Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Suara gemericik air sumur yang menetes di atas ember seng menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan pagi di tepi desa. Udara dingin khas pegunungan merayap masuk melalui celah dinding kayu, membawa aroma embun dan tanah basah yang menyegarkan.
Sienna menggulung lengan bajunya yang sedikit kebesaran, menyiramkan air dingin ke wajahnya. Sensasi dingin itu menusuk kulit, menyadarkannya penuh bahwa ia tak lagi berada di dalam sel sempit bertembok semen yang kusam.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung di atas tiang kayu. Lingkar hitam di bawah matanya masih ada, sisa-sisa dari sebelas tahun malam-malam tanpa tidur nyenyak. Namun, mata cokelatnya tidak lagi seredup dulu. Ada sedikit pendar harapan di sana.
"Anna, airnya jangan dihabiskan untuk melamun!"
Panggilan hangat itu membuat Sienna menoleh. Sofia berdiri di ambang pintu dapur kecil mereka, memegang sebuah panci tua dengan asap tipis membumbung dari atasnya. Rambut cokelatnya diikat tinggi, dan senyum jenaka yang akrab tersungging di bibirnya.
"Aku cuma sedang memastikan kalau wajah di cermin ini benar-benar wajahku, Fia," balas Sienna pelan, menarik napas lega.
Sofia meletakkan panci di atas meja kayu. "Pasti wajahmu. Siapa lagi yang punya tatapan seperti kelinci ketakutan kalau bukan kau? Ayo sarapan. Aku menemukan sisa teh dan beberapa buah ubi manis di gubuk belakang. Kita harus punya tenaga sebelum turun ke pasar."
Sienna menyusul duduk di bangku kayu yang agak goyah. Ia memegang cangkir seng berisi teh hangat, merasakan kehangatannya merambat ke jemarinya. Panggilan Anna dari bibir Sofia adalah salah satu hal kecil yang menyelamatkannya selama di tahanan.
Bagi dunia luar dan media sebelas tahun lalu, ia adalah Sienna Breezie Sinclair, si pembunuh berdarah dingin. Namun bagi Sofia, ia hanyalah Anna, gadis polos yang hidupnya hancur dalam semalam.
"Fia," panggil Sienna lirih setelah meneguk tehnya.
"Hmm?"
"Bagaimana dengan Nenekku? Apakah kau sudah mencoba menghubungi pengurus panti?"
Tangan Sofia yang sedang membelah ubi rebus terhenti sejenak. Matanya melunak menatap Sienna. Ia tahu betul, jika bukan karena Nenek Elena, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa setelah ayahnya tewas, Sienna mungkin sudah menyerah dan mengakhiri hidupnya di penjara sejak bertahun-tahun lalu. Harapan untuk melihat neneknya yang sakit-sakitan dalam keadaan baik-baik saja adalah tali kekang yang menahan jiwa Sienna agar tidak hancur total.
"Aku sudah menelpon panti jompo di pinggiran kota kemarin dari telepon umum dekat perhentian bus," kata Sofia penuh kehati-hatian. "Pengurus bilang Nenek Elena sehat. Ingatannya memang makin sering memudar karena usianya, tapi beliau dirawat dengan baik. Tabungan kecil yang dikirimkan pengacara lembaga bantuan hukummu dulu masih cukup untuk biaya bulanan beliau."
Sienna mengembuskan napas panjang, seolah beban berat yang menindih dadanya terangkat separuh. "Terima kasih, Fia. Aku harus segera mendapat pekerjaan. Apapun itu. Aku harus mengumpulkan uang untuk biaya obat Nenek."
"Kita akan cari bersama-sama," potong Sofia tegas. "Tapi ingat janji kita, Anna. Jangan pernah memaksakan diri. Jangan biarkan siapapun menginjak-injakmu lagi di luar sini. Kau sudah membayar hal yang tidak pernah kau lakukan."
Sienna tersenyum tipis dan mengangguk. Namun di dalam hatinya, rasa bersalah itu tak pernah benar-benar hilang. Bukan karena ia merasa membunuh ibu anak laki-laki itu, melainkan karena ia gagal menyelamatkan ayahnya sendiri, Hans Sinclair.
Ayah yang berjuang sendirian membesarkannya setelah ibunya pergi meninggalkannya begitu saja sewaktu bayi karena tak sudi hidup miskin. Ayahnya tewas sebagai tuduhan perampok dan pembunuh, meninggalkan nama Sinclair tercemar di bawah telapak kaki orang-orang kaya.
