Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi Yang Berlebihan
Seharian penuh, Elena hanya berkeliling di markas The Raven.
Setiap kali menemukan ruangan yang menarik perhatiannya, ia akan berhenti untuk melihat-lihat, selama tidak ada larangan untuk masuk.
Ia berusaha bersikap seperti seseorang yang benar-benar hanya ingin mengenal tempat markas The Raven lebih jauh.
Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah ruang tahanan.
Begitu pintu besi dibuka, udara lembap bercampur aroma anyir langsung menyambutnya. Bau darah dan keringat memenuhi ruangan sempit itu. Beberapa pria terlihat duduk atau bersandar di balik jeruji besi.
Ada yang terluka dengan wajah lebam. Ada yang hanya menatap kosong. Ada pula yang langsung mengangkat kepala saat menyadari keberadaannya.
Tatapan mereka penuh kebencian, ketakutan, bahkan putus asa.
Elena memperhatikan mereka satu per satu.
Ia tidak mengenal siapa pun di antara para tahanan itu. Namun, simbol yang terukir di tubuh mereka cukup untuk memberinya petunjuk mengenai organisasi asal mereka.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya dan menemukan ruangan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ruang eksekusi.
Saat pintu terbuka, aroma anyir yang jauh lebih pekat langsung menyeruak. Bau darah yang seolah telah meresap ke dinding bercampur dengan aroma besi dan kelembapan memenuhi udara.
Di beberapa sisi ruangan, berbagai benda tajam tersusun rapi. Beberapa di antaranya tampak masih menyisakan noda gelap yang sulit dihilangkan.
Elena menatap semuanya selama beberapa detik.
Tempat itu bukan sekadar ruangan untuk menakut-nakuti musuh. Ini adalah tempat untuk menghabisi mereka.
Elena mengalihkan pandangan. Ia memilih untuk tidak berlama-lama di sana. Tapi, rasa penasarannya kembali terusik saat melewati pintu lain.
Langkahnya terhenti saat terdengar suara geraman rendah di balik pintu.
Elena menyipitkan mata.
Geraman itu terdengar lagi, kali ini disusul suara rantai yang bergesekan dengan lantai.
Suasana lorong yang semula sunyi seketika terasa lebih mencekam.
Elena menatap pintu tersebut cukup lama.
Ia tidak tahu apa yang ada di baliknya. Tapi, kemungkinan besar The Raven memelihara binatang buas sebagai bagian dari sistem keamanan.
Elena kembali melangkah.
Tidak jauh dari sana, ia menemukan ruangan dengan pintu besar yang dijaga ketat oleh beberapa anggota The Raven.
Dari celah pintu yang sempat terbuka, Elena melihat deretan lemari penuh dokumen dan beberapa brankas berukuran besar.
Tatapannya seketika berubah. Tanpa sadar, tangan Elena mengepal.
Ia mendekat dan baru saja hendak menyentuh gagang pintu, salah seorang penjaga langsung menghadangnya.
"Maaf, Nona. Anda tidak diperbolehkan masuk."
Elena menatap pria itu sejenak. Kemudian, ia tersenyum tipis seolah tidak mempermasalahkannya.
"Aku mengerti."
Ia pun berbalik dan kembali menyusuri lorong. Ia tidak menyangka Markas The Raven ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.
Tapi, selain ruangan-ruangan yang menyeramkan, ada beberapa ruangan yang terlihat jauh lebih bersih dan nyaman. Seolah-olah bagian tersebut sengaja dipisahkan dari sisi gelap organisasi yang selama ini dikenal kejam.
Setelah berkeliling selama berjam-jam, Elena akhirnya memutuskan untuk berhenti. Ia tidak ingin terlalu banyak menarik perhatian.
"Apa kamu sudah puas berkeliling?"
Elena menoleh, melihat Leon berjalan ke arahnya.
"Ya," jawab Elena. "Aku rasa sudah cukup."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."
Elena mengerutkan kening. "Pulang?"
"Ya." Leon berhenti di depannya. "Tidak baik seorang wanita berada di tempat seperti ini terlalu lama."
Elena hampir tertawa mendengar ucapan itu. Tapi, ia hanya mengangguk. "Baiklah."
Sepanjang perjalanan, Elena lebih banyak diam.
Tatapannya sesekali mengarah ke luar jendela, memperhatikan jalan yang mereka lewati.
Leon yang duduk di sampingnya juga tidak banyak bicara. Beberapa kali pria itu hanya melirik Elena dari sudut matanya.
Sejak berada di ruang latihan tadi, Leon merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Seolah ada dinding tebal yang sengaja di bangun untuk menutupi sesuatu.
Tapi, setidaknya sekarang ia sudah tahu identitas asli wanita itu. Yang belum ia ketahui hanyalah alasan Elena masuk ke kediaman keluarga Bianchi.
Untuk sementara, Leon hanya bisa menduga satu hal.
Balas dendam.
Dan, jika dugaannya benar, apa pun rencananya, Leon yakin wanita itu tidak akan bisa berbuat banyak. Karena, wanita itu berada di sarang The Raven.
