Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : Setelan Awal dan Mode Siaga
Hari terakhir Kiara di rumah sakit terasa lebih hidup. Bukan karena suasananya yang ramai, melainkan karena kehadiran Tante Siska yang datang bersama Khafi untuk membantu. Mengingat Papa Kiara yang katanya masih terjebak urusan pekerjaan di luar kota, kehadiran mereka benar-benar menjadi tumpuan bagi Mama Kiara dan Bi Yanti.
Saat Mama Kiara pergi ke administrasi untuk mengurus berkas kepulangan, kamar rawat itu cukup sibuk. Tante Siska dan Bi Yanti sedang asyik merapikan sisa barang-barang yang akan di bawa pulang sambil ngerumpi.
Sedangkan Khafi, yang merasa tidak terlalu diperlukan untuk urusan baju-baju, memilih berdiri di dekat sisi brankar Kiara.
Perawat baru saja selesai melepas infus dari punggung tangan Kiara.
"Sakit?" tanya Khafi pelan. Matanya tertuju pada punggung tangan Kiara yang sedikit membengkak dan membiru di bekas tusukan jarum.
Kiara yang sedari tadi menahan ringisannya, mengangguk pelan. "Ngilu gitu. Pertama kali soalnya, jadi kayaknya pembuluh darah gue kaget."
Khafi menatap tangan itu dengan raut serius yang tidak biasa. Tanpa bertanya lebih dulu, cowok itu mendekat dan perlahan mengambil tangan Kiara yang bekas infus.
"Kalau gini?" Khafi memijat lembut area di sekitar bengkak itu dengan ibu jarinya, sangat hati-hati.
Kiara terdiam sejenak merasakan sentuhan itu. "Justru karena ngilu sama pegal, malah enakan diginiin pelan. Kayak aliran darahnya lancar lagi."
Khafi menghela napas, matanya menatap cemas area bengkak itu. "Ini bengkaknya lumayan, ya. Harus diapain ini, Mah?" panggilnya pada Sang Mama yang sedang melipat selimut.
Tante Siska menoleh, lalu mendekat dan memeriksa tangan Kiara. "Oh, itu nanti sampai rumah dikompres air hangat ya, sayang. Biar peredaran darahnya lancar dan bengkaknya cepat turun," jelasnya seraya mengusap rambutnya yang saat ini di gerai.
"Iya, Tante. Makasih," sahut Kiara.
Tidak lama, Mama Kiara masuk ke ruangan dengan wajah lega. "Sudah selesai semua. Ayo, kita bisa pulang sekarang."
Khafi dengan sigap langsung membantu Kiara turun dari tepi brankar, Setelah itu Mama Kiara dan Tante Siska refleks menahan lengannya dari dua sisi, membuat Kiara terkekeh pelan.
"Ma, Tante, Kiara bisa jalan sendiri kok. Kan cuma mau ke mobil," protes Kiara merasa malu sendiri.
"Tetap aja, baru lepas infus itu biasanya masih lemas. Jangan membantah," potong Mama Kiara dengan tegas.
Khafi hanya menggelengkan kepala melihat pemandangan itu, lalu ia mengambil alih tas besar berisi pakaian dan perlengkapan lainnya. "Biar saya yang bawa barangnya. Bi Yanti bawa yang ringan-ringan aja."
Khafi melangkah lebih dulu menuju parkiran, membiarkan para wanita itu berjalan perlahan di belakangnya. Setelah memasukkan semua barang ke bagasi, ia menjalankan mobilnya menuju lobi utama untuk menjemput mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa ramai. Mama Kiara dan Tante Siska yang awalnya canggung, kini mulai banyak mengobrol tentang banyak hal—Bi Yanti pun tidak luput dari obrolan seru khas ibu-ibu. Kiara sesekali menimpali obrolan dari kursi penumpang, merasa bersyukur hari ini ia tidak harus melalui proses kepulangan sendirian.