Pasar desa pagi itu cukup ramai oleh hilir mudik penduduk lokal. Bau rempah-rempah, ikan asin, dan aroma tanah basah menyatu di udara. Bagi Sienna, keramaian ini terasa agak mengintimidasi setelah sebelas tahun terbiasa dalam pengawasan ketat dan kesunyian yang mencekat. Ia berjalan sedikit merapat di belakang Sofia.
"Jangan menunduk terus, Anna," bisik Sofia seraya merangkul lengannya. "Tatap depan. Kita cuma dua wanita kota yang mau beli sayur dan mencari kerja sampingan."
Mereka berhenti di sebuah warung kelontong kecil yang menjual bibit tanaman. Sofia sibuk menawar bibit sawi dan tomat, sementara Sienna memperhatikan sekeliling. Di sudut pasar, beberapa papan pengumuman menempel di tiang listrik tua. Langkah kaki Sienna terayun pelan mendekatinya.
Matanya menelusuri potongan koran tua dan selebaran pencarian tenaga kerja lokal. Namun, perhatiannya terhenti pada sebuah majalah bisnis bekas yang tergeletak di meja lapak barang bekas dekat sana.
Di sampul depan majalah itu, terpampang wajah seorang pria berjas hitam.
Dada Sienna mendadak sesak. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Wajah di majalah itu adalah wajah anak laki-laki sebelas tahun lalu, yang kini telah menjelma menjadi seorang pria dewasa dengan rahang tegas dan tatapan mata yang luar biasa dingin.
Frederick Nicolas Vance.
Nama itu tercetak dengan huruf tebal di bawah gambarnya, CEO Baru Vance Group: Mewarisi Kejayaan dan Ketegasan Keluarga Vance.
Sienna gemetar. Bayangan malam berdarah itu kembali menerjang ingatannya bagai gelombang bandang. Tatapan mata anak laki-laki yang berteriak menyerapahinya sebagai pembunuh kini berubah menjadi tatapan dingin pria berkuasa yang seolah sanggup meremukkan siapa saja tanpa berkedip.
Di dalam artikel singkat itu disebutkan bagaimana Nicolas Vance atau Nico, sebagaimana media mengenalnya telah mengambil alih posisi puncak di perusahaan ayahnya, Sebastian Roderigo Vance. Artikel itu memuji Nico sebagai sosok tanpa ampun dalam dunia bisnis, seorang pemimpin muda yang dingin dan ambisius.
"Anna? Kau kenapa?"
Suara Sofia mengagetkannya. Sienna dengan cepat memalingkan wajah dan mundur dua langkah dari lapak tersebut, menyembunyikan tangannya yang gemetar di dalam saku mantel lusuhnya.
"Tidak... tidak apa-apa, Fia," sahut Sienna cepat, berusaha menetralkan suaranya yang bergetar.
Sofia menatapnya penuh curiga, lalu mengarahkan pandangannya ke lapak barang bekas yang baru saja dilihat Sienna. Mata Sofia menangkap sampul majalah bisnis itu. Raut wajah Sofia langsung berubah tajam. Ia mengerti ketakutan sahabatnya.
"Ayo pulang," bisik Sofia, menarik jemari Sienna dengan erat. "Tempat ini terlalu terbuka. Ayo."
Sienna menurut tanpa membantah. Mereka berjalan cepat meninggalkan area pasar, membawa kantong plastik berisi sedikit bibit dan bahan makanan. Namun sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Nico Vance terus membayangi pikiran Sienna.
Pria itu berada di puncak dunia, dikelilingi kemewahan dan kekuasaan. Sementara dirinya hanyalah sampah masyarakat yang baru keluar dari penjara.
"Dia tidak akan pernah mengingatku," batin Sienna mencoba menenangkan hatinya yang berpacu kencang.
"Bagi orang setingkat dia, aku hanyalah serangga kecil dari masa lalu yang sudah dilupakan."
Betapa naifnya pemikiran itu.
...****************...
Sementara itu, di sebuah kediaman megah di kawasan elit ibu kota, suasana pagi hari terasa jauh dari kata hangat.
Mansion keluarga Vance berdiri kokoh dengan arsitektur klasik yang megah namun dingin. Di dalam ruang makan utama yang berdinding panel kayu jati mahal, suara denting sendok perak menabrak piring porselen terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian yang kaku.
Di kepala meja, duduk Sebastian Roderigo Vance. Pria paruh baya itu tampak lebih tua dari usianya. Rambutnya yang mulai memutih dan garis-garis tegas di wajahnya menyimpan rasa lelah yang mendalam. Di samping kanannya, duduk seorang wanita berpenampilan sangat elegan dengan perhiasan berlian melingkar di lehernya, Claudia Ophelia.