Elena mungkin memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa, tetapi ia tetap sendirian.
Dan, melawan The Raven seorang diri sama saja dengan berjalan menuju kematian.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki halaman kediaman Bianchi dan berhenti tepat di depan bangunan besar yang berdiri megah.
Seorang penjaga segera mendekat dan membukakan pintu.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Elena.
Leon hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Elena terdiam sesaat sebelum akhirnya turun dari mobil.
Beberapa detik kemudian, mobil kembali bergerak meninggalkan halaman kediaman keluarga Bianchi.
Begitu mobil menjauh, Leon mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin.
"Tangkap semua orang yang bekerja sama dengan Elena," perintahnya. "Aku tidak ingin mengambil risiko yang bisa membahayakan keluargaku."
"Baik, Tuan."
Sementara itu, Elena bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.
Ia membuka pintu, lalu melirik sekilas kamera pengawas di sudut ruangan. Ia berjalan tenang, mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi.
Tapi, Elena tidak langsung membersihkan diri. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengetik pesan panjang untuk seseorang.
Setelah memastikan pesan terkirim, Elena langsung menghapus percakapan itu.
Ia menyandarkan punggungnya di dinding lalu, menghela napas panjang. Ia yakin Leon sudah mengetahui identitasnya. Jadi, ia harus lebih berhati-hati.
***
Siang berganti malam.
Seperti biasa, seluruh anggota keluarga Bianchi berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama, kecuali Daniel.
Suasana awalnya berjalan tenang hingga Maria tiba-tiba membuka percakapan.
"Bagaimana, El? Apa menyenangkan pergi ke markas?"
Gerakan Elena terhenti kemudian, ia tersenyum kecil. "Anda benar, Nyonya. Itu bukan tempat untuk jalan-jalan." Ia sengaja memasang wajah sedikit pucat.
"Tadi saya melihat beberapa ruangan yang..." Elena menggantung kalimatnya. Bahunya bergidik kecil. "Mengerikan."
Maria tertawa kikuk. "Benarkah?"
Elena mengangguk cepat. "Lebih baik kita tidak membicarakannya."
"Ya, kamu benar."
Sementara itu, Leon melirik sekilas sambil menahan senyum tipis.
"Kamu benar-benar pandai berakting, Elena," batin Leon.
Tapi, Elena tiba-tiba kembali membuka suara, yang membuat suasana berubah
"Tapi, ada yang membuat saya penasaran, Nyonya."
Maria mengangkat alis. "Apa itu?"
"Tadi, saya melihat banyak tahanan di markas."
Seketika, Leon menghentikan gerakan tangannya.
Elena melanjutkan dengan nada polos. "Mereka memiliki tato. Lalu, saat saya masuk ke perpustakaan, saya menemukan buku yang berisi gambar-gambar tato yang sama dengan milik para tahanan itu."
Leon menoleh dengan kening mengernyit. Sedangkan, Victor yang sejak tadi menikmati makan malam perlahan mengangkat kepalanya.
"Perpustakaan?" ulangnya.
Elena langsung menundukkan kepala. "I-iya, Tuan."
Tatapan Victor beralih tajam pada Leon. "Kamu membiarkan wanita ini masuk ke ruangan itu?"
Leon langsung mengernyit. "Ti-tidak, Dad. Aku—"
"Maaf, Tuan." Elena buru-buru menyela. "Semua ini salah saya. Leon sama sekali tidak tahu kalau saya masuk ke sana."
Leon menoleh ke arah Elena. Tatapannya menunjukkan rasa tidak percaya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" batin Leon.
Victor menggeram pelan. Tangannya mengepal di atas meja.
"Lalu, apa lagi yang kamu tahu?"
Elena menggeleng cepat. "T-tidak ada, Tuan."
Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara bergetar.
"Saya hanya melihat buku itu. Tapi... Ada satu gambar di buku itu yang membuat saya tertarik."
Victor menatapnya tajam. "Gambar apa?"
Elena mengangkat wajahnya perlahan. "Mawar."
DEG!
Jantung Victor seolah berhenti berdetak. Tubuhnya menegang.
Begitu juga dengan Leon. Matanya membelalak, sampai lupa caranya bernapas.
Tanpa peringatan, Victor menggebrak meja dengan keras, membuat Maria tersentak.
BRAKH!
Maria menoleh. "Ada apa, Sayang?"
Victor tidak menjawab. Tatapannya tajam, tertuju pada Elena. Tatapan penuh amarah sekaligus sesuatu yang sulit di artikan.
"Lebih baik kamu menjaga baik-baik mulutmu," ucap Victor dengan suara rendah dan mengancam. "Atau, aku sendiri yang akan membunuhmu."
Setelah mengatakan itu, Victor meninggalkan ruang makan dengan langkah cepat.
Suasana menjadi hening.
Leon terdiam, menatap Elena yang masih menundukkan kepala, berpura-pura ketakutan.
Tapi, di balik wajah polosnya, sudut bibir Elena perlahan terangkat, melihat reaksi Victor yang berlebihan saat mendengar kata 'Mawar'.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