Bab. 2

***

Setelah perdebatan sengit dengan dokter yang akhirnya menyerah karena ancaman Aurelia yang ingin "demo masak di kantin RS", Nadia atau kita sebut saja Aurelia akhirnya diperbolehkan pulang.

Mobil mewah Mercedes-Benz kelas atas menjemputnya. Aurelia duduk di kursi belakang yang empuknya melebihi kasur busa di kosan lamanya. Sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya mengelus perut buncitnya yang mulai terasa aktif.

"Sabar ya, Nak. Kita mau ke istana. Jangan nendang-nendang dulu, nanti Mama muntah di mobil mahal ini, sayang bayarnya," bisik Aurelia pada perutnya.

Begitu mobil memasuki gerbang raksasa berlapis emas, rahang Aurelia hampir jatuh ke lantai mobil. Sebuah bangunan megah bergaya klasik modern berdiri kokoh di hadapannya. Air mancur dengan patung marmer menghiasi halaman depan yang luasnya mungkin setara dengan tiga lapangan sepak bola.

"Gila... ini rumah atau bandara?" gumam Aurelia takjub. "Bi Sum, ini beneran rumah si Kulkas—eh, maksud saya, suami saya?"

Bi Sum terkekeh pelan. "Iya, Bu. Ini Mansion Hadiwinata. Rumah pribadi Bapak dan Ibu."

Saat kaki Aurelia menginjak lantai marmer di lobi utama, ia merasa seperti Cinderella yang baru saja menang lotre. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke segala penjuru ruangan. Namun, kekagumannya terhenti saat ia mendengar suara cempreng yang sangat tidak merdu dari arah ruang tengah.

"Oh, akhirnya si pembawa sial ini pulang juga? Kirain mau selamanya di rumah sakit biar dapet perhatian Raditya!"

Aurelia menghentikan langkahnya. Di atas sofa beludru merah, duduk seorang wanita paruh baya dengan perhiasan yang beratnya mungkin bisa buat beli satu unit ruko, bersama seorang gadis muda yang memakai riasan setebal tembok yang sedang asyik memoles kuku.

Itulah Nyonya Sekar, ibu mertua Nadia, dan Siska, sepupu Raditya yang sudah lama mengincar posisi di mansion ini.

Aurelia menoleh ke arah Bi Sum dengan dahi berkerut. "Bi, bukannya Bibi bilang ini mansion pribadi suami saya? Kenapa ada dua ulat keket ini di sini?" bisiknya ketus.

Bi Sum kaget setengah mati mendengar istilah 'ulat kekek', ia berbisik balik dengan gemetar, "I-iya Bu. Nyonya Sekar dan Non Siska memang sering datang ke sini tanpa diundang. Mereka bilang ingin bertemu Bapak Raditya, tapi ujung-ujungnya hanya memerintah para pelayan."

"Kenapa nggak ke kantornya aja langsung?" tanya Aurelia heran.

"Karena... mereka merasa seperti penguasa di sini, Bu. Maaf," Bi Sum menunduk.

Aurelia mendengus. "Lalu selama ini, Nadia—eh, saya, maksudnya sikap saya gimana kalau mereka berulah?"

"Ibu selalu diam saja, menghormati Ibu Mertua agar tidak ada pertengkaran. Ibu bahkan sering membuatkan teh tapi malah disiramkan ke lantai oleh mereka..."

Mata Aurelia membelalak. "Disiram ke lantai? Wah, fix. Nadia yang dulu emang terlalu malaikat. Sekarang, iblisnya yang bangun."

Aurelia berjalan mendekat ke arah sofa dengan gaya yang sangat anggun namun sorot matanya tajam. Ia mengelus perut buncitnya dengan dramatis.

"Aduh, sayang... denger nggak? Tadi ada suara berisik banget, kayak suara burung gagak minta makan," ucap Aurelia dengan suara keras sambil menatap Nyonya Sekar.

Nyonya Sekar tersentak, ia berdiri dengan wajah merah padam. "Nadia! Apa kamu bilang? Kamu berani menghina Ibu mertuamu?!"

Siska pun ikut menimpali, "Eh, Kak Nadia, sadar diri dong! Kamu itu cuma istri pajangan yang hamil nggak jelas asal-usulnya. Mas Raditya aja ogah pulang, kenapa kamu yang jadi berisik?"

Aurelia tersenyum manis, sangat manis sampai membuat Siska merinding. "Eh, ada Siska ya? Duh, maaf ya, mataku agak silau lihat mansion semegah ini, jadi ulat-ulat kecil di sofa nggak kelihatan."

"Nadia! Kurang ajar kamu!" Nyonya Sekar berteriak sambil mengangkat tangannya, hendak menampar.

Tepat sebelum tangan itu mendarat, Aurelia tiba-tiba memegang perutnya dan berakting lemas. "ADUH! ADUH! SAKIT! ADUH, ANAKNYA RADITYA STRES DENGER TERIAKAN NENEKNYA!"

