Indonesia
NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Cemburu dan Mawar

Senyum Kirana perlahan menghilang.

Kekhawatiran tentang Bu Sinta bertahan sampai dua hari kemudian. Namun dosen perempuan itu tidak menegur, tidak mengirim pesan, dan tidak kembali terlihat di dekat mobil Arya.

Kirana hampir menganggapnya selesai.

Siang itu ia duduk di salah satu meja panjang perpustakaan, menyusun bahan presentasi bersama Winda. Seorang teman sekelas laki-laki berhenti di sebelah mereka sambil membawa buku statistik.

“Kirana, ini buku yang kamu cari kemarin, kan?”

“Iya.” Kirana menerimanya. “Makasih. Kamu dapat di mana?”

“Perpustakaan kampus satunya. Aku sekalian pinjam dua.” Laki-laki itu menarik kursi kosong. “Kalau mau, nanti kita bisa bahas soal nomor lima. Aku masih bingung.”

“Boleh. Tapi mungkin besok, ya? Hari ini aku harus—”

“Tugas kelompok kalian sudah selesai?”

Suara Arya memotong dari ujung meja.

Ia berdiri membawa dua jurnal, wajahnya setenang biasa. Hanya Kirana yang melihat caranya menatap kursi laki-laki itu.

“Hampir, Prof,” jawab Winda, terlalu bersemangat.

Teman sekelas mereka segera berdiri. “Saya cuma mengembalikan buku untuk Kirana.”

“Bagus.” Arya meletakkan satu jurnal di depan Kirana. “Kalau butuh pembahasan soal nomor lima, materi ada di halaman seratus dua belas. Tidak perlu mengganggu orang lain yang sedang bekerja.”

“Baik, Prof.”

Laki-laki itu pamit. Setelah ia menjauh, Winda menutupi wajah dengan laptop agar tawanya tidak terdengar.

“Apa?” tanya Arya.

“Nggak ada, Prof.”

“Selesaikan presentasinya.”

Arya berjalan pergi.

Winda langsung merapat. “Itu versi akademis dari enyah dari perempuan gue.”

“Dia cuma mengingatkan materi.”

“Kira, kalau penyangkalan bisa jadi mata kuliah, lo lulus cum laude.”

Ponsel Kirana bergetar.

Pesan dari Arya.

Besok kamu bisa belajar dengannya. Hari ini makan malam dengan saya.

Kirana membalas sambil menahan senyum.

Prof cemburu?

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Tidak.

Pembohong, pikir Kirana.

***

Di ruang kerja sementara Arya, Rian menatap layar ponsel atasannya dengan hati-hati. Ia baru datang membawa dokumen ketika mendapati Direktur Danuwangsa sedang menonton video pendek bertajuk Lima Cara Membuat Perempuan Jatuh Cinta.

“Pak?”

Arya mematikan suara. “Apa?”

“Tidak ada.”

“Kamu sudah menikah?”

“Belum, Pak.”

“Pernah mengejar perempuan?”

Rian mempertimbangkan apakah jawaban jujur akan membahayakan pekerjaannya. “Pernah.”

“Bunga efektif?”

“Tergantung jumlahnya.”

Di layar, pembuat video menunjukkan ruangan penuh mawar dengan tulisan 999 tangkai untuk cinta abadi.

Arya mengangguk. “Pesan sembilan ratus sembilan puluh sembilan.”

Rian membeku. “Tangkai?”

“Mawar merah muda. Kirim ke apartemen Kirana sore ini.”

“Pak, mungkin jumlah itu agak—”

“Ada masalah?”

Rian menelan sisa kalimat. “Tidak, Pak. Saya urus.”

***

Sore itu, Kirana turun dari ojek online dan mendapati lobi apartemennya tidak bisa dilewati.

Mawar merah muda memenuhi hampir seluruh ruangan. Puluhan buket berjajar dari pintu masuk sampai lift. Kelopak-kelopaknya membentuk lautan warna, cantik sekaligus tidak masuk akal. Dua petugas keamanan sibuk mengarahkan penghuni melewati jalur sempit di samping meja resepsionis.

“Mbak Kirana?” salah satu petugas memanggil. “Ini semua kiriman untuk Mbak.”

Kirana berhenti di ambang pintu. “Semua?”

“Katanya sembilan ratus sembilan puluh sembilan tangkai.”

Seorang ibu mengangkat ponsel untuk merekam. Dua anak kecil berjongkok menghitung buket. Tetangga dari lantai lima berbisik kepada temannya sambil melirik Kirana.

Winda muncul dari lift dan menerobos lautan bunga. “Kira! Gila, ini romantis atau simulasi buka toko bunga?”

“Siapa yang kirim?”

“Pakai nanya.” Winda mengangkat kartu putih dari salah satu buket.

