Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilihkan gaun untuk calon istri

Suasana dalam mobil tampak damai. Mia dengan ocehan kecilnya, dan Dean yang selalu setia menanggapi.

Sementara Azarin memilih duduk di belakang sambil menatap pemandangan kota yang sudah begitu lama tidak ia lihat.

Selama tiga tahun ini Azarin selalu disibukkan dengan urusan warung makan miliknya. Jangankan healing, tempat yang paling jauh ia kunjungi paling pasar dan taman kota.

Tentu karena Mia merengek liat pasar malam, kalo tidak Azarin benar-benar jadi mbokde-mbokde yang jalan disitu-situ saja.

"Papa...papa...Mia mau ice cream!"

"Iya...nanti kita mampir."

"Cama lobot dan boneka dinocaulus yah paa...!"

Dean tatap jalanan tersenyum tipis, menoleh ke arah Mia di sampingnya beberapa kali.

"Apapun akan papa turuti demi tuan putri."

"Yeayyy!!! Papa Mia kaya! Papa Mia kaya! ngga kaya mama!"

Melotot Azarin di belakang, namun ia pun tidak bisa membantah. Memilih menyandarkan punggungnya kembali.

Dean lirik Azarin dari kaca tengah atas, terkekeh kecil.

Ia tidak mengira Mia hobby sekali menjaili mamanya.

Disela lamunan Azarin, tiba-tiba handphone nya berdenting beberapa kali.

Sekali.

Abaikan.

Dua kali.

Mulai serius.

Tiga kali.

Azarin spontan menyambar handphone di sampingnya malas.

Ternyata itu adalah pesan dari nomor asing. Kening Azarin mengerut kecil. Lalu membukanya karena penasaran.

[ Azarin, ini aku Fajar. Aku ngga tahan lagi terus di blok sama kamu jadi beli kartu baru ]

[ Azarin bagaimana kabarmu? Sudah baikan bukan? Aku rindu Mia, Rin. Mama juga merengek pengen ketemu Mia. Kami boleh kan ajak Mia jalan-jalan sesekali ngga, Rin? ]

[ Dia juga harus tau ayah kandungnya, Rin. Kamu tidak berniat menyembunyikanku selamanya kan? ]

[ Aku pun sadar sekarang, ternyata hidup tanpamu tidak lebih baik. Dulu aku benar-benar bodoh, Rin. Aku mencampakanmu dan memilih Fania ]

[ Fania gabisa ngasi aku keturunan, Rin. Cuma Mia lah darah dagingku, dia garis keturunanku, Rin. Tolong jangan putus hubunganku dengan putriku ]

Kening Azarin mengerut, matanya memicing membaca baris demi baris beruntun yang Fajar kirimkan padanya. Lalu melempar handphone ke samping cepat. Memilih acuh.

Bibirnya menganga lebar, melipat kedua tangan seraya menatap pemandangan di depannya kesal.

"Hah...! Apa dia bilang tadi?! Darah dagingku?!"

Azarin benar-benar kesal hingga darahnya nyaris mendidih.

Darah daging apanya!

Dia bahkan bersiap memasukkan Mia kedalam panti asuhan padahal ayah ibunya masih hidup.

Baru sekarang lah pria itu menyesal.

"Paling juga karena istrinya gabisa ngasi keturunan! Coba kalo dikasih, mana mikir dia Mia juga anaknya!"

Merasa suasana tak nyaman dalam mobil, Dean melirik kembali ke kaca tengah.

Dapat ia lihat bibir Azarin komat-kamit seperti mengutuk seseorang.

Sudut bibirnya tertarik kecil.

"Ternyata Baby Poeny juga bisa mengutuk yah." lirih Dean kecil.

Nyaris tak terdengar. Menyatu dengan suara mesin mobil yang menderu.

Sesampainya di butik Azarin dibuat melongo.

Bangunannya sangat besar untuk sekilas toko khusus pakaian. Interiornya juga luas.

Meski banyak pengunjung, tapi tidak ada yang desak-desakan.

"Tuan....apa ini tidak terlalu—"

Dean raih bahu Azarin mendekat, menempel padanya. Bersama Mia yang selalu setia di gandengannya.

"Baguskan?" lirih Dean, "Pilihlah baju yang kamu mau."

Azarin gigit bibir bawahnya gusar, ia turunkan tangan Dean dari bahunya pelan.

"I-iya .."

Bisa dugem jantungnya kalo sedekat itu dengan Dean. Memilih menjaga jarak.

Dean tersenyum tipis. Ia segera membawa Azarin ke suatu tempat.

"Tolong beri calon istri saya pelayanan terbaik."

Azarin meremat ujung roknya gugup. Menatap Dean yang sudah duduk dengan Mia di pangkuan pada sofa tunggu.

"Tuan, ini—"

Ucapan Azarin terpotong tatkala pekerja di butik itu meraih lengannya.

"Mari, mba. Saya pilihkan pakaian yang cocok untuk anda."

