perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tumbang
pagi hari aji mengantar ajeng ke daycare bersama Mela
"yah sini" ucap ajeng
"mana temanmu yang ngatain kamu sayang"
"itu yah... namanya ibra" tunjuk ajeng
aji menghampiri anak laki-laki tambun yang bernama ibra
"halo ibra... kenalan dulu yuk"
ibra tak langsung meraih tangan aji. aji menurunkan badannya sejajar dengan tinggi badan ibra
"ibra. kenalan yuk, nama om aji"
"nama kamu ibra kan?"
Ibra mengangguk
"pasti nama lengkapnya Ibrahim"
Ibra kembali mengangguk
"om ini ayahnya ajeng, kenalan donk. ah jagoan masak ndak mau jabat tangan"
Ibra meraih tangan aji
"nah gitu donk, hari ini ibra sarapan pakai apa?"
"nasi goreng"
"wah enak tuh... pasti yang masak mama"
Ibra mengangguk
"pasti enak nasi goreng buatan mamanya ibra. kapan-kapan om minta ya"
Ibra kembali mengangguk
"oke... semangat ya sekolahnya. oh ya om titip anak om ya, ajeng"
Ibra kembali mengangguk. ibra berlari meninggalkan aji
"nah sekarang ibra tau kalau ajeng punya ayah"
"pasti ibra takut sama ayah"
"ndak takut, cuma malu aja"
Setelah mengantarkan ajeng kesekolah, aji berangkat ke tempat kerjanya
"terimakasih ya mas, kamu sudah menepati semua janjimu"
"Sama-sama, jangan berterima kasih terus. nanti habis lho terimakasihnya" canda aji
******
Hari itu badan aji terasa meriang
"may. aku pulang dulu ya. tolong lanjutkan pekerjaanku"
"baik Pak"
Aji pulang dengan badan yang kurang sehat, matanya terasa panas, tenggorokannya kering.
sesampainya di rumah, aji langsung masuk kedalam kamarnya, menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur.
"tok.. bapak pulang?"
"iya bik, kayaknya lagi ndak enak badan. pucat bik"
"aku harus gimana tok?"
Bik atik mengetuk kamar aji
"tuan..."
"masuk bik"
"apa tuan baik-baik saja?"
"cuma kelelahan saja bik, tolong buatkan wedang jahe sama madu ya bik, kalau bisa yang panas"
Bik atik langsung membuatkan apa yang di mau aji
"tuan pulang bik?" tanya dwi
"iya, bantu saya wik, bikin wedang jahe buat tuan. kayaknya kecapean"
"iya bik, setiap hari sibuk. pasti capek"
Setelah selesai membuat wedang jahe, bik atik masuk kedalam kamar aji
"tuan, apa perlu saya bantu untuk membuka sepatu tuan?"
"iya bik, badanku meriang"
Bik asih membantu aji melepaskan sepatu dan koas kakinya, membantu aji untuk duduk dan memberi minum aji pelan-pelan. karena tak kuat mengangkat badan aji untuk bersandar, bik atik memanggil dwi
"wik... bantu bibik"
Dwi bergegas masuk kedalam kamar aji
"bantu wik" bik atik dan dwi mengangkat badan aji yang kekar itu untuk bersandar
"bik... badan tuan panas sekali" ujar dwi
"tolong ambilkan kompres wik" ujar bik atik sambil menyuapi aji wedang jahe memakai sendok
Dwi meletakkan handuk panas di dahi aji. aji membuka matanya pelan-pelan, samar bayangan melihat wajah dwi. karena suhu badan yang terlalu tinggi, aji tak kuasa membuka dengan penuh matanya.
"suci.... " ujar aji
Dwi mengernyitkan keningnya "suci?"
"bik... tuan manggil suci" ujar dwi
"siapa suci?" bik atik juga bingung
"bik, aku ambil termometer dulu, bibik pegang kompres ini" ujar dwi
Ketika dwi hendak pergi, tangan aji memegang tangan dwi
"chiii.... jangan pergi"
"bik.... " ujar dwi sambil menunjuk tangannya yang di tahan aji
"sudah kamu kompres, biar bibik ambilkan termometer"
Bik atik keluar kamar
Aji terus memegang tangan dwi dan terus mengigau memanggil nama suci
"tinggi sekali panasnya bik" ucap dwi setelah menembakkan termometer ke dahi aji
"panggil dokter wik"
"jangan" ucap aji
"tuan ndak mau bik. mungkin tuan hanya kecapean"
aji tetap memegang tangan dwi.
