Bab. 5

***

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden raksasa di ruang makan Mansion Hadiwinata, memantul di atas meja marmer panjang yang dipenuhi hidangan sarapan kelas atas. Aurelia yang kini lebih nyaman menyapa dirinya sebagai Nadia turun dengan langkah santai. Ia memilih mengenakan dress rayon berwarna pastel yang lembut.

Potongannya sederhana, namun karena bahan yang jatuh dan pas di tubuhnya, aura anggun sekaligus seksi seorang calon ibu terpancar begitu kuat.

Di ujung meja, Raditya sudah duduk dengan gagah. Setelan jas mahalnya sudah terpasang rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan, dan ia tampak sibuk dengan tablet di tangannya sembari sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Pagi, Mas Kulkas... eh, Mas Radit," sapa Nadia dengan senyum manis yang sengaja ia buat sedikit malu-malu.

Raditya melirik sekilas. Matanya tertahan sejenak pada wajah Nadia yang terlihat segar meski tanpa riasan tebal. "Duduk. Makan sarapanmu. Jangan sampai anak itu kelaparan," jawabnya dingin, namun ada nada protektif yang terselip.

Baru saja Nadia hendak menyendok bubur ayam organiknya, suara decitan sepatu hak tinggi yang nyaring menggema di lobi, diikuti suara tawa yang dibuat-buat.

"Wah, wah... pagi-pagi sudah mesra ya?"

Nyonya Sekar masuk dengan gaya pongah, diikuti Siska yang berdandan sangat menor seolah hendak pergi ke pesta malam hari, padahal ini baru jam delapan pagi.

Raditya meletakkan tabletnya, raut wajahnya langsung berubah kaku. "Mama? Ada apa lagi pagi-pagi ke sini?"

"Mama cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja, Radit. Setelah kejadian 'pengusiran' kemarin, Mama khawatir kamu ditekan oleh wanita ini," ucap Nyonya Sekar sambil melirik sinis ke arah Nadia.

Siska menimpali sambil mengibaskan rambutnya, "Iya, Mas. Kemarin Kak Nadia barbar banget, Mas. Siska sampai trauma lho ditunjuk-tunjuk begitu."

Nadia menarik napas dalam. Jiwa Aurelia-nya ingin sekali melempar sendok perak ini ke dahi Siska, tapi ia ingat: Main cantik, Aurel. Main cantik.

Nadia meletakkan sendoknya, wajahnya berubah sendu. Ia menatap Nyonya Sekar dengan mata yang berkaca-kaca. "Mama... Siska... Nadia benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Nadia merasa sangat pusing dan lelah setelah pulang dari rumah sakit, mungkin hormon kehamilan membuat Nadia bicara tanpa sadar. Tolong maafkan Nadia ya?"

Nyonya Sekar dan Siska tertegun. Mereka tidak menyangka Nadia akan kembali menjadi "si penurut" secepat ini. Raditya pun menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang aneh dengan perubahan drastis istrinya.

"O-oh, jadi kamu sadar kalau kamu salah?" Nyonya Sekar berdeham, mencoba menguasai keadaan. "Bagus kalau begitu. Kamu harus tahu posisi—"

Siska mendekat ke arah Nadia, hendak memberikan tatapan kemenangan. "Makanya Kak, kalau lagi hamil jangan sensi-sensi amat. Kasihan Mas Radit kalau punya istri tukang marah-marah..."

Siska sengaja berdiri tepat di samping Nadia, mengibaskan syal sutranya yang sudah disemprot parfum berlebihan. Saat itulah, bencana dimulai.

Wush...

Bau parfum yang sangat tajam, perpaduan aroma bunga yang terlalu manis dan alkohol yang menyengat, langsung menusuk hidung Nadia. Bagi orang biasa, mungkin hanya tercium wangi, tapi bagi hidung sensitif bumil, itu adalah bau paling mengerikan di dunia.

Wajah Nadia yang tadinya berpura-pura sedih, tiba-tiba berubah pucat pasi. Ia benar-benar merasa perutnya jungkir balik. Rasa mual itu nyata, bukan akting.

"Ugh..." Nadia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kepalanya mendadak berputar hebat.

"Eh, Kak Nadia kenapa? Jangan akting lagi deh!" sindir Siska.

Nadia tidak bisa menjawab. Oksigen di sekitarnya seolah habis digantikan oleh bau parfum Siska yang "limited edition" tapi terasa seperti racun baginya. Tubuh Nadia limbung, ia terpaksa berpegangan erat pada lengan jas Raditya yang duduk di sebelahnya.

