Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDANG PERTAMA IBU TIRI
"Mama!" seru Riko berlari mengadu ke ibunya yang tiba dengan langkah tergopoh-gopoh di lobi utama.
Bu Lita, ibunya Riko adalah salah satu dari kumpulan para ibu yang tadinya nongkrong di cafe depan sekolah, sehingga saat kepala sekolah menghubunginya, ia bisa segera tiba.
Bu Lita berjongkok di depan Riko, alisnya bertaut tapi sorot matanya tajam. Ia mengusap wajah putranya, lalu memeriksa seluruh badannya dengan gemetar, marah bercampur khawatir. "Ada apa, Sayang? Siapa yang nakalin kamu?" tanyanya.
"E... Permisi, Bu... bisa kita bicarakan di dalam, di ruangan saya?" sela Bu Tutik dengan maksud agar tak terjadi keributan lain.
"Pasti si anak tanpa ibu itu ya, Riko? Cuma dia anak bermasalah di sekolah ini!" seru Bu Meri, salah satu wali yang tadi nongkrong bersama Bu Lita.
"Iya, Tante, sakit banget! Hu...hu...." Tangis Riko kembali pecah.
"Dimana anak itu!" Bu Lita sontak bangkit dengan amarah yang semakin meluap.
"Sebentar, Bu. Kita bicarakan baik-baik dulu di kantor, mohon hormati aturan sekolah," ucap Bu Tutik berusaha meredam kekacauan.
Tapi Bu Lita tak menggubrisnya. "Nggak bisa, Bu! Anak nakal itu harus di beri pelajaran!" sahutnya melongok ke sekitar. "Dia dimana, kamu tahu anak nakal itu dimana, Riko?!" bentaknya pada putranya sendiri.
"Dia di UKS!" ujar Riko merasa menang karena ada ibu yang akan membelanya.
Langkah Bu Lita tak bisa dihentikan, bahkan Bu Tutik dan dua staf lainnya pun tak berhasil menghadangnya. "Kalian minggir atau aku panggil polisi! Sekolah macam apa ini, nggak becus menjaga ketenangan siswanya, nggak bisa menjaga keamanan dan kenyamanan anak kami!"
"Tolong pertimbangkan lagi ucapan Anda, Bu. Pasti ada penyebabnya sampai mereka bertengkar." Bu Tutik masih berusaha mencegah kemarahan Bu Lita.
Tapi Bu Lita sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahnya. "Kalian jangan lupa, suami saya adalah anggota dewan, sangat mudah bagi kami untuk membuat sekolah ini tutup!" ancamnya.
BRAK!!
Pintu UKS terbuka dengan keras menghantam dinding.
"Dasar anak setan!"
Sutami berdiri cepat. Jantungnya serasa ingin melompat karena terkejut. Ia menoleh pada seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan wajah masam penuh amarah.
Bu Lita dengan dandanan rapi, menenteng sebuah tas branded, melotot tajam ke arah Sutami. Menyusul dibelakang Bu Lita, seorang satpam, Bu Tutik, dan dua staf TU serta beberapa wali murid yang menjadi anggota geng-nya Bu Lita.
Dara langsung gemetar. Ia memeluk erat lengan Sutami dan menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Sutami.
"Bu Lita, tolong jaga ucapan Anda," tegur Bu Tuti cepat. "Ini sekolah."
Bu Lita tak menghiraukannya , ia melangkah cepat, lalu berdiri tepat di depan Sutami, menatap Sutami dari atas sampai bawah dengan sinis dan jijik. "Jadi ini ibu tiri nya? Pantes!" sinisnya. "Kamu guru TK yang isinya anak-anak orang miskin itu kan? Pantesan anak kurang ajar itu kelakuannya makin kayak setan! Yang didik orang kampungan sih!"
Wajah Sutami terasa memanas karena rasa malu, kaget, dan marah bercampur. Ia tidak menyangka akan dihajar secara pribadi seperti ini. Apalagi di depan Dara, Kepala sekolah, dan beberapa wali murid.
"Bu, mohon tenang dulu. Kita selesaikan baik-baik," kata Sutami pelan, suaranya berusaha tidak gemetar, tetap melindungi Dara di belakangnya.
"Tenang?! Anak saya lebam-lebam dipukuli anakmu!" Bu Lita menunjuk ke arah Dara. "Harusnya kalian yang keluar dari sekolah ini! Anak bebal gitu kok dibiarin liar!"
"Diam!"
Suara berat itu memotong, membuat semua menoleh ke arah pintu. Waluyo sudah berdiri dengan napas yang masih memburu. Jelas dia datang tergesa setelah ditelepon kepala sekolah.
Sutami menggigit bibir bawahnya, merasa tak berdaya, merasa bersalah, merasa tak becus, meski ada setitik lega di sudut hatinya.
"Yang setan itu, adalah orang tua yang tetap membela anaknya meskipun sudah jelas anaknya suka membully teman-temannya," kata Waluyo dingin. Suaranya rendah tapi terdengar menusuk.
Ia berjalan masuk dan berdiri sejajar dengan Sutami. Tangannya langsung terulur, menggenggam tangan Dara yang masih memegangi Sutami. "Dara, sini sama Ayah."
Dara menurut, ia pun memeluk kaki Waluyo.
Waluyo lalu menatap Bu Lita lurus dan tajam. "Anak saya salah karena memukul. Dan kami akan minta maaf serta bertanggung jawab. Tapi anak ibu juga salah karena mengejek 'anak yatim' dan 'ibu penyihir'. Itu perundungan, Bu. Bukti ada di CCTV kelas!"
Bu Lita terdiam dengan wajah yang merah padam.