Dwi duduk di samping ranjang aji. sampai aji benar-benar tertidur pulas, dwi pelan-pelan melepaskan tangannya
"bik, kalau suhu badan tuan masih tinggi, kita panggil dokter ya"
"iya, aku tidur di sini" sambil menunjuk sofa "siapa tau tuan perlu Apa-apa" ucap bik atik
"aku temani bik"
"jangan. kamu tidur aja di kamar. besok kamu kan kuliah. sudah tidur sana"
Dwi meninggalkan bik atik di depan kamar aji
Ketika dwi hendak tidur
"kok ndak asing ya dengan wajah tuan aji? kayak pernah lihat dimana gitu ya" ucap dwi sendiri
*****
keesokan harinya
"bik, hari ini aku harus ke kampus pagi bik" ucap dwi sambil memotong-motong sayur
"cepat bereskan dulu pekerjaanmu"
"iya bik. bagaimana keadaan tuan? apa semalam mengigau lagi?"
"iya, manggil nama suci... suci terus"
dwi segera membereskan semua pekerjaannya.
Waktu sudah menujukkan pukul 7 pagi, dwi bergegas berangkat ke kampus.
"bik atik" panggil aji dari depan pintu kamarnya
"iya tuan"
"buatkan saya wedang jahe lagi bik"
"tapi tuan harus sarapan dulu ya"
aji mengangguk dan kembali lagi merebahkan tubuhnya
Tak lama kemudian bik ati membawa baki berisi makanan dan juga wedang jahe yang di minta aji
"makan di luar aja bik" tukas aji sambil beranjak dari tidurnya
aji duduk di meja makan seperti biasanya
"tuan apa badan tuan masih panas?"
"iya bik, tolong nanti panggilkan dokter" ucap aji lemas
"baik tuan"
Bik atik keluar rumah, memerintahkan pak yanto untuk memanggil seorang dokter yang membuka tempat praktek di block sebelah
bik atik membereskan kamar aji yang lumayan berantakan.
"bik, mana dwi?" ucap aji ketika bik atik lewat sambil membawa baskom berisi air dan handuk bekas kompresan aji semalam
"sudah berangkat ke kampus tuan, jadi sudah menyelesaikan semua pekerjaannya"
"yang masak ini siapa?" ucap aji sambil mengaduk sup yang dia makan
"dwi tuan... kenapa? ndak enak ya?"
"enak" ucap aji pelan
setelah menghabiskan makanannya, aji kembali lagi kedalam kamarnya
"may... tolong semua jadwal saya hari ini di reschedule ya untuk 3 hari kedepan"
"baik Pak, bapak sakit?"
"iya may... ultramennya tumbang" canda aji
"semoga lekas sehat kembali pak aji"
"terimakasih may. titip kantor ya"
aji menyudahi percakapannya.
tak berapa lama dokter yang memeriksa aji tiba
"pak aji perlu beristirahat beberapa hari. tekanan darahnya juga turun. nanti saya buatkan resep"
"baik dokter. terimakasih"
aji kembali merebahkan tubuhnya.
"bik... tolong belikan bubur ayam. bisa?"
"bisa tuan" bik atik segera memesan bubur ayam lewat aplikasi
"tuan baru aja sarapan, sekarang minta bubur?" gumam bik atik
Setelah menunggu beberapa lama bubur ayam itu datang.
"tuan... " bik atik mengetuk pintu kamar aji "buburnya sudah datang, mau makan di luar apa di kamar?"
"luar bik" ucap aji pelan
aji pelan-pelan menyuap bubur ayam yang masih panas itu.
"nanti siang belikan nasi kuning" ucap aji kepada aji
"nasi kuning yang biasanya tuan?"
"hmmmm... "
aji harus banyak makan, dia sadar akhir- akhir ini makannya tidak teratur