Indonesia
NovelToon NovelToon
Rafka Dan Ragam Senja

Rafka Dan Ragam Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Nirmaya

Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.

Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?

Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Trauma dan Perjuangan

“Om selaku keluarga dari pihak laki-laki dan mewakili anak Om, bermaksud ingin melamar Senja sebagai Istri untuk anak bungsu Om, Senja”

Kalimat yang baru saja Senja dengar seperti di hembus kencang oleh angin, otaknya gagal mencerna kalimat sederhana itu, kalimat yang sudah lebih dari tiga kali diperuntukkannya. Tapi… kenapa sekarang harus lagi?

Tepukan pelan di bahu nya membuat Senja tersadar, ia menatap kesekeliling yang ternyata sudah memfokuskan ke dirinya seorang. “bagaimana, Nak?” suara Ayahnya memaksa Senja menatapnya.

Senja tak bisa, Ia tak mau mempunyai hubungan seperti itu lagi. Ia terikat kontrak kerja. Senja tak ingin berhubungan apapun dengan siapapun.

Dengan pelan Senja menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dari gerakan Senja mereka sudah dapat menyimpulkan dengan mudah. Lamaran ini di tolak.

“Senja” bukan hanya Ayah yang berada di sekelilingnya, sudah ada Bunda dan Kak Hiza yang siap menenangi-nya.

Senja tetap tertunduk dan terus menggelengkan kepalanya. “Maaf” suara Senja terdengar gemeter "Saya tidak bisa menerima lamaran ini” lolos tanpa halangan, kalimat itu berhasil keluar dari bibir Senja sendiri.

“Kenapa? Boleh saya tau alasannya?” Suara yang sangat ia kenali hinggap di pendengaran Senja, tanpa meliatnya dia sudah tau siapa pemilik suara itu.

Pelan tapi pasti Senja menegakkan kepalanya membalas tatapan Pria tersebut. “banyak!, dari yang terbuka sampai privasi” balasnya.

Pria itu menatapnya santai, padahal lamarannya sudah di tolak tanpa di pikir Panjang tadi “berikan alasan yang bisa saya terima” Senja menatap skeptis. Kenapa kesannya ia malah di tantang?

“Saya sudah menolak lamaranmu, kenapa kamu masih meminta alasan?” Hanya akan menghabiskan tenaga jika harus menjelaskan alasannya.

“Semua penolakan butuh alasan yang jelas, Senja” nadanya santai tapi sangat jelas menuntut.

“Oke kalau itu maumu, aku belum siap sampai ke jenjang pernikahan!” Ide dadakan itu muncul dengan sendirinya, tapi Senja yakin pasti pria tepat di depannya ini mengerti.

Tapi tunggu, Pria itu hanya mengangguk santai “ada lagi?” Apa apaan ini? Bukan reaksi ini yang gadis itu harapkan.

“Saya pemalas” reaksinya masih sama

“Saya ngga bisa nyuci baju”

“Kita bisa laundry” jawab laki-laki itu santai yang justru bikin Senja makin jengkel.

“Saya ngga bisa masak!”

“Saya bisa, kamu bisa belajar dengan saya” ohh si all, kenapa ia melupakan profesi nya?

“Tapi saya ngga mau dan tak pernah mau belajar masak!” Jawab Senja sengit.

“Tidak apa, saya bisa. Kamu ngga akan kelaparan dengan saya!”

“Saya ngga suka sama kamu!”

“Kita bisa melakukan pendekatan sebelum ke jenjang lebih serius”

“Mau kamu apa sih, Rafka?!” cukup! Senja sampai kehabisan ide menghadapi kemauan pria Bernama Rafka ini. Kenapa dia bisa menyangkal semua alasannya?

“Simpel, terima lamaran saya” mudah sekali Rafka berbicara seperti itu padanya. Senja bahkan sudah menatapnya dengan berkaca-kaca. Ingin menangis.

“Ngga!!” Seru Senja cepat “saya ngga mau berhubungan dengan laki-laki manapun sekalipun kamu memaksa saya di depan keluargamu sekarang ini!” Dia adalah Senja, gadis yang tak suka di bantah dan sangat keras kepala.

