Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Tinju
Minnie bangkit dan bergeser untuk duduk di samping Silvia berkata, “Aduh, udahlah, udahlah. Aku cuma datang untuk bermain dengan kalian. Semua pekerjaanku sudah kuserahkan kepada Adrian.”
Minnie tiba-tiba berdiri dan menepuk-nepuk dadanya sendiri, “Kakak kalian sekarang sudah bebas!”
Kelvin yang duduk di sampingnya mengangkat alis. Ia mengangkat pergelangan tangan dan melirik jam tangannya. Dengan suara ringan, ia berkata, “Sudah hampir jam dua belas. Mau makan bersama?”
“Mau, mau!” Nelia berdiri bersandar di dekat pintu balkon, matanya berbinar menatap mereka.
Silvia hanya bisa menghela napas tak berdaya. Ia mengusap pelipisnya pelan. “Boleh. Kalian tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu.”
Silvia menggenggam erat sabuk pengaman di kursi penumpang depan. Sesekali, ia melirik adiknya yang duduk di sampingnya. Tanpa sadar, sudut bibirnya perlahan terangkat, sementara sorot matanya terlihat lembut ketika menatap cahaya matahari di depan.
Di sisi lain, Minnie dengan lembut mengacak-acak rambut Nelia. Sudut bibirnya terus terangkat sambil memuji betapa lembut dan bagusnya rambut gadis itu.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran. Di bagian depan restoran itu tergantung sebuah papan nama yang ditulis menggunakan cat berwarna emas.
Di atasnya tertulis satu nama: ‘Suwane’.
Mata Nelia langsung berbinar ketika melihat papan nama itu. Sudut bibirnya terangkat, lalu tubuhnya melesat ke depan dan tangannya langsung berpegangan pada sandaran kursi Kelvin.
“Bang Kelvin, hari ini kamu yang traktir, kan?”
Kelvin mengangkat sedikit kacamata berbingkai emas yang bertengger di batang hidungnya. Ia melirik Nelia melalui kaca spion, kemudian mengangguk, “Boleh. Kemarin Suwane baru saja mengundang seorang koki baru dari Sujang. Aku ingat Silvia dulunya suka makan kepala singa kepiting di sini, jadi sekalian kubawa kalian untuk mencicipi masakan koki baru itu.”
Nelia menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Ia sudah tidak sabar dan langsung meletakkan tangan di gagang pintu.
Silvia melirik sekilas tulisan papan nama ‘Suwane’ tersebut.
Dalam sekejap, senyum yang baru saja muncul di matanya perlahan menghilang.
Ia menurunkan pandangan dan tidak mengatakan apa-apa.
Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama Suwane, Nelia langsung berlari turun dari mobil. Minnie mendorong pintu mobil dan segera menyusul Nelia.
Kelvin melepaskan sabuk pengamannya. Tatapannya perlahan jatuh pada Silvia yang sejak tadi terlihat murung. Telapak tangannya tanpa sadar terangkat ke udara, tetapi ia tidak tahu harus meletakkannya di mana. Ia ingin menepuk bahu Silvia, setidaknya mengatakan sesuatu untuk menghiburnya. Namun, tangan itu menggantung cukup lama di udara. Pada akhirnya, tetap tidak pernah menyentuhnya.
Kelvin hanya bisa melihat Silvia kembali berjalan menjauh darinya.
Tangannya mengepal erat, sementara sudut matanya perlahan dipenuhi kilau air mata yang samar.
“Silvia!” Nelia melambaikan tangannya dengan senyum yang begitu cerah.
Begitu manajer Suwane melihat Kelvin, wajahnya langsung dipenuhi senyum. Ia membungkuk dengan hormat sambil menggosok kedua telapak tangannya, “Tuan Muda Kelvin, Anda datang.”
Kelvin Pollis menyentuh jam tangannya dan hanya menjawab singkat, “Mm.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Silvia Pollis, “Ayo, masuk.”
Garden of Shu.
Seluruh ruangan pribadi itu dipenuhi suasana elegan yang kental dengan aroma budaya dan sastra klasik.
Beberapa lukisan tinta bergaya Tiongkok tergantung di dinding. Sebuah sekat kayu cendana memisahkan bagian dalam dan luar ruangan. Bahkan perangkat teh di atas meja pun memancarkan keanggunan klasik yang sederhana.
Kelvin duduk tepat di seberang pintu. Ekspresinya terlihat sedikit muram ketika membolak-balik menu. Setelah memesan beberapa hidangan kesukaan Silvia, ia menyerahkan menu itu kepadanya, “Silvia, masih ada yang ingin kamu makan?”
Silvia melihat sekilas menu tersebut. Tangannya menunjuk sembarang ke salah satu hidangan di sudut kanan bawah, “Tambahkan satu porsi kue bunga plum.”
Manajer itu langsung mengerti. Ia tersenyum dan memasukkan pesanan melalui tablet, “Mm, isiannya ditambah biji teratai, iyakan, Nona?”
Sudut bibir Silvia Pollis perlahan terangkat. Ia mengangguk.
Manajer itu mengiyakan, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan.
Nelia mengangkat pandangan dan mengamati seluruh ruangan dengan saksama. Kedua tangannya terkatup di depan dada, sementara senyum lebar terus menghiasi wajahnya.
Minnie yang sekilas meliriknya langsung melihat tingkahnya. Ia memiringkan tubuh dan dengan lembut menyenggol bahu Nelia, “Lagi ngapain kamu?”
Nelia menundukkan kepala. Nada suaranya sama sekali tidak bisa menyembunyikan betapa bersemangatnya dirinya, “Hehe.”
Ia bergeser sedikit mendekati Minnie, “Kak Minnie, menurutmu ruangan ini cocok nggak kalau dimasukkan ke dalam komikku?”
Setelah mendengar itu, mata Minnie berkeliling mengamati ruangan, “Lumayan bagus.”
“Kan, kan?” Nelia langsung mengambil ponselnya dan dengan heboh merekam berbagai detail dekorasi ruangan dari tempat duduknya.
Lukisan tinta yang menghiasi dinding semakin membangkitkan minatnya. Ia berbalik menatap Silvia, “Sil, ini apa?”
Silvia memegang cangkir teh di telapak tangannya. Ia mengangkat pandangan dan menatap lukisan yang tergantung di dinding, “Itu lukisan yang ditinggalkan nenekku sebelum beliau meninggal.”
“Nenek Viola…” Tatapan Nelia Sillus sedikit bergetar.
Ujung jarinya perlahan menyentuh sudut kanan bingkai lukisan, tepat di dekat cap merah yang tertera di sana.
Kelvin Pollis melirik adiknya yang tiba-tiba terdiam. Dengan suara pelan, ia bertanya, “Luangkan waktu beberapa hari ini untuk pergi bersamaku, bisa?”
“Akhir-akhir ini aku harus belajar.” Jawaban Silvia terdengar datar.
Kelvin terus mendesaknya, “Cuma dua atau tiga jam dalam sehari.”
Minnie mengangkat pandangan. Melihat suasana di antara kedua kakak beradik itu terasa sedikit aneh, ia mengangkat alis, “Tuan Muda Kelvin, mau bawa Silvia ke mana nih?”
Setelah mengatakan itu, Minnie menopang dagunya dengan telapak tangan. Kedua matanya menatap Kelvin tanpa berkedip, “Latihan tinju.”