Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buang Gengsi
Ranaya terduduk lesu di salah satu kursi taman di halaman depan rumah sakit. Sudah lima hari berlalu, tapi keadaannya masih sama. Tubuhnya terbaring lemah di dalam kamar, sedangkan dia di sini belum juga menemukan orang yang bisa membantu misinya untuk kembali ke dalam tubuhnya.
Namun, kabar baiknya, Agatha sudah membaik. Ia juga bisa memberikan kesaksian terkait dengan apa yang terjadi malam itu, sehingga mereka berdua bisa berakhir seperti ini.
Agatha juga tampak sedih dan terus menangis setelah mengetahui keadaan Ranaya. Ia terus menyalahkan dirinya. Andai saja ia tidak memaksa Ranaya untuk pulang malam itu dan andai saja ia memastikan Ranaya memakai sabuk pengaman, mungkin semuanya tidak akan terjadi.
Hal itulah yang membuat Ranaya semakin gundah gulana. Ia ingin mengatakan kalau semua ini bukan salah Agatha, tapi dia bingung bagaimana caranya menyampaikan semua itu pada Agatha tanpa menakutinya.
Saat sedang merenung itu, Ranaya kembali melihat si Ojol tampan yang baru saja menghentikan motor di depan halaman rumah sakit, menurunkan seorang penumpang ibu-ibu paruh baya.
"Apa minta tolong dia aja?" gumam Ranaya. Setelah berpikir beberapa saat, Ranaya pun melayang mendekati si Ojol tampan itu.
****
Menyadari Ranaya mendekat ke arahnya, Arka segera membuang muka. Hidupnya sudah cukup rumit, ia tidak mau kehadiran hantu-hantu resek ini mempersulit hidupnya.
"Lu bisa lihat gue, kan?" tanya Kuntilanak yang beberapa kali Arka lihat di halaman depan rumah sakit itu, si Kuntilanak ngartis dengan gaun merah marun yang sobek sampai pangkal paha.
Arka tak menggubris, ia siap untuk meninggalkan halaman depan rumah sakit. Namun, Kuntilanak ngartis itu langsung melayang tepat di depan motornya.
"Gue tahu, lu bisa lihat gue, kan?" ucapnya, kali ini terdengar tidak seangkuh yang pertama. "Gue butuh bantuan lu," imbuhnya.
Arka masih diam. Pura-pura tak melihat dan menghindari kontak mata. Namun seolah tak menerima penolakan, Kuntilanak ngartis itu memajukan wajahnya hingga tepat di depan wajah Arka. "Nama gue Ranaya."
Wajahnya memang cantik, tapi pucat layaknya hantu. Rambutnya berwarna pirang panjang, aroma tubuhnya khas, mirip seperti bunga mawar. Tidak ada sisi seramnya, sangat berbeda dengan Kuntilanak di Pohon Nangka yang sering menggoda Arka.
"Gue enggak bisa bantu," ucap Arka pada akhirnya. Pria itu balas menatap mata Ranaya. Tidak ada tatapan amarah dari gadis itu, hanya kesedihan yang terpancar begitu jelas.
"Ini enggak gratis, gue bakal bayar, gue janji."
Arka tersenyum sinis. "Simpen aja duit lu, paling entar kalau dipake berubah jadi daun." Pria itu menggeleng pelan sebelum akhirnya benar-benar menyalakan motornya dan melaju, menembus tubuh Ranaya.
Tidak mau menyerah, Ranaya kali ini membuang gengsinya. Ia mengikuti Arka, bagaimana pun caranya, pria itu harus mau membantu Ranaya, harus!
"Ck! Keras kepala!" gumam Arka setelah menyadari kalau si Kuntilanak yang bernama Ranaya itu terus mengikutinya. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dia diikuti seharian penuh, sampai Arka benar-benar merasa tidak nyaman. Sekalipun parasnya cantik, Ranaya tetaplah sosok astral baginya.
"Please, bantu gue, ya?" ucap Ranaya, entah yang ke berapa kali sejak tadi pagi. Kini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Arka membuang napas kasar. Ia mengeluarkan sebatang rokok, membakarnya. Lalu mengisap rokok itu pelan.
"Masalah lu apa?" tanya Arka karena telanjur muak diikuti seharian oleh Ranaya.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️