Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membentuk tim bayangan
Setelah mendapatkan persetujuan resmi dari komando pusat untuk melaksanakan operasi khusus membongkar jaringan BlackSystem tersebut, Dawin segera mulai menyusun tim yang akan membantunya menjalankan penyelidikan yang jauh lebih mendalam dan sistematis. Rehan, yang telah pulih sepenuhnya dari luka tembaknya, menjadi orang pertama yang dia tunjuk sebagai wakil pemimpin operasional dalam tim tersebut.
"Rehan, kita butuh anggota tambahan yang punya keahlian khusus, terutama buat penyelidikan di rumah sakit. Kita perlu orang yang bisa masuk tanpa menimbulkan kecurigaan," ujar Dawin ketika mereka berdua duduk di ruang briefing markas, membahas strategi penyelidikan yang akan mereka jalankan tersebut.
"Saya punya kenalan di unit intelijen yang biasa nyamar jadi warga sipil, namanya Kopral Sinta. Dia berpengalaman banget dalam operasi penyamaran kayak gini," usul Rehan, menawarkan solusi yang cukup relevan mengingat kompleksitas penyelidikan yang harus mereka lakukan di lingkungan rumah sakit tersebut.
Dawin menyetujui usulan tersebut, segera mengajukan permintaan resmi untuk melibatkan Kopral Sinta dalam tim operasi khusus mereka. Setelah beberapa hari koordinasi, tim tersebut akhirnya terbentuk dengan susunan yang cukup solid, terdiri dari Dawin sebagai pemimpin operasional, Rehan sebagai wakil, serta beberapa anggota tambahan termasuk Kopral Sinta yang akan bertugas melakukan penyamaran di rumah sakit tempat Kwila bekerja tersebut.
"Sinta, tugas kamu adalah menyamar sebagai calon perawat magang di rumah sakit tersebut, mengumpulkan bukti mengenai praktik ilegal yang diduga dilakukan Direktur Harjono, terutama yang berkaitan dengan perdagangan organ tubuh manusia," instruksi Dawin kepada anggota timnya yang baru tersebut, menjelaskan detail misi yang harus dia jalankan dengan penuh kehati-hatian.
"Siap, Komandan. Saya akan pastikan penyamaran ini berjalan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan," jawab Kopral Sinta dengan penuh keyakinan, seorang wanita muda dengan kemampuan penyamaran yang telah teruji dalam berbagai operasi intelijen sebelumnya.
Selain menyiapkan operasi penyamaran tersebut, Dawin juga berkoordinasi dengan Kwila untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai struktur organisasi rumah sakit tersebut, termasuk area-area yang biasanya memiliki akses terbatas bagi staf medis biasa, sebuah informasi yang sangat berharga untuk membantu Kopral Sinta menjalankan misinya tersebut dengan lebih efektif.
"Kwila, kalau boleh, saya butuh informasi soal denah rumah sakit, terutama area yang biasanya dijaga ketat atau punya akses terbatas," ujar Dawin ketika mereka berdua bertemu di sela-sela kesibukan masing-masing, membahas berbagai detail yang diperlukan untuk mendukung operasi penyelidikan tersebut.
"Saya bisa bantu, Mas. Kebetulan saya juga masih penasaran soal ruang bawah tanah yang selama ini jarang diakses staf medis biasa kayak saya," jawab Kwila, menawarkan bantuannya meski dia sendiri menyadari risiko yang mungkin timbul jika keterlibatannya dalam penyelidikan tersebut sampai terungkap oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Terima kasih, Kwila. Tapi tolong tetap hati-hati ya, jangan sampai kamu ambil risiko yang terlalu besar. Biarkan tim kami yang menangani bagian penyelidikan langsung, kamu cukup bantu dengan informasi yang kamu miliki aja," pesan Dawin dengan penuh kekhawatiran, tidak ingin Kwila mengambil risiko berlebihan mengingat pengalaman traumatis yang baru saja dia alami akibat percobaan penculikan tersebut.
Kwila mengangguk, menghargai kekhawatiran tulus yang ditunjukkan Dawin tersebut, meski dalam hatinya sendiri, dia merasakan tekad yang begitu kuat untuk turut membantu mengungkap kejahatan yang telah lama beroperasi di tempat kerjanya tersebut, sebuah tekad yang lahir dari rasa tanggung jawab moral sebagai seorang tenaga medis yang seharusnya menjaga kepercayaan pasien yang telah mereka layani selama ini.