Di ujung meja yang lain, duduk seorang pemuda dengan wajah tampan namun guratan ketidakpuasan terpancar jelas dari sikap tubuhnya. Liam Young Vance, anak hasil hubungan Sebastian dengan Claudia.
Namun, perhatian Sebastian sama sekali tidak tertuju pada anak di dekatnya. Matanya menatap tajam ke arah pintu masuk ruang makan, saat sesosok pria tinggi tegap berjas kelabu gelap melangkah masuk dengan langkah tenang namun intimidatif.
Frederick Nicolas Vance.
"Kau terlambat sepuluh menit untuk sarapan keluarga, Nicolas," kata Sebastian, suaranya serak dan berat. Ada selapis rasa bersalah yang tak pernah hilang setiap kali ia menatap mata anak sulungnya itu.
Nico tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi kayu mahoni di hadapan Liam, lalu duduk tanpa mengancingkan jasnya. Tatapan matanya yang tajam mengintai seluruh orang di meja itu.
"Aku ada urusan pekerjaan yang lebih penting daripada sekadar formalitas makan pagi, Ayah," jawab Nico dingin, tanpa menyentuh makanan yang disajikan di hadapannya.
Claudia tersenyum manis, sebuah senyuman teruji yang telah ia latih bertahun-tahun untuk menutupi ambisi beracun di balik dadanya. "Nicolas, ayahmu hanya ingin kita berkumpul. Lagi pula, nanti siang keluarga Douglas akan berkunjung. Isabelle sangat berharap kau ada di rumah untuk menyambutnya."
Mendengar nama Isabelle, mata Nico berkilat meremehkan. "Tugas menjamu tamu bisnis Ayah bukan kewajibanku. Jika Isabelle ingin bertamu, biarkan Liam yang menyambutnya. Bukankah adiku yang berharga ini punya banyak waktu luang?"
Liam menyentak sendoknya keras-keras ke atas piring. Wajahnya memerah padam. "Jjaga mulutmu, Nico! Kau selalu saja bertindak seolah-olah tempat ini milikmu sepenuhnya!"
"Karena tempat ini memang akan menjadi milikku," potong Nico datar, namun nadanya begitu menekan hingga membuat Liam bungkam. "Dan aku tidak butuh masukan dari seseorang yang bahkan tidak bisa menyelesaikan proyek investasi di sektor utara."
"Cukup, Nicolas!" tegur Sebastian keras. Pria tua itu memegang dadanya sejenak, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang.
Claudia dengan cepat mengelus punggung Sebastian, memasang raut wajah khawatir yang berlebihan. "Tenanglah Yah, jangan emosi. Kesehatanmu belum pulih benar."
Nico menatap drama di hadapannya dengan rasa jijik yang tak disembunyikan. Sejak ibunya, Christina Blaire, tewas sebelas tahun lalu, rumah ini tidak pernah lagi menjadi sebuah rumah.
Ayahnya tenggelam dalam rasa penyesalan atas perselingkuhannya dengan Claudia, sementara Claudia terus berusaha mengukuhkan posisinya sebagai nyonya sah di keluarga Vance. Dan Liam, adik tiri yang selalu dipandang sebelah mata oleh ayahnya sendiri tumbuh menjadi pemuda penuh rasa dengki.
Nico berdiri dari kursinya. "Aku selesai."
"Nicolas," panggil Sebastian sebelum Nico sempat berbalik. Suara pria tua itu melemah. "Malam itu... sebelas tahun yang lalu. Kau masih sering bermimpi buruk tentang ibumu?"
Langkah Nico terhenti. Bahunya menegak kaku. Aura dingin yang memancar dari tubuhnya mendadak berlipat ganda, membuat udara di ruangan itu terasa mencekam.
Nico tidak menoleh. Ia hanya mengepalkan tangannya di dalam saku jas. "Mimpi buruk itu tidak akan pernah berhenti, Ayah. Sebelum pembunuh itu membayar setiap tetes darah ibu yang terbuang."
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, Nico melangkah lebar meninggalkan ruang makan.
Di kursi makan, Liam menatap punggung kakak tirinya dengan kebencian yang berkobar di dalam dada. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia membenci Nico. Ia membenci bagaimana ayahnya selalu memandang Nico sebagai penerus utama meski Nico selalu bersikap dingin.
Dan yang paling membakar jiwanya, wanita yang diincarnya, Isabelle Douglas selalu memandang Nico dengan mata memuja, sementara dirinya dianggap tak lebih dari bayangan tak berguna.
"Suatu hari nanti, Nico... Aku akan memastikan kau kehilangan segalanya. Sama seperti kau merebut perhatian semua orang dariku," batin Liam penuh dendam.
Di sampingnya, Claudia mengelus tangan Liam pelan, memberikan kode lirih agar anaknya menahan diri.
...****************...
Matahari mulai condong ke barat saat angin dingin berembus lebih kencang di desa perbukitan.
Sienna berdiri di halaman samping rumah kayu, mencangkul tanah keras untuk menyiapkan bedengan tanaman. Keringat membasahi dahi dan lehernya, namun ia menolak untuk berhenti. Kerja fisik membuatnya tidak punya waktu untuk memikirkan ketakutannya.
Sofia sedang berada di dalam rumah, memasak air dan menyiapkan makan malam sederhana mereka.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang asing memecah kesunyian desa.
Sienna menghentikan ayunan cangkulnya. Di desa terpencil seperti ini, jarang sekali ada kendaraan roda empat yang melintas, terlebih lagi mobil dengan suara mesin halus dan berat.
Sebuah mobil SUV hitam bermerek mewah dengan kaca gelap pelan-pelan merayap naik menyusuri jalan tanah yang sempit, lalu berhenti tepat di depan gerbang kayu rumah panggung mereka.
Jantung Sienna berdesir hebat. Sebuah perasaan buruk yang teramat sangat mendadak merayapi tengkuknya. Cangkul di tangannya terlepas, jatuh menghantam tanah.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria berseragam hitam turun lebih dulu, membukakan pintu barisan belakang.
Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang pria tinggi dengan setelan jas mahal. Sepatu kulitnya yang mengilap menginjak tanah berdebu desa dengan penuh dominasi. Pria itu melepas kacamata hitamnya, mengungkap sepasang mata kelabu gelap yang tajam dan tak berjiwa.
Nico.
Sienna mematung di tempatnya. Kakinya seolah terpaku ke dalam bumi, tak sanggup bergerak satu milimeter pun. Seluruh pasokan udara di paru-parunya menguap seketika.
Pria yang ada di majalah tadi, pria yang menjadi mimpi buruknya selama sebelas tahun ini, kini berdiri hanya beberapa meter dari hadapannya.
Nico melangkah pelan mendekati Sienna. Setiap jejak langkah kakinya terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Sienna. Matanya menyapu penampilan Sienna, wanita berpakaian lusuh, kurus, dengan wajah pucat yang penuh ketakutan.
"Sebelas tahun," suara Nico terdengar. Sangat rendah, namun sanggup menggetarkan dinding dada Sienna. "Kau terlihat cukup menikmati udaramu di sini, Sienna Breezie Sinclair."
"Kau..." suara Sienna tercekat di tenggorokan, hanya berupa bisikan halus yang gemetar.
Nico menghentikan langkahnya tepat di hadapan Sienna. Jarak mereka begitu dekat hingga Sienna bisa mencium aroma parfum mahal bercampur tembakau yang memabukkan dari tubuh pria itu, aroma kekuasaan yang menghimpit.
Nico mengulurkan tangannya. Jemarinya yang panjang dan dingin memegang dagu Sienna dengan cengkeraman yang sangat kuat, memaksa wanita itu untuk menengadah dan menatap matanya secara langsung.
"Kau pikir setelah keluar dari tembok semen itu, kau bisa hidup tenang?" cibir Nico, bibirnya membentuk garis senyum yang amat kejam. Jemarinya mencengkeram rahang Sienna lebih keras hingga meringis kesakitan. "Kau salah, penjara itu cuma tempat penitipan. Nerakamu yang sesungguhnya baru saja dimulai hari ini."
"Lepaskan dia!"
Sebuah teriakan nyaring terdengar dari arah teras. Sofia berlari keluar membawa sebuah kayu pemukul tebal, matanya menyala marah saat melihat Sienna dicengkeram oleh pria asing.
Namun sebelum Sofia bisa mendekat, pengawal Nico dengan cepat menghadangnya, memiting kedua tangan Sofia ke belakang tubuhnya dan merampas kayu itu dalam sekejap.
"Fia!" jerit Sienna panik, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Nico. "Jangan sentuh dia! Lepaskan temanku!"
