Indonesia
NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan Kebenaran x K3

   Bagi mahasiswa normal, kehidupan paska-Drop Out biasanya diisi dengan fase depresi, rebahan di kasur sambil menatap langit-langit kamar, atau minimal mengurung diri meratapi nasib. Namun bagi Reza Adhitama, kata 'rebahan' telah resmi dihapus dari Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Poltak Hasibuan.

Sejak Reza menandatangani komitmen untuk menjadi TKI di Guangzhou, jadwal hidupnya berubah dari rutinitas mahasiswa yang sibuk menjadi jadwal latihan militer Spartan yang disutradarai oleh seorang pemuda Batak hiperaktif.

Pukul 04.30 pagi, di saat embun Depok masih malas turun ke bumi, kosan Kutek sudah diwarnai oleh suara panci yang dipukul menggunakan sendok sayur.

"BANGUN! PASUKAN TEMBOK CINA, BANGUN!" teriak Poltak dari ambang pintu kamar Reza, memukul panci aluminium dengan ritme dangdut koplo.

Reza, yang baru tidur tiga jam setelah shift malam di Warkop Berkah, mengerang dari balik selimut tipisnya. "Tak... ayam bapak kos aja belum melek, Tak. Lima menit lagi..."

"Nggak ada lima menit! Musuh tidak akan menunggu kau cuci muka!" Poltak menarik kaki Reza hingga pemuda kurus itu merosot dari kasur busanya dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan. "Sarapan proteinmu sudah siap! Tiga telur rebus utuh, segelas susu, dan pisang ambon! Kunyah sekarang, lalu kita lari keliling danau!"

Reza menguap lebar, matanya masih setengah tertutup saat ia mengunyah telur rebus yang rasanya makin hari makin mirip karet penghapus. Setelah sarapan paksa itu, siksaan fisik dimulai. Dari lari keliling Danau Kenanga, push-up di pinggir jalan, hingga mengangkat galon air isi ulang di teras kosan.

Siang harinya, Reza harus mandi cepat dan melesat ke kantor Dinas Tenaga Kerja untuk mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Di sana, ia diajarkan dasar-dasar keselamatan kerja, pengenalan alat, hingga budaya kerja di luar negeri. Sore harinya ia pulang, dan malamnya langsung berganti kostum memakai celemek Warkop Berkah, meracik mi instan sambil bibirnya terus merapal Pinyin Mandarin.

Siklus gila ini berputar tanpa henti, dan akan terus berlanjut selama tiga bulan ke depan. Otot-otot di tubuh Reza mulai menjerit. Setiap kali ia mengangkat tangannya, rasanya seperti ada ratusan jarum yang menusuk dari dalam kulitnya. Namun, ajaibnya, di bawah bimbingan keras Poltak, bahu Reza perlahan mulai sedikit melebar. Kaos oblongnya tidak lagi terlihat seperti bendera yang berkibar di tiang jemuran.

   Sementara Reza berjuang melawan rasa pegal di sekujur tubuhnya, di ruang rawat inap Rumah Sakit Bunda, atmosfer terasa sangat kaku dan menegangkan.

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Detektif Budi. Setelah berhari-hari menunggu rekomendasi medis, psikiater yang menangani Dini akhirnya memberikan lampu hijau untuk sesi wawancara.

Dini duduk bersandar di ranjang, mengenakan piyama rumah sakit bermotif bunga kecil. Wajahnya sudah jauh lebih segar, meski matanya masih menyimpan gurat ketakutan yang mendalam. Di sisinya, Siska dan Maya duduk sambil menggenggam tangan Dini erat-erat, bertindak sebagai support system. Di ujung ranjang, sang psikiater, Dokter Hanif, duduk bersedekap, siap menghentikan sesi kapan pun jika trauma Dini kembali terpicu.

Detektif Budi dan rekannya duduk di kursi yang ditarik mendekat ke sisi ranjang. Budi tersenyum ramah, berusaha membuat suasana senyaman mungkin.

"Selamat pagi, Dini. Saya Budi, dan ini rekan saya, Anton. Kami dari kepolisian," sapa Detektif Budi dengan suara lembut. "Kami sangat bersyukur melihat keadaanmu membaik. Hari ini, kami ingin bertanya sedikit tentang kejadian hari itu. Pelan-pelan saja. Kalau kamu merasa tidak sanggup, kita bisa berhenti kapan pun."

1
Siti Musyarofah
ee bersambung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!