Di sisi tubuhnya, Sang Bunda berusaha menenangkannya. Karena anaknya sudah berdiri memperkuat ucapannya,

Rafka ikut berdiri dan perlahan mendekati Senja. “saya hanya meminta satu alasan yang masuk akal, Senja. Apa itu sulit?”

Gadis manis itu menatap Rafka dengan tajam “ngga ada alasan yang bakal saya jelaskan di sini, ngga bakal ada yang ngerti! Jadi buat apa saya cape-cape menjelaskan?” logika Senja berjalan, belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, penjelasannya hanya sia-sia.

Rafka mengangguk “Bearti lamaran saya kamu terima” Putus sepihak Rafka yang sontak makin membuat Senja murka.

“Egois!’ Hardik Senja tanpa merasa sungkan lagi.

“Senja!” tegur Wisnu, Senja menatap sang abang “kenapa? Abang mau ngebela dia juga?”

“Abang ngga-“ tangan Senja terangkat menghentikan ucapan Wisnu “Cukup, Senja ngga mau denger apapun dari abang!”

“Dan kamu? Berenti membual yang tidak-tidak” tunjuknya pada Rafka yang tepat berdiri di hadapannya sekarang. setelahnya Senja berbalik mengambil tasnya bermaksud pergi dari ruangan itu.

“Tunggu!” Rafka berhasil menahan lengan Senja membuat gadis berhijab hitam itu terhenti tapi dengan cepat Senja menarik kasar lengan yang di pegang Rafka. “Saya hanya meminta alasan, apa susah bagimu menjelaskan?”

“Susah! Kamu mau tau? Oke ku beri tahu! Saya terikat kontrak kerja yang di dalamnya tidak boleh melaksanakan pernikahan selama masa kontrak masih berlaku, kontrak itu lima tahun, dan baru dua tahun saya menjalaninya. Masih ada tiga tahun lagi. Kalau kamu mencari pasangan yang bisa menikah dalam waktu dekat bukan saya orangnya. Jangan suruh saya resign karena itu ngga bakal saya lakuin!”

Jadi tolong, cari perempuan lain. Jangan saya!” tatapan memelas Senja membuat siapapun merasa iba pada gadis itu.

“Saya akan menunggu sampai kontrak kamu selesai” balas Rafka serius. Tapi sayang di anggap berbeda oleh Senja.

“Kamu bukan orang pertama yang bilang seperti itu, Rafka! Dan kamu berfikir saya tetap bakal percaya begitu saja? Kamu mau bikin saya tambah gila atau gimana?” suara Senja naik satu oktaf, pipi nya merah menahan emosi yang siap meledak.

Rafka, pria itu diam. Melihat reaksi gadis di depannya jelas mempunyai trauma yang cukup dalam. Dan Rafka bertekad menghapus trauma Senja. “Jangan samakan saya dengan masa lalumu, izinkan sekali saja agar saya bisa membuktikannya. Saya tidak akan meninggalkan mu, saya sendiri yang akan menunggu sampai kontrakmu habis dan kita menikah, ya?” entah sejak kapan, tapi tangan Rafka berhasil menggenggam tangan Senja.

Kata membuktikan hanya membuat Senja tertawa sinis, basi! “sebelumnya juga ngomong persis seperti kamu, tapi apa? Gagalkan? Setelah gagalnya hubungan kita nanti yang saya dapatkan hanya rasa sakit dan trauma lagi dan lagi. Hanya seputaran itu! Itu sebabnya kenapa saya menolak kamu!”

“Jangan samakan saya dengan mantan-mantan kamu. Kasi saya kesempatan sekali saja” bukan Rafka yang terserang rasa malu karena perbuatan pria itu,, tapi Senja sendiri. Mereka jadi bahan tontonan keluarga besar pria itu, tapi kenapa dia tidak ada rasa malu sedikitpun?

“Apa jaminanmu? Ku bu’ nuh mau?” tantang Senja, ia tak main-main sekarang. Kini satu ruangan tersentak kaget terlebih pada Rafka.

“Istigfar, Senja!” Bunda jelas merasa tak enak kepada keluarga Rafka, tak di sangka juga Senja berani mengeluarkan ancaman seperti itu.

“Iya, lakukan semau kamu jika nanti nya aku meninggalkanmu dengan berbagai alasan.” Tidak ada keraguan, semua di jawab mantap dan lugas oleh Rafka, bukti bahwa ia tak pernah main-main dengan perbuatannya sekarang.

