Bab. 3

***

Matahari sudah hampir tenggelam saat mobil Rolls-Royce hitam metalik memasuki pelataran Mansion Hadiwinata. Raditya Hadiwinata melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak sangat lelah. Kerutan di dahinya menandakan hari yang panjang di kantor, mengurus merger perusahaan yang cukup menguras energi.

Namun, ketenangan yang ia cari di rumah langsung sirna saat ia baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah.

"Raditya! Akhirnya kamu pulang, Nak!" Nyonya Sekar berlari menghampiri putranya dengan tisu yang sudah basah oleh air mata (yang tentu saja dibuat-buat).

Raditya menghentikan langkah, memijat pangkal hidungnya. "Ada apa lagi, Mah? Radit baru sampai."

"Mas Radit! Kamu harus lihat apa yang dilakukan Kak Nadia tadi!" Siska ikut menimpali dengan nada dramatis, seolah-olah dia baru saja selamat dari bencana alam. "Dia mengusir kami! Dia bilang kami ini 'ulat kekek'! Dia bahkan mengancam akan menggugurkan kandungannya hanya untuk menyalahkan Tante Sekar!"

Raditya terdiam sejenak. Sorot matanya dingin, sedingin es kutub. Ia melirik Bi Sum yang berdiri ketakutan di pojok ruangan, lalu beralih kembali ke ibunya.

"Nadia mengusir Mama?" tanya Raditya datar.

"Iya! Dia berubah, Radit! Dia seperti kerasukan setan pasar! Kasar, tidak tahu sopan santun, dan sangat berani! Kamu harus menceraikannya setelah anak itu lahir!" seru Nyonya Sekar penuh emosi.

Raditya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Bukannya marah atau langsung naik ke atas untuk melabrak istrinya, ia justru melonggarkan dasinya. "Mah, Siska... Raditya lelah. Kalau Nadia memang mengusir kalian, mungkin ada alasannya. Sebaiknya kalian pulang dulu. Kepalaku mau pecah."

"Radit! Kamu membela wanita itu?!"

"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya butuh tenang," jawab Raditya dingin sambil berjalan melewati mereka begitu saja menuju tangga.

Baginya, drama antara ibu mertua dan menantu adalah hal yang biasa, meski ia sedikit merasa aneh. Nadia? Si penakut itu bisa mengusir orang? pikirnya skeptis.

**

Sementara itu di lantai atas, di kamar utama yang luasnya menyerupai suite hotel bintang tujuh, Aurelia sedang terkapar di atas ranjang king size. Jiwa barbar-nya ternyata tidak sebanding dengan stamina tubuh Nadia yang sedang hamil.

"Duh, laper lagi... capek lagi... Kenapa jadi bumil se-jompo ini sih?" gumamnya sambil memeluk bantal guling sutra.

Aurelia tidak sadar bahwa pintu kamar terbuka perlahan. Ia tertidur sangat pulas, kelelahan setelah sesi adu mulut yang menguras kalori tadi siang.

Namun, sebuah pergerakan di dekat ranjang membuatnya terusik. Bau parfum maskulin yang sangat mahal campuran antara kayu cendana dan citrus yang segar menusuk indra penciumannya. Aurelia membuka matanya perlahan, menguceknya sebentar, dan saat penglihatannya fokus...

"AAAAHHH!" Aurelia memekik, hampir terjungkal dari ranjang.

Di depannya, berdiri seorang pria tinggi dengan bahu lebar yang dibalut kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya yang hitam disisir rapi meski sedikit berantakan karena lelah. Rahangnya tegas, dan matanya menatap Aurelia dengan tatapan tajam namun menyimpan rasa lelah yang dalam.

"Apa yang membuatmu begitu terkejut?" suara berat itu menggema, terdengar sangat bariton dan seksi.

Aurelia mengerjap-ngerjap. Gila... ini orang atau patung Yunani? Ganteng banget! batinnya menjerit. Namun, otak barbarnya segera mengambil alih.

"K-kamu... kamu siapa? Maling ya? Ganteng-ganteng kok jadi maling!" seru Aurelia sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Raditya terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang tidak sampai ke mata. "Apakah otakmu juga rusak setelah pulang dari rumah sakit? Sampai-sampai kamu tidak mengenali suamimu sendiri?"

Aurelia tersentak. Suami? Jadi ini si Kulkas Hadiwinata?

"Oh... Mas Raditya?" Aurelia segera merubah raut wajahnya. Ia teringat misi penyamarannya. Ia harus terlihat sedikit "Nadia" agar tidak langsung dicurigai sebagai alien. "Maaf Mas, Nadia sedikit... pusing. Baru bangun tidur jadi agak linglung."

Raditya menyipitkan mata, memperhatikan istrinya. Ada yang berbeda. Nadia biasanya akan menunduk atau gemetar jika menatap matanya secara langsung. Tapi wanita di depannya ini justru menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar, bahkan sempat-sempatnya melirik ke arah dadanya yang tercetak di balik kemeja.

"Pantas saja," sahut Raditya ketus. "Apakah kamu membuat masalah hari ini?"

"Maksud Mas?" Aurelia bertanya dengan wajah polos yang dibuat-buat.

"Jangan berakting. Mama dan Siska menangis di bawah. Mereka bilang kamu mengusir mereka dengan kata-kata kasar. Apakah kamu benar-benar bodoh sekali, Nadia? Mencari musuh di dalam keluargaku sendiri?"

