Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam dan Pakaian Murah
Seminggu berlalu dengan sangat cepat bagaikan gulungan ombak di laut. Hari-hari di rumah tua keluarga Wibowo berjalan dengan pola yang unik namun tenang. Setiap pagi tepat pukul tujuh, Maya sudah bangun dan menemukan meja makan di dapur telah diisi oleh sarapan sederhana namun lezat yang disiapkan oleh Arka.
Maya menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di dalam ruang kerja, membedah setiap lembar berkas laporan keuangan perusahaan yang berhasil ia selamatkan. Sementara itu, Arka selalu pamit keluar rumah setiap pukul sembilan pagi dengan menunggangi motor bebek tuanya. Di mata Maya, suaminya itu pergi untuk mencari pekerjaan serabutan atau menjadi montir panggilan. Padahal kenyataannya, motor bebek itu hanya dikendarai sampai ke sebuah area parkir tersembunyi di sudut kota, sebelum Arka berpindah ke dalam mobil sedan mewah beratap kedap suara untuk memimpin rapat direksi Nusantara Group dari balik layar.
Hari yang paling dikhawatirkan oleh Maya akhirnya tiba. Malam ini adalah jadwal pelaksanaan acara makan malam tahunan sekaligus Rapat Umum Pemegang Saham Wibowo Group yang digelar di ballroom utama hotel paling megah di pusat kota.
Suara ketukan pelan di pintu kamar tamu lantai bawah memecah kesunyian rumah.
"Arka, kamu sudah selesai bersiap-siap?" tanya Maya dari luar pintu. Suaranya terdengar sedikit tegang.
Pintu kayu tersebut terbuka perlahan. Arka melangkah keluar dari dalam kamar.
Pria itu mengenakan kemeja kain hitam polos lengan panjang yang dikancing rapi hingga ke kerah, dipadukan dengan celana kain hitam sederhana. Tidak ada dasi bermerek, tidak ada jam tangan mewah berlapis emas, dan tidak ada aksesori mahal yang menempel di tubuhnya. Rambut hitam tebalnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan sepasang mata gelapnya yang tajam.
Walaupun pakaian yang dikenakan Arka sangat biasa dan terkesan murah, postur tubuhnya yang tegap menjulang serta aura ketenangan yang terpancar dari dirinya justru membuat kemeja hitam polos itu terlihat seperti pakaian pesanan khusus dari perancang papan atas.
Maya sempat terpaku selama beberapa detik, mengamati suaminya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada getaran aneh yang mendadak muncul di dadanya saat melihat ketampanan alami pria di hadapannya ini.
"Kenapa?" tanya Arka sambil memperhatikan penampilannya sendiri. "Ada yang aneh dengan pakaianku?"
Maya tersentak dari lamunannya, menggelengkan kepala dengan cepat untuk menyembunyikan rasa canggung. Ia merogoh sebuah kotak hadiah persegi panjang berwarna biru gelap dari belakang tubuhnya dan menyodorkannya pada Arka.
"Ini buat kamu," kata Maya pelan.
Arka menerima kotak tersebut dengan alis terangkat. "Apa ini?"
"Aku sempat mampir ke pusat perbelanjaan kemarin sore," jelas Maya sambil menatap ke arah lain, merapikan gaunnya. "Aku tahu kamu belum punya jas formal untuk acara besar seperti malam ini. Jas di dalam kotak itu mungkin bukan buatan desainer ternama seperti yang biasa dipakai oleh Rian atau para pengusaha lain, tapi bahannya cukup bagus dan halus. Setidaknya kamu tidak akan kedinginan dan terlihat rapi di depan para komisaris."
Arka membuka tutup kotak hadiah tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah jas formal berwarna abu-abu gelap yang terlipat rapi. Rasa hangat yang begitu pekat kembali menjalar di dalam dada Arka. Wanita ini sedang berada dalam himpitan krisis keuangan dan terancam kehilangan seluruh asetnya, tetapi masih sempat memikirkan penampilan dan kenyamanan suaminya.