Untuk Rana. Agar tidak ada yang salah paham siapa yang sedang mengejarmu.

Kirana menutup mata.

“Dia benar-benar gila.”

“Gila romantis.”

“Ini menghalangi pintu.”

“Gila melanggar aturan keselamatan juga, sih.”

Suara mobil berhenti di luar. Arya masuk ke lobi dengan ekspresi puas yang bertahan tepat tiga detik.

Ia melihat penghuni berdesakan, petugas keamanan kewalahan, dan satu nenek yang terpaksa berjalan menyamping di antara buket.

Ekspresi puas itu lenyap.

Kirana menghampirinya sambil membawa kartu. “Mas, ini kebanyakan.”

Panggilan itu keluar tanpa sengaja. Bukan Prof., melainkan Mas.

Tatapan Arya langsung turun padanya. “Kamu memanggil saya apa?”

“Bukan itu intinya.”

“Bagi saya, itu inti yang menarik.”

“Bunganya menghalangi lobi. Tetangga merekam. Besok mungkin saya viral sebagai korban serangan mawar.”

Winda tertawa keras di belakangnya.

Arya memandang sekeliling sekali lagi. Untuk pertama kalinya sejak Kirana mengenalnya, ada bayangan malu di wajah pria itu.

“Rian bilang bunga efektif,” katanya.

“Mas Rian pasti bilang jumlahnya jangan segini.”

Arya tidak menjawab.

“Benar, kan?”

“Mungkin.”

Kirana hampir tertawa. “Mas Arya nonton tutorial mengejar perempuan?”

“Saya melakukan riset.”

Pertahanannya terlalu serius. Tawa Kirana akhirnya pecah.

Arya menatapnya, lalu perlahan ikut tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon Rian.

“Kirim tim. Pindahkan semua bunga dalam dua puluh menit. Bagikan ke rumah sakit, panti lansia, dan penghuni yang mau mengambil.”

Kurang dari lima belas menit, Rian datang bersama enam orang staf dan sebuah mobil boks. Begitu melihat Kirana, ia langsung menundukkan kepala sedikit.

“Maaf, Mbak. Saya sudah menyarankan jumlah yang lebih wajar.”

Arya memandangnya. “Kamu bilang tergantung jumlah.”

“Maksud saya dua belas atau dua puluh empat, Pak. Bukan hampir seribu.”

Winda bersandar ke meja resepsionis karena tertawa terlalu keras.

Kirana menyerahkan beberapa buket kepada penghuni yang ingin mengambil. Dalam hitungan menit, suasana lobi berubah seperti pembagian hadiah. Anak-anak memilih warna pita. Seorang ibu menelepon anggota arisan untuk menawarkan mawar gratis. Nenek yang tadi kesulitan lewat pulang membawa satu buket besar dan senyum lebar.

“Setidaknya sekarang semua orang senang,” kata Kirana.

“Kecuali saya,” gumam Rian sambil mengangkat dua buket sekaligus.

Arya mengeluarkan ponsel. “Uang makanmu naik bulan ini.”

Rian langsung berdiri lebih tegak. “Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya ikut senang.”

Kirana menggeleng geli. “Mas menyelesaikan semua masalah pakai uang?”

“Tidak semua.” Arya berdiri dekat di sampingnya. “Kamu belum berhasil saya selesaikan.”

“Saya bukan masalah.”

“Kamu satu-satunya masalah yang ingin saya simpan.”

Kalimat itu membuat Kirana kehilangan balasan. Ia membungkuk mengambil pita hanya agar orang lain tidak melihat wajahnya yang memerah.

Ketika lobi akhirnya memiliki jalan kosong, petugas keamanan menghampiri dan meminta Arya menandatangani laporan gangguan akses. Pria yang bisa membuat Rian memindahkan hampir seribu bunga dalam hitungan menit itu menerima formulir dan menulis namanya tanpa protes.

“Lain kali,” kata petugas itu hati-hati, “mohon kirim ke unit saja, Pak.”

“Tidak akan ada lain kali dengan jumlah seperti ini,” jawab Arya.

Kirana menatapnya. “Belajar dari kesalahan?”

“Saya belajar standar kamu berbeda dari video itu.”

Kirana mengangkat alis. “Masih bisa diselamatkan.”

“Apa?”

“Usaha Mas mengejar saya.”

Mata Arya menggelap penuh kemenangan kecil.

“Berarti saya boleh mencoba lagi?”

Kirana memandang gunungan mawar yang masih membuat pintu macet. “Dengan jumlah normal.”

“Berapa?”

“Satu.”

Arya mengambil setangkai mawar dari buket terdekat, mematahkan durinya dengan hati-hati, lalu menyerahkannya kepada Kirana.

“Kalau begitu, mulai sekarang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!