Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 - SAH
Keheningan yang mencekam merayap lambat di ruang tamu sederhana itu. Udara seolah menebal, membuat tiap helaan napas terasa berat. Nayla menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas pangkuan. Pikirannya berkecamuk, berputar dalam lingkaran keraguan yang menyiksa.
'Menikah dengan Pak Adrian?' batin Nayla dengan dada berdebar kencang. 'Gadis mana yang akan menolak pria seperti dia? Tampan, kaya raya, terpandang, dan berwibawa. Dia tidak kekurangan satu apa pun... dia sempurna. Tapi mendapatkan istri sepertiku? Dengan fisikku yang seperti ini dan tanpa latar belakang keluarga terpandang... Tidak. Aku tidak boleh melunjak. Ini terlalu berlebihan.'
Nayla menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menolak usulan gila tersebut. Namun, tepat sebelum bibirnya yang gemetar memproduksi suara, suara berat dan dingin Adrian lebih dulu memecah udara.
"Baik. Saya setuju."
Nayla mendongak kaget, menatap Adrian dengan mata membelalak tak percaya.
Pria itu duduk tegap dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah baru saja menyetujui sebuah kontrak bisnis biasa. Setelah menimbang dalam hening, Adrian memutuskan untuk menerima jalan ini. Bagi Adrian, ini adalah cara paling terhormat untuk melunasi utang nyawa dan menuntaskan janji terakhirnya pada almarhum Pak Danu.
Nayla membisu. Kata-kata penolakan yang sudah tersusun di tenggorokannya mendadak menguap. Bagaimana mungkin ia menolak, jika ini adalah wasiat terakhir ayahnya sebelum menghembuskan napas terakhir?
"Tapi... saya punya satu permintaan, Pak... Bu..." bisik Nayla lirih, memberanikan diri menatap Pak Hilman dan Bu Ratih.
"Sampaikan saja, Nayla. Apa itu, Nak?" sahut Bu Ratih lembut.
Nayla menelan ludah yang terasa pahit. "Tolong... rahasiakan pernikahan ini dari siapa pun. Terutama dari orang-orang di kantor."
Bu Ratih sempat mengernyitkan dahi bingung, namun wanita paruh baya itu dengan cepat mengerti kekhawatiran Nayla. Nayla takut menjadi bahan gosip kejam, takut dituduh memanfaatkan musibah ayahnya demi naik kelas sosial dan memikat sang CEO.
Adrian mengangguk singkat. "Saya setuju." Bagi Adrian, menyembunyikan status ini bukanlah masalah. Toh, dalam benaknya, pernikahan ini murni sebuah bentuk tanggung jawab dan kewajiban moral, bukan karena landasan cinta. Jadi, tidak ada alasan untuk mengumbar hal ini ke publik.
****
Beberapa hari berlalu...
Proses administrasi dan berkas pernikahan diurus secara kilat dan sangat privat oleh jaringan hukum keluarga Dewangga. Tak ada pesta meriah, tak ada gaun pengantin mewah bertabur kristal, dan tak ada publikasi media.
Acara ijab kabul itu digelar amat sederhana di ruang keluarga kediaman utama Dewangga. Hanya dihadiri oleh Pak Hilman, Bu Ratih, serta Rio asisten pribadi Adrian yang hadir sebagai saksi.
Dari pihak Nayla? Tak ada seorang pun yang mendampingi.
Sepanjang hidupnya, Nayla hanya punya sang ayah. Kerabat dari pihak ayahnya tidak pernah memedulikan kehidupannya. Sementara sang ibu... Nayla bahkan tidak tahu apakah wanita itu masih bernapas atau tidak. Ibunya melangkah pergi meninggalkan Nayla dan ayahnya sejak Nayla masih berusia tiga belas tahun, tanpa pernah kembali.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Nayla Safira binti Alm. Bapak Danu dengan mas kawin tersebut Tunai!"
Kata sakral itu terucap mantap dari bibir Adrian dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana Saksi? Sah?"
"Sah!"
Nayla, yang terbalut kebaya putih sederhana, menundukkan kepalanya saat Adrian mengulurkan tangan. Jemari Nayla yang gemetaran meraih tangan kokoh pria di hadapannya, lalu menyentuhkan bibirnya ke punggung tangan Adrian yang hangat. Pria yang selama ini adalah atasannya yang dingin, kini resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.