Dan sekarang, Senja hanya dapat diam. Tak menjawab tak juga membantah. Logika dan akal sehatnya berkecamuk sekarang, menerima itu artinya siap dengan segala konsekuensinya nanti, gagal atau berhasil lah jawabannya. Dan jika ia menolak, alasan apa lagi yang harus dia ucapkan kepada Rafka setelah semua yang ia lakukan di bantah habis oleh laki-laki itu.

Di lihatnya Bunda dan Kak Hiza yang sampai Sekarang masih setia menemani di sisinya. Beralih ke tiga Pria yang sangat Senja sayangi. Ayah, Wisnu serta Gahez yang terus menatapnya khawatir. Lalu kembali ke Rafka, Pria itu senantiasa menatapnya tanpa berpaling. Tangan mereka tetap terpaut erat. Seakan-akan Senja bakal pergi jika tak di pegangin erat.

Perasaaannya tidak karuan sekarang, matanya bergerak kesana-kemari resah. “bagaimana jika saya tetap menolakmu?” ini adalah cara terakhir yang dapat Senja lakukan.

“ngga apa” jawaban Rafka membuat Senja tersenyum “tapi berikan aku alasan penolakanmu secara jelas sekarang” bahu Senja luruh seketika. Si alan! batin Senja berteriak.

“kamu suka saya?” tembaknya tepat “iya” Senja semakin tercengang entah itu jawaban spontan atau dari dalam hati, Pria ini beneran ngga tau malu atau ngga punya malu?

“Kamu sayang saya?”

“Iya”

“Cinta saya?”

“Iya”

“kamu benci saya?”

“tidak!”

Dahlah Senja menyerah, maksud hati ingin menjebak tapi malah dia yang terjebak sendiri. Laki-laki ini sulit di kibuli ternyata.

“Sudah cukup, hentikan drama kalian. Senja tentukan jawabanmu dan Rafka tolong terima keputusan Senja kali ini” Om Abimanyu yang Senja kenal sebagai Papa Rafka bersuara memberikan intruksi mutlak. Wajar saja, perdebatan Senja dan Rafka tadi sudah menghabiskan waktu. Malam semakin larut!

Tampak raut wajah Rafka protes dengan ucapan sang Papa. Setelah semuanya ini harus berakhir sia-sia “jangan protes Rafka, lihat ponakan dan adek-adekmu sudah ngantuk liat debat kalian!” Rafka mencebik kesal, tapi wajah itu berubah saat berhadapan dengan Senja.

Senja hampir menyemburkan tawanya jika tidak melupakan suasana sekarang. “butuh waktu, Senja?” Tante Adistya, Mama Rafka ikut bersuara. Wanita paruh baya itu sedari tadi hanya diam saja. Baru sekarang ia mendengar suaranya.

Senja menatap keluarganya yang sudah Bersatu di satu tempat, Bunda dan Kak Hiza tidak lagi berdiri di sampingnya, entah sejak kapan. Mereka semua mengangguk memberikan ruang buat keputusan ada di tangan Senja sepenuhnya.

Senja menghembuskan nafas berat, keputusan ini akan kembali merubah hidup kedepannya. Ini berat, tapi akan ia jalani sekali lagi. “Baiklah, Saya…” nafasnya memburu, nervous membuatnya gugup, suaranya bergetar. Bissmillah “Saya menerima lamaranmu” satu kalimat mantap berhasil membuat semua orang di ruangan berucap Alhamdulillah berbarengan.

Jangan tanya keadaan Rafka sekarang, Pria itu bahkan hampir memeluk Senja jika seruan dari Wisnu dan Gahez menyadarkan aksi khilafnya. “terima kasih, Senja” bisik pelan tepat di telinga Senja.

Gadis itu hanya mematung diam, mau beranjak juga tangannya masih di genggam erat seperti di lem. Tapi satu yang membuat hati gadis manis nan cantiknya berdesir hangat. Ayah dan Bundanya menatap haru dan senyum lega tercetak jelas.

Asal mereka Bahagia, InsyaAllah Senja akan ikut Bahagia.

1
Senja Susanti
sama namanya seperti namaku
Aksara Nirmaya: hihii halooo kak Senjaa🤗
total 1 replies
Irma Nsyah
semangat nulisnya 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!