"Terima kasih, Maya," ucap Arka dengan suara berat yang teramat tulus. Ia menatap lurus ke dalam mata Maya. "Kamu juga terlihat sangat anggun dan cantik malam ini."
Pipi Maya seketika memerah tipis. Malam ini ia mengenakan gaun malam berpotongan lurus berwarna merah hati peninggalan almarhum ibunya. Gaun itu tidak memiliki taburan berlian yang mencolok, namun jahitan klasiknya melekat sempurna di tubuh Maya yang ramping, memancarkan pesona keanggunan seorang putri bangsawan bisnis yang sejati.
"A-aku tunggu di depan," kata Maya gugup, segera berbalik badan dan melangkah cepat menuju pintu keluar untuk menutupi rona merah di wajahnya.
Arka mengulas senyum tipis di bibirnya, lalu mengenakan jas pemberian Maya tersebut. Ukurannya sangat pas di bahunya yang lebar. Bagi seorang pria yang memiliki koleksi jas berharga ratusan juta rupiah di lemarinya, jas sederhana pemberian Maya ini terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia miliki.
Pukul delapan malam.
Deretan mobil mewah dari berbagai merek ternama tampak mengantre panjang di area drop off depan pintu masuk hotel megah di pusat kota. Para tamu yang terdiri dari jajaran komisaris, pengusaha properti, hingga pejabat tinggi kota melangkah keluar mengenakan pakaian terbaik mereka, disambut oleh karpet merah dan kilatan lampu kamera wartawan media bisnis.
Sebuah taksi berwarna biru berhenti di barisan paling belakang area kedatangan. Arka melangkah keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Maya turun.
Kehadiran mereka yang datang menggunakan taksi di tengah deretan mobil mewah langsung menarik perhatian beberapa tamu undangan di sekitar area pintu masuk. Bisik-bisik bernada sinis mulai terdengar samar di antara kerumunan.
Maya menarik napas panjang, mencoba menguatkan mentalnya. Ia menyangkutkan jemarinya di lipatan siku lengan Arka. Sentuhan jemari Maya yang dingin membuat Arka menoleh, lalu Arka mengusap punggung tangan istrinya itu dengan lembut untuk memberikan ketenangan.
"Ingat," bisik Arka tepat di samping telinga Maya. "Kamu adalah pemilik sah darah keluarga Wibowo. Jangan pernah menundukkan kepalamu di depan siapa pun di ruangan ini."
Maya menatap mata Arka yang tenang, lalu mengangguk mantap. Bersama-sama, mereka melangkah masuk melewati pintu kaca raksasa menuju ballroom utama di lantai tiga.
Suara alunan musik klasik yang dimainkan oleh grup orchestra memadati udara ruangan ballroom yang sangat luas. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya keemasan yang menimpa meja-meja banquet penuh sajian hidangan mewah. Ratusan tamu tampak berdiri mengobrol sambil memegang gelas anggur kristal.
Namun, begitu Maya dan Arka melangkah masuk ke tengah ruangan, suasana di sekitar area pintu mendadak berubah.
Pak Gunawan yang sedang berdiri mengobrol bersama beberapa investor utama Wibowo Group memutar tubuhnya. Di sampingnya, Sisca tampak mempesona dengan gaun malam terbuka berwarna emas, sementara Rian berdiri tegap di sisi lain mengenakan jas hitam pesanan khusus dari desainer Italia yang sangat mahal.
Mata Pak Gunawan berkilat penuh kemarahan sekaligus kepuasan culas saat melihat keponakannya benar-benar datang membawa suami serabutannya.
"Wah, wah! Lihat siapa yang akhirnya berani menampakkan kakinya di sini!" suara Pak Gunawan sengaja dikencangkan, memotong alunan musik dan menarik perhatian puluhan pengusaha di sekitar mereka.
Pak Gunawan memimpin Sisca dan Rian berjalan menghampiri Maya dan Arka, menghentikan langkah pasangan itu tepat di tengah-tengah jalur utama ballroom.