Adrian membungkuk sedikit, mengikis jarak di antara mereka. Sebuah kecupan singkat dan kaku mendarat di kening Nayla.
Deg!
Tubuh Nayla seketika membeku. Kulit keningnya serasa terbakar oleh sentuhan bibir Adrian. Ini adalah interaksi fisik terdekat pertama yang pernah mereka lakukan sepanjang lima tahun saling mengenal. Bau harum parfum maskulin kayu cendana milik Adrian meredam indra penciumannya, membuat dada Nayla makin berdegup liar.
Saat mereka bertukar cincin polos dari emas putih, Nayla menatap jemari Adrian yang tersemat cincin serupa dengan miliknya.
'Maafkan aku, Pak Adrian...' bisik Nayla menjerit dalam hati, meratapi nasib pria di hadapannya. 'Aku sungguh minta maaf karena membuatmu terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini. Aku tahu betul aku sama sekali tidak menarik untuk pria sempurna sepertimu...'
Di sisi lain, Adrian menatap wajah pucat istrinya yang terus menunduk. 'Perempuan ini sudah kehilangan segalanya,' batin Adrian dengan rahang mengeras pelan. 'Aku memang tidak bisa menjanjikan cinta dalam pernikahan ini, tapi aku akan berusaha menemukan cara untuk memastikan hidupnya terjamin dan membahagiakannya sebagai bentuk tanggung jawabku.'
Usai doa bersama, Bu Ratih langsung merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukan hangat yang sangat erat.
"Selamat datang di keluarga kami, Nayla..." bisik Bu Ratih dengan mata berkaca-kaca. "Mulai sekarang, jangan panggil Ibu lagi, ya? Panggil Mama."
Nayla membalas pelukan itu dengan perlahan, mengangguk pelan. "I-iya... Ma..."
Meski hatinya tersentuh oleh kehangatan itu, sudut kecil pikiran Nayla yang dipenuhi rasa minder membisikkan kenyataan pahit, 'Kasih sayang dan pelukan ini... hanya ada karena mereka merasa berutang budi pada alm. Bapak.'
Adrian melirik jam tangannya, lalu memotong kehangatan suasana itu dengan suaranya yang datar. "Ayo kita pulang."
Ketika Adrian mulai membalikkan badan dan melangkah pergi, Nayla justru membeku di tempatnya. Ia menatap punggung tegap Adrian dengan keraguan yang membuncah. Langkah kakinya terasa begitu berat, bingung dan kaku harus melangkah ke mana. Ia mengira setelah acara ini selesai mereka akan tetap tinggal di rumah besar ini, namun Adrian justru mengajaknya pergi.
Melihat keraguan dan rasa canggung yang terpancar jelas dari tubuh Nayla, Bu Ratih tersenyum lembut. Wanita paruh baya itu merangkul bahunya yang lebar dengan hangat dan membimbingnya melangkah perlahan mengikuti langkah Adrian.
"Tidak apa-apa, Nak. Pergilah bersama Adrian," bisik Bu Ratih menenangkan.
Di dekat pintu keluar, Pak Hilman menghentikan langkah Adrian. Pria tua itu menepuk bahu putranya dengan tegas, memberikan tatapan mata yang penuh peringatan hangat seorang ayah.
"Adrian," panggil Pak Hilman berat. "Mulai hari ini, Nayla adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Perlakukan dia dengan baik dan jaga dia sepenuh hatimu. Jangan pernah buat dia merasa sendirian atau terluka."
Adrian menatap ayahnya mantap, lalu mengangguk singkat. "Baik, Pa. Saya mengerti."
Mereka kemudian berjalan bersama menuju halaman depan tempat mobil sedan hitam Adrian sudah terparkir. Saat Rio membukakan pintu mobil, Nayla kembali menghentikan langkahnya. Rasa canggung sebagai bawahan selama lima tahun mendadak merayapi pikirannya.
"P-Pak... saya duduk di mana? Di depan atau di belakang?" tanya Nayla ragu, melirik ke arah kursi samping kemudi dan kursi belakang.
Adrian menoleh singkat. "Di belakang."
Bu Ratih yang ikut mengantar sampai ke teras bersama Pak Hilman langsung menepuk jidatnya pelan seraya menyahut gemas.