"Tap-tapi—"

Pada akhirnya Azarin tidak bisa menolak. Sang pegawai langsung menarik tangan Azarin ke tempat ganti dengan tutup tirai besar setinggi 2 meter. Menghilangkannya dari tatapan dunia luar.

Mia tersenyum melihat mamanya masuk ke balik tirai. Begitu juga dengan Dean yang selalu setia di sampingnya.

"Kenapa, Mia?"

Gadis kecil yang melamun itu lantas menoleh, mendongak menatap Dean yang terlalu tinggi di sampingnya.

"Mama mau di dandanin ya, pa?"

Dean tersenyum, ia toel hidung Mia gemas.

"Kok ngerti?" kekeh pria itu, "Dikasi tau siapa?"

Mia meringis lebar, memperlihatkan deretan giginya yang ompong tengah itu.

"Hehe ... Mia liat-liat di hp Azlil. Pasti nanti mama kelual pake baju cantik kan pa?"

Dean tersenyum mengangguk, "Iya, kita lihat nanti yah."

Yang langsung diangguki oleh Mia.

Bocah kecil itu turun dari sofa cepat, melihat-lihat sekeliling yang dipenuhi rak-rak baju menggantung.

"Wahhh....bajunya cantik-cantik banget!"

Melihat betapa antusiasnya Mia melihat baju, Dean segera memanggil salahdatu pegawai yang nganggur.

Sang pegawai segera mendekat, melipat kedua tangan di depan seraya merunduk.

"Ada yang bisa dibantu, tuan?"

Dean tunjuk Mia di ujung sana, lalu menatap pegawai tenang.

"Tolong pilihkan baju yang pas untuk putri saya."

Mendengar itu sang pegawai langsung menatap ke arah Mia, menegakkan kembali punggungnya seraya tersenyum tipis.

"Baik, Tuan."

Kini tinggal Dean sendiri di luar ruangan.

Ia pun memilih mengambil buku yang terselip di rak kecil samping sofa. membacanya tenang.

Tunggu punya tunggu, akhirnya selesai pemilihan baju Azarin.

Tirai terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Azarin dibaliknya.

Mendengar bunyi derit pada roll tirai, Dean lantas mendongak.

Bola matanya langsung melebar, iris matanya menyipit, bibirnya tertarik tipis.

"Cantik."

Bahkan mungkin kata cantik tidak cukup untuk mendefinisikan tentang tampilan Azarin di depannya.

Gaun santai dengan renda melingkar pada lengan.

Namun entah mengapa, pilihan bajunya terlalu pucat. Ditambah kulit Azarin yang juga putih.

Malah terlihat seperti manekin berjalan.

Dean berdiri perlahan, berjalan mendekat dengan langkah tenang. Tangannya masuk kedalam saku seraya menelisik setiap inci Azarin dari kepala, hingga ujung kaki.

Dean tatap pegawai di samping Azarin tenang.

"Apa tidak ada pilihan lain?"

Sang pegawai tampak pucat. Ia lirik Azarin dan Dean gugup.

"Anu, tuan. Saya sudah merekomendasikan gaun yang cocok. Tapi nyonya memilih ini."

Dean beralih menatap Azarin intens.

Wanita itu lantas mendongak, "Aku ga nyaman pake gaun mencolok, tuan. Apalagi bajunya sexy semua."

Mendengar itu Dean spontan melongo, lalu tersenyum tipis. Beralih menatap sang pegawai.

"Tolong pilihkan baju sesuai keinginan calon istri saya."

Sang pegawai tampak gugup.

"Tapi, kebanyakan gaun tertutup, tuan."

Dean tersenyum, "Itu bagus, berarti sesuai dengan istri saya yang terjaga."

Nge-blush langsung pipi Azarin, merunduk cepat. Sementara sang pegawai berdecak kagum.

"Nyonya sangat beruntung. Bahkan sekelas pengusaha terkenal seperti Tuan Dean saja, tidak menuntut cara berpakaian."

Sang pegawai segera membawa Azarin kembali masuk, menutup tirai.

Sementara Dean memilih menunggu di sofa, seraya membaca buku dengan Mia di sampingnya yang baru selesai memilih baju.

Terlihat Mia sibuk bermain rubik favoritnya. Dean merunduk, menatap Mia intens.

"Sayang, apa kamu tak ingin gaun?"

Mia mendongak pelan, menatap Dean dengan mata bulatnya yang lucu.

"Mia boleh beli gaun juga, papa?"

"Tentu dong sayang. Bukan cuma gaun, semua yang ada disini pun bisa papa belikan untuk Mia." ucap Dean seraya mengelus pucuk kepala Mia.

Anak kecil itu langsung melompat ke atas sofa, berjingkrak bahagia lalu melompat turun tanpa aba-aba. Nyaris membuat Dean jantungan.

"Yee...beli gaun beli gaun! Mia cuka gaun!!"

Dean tersenyum menggeleng menatap ke antusiasan Mia. Menoleh ke arah pegawai yang nganggur.

"Tolong pilihkan gaun terbagus untuk putri saya."

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!