sakit yang rasanya kayak kertas semen. Saya mau nasi padang, rendangnya dua, pake perkedel, dan es jeruk yang gulanya asli! Sekarang!"

Bi Sum melongo. "Tapi Bu... dokter bilang—"

"Dokter bukan Tuhan! Cepat pesan atau saya loncat dari kasur ini sekarang juga!"

"Ba-baik Bu! Segera!" Bi Sum berlari keluar dengan panik, sementara Aurelia menyunggingkan senyum miring.

Selamat datang di dunia baru, Aurelia. Eh, maksud gue, Nadia Atmaja.

****

Bersambung

Terpopuler

Comments

Tiara Bella

Tiara Bella

aku mampir Thor....maraton ini mah udh panjang bngt bab nya....💪😍/Kiss/

2026-08-07

4

sasa adzka

sasa adzka

mampir saya kak othor.. salam kenal😍😍
semoga sampai tamat ye cerita nya😍 dan mo lanjut baca lagi

2026-07-01

1

Julia thaleb

Julia thaleb

ha ha ha.
Thor.
awak suka ne karakter Nadia, banyak kata mutiara yg nongol dr mulutnya..💗

2026-05-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab.124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128 Epilog.
129 Bab. 129 EKSTRA
130 Bab. 130 EKSTRA
131 Bab. 131 EKSTRA
132 Bab. 132 EKSTRA
133 Bab. 133 Ekstra
134 Bab. 134 EKSTRA
135 Bab. 135 EKSTRA
136 Bab. 136 EKSTRA
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab.124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128 Epilog.
129
Bab. 129 EKSTRA
130
Bab. 130 EKSTRA
131
Bab. 131 EKSTRA
132
Bab. 132 EKSTRA
133
Bab. 133 Ekstra
134
Bab. 134 EKSTRA
135
Bab. 135 EKSTRA
136
Bab. 136 EKSTRA
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!