Sampai di depan rumah Kiara, Khafi turun lebih dulu untuk membukakan gerbang bersama Mama Kiara. Setelah gerbang terbuka lebar, Khafi kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan kendaraannya di halaman yang luas.
Begitu mesin mati, Khafi langsung turun dan membantu memindahkan barang-barang ke dalam rumah.
"Taruh di meja ruang tengah aja, Khafi," ujar Mama Kiara saat mereka masuk ke rumah.
Kiara yang sudah merasa lelah langsung menjatuhkan dirinya ke sofa ruang keluarga. Ia menghela napas panjang, menikmati kenyamanan rumahnya sendiri setelah empat hari terkurung bau antiseptik rumah sakit.
Khafi yang baru selesai menata barang-barang, berdiri di dekat sofa, memperhatikan Kiara yang tampak jauh lebih rileks meski masih terlihat pucat.
"Lemes banget?" tanya Khafi, kali ini dengan nada bicara yang kembali ke mode 'biasa'—sedikit jahil, tapi tetap ada perhatian di sana.
"Lega banget bisa pulang," Dengan gelengan kecil Kiara menjawab sambil memejamkan mata.
Khafi tidak langsung pergi. Dia berdiri di sana sejenak, memastikan semuanya beres, sebelum akhirnya menoleh ke arah Mama Kiara yang sedang menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan bagi mereka semua.
Khafi ikut melangkah ke arah dapur sebentar, lalu kembali dengan membawa mangkuk berisi air hangat dan selembar handuk kecil yang ia minta dari Bi Yanti.
Tanpa kata, cowok jangkung itu duduk di karpet samping sofa, menaruh mangkuk di atas meja kaca, lalu memeras handuk kecil itu hingga tersisa hangatnya saja. Ia menarik pelan pergelangan tangan Kiara yang bengkak, lalu menempelkan kompres hangat itu di sana.
Setelah itu... hening.
Mereka berdua mendadak bungkam. Khafi sibuk merapikan lipatan handuk di atas bengkak tangan Kiara dengan gerakan yang sangat hati-hati, sementara Kiara menatap jemari Khafi yang memegang tangannya.
Ada rasa canggung yang tebal dan asing hinggap di antara mereka. Rasanya aneh. Mengapa situasi yang biasanya diisi saling ledek dan adu urat ini mendadak berubah serba canggung? Di pikiran masing-masing, ada kebingungan yang tak terucapkan—kenapa semuanya jadi seperti ini? Rasanya salah karena tidak terbiasa, tapi di sisi lain... ada hangat yang tak ingin disudahi.
Kiara yang tidak tahan dengan kecanggungan yang makin menghimpit ini akhirnya berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Emm... Khaf," panggil Kiara pelan.
"Apa?" sahut Khafi tanpa mendongak, matanya masih fokus menekan pelan kompres hangat di punggung tangan Kiara.
"Kelas gimana empat hari kemarin? Ada gosip apa?"
Khafi terkekeh tipis, matanya melirik Kiara sejenak. "Nggak ada. Biasa aja, nggak ada yang seru."
"Masa sih? Pasti ada lah!" sungut Kiara tidak percaya.
"Dibilangin nggak ada ya nggak ada," kekeh Khafi santai. "Paling si Ferdi tuh kemarin ketahuan nyontek PR Sosiologi punya Dinda, terus dikeluarin Bu Linda dari kelas malah seneng dia ke kantin sendirian. kemarin kalau nggak salah tu anak malah tidur di pojokan pas jam Matematika Wajib, palanya jadi kena lempar spidol. Terus si Neona... tuh sahabat lo, empat hari kerjaannya cemberut mulu. Tiap gue lewat ditatap kayak mau dimakan hidup-hidup."
Kiara tertawa pelan mendengarnya, membayangkan wajah galak Neona di sekolah. "Ya lo lagian! Pasti lo ngeganggu dia kan pas gue nggak ada?"
"Dih, nggak! Dia sensitifan banget kayak pantat bayi," balas Khafi tak mau kalah. "Lagian kelas sepi juga ternyata nggak ada lo."