Bu Tuti pun maju menengahi. "Sudah, sudah. Mari kita ke ruang saya. Kita selesaikan secara kekeluargaan dan sesuai aturan sekolah."
Waluyo mengangguk sekali. Sebelum pergi ia sempat melirik Sutami sekilas, tapi tatapannya kosong, bukan marah tapi juga bukan sedang membela dirinya.
.......
Di ruang kepala sekolah, satu sisi meja duduk Bu Lita dan Riko yang sudah diobati. Di sisi lain, Waluyo, Sutami, dan Dara. Dara duduk diapit Waluyo dan Sutami, kepalanya menunduk, meski sesekali masih berani menatap tajam pada Riko, seolah sebagai peringatan, 'jika kau berani mengejekku lagi, akan kupukul lebih keras!'
Bu Tuti duduk di tengah, dan Bu Sinta dan dua staf lain mendampingi di samping beliau.
"Baik," buka Bu Tuti tegas. "Kita selesaikan dengan kepala dingin. Yang terjadi hari ini adalah perundungan verbal dari pihak Riko, dan respon fisik dari pihak Dara. Keduanya salah."
Bu Lita langsung menyela. "Tapi yang mukul duluan anak itu Bu! Lihat ini!" Ia menunjuk lengan Riko. "Ini bisa saya laporkan ke polisi lho!"
Sutami meremas tali tasnya semakin erat. Biasanya ia duduk di posisi Bu Sinta atau dua staf lainnya. Tapi hari ini, ia duduk di sisi berbeda, dengan status tersangka, dengan gelar 'ibu tiri', jelas itu tak mudah baginya.
Waluyo belum bicara. Ia hanya mengelus punggung Dara pelan, seolah ingin mengatakan, 'Tenang, Nak. Ada ayah yang akan melindungimu!'
"Bu Lita," potong Bu Tuti. "Di sini ada bukti dari rekaman CCTV di lorong atas yang kebetulan mengarah ke dalam kelas. Jelas sekali menunjukkan bahwa Riko dan 2 temannya mengejek Dara dengan kata yang tak pantas, itu termasuk bullying."
Bu Lita terdiam lagi tapi rahangnya mengeras.
Bu Tuti melanjutkan, "Prosedur sekolah mengharuskan kedua anak saling minta maaf. Riko minta maaf karena mengejek, dan Dara minta maaf karena memukul. Kedua orang tua menandatangani surat pernyataan dan wajib ikut konseling dengan psikolog sekolah selama 1 bulan, kedua anak didampingi kedua orang tua,' tegas Bu Tutik.
"Saya setuju." Waluyo akhirnya angkat bicara. Ia membungkuk menatap Dara, lalu menepuk kedua tangan putrinya itu. "Dara, minta maaf ke Riko sekarang."
Dara tampak ragu, lalu menoleh ke Sutami seolah meminta pendapat. Sutami tersenyum teduh lalu memberi anggukan.
Dara berdiri. "Ma... maaf Riko."
Riko masih cemberut, tapi takut-takut untuk mendongak. Bu Lita menyikutnya.
"Maaf juga Dara...." ucap Riko kemudian.
Bu Tuti mengangguk. "Bagus. Sekarang bersalaman ya, terus saling berjanji akan berteman baik."
Urusan dua bocah sudah selesai. Bu Tutik mengambil dua lembar surat yang sudah disiapkan Bu Sinta, lalu meletakkannya di atas meja diantara para orang tua. "Kita bikin surat perjanjian untuk orang tua agar lebih memperhatikan sikap putra dan putrinya. Di sekolah, tanggung jawab mendidik ada ditangan kami, tapi pendidikan mendasar tentang sikap dan perilaku, lebih banyak harus dimulai di rumah, begitu ya, Bapak-Ibu?"
Waluyo mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangan tanpa ragu.
"Karena sudah hadir, maka Bu Sutami juga perlu mengisi tanda tangan di kolom wali Pendamping," terang Bu Tutik, saat melihat Sutami tampak ragu membaca lembaran yang di sodorkan Waluyo padanya.
Sutami mengangguk, meraih bolpoin dari tangan Waluyo, jari mereka sempat bersentuhan, namun Waluyo menarik tangannya cepat.
Sutami agak terkejut, entah kenapa kepalanya mendadak seperti kosong. 'Konseling sebulan....' Sutami menghela napas. 'Baiklah... Aku harus melakukan ini, kenapa masih saja ragu, Tami!'
Tanda tangan pun selesai dilakukan oleh dua belah pihak yang bertikai. Tapi Bu Lita seolah masih enggan untuk bersalaman. Ia berdiri dengan kesal. "Hmph. Awasi anak Anda baik-baik, Pak. Kalau terulang, saya pastikan suami saya akan membuat usaha Anda gulung tikar!" gertaknya lalu menarik tangan Riko. "Permisi, Bu Tutik, kami pamit." Bu Lita keluar bersama Riko dengan membanting pintu.
Sejenak suasana hening.
"Bu Sutami," kata Bu Tutik kemudian. "Saya paham posisi Ibu. Tapi untuk hal besar seperti ini, kami tetap butuh ayah kandung hadir. Jadi kami tak sempat memberitahu kalau kami juga menghubungi Pak Waluyo. Kami sangat berterimakasih, ibu sudah menenangkan Dara."
Sutami hanya mengangguk dengan senyuman. Ia tak tahu harus bagaimana merespon.
Waluyo berdiri. "Terima kasih, Bu Tutik dan seluruh pihak sekolah. Kami minta maaf sudah menyebabkan keributan, selanjutnya kami pamit."
........
Di tempat lain, Kirana menatap layar ponsel dengan wajah masam. "Sialan! Si babu kloning ngelunjak!"
...----------------...
Bersambung....
rasain tuh 😏