Sisca tertawa kecil, menutup mulutnya dengan kipas bulu yang ia pegang sambil mengamati jas abu-abu yang dikenakan Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aduh, Maya!" ejek Sisca dengan nada suara yang melengking kencang. "Jas suamimu itu beli di toko diskonan mana? Lihat potongan kainnya, kelihatan murah sekali! Jangan-jangan jas itu dibeli dari hasil mengumpulkan uang lembur seratus lima puluh ribu rupiah tiap hari?"
Beberapa pengusaha wanita di sekitar Sisca ikut tertawa kecil, melemparkan pandangan meremehkan ke arah Arka.
Rian menyilangkan kedua tangannya di dada, membusungkan dadanya dengan bangga sambil memamerkan jam tangan berlapis berlian di pergelangan tangannya.
"Maya, harusnya kamu sadar diri," kata Rian dengan raut wajah penuh penghinaan. "Acara makan malam ini adalah wadah untuk para pebisnis kelas atas dan pemilik modal besar. Membawa seorang kuli bengkel berkaus oblong yang dipaksakan memakai jas murah ke tempat seperti ini cuma bikin malu nama besar almarhum ayahmu!"
Pipi Maya memerah karena amarah yang memuncak. Ia mempererat cengkeramannya di lengan Arka, melangkah satu titik ke depan.
"Tutup mulutmu, Rian!" bentak Maya tegas, suaranya lantang tanpa rasa gentar sedikit pun. "Arka adalah suamiku yang sah secara hukum! Kedatangan kami ke sini untuk mewakili hak kepemilikan saham penuh atas nama almarhum ayahku!"
"Hak saham?" Pak Gunawan tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di sudut ruangan. "Keponakanku yang malang! Saham sepuluh persen peninggalan ayahmu itu sudah tidak ada artinya lagi! Malam ini, di hadapan seluruh Dewan Komisaris dan media, aku akan mengumumkan suntikan modal baru dari investor luar yang akan memangkas seluruh hak suaramu di Wibowo Group!"
Pak Gunawan melangkah mendekati Arka, lalu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan dada Arka.
"Dan kamu, anak muda!" bentak Pak Gunawan penuh ancaman. "Kalau kamu masih punya sedikit rasa malu sebagai laki-laki, lebih baik kamu lepaskan jas murahmu itu, pergi ke dapur belakang, dan bantu para pelayan mencuci piring! Tempatmu bukan di sini!"
Ruangan ballroom mendadak riuh oleh bisik-bisik ejekan dari para tamu undangan. Beberapa kamera wartawan mulai mengarahkan lensa mereka ke arah Arka dan Maya, siap mengabadikan momen kejatuhan putri tunggal keluarga Wibowo tersebut.
Namun, di tengah-tengah gelombang penghinaan itu, Arka sama sekali tidak menunjukkan rasa panik atau amarah. Pria itu hanya berdiri tegap dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, menatap Pak Gunawan dengan pandangan mata yang teramat dingin dan tajam seperti seorang raja yang sedang memperhatikan kelakuan seekor badut di istananya.
Tiba-tiba, sebelum Pak Gunawan sempat melanjutkan hinaannya, pintu ganda ballroom di bagian depan terbuka lebar secara mendadak dengan benturan yang nyaring.
Brak!
Suara musik orchestra terhenti seketika. Ratusan tamu undangan memutar tubuh mereka ke arah pintu masuk dengan raut wajah kaget.
Dua baris pengawal berbadan tegap yang mengenakan jas hitam resmi berlogo naga emas melangkah masuk terlebih dahulu, secara sigap membuat barikade pengamanan di sepanjang karpet merah. Di belakang mereka, Pak Wijaya, Asisten Utama Nusantara Group berjalan dengan langkah tegap dan sangat cepat, memegang sebuah map dokumen tebal bersampul kulit hitam dengan segel emas di tangannya.