"Mas... Mas, tolong..." bisik Nadia dengan suara tercekat. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah sedang dicekik.

Raditya yang tadinya diam, langsung sigap merangkul pinggang Nadia. Ia bisa merasakan tubuh istrinya gemetar hebat dan dingin. "Nadia? Ada apa?"

"Baunya... Mas, jauhkan dia... perutku sakit sekali," rintih Nadia. Ia benar-benar merasa kram di bagian bawah perutnya karena kontraksi otot saat menahan mual.

"Sepertinya bayinya... bayinya tidak suka bau ini. Mas, sesak..."

Melihat wajah Nadia yang benar-benar pucat dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, kemarahan Raditya langsung tersulut. Ia menatap tajam ke arah Siska yang masih berdiri mematung di sana.

"Siska! Apa yang kamu pakai?!" bentak Raditya. Suaranya menggelegar, membuat Nyonya Sekar pun tersentak kaget.

"I-ini parfum mahal, Mas! Limited edition dari Paris—"

"Aku tidak peduli itu dari Paris atau dari langit sekalipun!" potong Raditya dengan suara dingin yang mematikan. "Istri saya sedang hamil dan dia tidak bisa menghirup bau menyengat itu. Kamu tidak lihat dia sampai sesak napas?!"

"Tapi Radit, ini kan parfum biasa, masa Nadia selebay itu—" Nyonya Sekar mencoba membela keponakannya.

"Cukup, Mah!" Raditya berdiri, sambil tetap mendekap Nadia yang lemas di dadanya. "Siska, pergi dari sini sekarang. Ganti pakaianmu atau mandi sampai bau itu hilang, baru boleh kembali ke ruangan ini. Jangan biarkan bau sampah itu mendekati anakku lagi!"

Siska nyaris menangis karena dibentak sedemikian rupa di depan para pelayan. "Mas, tapi ini parfum mahal..."

"PERGI!"

Nyonya Sekar masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka, sementara Siska sudah menghilang di balik pintu lobi setelah teriakan menggelegar Raditya.

Suasana ruang makan yang tadinya penuh intimidasi kini berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan suara detak jam dinding mewah dan napas Nadia yang masih tersengal.

Raditya masih memeluk Nadia, membiarkan wajah istrinya terkubur di balik dada bidangnya. Ia mengabaikan noda air mata atau keringat dingin Nadia yang mungkin mengotori jas mahalnya.

"Sudah lebih baik?" tanya Raditya pelan. Suaranya tidak lagi membentak, melainkan rendah dan berat, sangat dekat di telinga Nadia.

Tangannya yang besar, yang biasanya hanya menyentuh berkas-berkas kontrak triliunan rupiah, kini bergerak kaku namun terasa tulus mengusap punggung Nadia. Ia bisa merasakan tubuh wanita itu masih sedikit gemetar.

Nadia perlahan mendongak. Bulu matanya basah, dan wajahnya yang putih kini terlihat sangat pucat, memberikan kesan rapuh yang luar biasa. "Terima kasih, Mas... Nadia benar-benar tidak kuat tadi. Perut Nadia sampai kram, rasanya seperti ditarik-tarik," rintihnya dengan suara serak.

Mendengar kata 'kram', rahang Raditya kembali mengeras. Ia melirik ke arah kursi yang tadi diduduki Siska dengan tatapan muak.

"Raditya, kamu jangan terlalu berlebihan," sela Nyonya Sekar, mencoba mengambil kembali wibawanya. "Siska itu tamu kita, dan dia cuma pakai parfum. Mungkin Nadia saja yang terlalu sensitif karena ingin cari perhatianmu."

Raditya menoleh perlahan, menatap ibunya dengan tatapan tajam yang membuat Nyonya Sekar bungkam seketika. "Sensitif? Mama lihat sendiri wajahnya pucat seperti mayat. Jika terjadi sesuatu pada pewaris Hadiwinata hanya karena bau-bauan tidak berguna itu, apa Mama mau bertanggung jawab?"

Nyonya Sekar terkesiap. "Tapi Radit—"

"Selesaikan sarapan Mama sendiri," potong Raditya tanpa kompromi.

Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Raditya merendahkan tubuhnya dan menyusupkan lengannya di bawah lutut serta punggung Nadia. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Nadia dalam gendongan bridal style.