Aurelia hampir terduduk di lantai, membuat para pelayan berlarian panik.

"Bi Sum! Telepon Mas Raditya! Bilang ke dia, kalau bayinya keguguran sekarang juga, itu gara-gara ibunya mau nampar menantunya yang lagi hamil empat bulan!" teriak Aurelia dengan nada yang sangat meyakinkan.

Nyonya Sekar seketika membeku. Tangannya gemetar di udara. Raditya adalah putra yang sangat ia takuti jika sudah menyangkut reputasi keluarga. Jika berita 'Nyonya Sekar membunuh cucunya sendiri' tersebar, dia akan diusir dari daftar ahli waris.

"Ka-kamu... kamu jangan akting ya, Nadia!" Siska membela ibunya, meski suaranya mulai ciut.

"Akting? Kalian mau coba?" Aurelia berdiri tegak kembali dengan kecepatan kilat, wajah lemasnya hilang seketika. "Dengar ya, ulat-ulat cantik. Mulai hari ini, peraturan di mansion ini berubah. Saya adalah Nyonya di sini. Dan bayi di perut saya ini adalah pewaris tunggal Hadiwinata."

Aurelia mendekat ke arah Siska, menatap kuku merahnya yang baru dipoles. "Siska, kuku kamu bagus. Tapi sayang, otaknya nggak sebanding. Daripada kamu asyik di sini nungguin suami orang, mending kamu cari kerjaan. Atau mau saya carikan lowongan jadi pembersih kolam renang di sini?"

"Kak Nadia! Mas Raditya nggak akan tinggal diam lihat kamu jadi kasar begini!"

"Oh, si Kulkas itu? Di mana dia sekarang?" tanya Aurelia pada Bi Sum, sengaja mengabaikan Siska.

"Bapak masih di kantor, Bu," jawab Bi Sum takut-takut.

Aurelia mendengus kasar. "Ya Tuhan... punya suami modelan kayak gitu. Istri pulang dari rumah sakit dibiarin hadepin ulat kekek sendirian. Bi! Siapkan kamar saya. Dan tolong, buang semua barang-barang di ruang tamu ini yang pernah diduduki oleh orang yang bukan penghuni rumah. Saya nggak mau aura negatif ulat-ulat ini bikin anak saya lahir jadi buncis."

Nyonya Sekar hampir pingsan mendengar perintah itu. "Nadia! Kamu mengusir kami?!"

Aurelia menguap lebar, lalu mengelus perutnya lagi. "Aduh sayang, Mama capek ya denger suara bising. Ayo kita ke kamar, biar ulat-ulat ini pulang ke sarangnya sendiri sebelum Mama panggil satpam untuk 'membantu' mereka keluar."

Aurelia berjalan melewati mereka begitu saja, bahunya menyenggol Siska hingga gadis itu hampir terjungkal ke sofa. Dengan kepala tegak, ia menaiki tangga mewah itu, meninggalkan Nyonya Sekar dan Siska yang mematung dengan mulut menganga.

"Mulai hari ini," gumam Aurelia sambil memandang luasnya mansion dari atas tangga, "Saya bukan Nadia yang lemah. Saya adalah ratu di sini. Dan Raditya... siap-siap aja kamu akan di bikin pusing tujuh keliling."

***

Bersambung

Hai man teman, ini cerita terbaru dari author semoga kalian suka ya,,😚

jangan lupa mampir di cerita author yangain, banyak juga kok cerita cerita bagus yang engga kalah menarik pastinya, hehehe....

Lopp sekebonnn ❤️❤️❤️

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

eh gimana siska itu anak dr ibunya raditya juga? bukannya di atas di bilang dia cuma sepupu aja ya? brati kan harusnya ibu nya raditya itu tante nya 🤔

2026-08-25

0

Memyr 67

Memyr 67

menarik. tapi tergantung typonya. kalau typo semakin banyak, nggak ngotak, aku langsung babay.

2026-07-25

0

Osie

Osie

nah ibu baru sosok tangguh..keren nadia kalu boleh buat nadia jago bela diri juga thor..makin seruuu

2026-05-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab.124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128 Epilog.
129 Bab. 129 EKSTRA
130 Bab. 130 EKSTRA
131 Bab. 131 EKSTRA
132 Bab. 132 EKSTRA
133 Bab. 133 Ekstra
134 Bab. 134 EKSTRA
135 Bab. 135 EKSTRA
136 Bab. 136 EKSTRA
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab.124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128 Epilog.
129
Bab. 129 EKSTRA
130
Bab. 130 EKSTRA
131
Bab. 131 EKSTRA
132
Bab. 132 EKSTRA
133
Bab. 133 Ekstra
134
Bab. 134 EKSTRA
135
Bab. 135 EKSTRA
136
Bab. 136 EKSTRA
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!