Seluruh ruangan ballroom mendadak hening bak kuburan. Para pengusaha besar yang hadir di ruangan itu menahan napas mereka.
Pak Gunawan yang melihat kedatangan tangan kanan pimpinan konsorsium terbesar di kota ini langsung mengubah raut wajahnya secara instan. Matanya berbinar penuh keserakahan. Ia melepaskan perhatiannya dari Arka dan berjalan terburu-buru menyambut Pak Wijaya dengan senyum paling manis yang bisa ia buat.
"Pak Wijaya! Selamat datang di acara kami!" seru Pak Gunawan sambil membungkukkan badannya secara hormat di depan karpet merah. "Suatu kehormatan yang luar biasa! Apakah Anda datang membawa surat keputusan dari Bapak CEO Nusantara Group untuk memberikan suntikan investasi kepada Wibowo Group di bawah kepemimpinan saya?!"
Sisca dan Rian ikut merapikan pakaian mereka, berdiri di belakang Pak Gunawan dengan wajah penuh rasa bangga, bersiap untuk ikut menyapa petinggi perusahaan paling berpengaruh di kota tersebut.
Namun, Pak Wijaya bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Pak Gunawan yang sedang membungkuk di sampingnya, melangkah melewatinya begitu saja seolah-olah pria tua itu hanyalah udara kosong.
Pak Gunawan mematung di tempatnya, senyumnya membeku seketika.
Pak Wijaya terus berjalan tegap melintasi karpet merah, membelah kerumunan tamu undangan yang terpana, hingga akhirnya menghentikan langkahnya tepat di hadapan Maya dan Arka.
Dengan raut wajah yang sangat serius dan penuh rasa hormat, Pak Wijaya membungkukkan badannya empat puluh lima derajat ke arah Maya, lalu membuka map tebal bersampul emas tersebut.
"Nyonya Maya Wibowo," suara Pak Wijaya terdengar sangat lantang dan jernih, bergema di setiap sudut ruangan ballroom yang sunyi. "Atas perintah langsung dari pimpinan tertinggi kami, Nusantara Group baru saja menyelesaikan transaksi pembetulan saham di pasar sekunder dan menuntaskan akuisisi resmi atas empat puluh persen saham Wibowo Group lima menit yang lalu!"
Pak Gunawan melotot lebar hingga matanya hampir keluar dari rongganya. "A-apa?! Empat puluh persen saham?!"
"Dan sesuai dengan instruksi khusus dari Bapak CEO," lanjut Pak Wijaya tanpa mempedulikan teriakan Pak Gunawan, "seluruh empat puluh persen saham tersebut telah dihibahkan secara mutlak atas nama Nyonya Maya Wibowo tanpa syarat apa pun. Dengan ini, Nyonya Maya Wibowo resmi menjadi pemilik saham pengendali tertinggi sebesar lima puluh persen di Wibowo Group!"
DUARR!
Berita itu menghantam ruangan ballroom bagaikan ledakan bom atom. Para investor saling berpandangan dengan wajah pucat pasi, para wartawan mulai mengambil foto secara brutal, sementara Pak Gunawan tersandung kakinya sendiri dan hampir tersungkur ke lantai marmer jika tidak ditahan oleh Rian yang wajahnya sudah memutih bagai mayat.
Sisca memegang dadanya dengan tangan gemetar hebat, matanya terbelalak menatap Maya tidak percaya.
Maya sendiri berdiri membeku di tempatnya. Buku jari tangannya yang memegang lengan Arka terasa sangat kaku. Ia memandang dokumen hibah saham di tangan Pak Wijaya, lalu perlahan memutar kepalanya untuk menatap suami yang berdiri di sampingnya.
Arka hanya mengulas senyum tipis yang sangat menawan di bibirnya, menatap balik ke dalam mata Maya dengan kehangatan yang tenang, seolah-olah kejutan yang baru saja mengguncang seluruh kota ini hanyalah sebuah hadiah kecil yang biasa ia berikan di malam hari.
itu.