Beberapa hari kemudian, Kopral Sinta berhasil diterima sebagai perawat magang di rumah sakit tersebut, berkat rekomendasi yang telah diatur secara diam-diam oleh tim intelijen militer melalui jalur resmi yang tidak menimbulkan kecurigaan berlebihan. Kwila, yang telah diberitahu mengenai identitas asli Sinta tersebut, mulai membantu memberikan orientasi kepada "perawat magang" tersebut, sekaligus menjadi jembatan komunikasi yang aman antara Sinta dengan tim Dawin.
"Sinta, ini area rekam medis, biasanya cuma staf tertentu yang punya akses ke arsip lama," jelas Kwila sambil menunjukkan berbagai ruangan di rumah sakit tersebut, berpura-pura memberikan orientasi standar kepada perawat magang baru, meski sebenarnya mereka berdua sedang menjalankan misi penyelidikan yang jauh lebih serius tersebut.
"Kwila, menurut kamu, di mana kira-kira lokasi yang paling mungkin buat nyimpen bukti soal transaksi organ itu?" bisik Sinta ketika mereka berdua berada di lorong yang sepi, jauh dari jangkauan pendengaran orang lain yang mungkin mencurigai percakapan mereka tersebut.
"Kemungkinan besar di ruang bawah tanah, Sinta. Saya pernah denger percakapan soal pengiriman rahasia dari sana," jawab Kwila, membagikan informasi penting yang telah lama dia simpan sejak kejadian mencurigakan yang dia saksikan beberapa waktu lalu tersebut.
Sinta mencatat informasi tersebut dalam ingatannya, merencanakan strategi untuk mendapatkan akses ke ruang bawah tanah tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak keamanan rumah sakit yang telah diperketat sejak insiden penculikan yang gagal beberapa waktu lalu. "Terima kasih, Kwila. Saya akan coba cari cara buat masuk ke sana tanpa ketahuan."
Malam itu, ketika Kwila pulang kerja dan menceritakan perkembangan operasi penyamaran tersebut kepada Dawin, mereka berdua menyadari bahwa penyelidikan tersebut mulai menunjukkan progress yang cukup signifikan, meski risiko yang mereka hadapi juga semakin besar mengingat betapa berbahayanya organisasi yang sedang mereka selidiki tersebut.
"Kwila, saya bangga sama keberanian kamu buat bantu penyelidikan ini, meski saya juga khawatir banget sama keselamatan kamu," ujar Dawin dengan nada yang menunjukkan kekaguman sekaligus kekhawatiran mendalam, menggenggam tangan Kwila dengan penuh kehangatan ketika mereka berdua duduk berdampingan di teras Good Resto malam itu.
"Saya juga khawatir, Mas, tapi saya percaya kita bisa lewatin semua ini bareng-bareng. Lagian, ini juga tanggung jawab saya sebagai tenaga medis buat pastiin rumah sakit tempat saya kerja bener-bener aman buat semua pasien," jawab Kwila dengan penuh keyakinan, menunjukkan tekad yang begitu kuat meski bahaya besar masih terus mengintai dari balik bayang-bayang organisasi kriminal yang begitu berbahaya tersebut, sebuah tekad yang akan segera membawa mereka pada penemuan-penemuan mengejutkan yang akan mengubah seluruh arah penyelidikan mereka menjadi jauh lebih kompleks dan berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebelum berpisah malam itu, Dawin menyempatkan diri untuk memberikan sebuah alat komunikasi kecil kepada Kwila, sebuah perangkat tersembunyi yang bisa digunakan untuk memberikan sinyal darurat kepada timnya jika sewaktu-waktu Kwila merasa dalam bahaya. "Ini buat jaga-jaga, Kwila. Simpen baik-baik, dan kalau ada apa-apa, langsung tekan tombol ini."
"Terima kasih, Mas. Saya akan selalu bawa ini ke mana pun saya pergi," jawab Kwila sambil menerima alat tersebut dengan penuh rasa syukur, menyadari betapa besar perhatian Dawin terhadap keselamatannya, sebuah perhatian yang semakin memperkuat keyakinannya bahwa pemuda tersebut memang layak menjadi pendamping hidupnya kelak, meski jalan yang harus mereka lalui bersama masih dipenuhi berbagai rintangan dan bahaya yang begitu besar tersebut.