"Nayla... masa sama suami sendiri panggilnya masih Pak?" tegur Bu Ratih seraya mengomeli putranya. "Adrian, kamu ini gimana sih, juga nurut-nurut aja dipanggil Pak! Ingat ya, Adrian, sekarang kamu ini bukan atasannya Nayla lagi, tapi suaminya! Di luar rumah atau di kantor kalian boleh merahasiakan status ini sesuai keinginan kalian, tapi di rumah dan di antara kalian, kalian tetap sepasang suami istri yang sah."
Nayla menggigit lipatan bibir bawahnya, wajahnya memerah padam karena malu. Adrian pun tampak berdehem keras, salah tingkah ditegur ibunya sendiri.
Nayla menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan rasa canggung yang merajai dadanya. Ia menatap Adrian ragu. "I-iya... Mas Adrian..."
Kata Mas yang meluncur dari bibir Nayla terdengar begitu kaku dan pelan, namun sukses membuat dada Adrian berdesir asing.
"Nah, begitu dong," senyum Bu Ratih puas.
Nayla dan Adrian kemudian pamit mencium tangan Bu Ratih dan Pak Hilman. Setelah mendapat restu dan pelukan hangat sekali lagi, mereka masuk dan duduk berdampingan di kursi belakang mobil.
Rio yang duduk di kursi pengemudi sigap menutup pintu. Senyum-senyum sendiri menghiasi wajah asisten pribadi tersebut seraya mulai menjalankan mobil.
'Gila... bos gue yang dinginnya kayak kulkas dua pintu akhirnya resmi lepas masa jomblo!' batin Rio tertawa kegirangan dalam hati. 'Siapa sangka jodohnya ternyata orang dekat di kantor sendiri? Hmm... jangan-jangan jodoh gue juga ada di kantor? Kira-kira siapa ya? Mbak Rina bagian keuangan atau CS lantai dua?' Rio mulai menghayal konyol.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan hitam itu memasuki pekarangan sebuah rumah mewah bergaya minimalis modern di kawasan perumahan elit Jakarta. Rumah dua lantai itu tampak begitu megah, namun terasa sangat sepi dan dingin.
Rio pamit membawa mobil kembali setelah menurunkan barang-barang. Kini, hanya tersisa Adrian dan Nayla yang berdiri di area ruang tamu yang berplafon tinggi.
Adrian melepas jas hitamnya, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan santai namun tampak sangat menawan.
"Rumah ini biasanya cuma ada saya dan Asisten Rumah Tangga yang datang tiap pagi untuk bersih-bersih," terang Adrian dengan suara tenang. Tangannya menunjuk ke arah tangga melingkar di tengah ruangan.
"Kamar tidur ada di lantai atas. Yang di sebelah kanan itu kamar saya, dan yang di sebelah kiri adalah kamar kamu."
Nayla mengerjapkan matanya, sedikit terkejut. Kamar terpisah? Namun, jauh di dalam hatinya, rasa lega yang amat sangat menyelimuti dadanya. Ia belum siap untuk berbagi ranjang atau berinteraksi terlalu dekat sebagai pasangan suami istri dengan atasannya sendiri.
"Di rumah ini tidak ada Mama atau Papa," lanjut Adrian seraya menatap Nayla datar. "Kamu bebas melakukan apa saja yang kamu mau di sini tanpa perlu merasa tertekan atau canggung. Anggap saja rumah sendiri."
Nayla mengangguk pelan, menyatukan kedua tangannya di depan tubuh. "Terima kasih banyak... Mas."
Adrian menatap wajah lelah Nayla sejenak, lalu memalingkan pandangannya. "Masuklah ke kamar dan istirahat. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang kerja."
Tanpa menunggu balasan dari Nayla, Adrian membalikkan badan dan melangkah mantap menuju lorong lantai bawah yang menuju ruang kerja pribadinya.
Nayla berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi itu. Ia memeluk tas pakaiannya erat-erat, menatap punggung Adrian yang makin menjauh.
Di malam pertama pernikahan mereka yang begitu dingin dan asing ini, Nayla sadar betul bahwa status baru sebagai Istri CEO hanyalah sebuah gelar tanpa makna, sebuah sangkar emas yang dibangun di atas dasar rasa kasihan dan kewajiban.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️