Kiara menaik-turunkan alisnya. tersenyum jahil. "Oh, kangen ceritanya?"
Khafi mendengus malas, ia kembali memasukkan handuk kecil bekas kompres tangan Kiara ke mangkuk. "Sehat beneran berarti ini, sistemnya udah kembali ke setelan awal." ucapnya sambil bangkit dari duduk.
Kiara mendecak tidak terima. "Disangka gue apaan kayak gitu," omel Kiara sambil menyenggol betis Khafi memakai kakinya.
Khafi yang tidak siap dengan serangan itu agak goyah, untung tangannya memegang erat sisi mangkuk hingga tidak terjatuh. "Bener-bener ya! Kalem dikit kek, baru juga keluar rumah sakit. Coba kalau nih mangkuk jatuh kena kepala lo, balik lagi kita kesana." Khafi mengomel sambil beranjak ke dapur untuk mengamankan mangkuk bekas kompres.
Kiara sendiri hanya mencibir mendengar omelan itu.
Dari arah dapur, Mama Kiara datang membawa nampan berisi teh hangat dan kue, disusul Tante Siska yang saat ini langsung duduk di ruang tengah. Khafi yang habis cuci tangan juga ikut bergabung walau sambil memainkan ponselnya.
Melihat obat jalan yang tadi diberikan dokter harus segera diminum, Mama Kiara membimbing anaknya untuk meminum obat tersebut. Reaksi obat penenang dan pereda nyeri itu bekerja cepat; tak sampai sepuluh menit, mata Kiara sudah mulai sayu dan berat.
"Ara, ke kamar aja gih, istirahat," ujar Tante Siska lembut saat melihat anak gadis itu mulai menguap berulang kali. "Tante sama Khafi juga mau pamit pulang, biar kamu bisa tidur nyenyak."
Khafi bantu merapikan bekas makannya. Lalu berdiri dan menepuk pelan puncak kepala Kiara yang sudah setengah terpejam. "Tidur. Nggak usah sok kuat lagi. Besok-besok kalau belum beneran sembuh, nggak usah nekat masuk sekolah."
Kiara hanya bergumam pelan, terlalu lemas untuk membalas ejekan Khafi.
Saat berjalan menuju pintu depan, Mama Kiara menggenggam jemari Tante Siska dengan mata yang berkaca-kaca—kali ini murni karena rasa haru dan syukur yang mendalam.
"Mbak... terima kasih banyak ya," ucap Mama Kiara dengan suara bergetar tulus. "Terima kasih sudah sangat baik sama Kia... terima kasih sudah bantu kami dari kemarin-kemarin sampai hari ini."
Tante Siska menyambut genggaman itu dengan hangat, mengusap punggung tangan Mama Kiara pelan. "Sama-sama, saling bantu itu sudah biasa. Yang penting Ara-nya sehat lagi. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil saya atau Khafi, ya."
Khafi menyalami Mama Kiara dengan sopan. "Saya pamit ya, Tante."
Dengan senyum penuh rasa syukur yang mengembang di bibir Mama Kiara, mobil Khafi perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah yang luas itu—meninggalkan jejak kehangatan baru yang kini mulai tumbuh di antara dua keluarga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Empat hari mendekam di kamar inap rumah sakit membuat Kiara merasa seperti tahanan yang baru saja menghirup udara bebas. Pagi ini, dengan seragam Putih-Abu yang kembali melekat rapi di tubuhnya, gadis itu melangkah memasuki gerbang SMA Cahaya Permata.
Meskipun langkahnya belum secepat biasanya dan wajahnya masih sedikit pucat, rasa senang karena bisa kembali beraktivitas membuat matanya berbinar.
Namun, ketenangannya tak bertahan lama begitu ia menginjakkan kaki di koridor lantai dua, tepat di depan kelas XI IPS 2.
"Eits, santai jalannya. Nggak usah sok buru-buru begitu," sebuah suara berat bernada tenang memotong langkahnya dari arah belakang.
