Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas sang gadis

Sinar matahari sore bulan September memantul lembut di atas permukaan air laut biru kehijauan di kawasan teluk Saint-Tropez, Perancis. Di dalam sebuah ruang kerja pribadi yang luas dengan dinding kaca panorama menghadap langsung ke lautan luas, Vendrick Thorne duduk sendiri di balik meja kerja kayu jati antik bergaya klasik Eropa.

Nyonya Valen, istrinya, sedang tidak berada di mansion. Wanita paruh baya itu menghabiskan sore harinya dengan agenda rutin sosialita kelas atas—melakukan perawatan spa eksklusif di salon pribadi langganannya di pusat kota, dilanjutkan dengan sesi belanja butik haute couture bersama rekan-rekan sesama istri konglomerat. Keadaan ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh Vendrick untuk menelaah dokumen rahasia yang baru saja mendarat di meja kerjanya beberapa menit lalu.

Di hadapan Vendrick terbentang sebuah map hitam tebal berlogo khusus intelijen korporat—hasil kerja keras dari jaringan orang-orang kepercayaan dan detektif bayaran terbaik yang ia kerahkan sejak percakapan mereka di kafe pantai beberapa hari lalu. