Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Limited Time
“Di mana kamu sekarang?”
“Aku? Aku selalu berada di dekatmu, mengawasi apa yang kamu lakukan.”
“Jadi, kamu tidak berada dalam jasadku?” tanya Saka yang semakin bingung dengan kondisi mereka sekarang.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Aryan santai.
“Tapi, kenapa kamu tidak masuk ke dalam tubuhmu sendiri? Kenapa aku yang masuk ke tubuhmu?”
“Mungkin karena semesta belum mengizinkanmu untuk mati. Dengar Saka, ada banyak misteri yang harus kamu pecahkan.
Kemampuan yang kamu miliki saat ini adalah senjata yang disediakan untukmu. Semua demi memecahkan misteri kita.”
“Apa maksudmu?” Saka semakin dibuat bingung dengan penjelasan Aryan.
“Kondisiku lemah, Saka. Karena itu aku tidak bisa masuk ke tubuhku sendiri. Sementara kamu lebih kuat dariku. Gunakan waktu yang kita miliki untuk mengungkap misteri kita.”
“Maksudmu waktu kita terbatas?”
“Ya. Waktu hidup kita tergantung kemampuanmu menyelesaikan misteri kita. Aku percaya kepadamu, Saka. Dan tolong jaga ibuku dengan baik.”
Setelah mengatakan itu, Aryan menghilang. Seketika Saka langsung terbangun. Kaos yang dikenakannya bersimbah keringat.
Mimpi barusan terasa begitu nyata. Kemudian dia teringat percakapannya dengan Aryan tadi.
Ada dua hal yang mengusik pikirannya. Misteri yang harus dipecahkan dan batas waktu untuk menjalani hidup. Itu berarti dia hanya punya waktu terbatas untuk hidup.
“Kalau memang waktuku terbatas, aku harus menggunakannya sebaik mungkin. Aku harus mengungkap misteri apa yang dimaksud Aryan,” gumam Saka seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Tak mau membuang waktu, Saka bermaksud berlatih lagi. Pria itu duduk di atas ranjang sambil menutup matanya.
Untuk melatih ingatannya, dia membutuhkan objek yang harus dipikirkan. Saka memilih satu orang dan orang itu adalah Revan.
Sambil memejamkan matanya, Saka terus mengingat wajah Revan. Setelah dua menit berlalu, pria itu mulai mendapat penglihatan tentang Revan. Sejumlah penglihatan masuk ke dalam ingatannya.
Penglihatan tentang masa lalu dan masa depan Revan bisa dilihat oleh Saka. Ternyata banyak hal buruk yang dilakukan pria itu untuk sampai ke posisinya sekarang.
Ke depannya, masih ada hal buruk lain yang dilakukan Revan untuk memenuhi ambisinya.
Setelah dua puluh menit, Saka mengakhiri penglihatannya. Sekarang dia sudah mengumpulkan cukup banyak informasi tentang Revan.
Tanpa dapat ditahan, cairan merah keluar dari hidung Saka. Pria itu bergegas menuju kamar mandi. Ternyata durasi waktu konsentrasi untuk mendapat ingatan juga memberi efek pada tubuhnya.
Setelah menghentikan pendarahan, Saka keluar rumah. Dia hendak mengisi kembali energinya yang sempat terkuras dengan olahraga ringan sambil mengirup udara yang masih segar.
***
Saka sengaja berangkat lebih awal ke pool. Sambil menunggu kedatangan Revan, pria itu menyiapkan armada yang akan digunakannya. Dirga yang baru datang langsung bergabung dengannya.
Saat keduanya sedang mengelap bodi mobil, Revan tiba.
Tidak jauh dari Revan, ada mobil derek yang hendak membawa taksi mogok ke garasi. Tanpa disadari pengemudi mobil derek, seling yang mengikat taksi terputus. Akibatnya, taksi meluncur turun dari mobil derek.
Saka langsung berlari lalu menarik Revan menjauh dari lokasi. Taksi yang meluncur dari mobil derek jatuh dengan keras.
Mata Revan membeliak, jantungnya berdebar tak karuan. Terlambat sedikit saja Saka menariknya, bisa dipastikan dia akan berakhir di rumah sakit.
Sopir mobil derek bergegas turun. Pria itu langsung menghampiri Revan. “M-Maafkan saya, Pak,” ujarnya sambil menangkupkan tangan. Wajahnya tampak pucat. Takut akan dipecat karena insiden ini.
“Kenapa kamu bisa seteledor ini? Kalau terjadi sesuatu denganku, apa kamu mau tanggung jawab?!” sentak Revan dengan suara keras.
“Maafkan saya, Pak.”
Apa yang terjadi langsung menarik perhatian para sopir yang ada di sana. Mereka ikut mengkhawatirkan sopir mobil derek tersebut.
“Apa maafmu bisa menyelesaikan masalah? Bereskan barang-barangmu sekarang. Kamu saya pecat!”
Tubuh sopir itu lemas mendengar ucapan Revan. Pria itu jatuh berlutut dan memohon pada Revan untuk mengubah keputusannya. Dirga yang kesal melihat sikap sewenang-wenang Revan, langsung maju untuk membela rekan kerjanya.
“Maaf, Bapak tidak bisa mengambil keputusan seperti ini,” ujar Dirga.
“Memangnya siapa yang memberimu hak mengaturku, hah?!” sentak Revan.
“Apa yang dikatakan Dirga sudah tepat. Bukankah memecat Pak Adi terlalu cepat? Masalah tadi bisa diselidiki terlebih dahulu. Apakah kecelakaan yang terjadi karena human error atau ada penyebab lain,” Saka memberikan pendapatnya.
Saka mendekati mobil derek. Dia melihat tali pengikat yang putus. Setelah mengamati dengan saksama, Saka pun mengemukakan pendapatnya.
“Tali mobil derek ini sudah aus. Jadi wajar saja kalau tidak bisa menahan beban berat. Pak Adi, apa sudah melakukan pengajuan untuk maintenance sebelumnya?” Saka melihat Adi, sopir mobil derek.
“Saya sudah mengajukan perbaikan ke bagian Fleet. Form-nya sudah saya isi sebulan yang lalu, tapi masih belum ada tindak lanjut,” jawab Adi.
“Kalau begitu, kejadian ini tidak bisa dikategorikan sebagai human error. Anda tidak bisa memecat Pak Adi begitu saja, Pak Revan.”
Wajah Revan memerah, rahangnya mengeras, memperlihatkan urat-urat di lehernya. Dia sangat tidak senang keputusannya ditentang apalagi di depan karyawan lain. Belum sempat pria itu mengambil keputusan, Saka mendekatinya.
“Saya sudah menyelamatkan Anda, Pak Revan. Apa bisa Anda membebaskan Pak Adi dari masalah ini? Anggap saja itu bayaran karena saya sudah menyelamatkan nyawa Anda.”
Mendengar ucapan Saka barusan, Revan menyadari bahwa dirinya memiliki misi lain untuk mendekati Saka. Pria itu melihat Saka sekilas. “Baiklah. Saya tidak akan memecatnya, tapi sebagai gantinya, Dirga yang saya pecat.”
Dirga langsung melongo. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Revan ingin memecat dirinya hanya karena dia membela rekan kerjanya.
Alasan Revan memecat Dirga adalah untuk melampiaskan kekesalannya. Pria itu yakin bahwa Dirga tidak menjalankan perintahnya dengan baik.
Diam-diam Revan menyewa seseorang untuk membuntuti Saka. Laporan orang suruhannya membuatnya semakin percaya bahwa Saka bisa memprediksi masa depan.
Kejadian hari ini semakin membuktikan spekulasinya. Tentu saja dia harus menjaga Saka tetap di dekatnya. Sementara Dirga yang dianggap tidak berguna olehnya akan disingkirkan.
Saka tersenyum tipis. Sesuai dugaannya, Revan memang sudah mengetahui bahwa dirinya bisa melihat masa depan.
Sebenarnya Saka sudah menyadari bahwa dirinya diikuti seseorang beberapa hari terakhir ini. Pengalaman sebagai salah satu pewaris Adiguna Grup membuatnya selalu bersikap waspada.
Dia sudah cukup sering dibuntuti paparazzi yang ingin mendapatkan berita tentangnya. Karenanya, pria itu bisa mengetahui saat ada yang mengawasinya.
Hal itu juga yang membuatnya mengambil keputusan untuk mendapat penglihatan tentang Revan.
Dia tahu tujuan Revan mendekatinya untuk memanfaatkan kemampuannya demi kepentingan pribadi. Karenanya, Saka juga bermaksud memanfaatkan Revan balik.
“Sebutkan alasan Anda mau memecat saya!” tantang Dirga yang tidak mau menerima pemecatan begitu saja.
“Saya bisa memecat pegawai di sini tanpa alasan apa pun,” jawab Revan enteng.
“Anda sudah menyalahgunakan wewenang Anda sebagai pimpinan. Kalau begitu, saya juga akan mengundurkan diri! Karena saya tidak bisa bekerja di bawah diktator seperti Anda!” seru Saka.
Pemecatan Dirga dan pengunduran diri Saka sukses memancing reaksi sopir lain. Mereka pun ikut melayangkan protes bahkan mengancam akan mogok kerja jika Revan tetap memecat Dirga.
Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil mewah memasuki pool. Dari dalam mobil turun seorang pria berusia enam puluh tahunan.
Dia adalah Rudi Rajasa, pemilik Ardhanusa Grup, sebuah perusahaan nasional yang memiliki beberapa anak perusahaan, salah satunya adalah PRIMA TAKSI.
Rudi cukup terkejut melihat keramaian di pool. Tatapannya langsung tertuju kepada Revan. “Ada apa ini, Revan?” tanyanya dengan suara berat.
Saka tersenyum tipis melihat kedatangan Rudi. Hal ini sudah diketahuinya dari penglihatan yang dialaminya dini hari tadi. Dia hanya tinggal menunggu reaksi Revan selanjutnya.
***
Waduh, waktu Saka terbatas ternyata🫣
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/