Nadia yang terkejut secara refleks mengalungkan lengannya ke leher Raditya. "Mas... Nadia bisa jalan sendiri, nanti Mas capek..."

"Diam, Nadia. Jangan banyak bicara kalau napasmu saja masih pendek," sahut Raditya dingin namun tetap mendekapnya dengan erat.

Ia berbalik, melangkah gagah menuju tangga besar tanpa menoleh lagi pada ibunya. Sambil berjalan, ia berujar dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke telinga Nyonya Sekar.

"Bi Sum! Beritahu Siska, jika dia masih ingin menginjakkan kaki di mansion ini, jangan pernah memakai bahan kimia murahan seperti itu lagi. Jika dia keberatan, silahkan angkat kaki dari daftar tamu keluarga ini selamanya!"

Raditya menendang pintu kamar dengan kakinya hingga terbuka, lalu merebahkan Nadia di atas ranjang king size dengan sangat hati-hati, seolah-olah Nadia adalah barang pecah belah yang sangat mahal.

Ia tidak langsung pergi. Raditya berlutut di tepi ranjang, melepaskan sepatu yang dikenakan Nadia. "Berbaringlah. Saya akan panggil dokter keluarga untuk memeriksa kram perutmu."

Nadia buru-buru memegang tangan Raditya. "Nggak perlu, Mas. Tadi cuma karena mual banget jadi ototnya tegang. Sekarang kalau baunya udah ilang, Nadia udah mendingan kok."

Raditya menatap Nadia lurus ke matanya, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah wajah cantik yang terlihat lelah.

"Kamu yakin?"

Nadia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bantal. Saat Raditya berbalik untuk mengambil segelas air putih, Nadia diam-diam menarik napas lega. Ia menyembunyikan senyum licik di balik selimutnya.

Gila... si Kulkas kalau lagi marah demi anak istrinya, gantengnya nambah seribu persen! Karismanya bener-bener tumpah-tumpah! batin Aurelia kegirangan.

"Minum ini," perintah Raditya sambil membantu Nadia duduk.

Nadia meminum airnya dengan patuh, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Raditya yang kini membuka jasnya dan menyisakan kemeja putih yang sedikit ketat di bagian bahu.

"Mas... Mas nggak ke kantor?" tanya Nadia pelan.

"Nanti, setelah saya pastikan kamu tidak pingsan lagi," jawab Raditya kaku sambil duduk di kursi sofa dekat ranjang, seolah bersiap menjaga Nadia sepanjang waktu.

Nadia tersenyum dalam hati. Sepertinya, mulai hari ini si Kulkas bakal makin susah jauh-jauh dari gue.

****

Bersambung

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

bude udah jd ibu tapi masa ga paham sih sama hormon ibu hamil 😒

2026-08-25

0

Dewi Ansyari

Dewi Ansyari

🤣🤣🤣🤣Aurelin di lawan

2026-08-24

0

dome🌬️🌀🌀🌀

dome🌬️🌀🌀🌀

hahahajahaa... bagus Aurel bikin mas ganteng jadi fokus ke kamu terus. pakai anak mu untuk meluluhkan hati suamimu. walau terdengar licik tapi demi kebaikan rumah tangga mu. dan demi anak kalian. mas ganteng harus lebih perhatian dengan kalian😁😁😁

2026-07-02

3

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 45
46 Bab. 46
47 Bab. 47
48 Bab. 48
49 Bab. 49
50 Bab. 50
51 Bab. 51
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55
56 Bab. 56
57 Bab. 57
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab.124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128 Epilog.
129 Bab. 129 EKSTRA
130 Bab. 130 EKSTRA
131 Bab. 131 EKSTRA
132 Bab. 132 EKSTRA
133 Bab. 133 Ekstra
134 Bab. 134 EKSTRA
135 Bab. 135 EKSTRA
136 Bab. 136 EKSTRA
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 45
46
Bab. 46
47
Bab. 47
48
Bab. 48
49
Bab. 49
50
Bab. 50
51
Bab. 51
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55
56
Bab. 56
57
Bab. 57
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab.124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128 Epilog.
129
Bab. 129 EKSTRA
130
Bab. 130 EKSTRA
131
Bab. 131 EKSTRA
132
Bab. 132 EKSTRA
133
Bab. 133 Ekstra
134
Bab. 134 EKSTRA
135
Bab. 135 EKSTRA
136
Bab. 136 EKSTRA
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!