Kiara menoleh dan mendapati Khafi berjalan santai di sampingnya, memasukkan satu tangan ke saku celana dengan tas sekolah yang menyampir longgar di salah satu bahunya. Cowok itu memperhatikan cara jalan Kiara dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.
"Gue udah sehat ya, Khafi," sungut Kiara cepat, memutar bola matanya malas. "Nggak usah liatin gue kayak lagi liatin barang antik yang gampang pecah."
"Barang antik mah mending, kuat. Lo sekali kena hujan langsung bengek empat hari," balasan santai dari Khafi sukses membuat Kiara mendesis kesal.
Namun, sebelum Kiara sempat membalas, Khafi tiba-tiba mengulurkan tangannya, menyambar tali tas ransel Kiara dari bahunya tanpa permisi.
"Eh! Mau diapain tas gue?!" kaget Kiara sambil mencoba merebut kembali tasnya.
"Gue bawain," jawab Khafi singkat tanpa beban, langsung menyangkutkan ransel mungil milik Kiara di bahu sebelahnya. "Dokter kemarin bilang apa? Nggak boleh bawa beban berat dulu, kan? Otak lo ketinggalan di rumah sakit atau gimana?"
"Tapi tas gue nggak berat, Khafi!"
"Bagi lo pasti berat. Udah, diam. Nurut aja kenapa sih?" tegas Khafi dengan nada yang tak terbantahkan, membuat Kiara akhirnya memilih bungkam walau mukanya memerah padam karena malu menjadi tontonan anak-anak koridor.
Sesampainya di kelas, suasana riuh IPS 2 seketika menyambut kedatangan Kiara. Neona yang baru saja menaruh tasnya langsung berhamburan memeluk sahabatnya itu.
"Kiaa! Ya ampun, akhirnya lo masuk juga!" seru Neona heboh, memeriksa wajah Kiara dari dekat. "Udah beneran fit, kan? Kalau masih lemes mending tidur di UKS aja nanti pas pelajaran Pak Bambang."
"Udah sehat kok, Na," kekeh Kiara manis sambil tertawa geli.
Di belakang mereka, Khafi meletakkan ransel Kiara di atas mejanya dengan pelan, lalu berbalik menatap Neona. "Na, titip. Jangan dibiarin dia jalan ke kantin sendirian, kalau nanti pas olahraga kepanasan atau dia pusing langsung tarik ke tempat teduh."
Neona menyipitkan matanya, memandang Kiara dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan raut penuh curiga. "Kesambet apaan lo, Khaf? Mendadak jadi satpamnya Kia begini?"
"Gue cuma nggak mau repot ngangkut dia ke UKS buat kedua kalinya," alibi Khafi tenang, meski ujung matanya sempat melirik Kiara yang berpura-pura sibuk merapikan kotak pensilnya yang sempat tertinggal di kolong meja "Ntar kalau dia pingsan lagi, urusannya panjang sama Mama Gue."
"Alasan lo!" cetus Neona, walau akhirnya mengangguk mengiyakan.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, kewaspadaan Kiara makin terlihat jelas. Setiap kali bel istirahat berbunyi atau saat pergantian jam pelajaran, mata cowok itu tak pernah benar-benar lepas dari barisan meja Kiara.
Bahkan saat jam olahraga di lapangan udara terbuka siang itu, Khafi dengan santai melempar botol air mineral dingin tepat ke pangkuan Kiara sebelum gadis itu sempat mengeluhkan rasa haus.
"Minum. Jangan nunggu dehidrasi dulu baru nyari air," gumam Khafi singkat sambil berlalu bergabung dengan barisan cowok-cowok yang mau main basket.
Kiara memandangi botol air di tangannya, lalu melirik punggung tinggi Khafi yang mulai menjauh. Di balik rasa gengsi yang selalu menyelimuti interaksi mereka, ada getaran hangat yang perlahan menyusup ke dadanya—menyadarkan Kiara bahwa cara jaga Khafi yang galak dan menyebalkan ini justru adalah hal yang paling ia rindukan selama empat hari di rumah sakit.