CK, pria ini kasar sekali! Pengen banget gue tabok pake bantal! geram Aurelia dalam hati.

Namun, ia justru memasang wajah sedih dan sedikit bergetar.

"Oh... maksud Mas tentang Mama Sekar dan Siska ya?" Aurelia menunduk, memainkan ujung selimutnya. "Tadi Nadia memang bertemu mereka. Tapi karena Nadia baru pulang dari rumah sakit dan masih sangat lemas, Nadia tidak sempat menyapa mereka terlalu lama. Mungkin... mereka salah paham karena Nadia buru-buru ingin istirahat. Apakah Mama tersinggung?"

Aurelia berusaha bangkit dari ranjang, berpura-pura kesusahan karena perut buncitnya. "Kalau memang iya, Nadia bakal turun dan minta maaf langsung sekarang juga meskipun kepala Nadia masih muter-muter..."

Saat Aurelia bangkit, selimutnya merosot. Ia mengenakan baju tidur satin pendek berwarna champagne yang tipis. Karena perutnya yang sudah menonjol 4 bulan, bagian bawah baju tidur itu terangkat sedikit, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih mulus. Kulitnya terlihat sangat kontras dengan seprai gelap.

Raditya tertahan di tempatnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah saat matanya tanpa sengaja memindai lekuk tubuh istrinya yang kini terlihat lebih berisi dan... sangat menggoda. Ada aura sexy mommy yang memancar kuat, yang sebelumnya tidak pernah ia sadari dari sosok Nadia yang selalu memakai daster longgar.

"Tidak perlu," potong Raditya cepat, suaranya sedikit serak. "Mereka sudah pulang."

"Benarkah Mas? Sayang sekali... padahal aku merasa bersalah. Besok jika mereka berkunjung, aku akan minta maaf secara langsung dan membuatkan teh kesukaan Mama," ucap Aurelia dengan nada sangat lembut, namun di dalam hatinya ia tertawa jahat. Minta maaf? Iya, gue minta maaf sambil nyiram air tehnya ke muka mereka!

Raditya masih berdiri mematung, matanya tertuju pada bibir Nadia yang merah alami tanpa riasan. Ia merasa ada yang aneh dengan suhu tubuhnya sendiri.

"Kenapa Mas? Apa Mas butuh sesuatu?" Aurelia mendekat, aroma tubuhnya yang harum bayi bercampur melati tercium oleh Raditya. "Perlu aku siapkan air hangat untuk Mas berendam? Pasti Mas capek sekali mengurus perusahaan."

"Tidak perlu," jawab Raditya dingin, berusaha mengembalikan kewarasaannya. "Saya tidak mau dirawat oleh pasien rumah sakit."

Aurelia memanyunkan bibirnya, terlihat sangat menggemaskan namun juga licik. "Nadia sedih dengernya... Padahal aku sakit juga gara-gara kepikiran Mas yang nggak pernah pulang. Aku juga sedang hamil anaknya Mas, tapi Mas ketus banget."

Raditya menatap perut buncit itu, lalu menatap mata Aurelia dengan tajam. "Jangan gunakan anak itu sebagai tameng, Nadia. Kita berdua tahu bagaimana pernikahan ini dimulai."

Setelah mengatakan itu, Raditya berbalik dan masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Aurelia yang langsung meletus tawanya tanpa suara.

"Tameng katanya? Heh, Tuan Kulkas... belum tahu dia kalau tameng ini bisa berubah jadi meriam kalau dia macam-macam!" Aurelia kembali merebahkan diri dengan puas. "Tapi asli, gantengnya kelewatan. Kalau dia nggak galak, mungkin udah gue terkam dari tadi."

Di dalam kamar mandi, di bawah kucuran air dingin, Raditya menyandarkan kepalanya di dinding marmer. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ada apa dengan dia? Kenapa dia jadi begitu berani... dan kenapa aku merasa terganggu hanya karena melihatnya memakai baju tidur itu?

****

Bersambung

Terpopuler

Comments

dome🌬️🌀🌀🌀

dome🌬️🌀🌀🌀

artinya kau normal Radit 😄😄😄
aneh sih itu istrimu mau kau apakan saja hak mu lah. makanya jangan kegedean ego sama gedein gengsi kan ada daging segar didepan mata ga bisa diapa apain🤣🤣🤣, malah rela nyiksa sendiri. rasakan lah kau Pendem aja sendiri hasrat nya🤣🤣🤣

2026-07-02

1

Ana Dww

Ana Dww

🤣🤣🤣🤣

2026-05-27

0

Kalief Handaru

Kalief Handaru

waah Radit kamu bakalan punya penyakit baru ... mumet plus darah tinggi kena mental ma istrimu yg baru tuh...raganya maksudnya 🤣🤣🤣

2026-05-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab.124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128 Epilog.
129 Bab. 129 EKSTRA
130 Bab. 130 EKSTRA
131 Bab. 131 EKSTRA
132 Bab. 132 EKSTRA
133 Bab. 133 Ekstra
134 Bab. 134 EKSTRA
135 Bab. 135 EKSTRA
136 Bab. 136 EKSTRA
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab.124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128 Epilog.
129
Bab. 129 EKSTRA
130
Bab. 130 EKSTRA
131
Bab. 131 EKSTRA
132
Bab. 132 EKSTRA
133
Bab. 133 Ekstra
134
Bab. 134 EKSTRA
135
Bab. 135 EKSTRA
136
Bab. 136 EKSTRA
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!