Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Terakhir
Keputusan Alya untuk tidak langsung melaporkan Vania ke pihak berwajib mengejutkan semua orang, terutama Raka, yang mendengar kabar itu malam harinya dengan campuran rasa tidak percaya dan kekhawatiran mendalam.
"Kau memberinya kesempatan lagi?" tanya Raka, suaranya penuh kekhawatiran, duduk di seberang Alya di ruang keluarga mereka. "Alya, wanita itu sudah dua kali mencoba menghancurkan hidup kita. Bagaimana kau bisa yakin dia tidak akan mengkhianati kepercayaanmu lagi?"
Alya menghela napas panjang, tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar dengan lembut, seolah mencari ketenangan dari gerakan kecil bayi mereka. "Aku tidak sepenuhnya yakin, Raka. Tapi aku melihat sesuatu di matanya hari ini — bukan lagi kelicikan yang dulu aku kenal, melainkan keputusasaan seseorang yang benar-benar kehilangan arah dalam hidupnya."
"Itu tidak membenarkan apa yang sudah dia lakukan," bantah Raka, meski nadanya mulai melunak mendengar penjelasan Alya.
"Aku tahu," jawab Alya lembut. "Dan aku tidak sepenuhnya membebaskannya dari konsekuensi. Aku memberinya syarat yang jelas — dia harus mengembalikan semua data yang dicuri, menghapus semua salinan yang mungkin masih dia simpan, dan bersedia menjalani konseling psikologis yang akan kami fasilitasi melalui yayasan. Jika dia melanggar satu saja dari syarat itu, aku akan langsung melaporkannya ke pihak berwajib tanpa ampun."
Raka menatap istrinya lama, kekaguman dan kekhawatiran bercampur di matanya. "Kenapa kau melakukan ini, Alya? Setelah semua yang sudah dia lakukan padamu?"
Alya terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan malam kota yang tenang. "Karena aku sudah cukup lama hidup dalam siklus balas dendam dan kemarahan, Raka. Sejak hari aku dipecat, sejak Om Wisnu, sejak semua kekacauan yang kita lalui. Aku lelah, dan aku tidak ingin anak kita lahir ke dalam dunia yang masih dipenuhi dendam yang tidak pernah selesai."
Kata-kata itu menyentuh sesuatu yang dalam di hati Raka. Dia menggenggam tangan Alya erat, mengecup keningnya lembut. "Kau selalu punya cara untuk melihat kebaikan bahkan di tengah kegelapan paling pekat sekalipun. Itu salah satu alasan aku begitu mencintaimu."
Keesokan harinya, Vania kembali ke ruang kerja Alya, kali ini membawa flashdisk yang berisi seluruh data yang dia curi, menyerahkannya dengan tangan gemetar. "Aku sudah menghapus semua salinan yang aku buat," katanya pelan. "Ini yang asli, sudah aku pastikan tidak ada cadangan lain."
Alya memeriksa flashdisk itu bersama tim IT-nya untuk memastikan kejujuran Vania, dan setelah verifikasi menyeluruh, memang tidak ditemukan jejak salinan lain yang tersembunyi.
"Aku juga sudah menghubungi jurnalis yang dulu membantu menyebarkan fitnah tentangmu," lanjut Vania, suaranya penuh penyesalan. "Aku meminta maaf secara terbuka padanya, dan memintanya untuk tidak pernah lagi mempercayai informasi apa pun dariku di masa depan."
Alya mengangguk, menghargai langkah nyata yang sudah diambil Vania. "Aku sudah mengatur jadwal konseling pertamamu minggu depan, dengan psikolog yang bekerja sama dengan yayasan kami. Aku harap kau bersedia menjalaninya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar formalitas."
"Aku akan menjalaninya," jawab Vania tegas, matanya menatap Alya dengan sorot yang berbeda dari sebelumnya bukan lagi kebencian atau kelicikan, melainkan sesuatu yang terlihat seperti awal dari penyesalan yang sesungguhnya. "Dan Alya... terima kasih. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan ini darimu, tapi aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya."
Setelah Vania pergi, Alya duduk sendirian di ruang kerjanya, merenungkan keputusan besar yang baru saja dia ambil. Dia tahu risikonya masih ada kepercayaan yang dia berikan bisa saja dikhianati lagi. Tapi ada kelegaan mendalam yang dia rasakan, seolah dia baru saja melepaskan beban dendam yang selama ini tanpa sadar dia pikul.
Sore harinya, saat pemeriksaan rutin kehamilannya di klinik, dokter kandungan yang menanganinya menunjukkan hasil USG terbaru dengan senyum hangat. "Perkembangan bayi Anda sangat baik, Dokter Alya. Detak jantungnya kuat dan teratur."
Alya menatap layar USG itu dengan mata berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan yang begitu murni menyaksikan gerakan kecil calon buah hatinya. Raka, yang mendampinginya, menggenggam tangannya erat, air mata haru juga menggenang di matanya.
"Dia akan tumbuh di dunia yang jauh lebih baik dari yang pernah kita bayangkan," bisik Raka pelan, menatap layar USG itu dengan penuh cinta.
Alya mengangguk, tersenyum penuh syukur. Setelah semua badai yang mereka lalui pengkhianatan, konspirasi, dendam yang berkepanjangan akhirnya mereka sampai pada titik kedamaian yang begitu pantas mereka dapatkan, siap menyambut babak baru kehidupan mereka sebagai sebuah keluarga yang utuh.