"Diam!" bentak Nico. Ia menarik rambut belakang Sienna dengan kasar hingga wanita itu mendongak menahan perih. Mata Nico berkilat oleh dendam yang liar. "Kau tidak punya hak untuk memohon di hadapanku, Pembunuh."
"Saya tidak membunuh ibumu!" jerit Sienna meledak, air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat. "Demi Tuhan, aku tidak pernah menyentuh ibumu! Ayahku juga korban di sana!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sienna, membuat kepalanya terlempar ke samping. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan titik darah hangat.
"Jangan pernah berani menyebut nama ayahmu yang kriminal itu di depanku," desis Nico tajam. Ia mencengkeram kerah baju lusuh Sienna, mengangkat tubuh wanita yang jauh lebih kecil darinya itu hingga ujung kakinya hampir tak menyentuh tanah. "Kau dan ayahmu adalah sampah yang sudah merenggut nyawa ibuku."
"Lepaskan Anna! Dia tidak bersalah, dasar brengsek!" teriak Sofia histeris, berjuang sekuat tenaga melepaskan diri dari pitingan pengawal tegap itu.
Nico menoleh pada pengawalnya dengan tatapan dingin. "Bawa wanita tua di panti jompo itu jika wanita ini mencoba melarikan diri atau melubangi kepalanya sendiri."
Sienna membeku total. Rasa sakit di pipinya mendadak hilang, digantikan oleh ketakutan yang seratus kali lebih mengerikan. Neneknya.
"Tidak..." bisik Sienna histeris, matanya melotot penuh keputusasaan. Ia mencengkeram lengan jas Nico dengan jemarinya yang gemetar. "Tolong... jangan sentuh Nenekku, aku mohon. Nenekku tidak tahu apa-apa. Tolong..."
Nico menatap mata Sienna yang dipenuhi linangan air mata keputusasaan. Di dalam dadanya, ada kepuasan yang teramat sangat melihat wanita itu berlutut dan memohon di telapak kakinya. Ini adalah pembalasan dendam yang sudah ia nantikan selama sebelas tahun.
"Jika kau ingin nenekmu tetap bernapas di panti jompo itu," kata Nico pelan, mendekatkan wajahnya ke telinga Sienna, "kau harus ikut denganku sekarang. Kau akan menjadi pelayan pribadiku, menjadi tempat pelampiasanku, dan menanggung setiap rasa sakit yang dirasakan ibuku saat ia mati."
Sienna gemetar hebat. Seluruh pertahanannya runtuh. Rencana hidup barunya, usahanya menata masa depan bersama Sofia, semuanya hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.
Ia menoleh pada Sofia yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan menggelengkan kepala secara histeris. "Jangan ikut dia, Anna! Jangan!" jerit Sofia tanpa suara.
Sienna memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya mengalir makin deras menetes ke tanah. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, Nico dengan seluruh kekuasaannya sanggup menghancurkan Nenek Elena dalam sekejap.
"Saya... saya akan ikut denganmu tuan," bisik Sienna dengan suara hancur.
Nico menghempaskan Sienna ke tanah hingga wanita itu tersungkur di atas pasir. Pria itu menyapu jasnya dengan penuh jijik, lalu menatap pengawalnya.
"Lepaskan wanita itu," perintah Nico merujuk pada Sofia. Lalu matanya kembali menatap Sienna yang tergeletak di tanah. "Masuk ke mobil."
Sienna berusaha bangkit dengan kaki yang gemetar. Sebelum melangkah menuju mobil hitam itu, ia menoleh pada Sofia yang terduduk di tanah.
"Fia..." bisik Sienna dengan suara serak. Matanya menyiratkan pesan keputusasaan yang mendalam. "Tolong awasi Nenek untukku. Tolong jaga Nenek..."
"Anna jangan pergi! ANNA!" teriak Sofia hancur, mencoba mengejar namun ditahan oleh pengawal lain hingga mobil SUV hitam itu melaju kencang meninggalkan halaman rumah kayu mereka, menyemburkan debu jalanan yang membumbung tinggi ke udara.
Di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan malam yang mulai turun, Sienna duduk bersandar di kursi belakang, menyudut di dekat pintu. Di sampingnya, Nico duduk tegak dengan wajah dingin tanpa emosi, menatap lurus ke depan.
Sienna menatap tangannya yang memar dan gemetar. Kebebasan yang dirasakannya selama tidak lebih dari dua puluh empat jam telah menguap tanpa sisa. Neraka di dalam penjara kini telah berganti dengan neraka yang jauh lebih kelam, neraka baru akan diciptakan oleh seorang pria bernama Frederick Nicolas Vance.
...Bersambung......