Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Ujung pedang hijau itu berdesing membelah udara, menyisakan jarak setengah ruas jari dari kulit leher Gu Ran. Hawa logam yang sedingin es sudah terasa menyengat pori-pori kulitnya.

Di saat genting itu, sebuah gelegar dahsyat meledak dari tebing belakang sekte.

Suara gemuruh itu menghantam lereng Puncak Pedang Utama bagai longsoran gunung batu. Pijakan pelataran batu putih bergetar keras, meretakkan ubin-ubin kapur di sekeliling tiang kayu hitam.

Gerbang batu setebal sepuluh depa di Gua Larangan Tebing Hitam hancur berkeping-keping. Bongkahan batu basalt raksasa terlempar ke udara, berhamburan menembus kabut tebing bersama raungan murka yang memekakkan telinga.

“Hentikaaaannn—!”

Teriakan itu melesat melintasi jarak tiga puluh li, membawa getaran tenaga dalam yang membuat gendang telinga ratusan murid dalam berdenging ngilu.

Gerakan tangan Song Ming terhenti kaku di udara. Terpaan angin kencang mendadak menerjang dari arah puncak tebing, meredam ayunan Pedang Hujan Hijau hingga bilahnya bergetar hebat di depan jakun Gu Ran.

“Suara apa itu?!” Mandor Wu terhuyung mundur tiga langkah, cengkeraman tangannya pada cambuk tembaga mengendur drastis.

Ratusan murid dalam seketika menoleh ke arah tebing belakang dengan wajah pias.

Di langit lereng gunung, sesosok bayangan abu-abu melesat bagai anak panah yang lepas dari busur. Kecepatannya membelah udara hingga menciptakan deru ledakan yang merontokkan ranting-ranting pohon pinus di sepanjang tebing.

Song Ming mengerutkan kening dengan napas tertahan. Ia mengira ada pendekar luar sekte yang nekat melintasi formasi pelindung puncak.

Namun sebelum pemuda itu sempat menarik kembali pedangnya untuk bersiap siaga, bayangan kelabu itu sudah menghantam tanah pelataran dengan dentuman memekakkan telinga.

Debu kapur putih meledak ke udara setinggi lima tombak.

Dari balik kepulan debu yang pekat, tampak seorang lelaki tua dengan jubah abu-abu petapa yang robek compang-camping. Janggut putih panjangnya berlumuran cairan merah kehitaman yang masih mengepul hangat.

Bahu kiri lelaki tua itu terkoyak mengerikan. Daging dan urat belikatnya terbelah hingga memperlihatkan serpihan tulang putih, terus mengucurkan darah segar yang membasahi lantai batu di bawah kakinya.

Song Ming menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok yang baru mendarat di depannya. Saat melihat wajah keriput yang penuh urat darah menegang dan mahkota rambut perak kuno, kedua lutut sang Tuan Muda mendadak lemas.

“K-kakek Buyut…?” Suara Song Ming tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di balik desau angin. “Kenapa Anda keluar dari pertapaan…”

Ucapan itu tidak pernah selesai.

Sepasang mata Song Pojun yang memerah liar menatap bilah pedang hijau di tangan cicitnya—bilah yang masih terarah lurus ke leher Gu Ran.

“Cucu keparat pembawa sial!” raung Song Pojun dengan urat leher yang mencuat keluar.

Leluhur berusia tujuh ratus tahun itu tidak menghunus pedang. Ia tidak menggunakan senjata pusaka.

Kaki kanannya berputar cepat, menghantam udara dengan pusaran angin badai yang meretakkan lantai pelataran. Sebelum Song Ming sempat berkedip, tumit kaki sang Leluhur sudah mendarat telak di tengah dada cicit kandungnya sendiri.

BUMMM!

Hantaman itu berbunyi seperti balok kayu raksasa yang menghantam lonceng tembaga.

Pelindung Qi di tubuh Song Ming hancur berkeping-keping dalam sekejap mata. Tiga tulang rusuk di dadanya berderak patah saat tubuh pemuda berjubah sutra zamrud itu terlontar ke belakang dengan kecepatan mengerikan.

Tubuh Song Ming melayang sejauh lima puluh meter melintasi pelataran batu putih. Lintasan terbangnya menyapu barisan murid dalam yang berdiri panik, sebelum akhirnya menghantam pilar batu arena dengan benturan keras.

Pilar batu berdiameter dua depa itu retak seribu. Tubuh Song Ming merosot ke tanah berdebu di dasar pilar, memuntahkan darah segar dari mulutnya sebelum terkapar tak bergerak dengan mahkota giok yang hancur berkeping-keping.

Pedang Hujan Hijau miliknya berdenting nyaring, jatuh berputar-putar dan menancap miring di celah ubin kapur.

Seluruh pelataran batu putih seketika tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.

Mandor Wu berdiri mematung dengan mulut menganga lebar, cambuk kulitnya terjatuh begitu saja ke tanah tanpa ia sadari. Ratusan murid dalam membeku di tempat masing-masing, tak berani menarik napas sekalipun.

Tuan Muda Sekte Pedang Langit, putra tunggal sang Patriark, baru saja ditendang hingga sekarat oleh leluhur tertingginya sendiri.

Song Pojun sama sekali tidak melirik ke arah tumpukan puing tempat cicitnya terkapar.

Napas orang tua itu tersengal berat. Darah hitam terus menetes dari sudut bibirnya, sementara luka koyak sepuluh inci di bahu kirinya berdenyut dengan rasa sakit yang mengoyak batin. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca tajam.

Dengan langkah terhuyung-huyung, sang Leluhur berbalik menghadap tiang kayu hitam.

Matanya yang liar menatap sosok pemuda kurus berambut putih yang masih terikat erat dengan tali rami kasar. Di bahu kiri pemuda itu, darah segar masih merembes dari luka sayatan sedalam dua inci.

BRUK!

Tanpa memedulikan wibawa pendekar tertinggi atau tatapan ratusan murid yang membelalak ngeri, Song Pojun menjatuhkan kedua lututnya ke tanah berdebu.

Leluhur agung Sekte Pedang Langit itu merayap maju dengan tangan gemetar. Jari-jarinya yang berlumuran darah mencengkeram erat pergelangan kaki Gu Ran yang beralaskan sandal jerami terkoyak.

“Jangan mati… Kakek tua ini mohon, jangan mati dulu…” Suara Song Pojun parau dan serak, bergetar hebat seperti anak kecil yang ketakutan di tengah badai. “Adik kecil… tuan muda yang baik… tarik napasmu pelan-pelan…”

Gu Ran menundukkan kepalanya perlahan. Rambut putihnya yang kotor tersingkap sedikit, memperlihatkan sepasang mata kelabu yang sayu dan letih.

Ia menguap pelan tanpa menutup mulut, lalu melirik ke bawah dengan tatapan malas.

“Orang tua,” kata Gu Ran dengan suara serak kering. “Lepaskan dulu kakiku. Taliku masih terikat kencang di tiang.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!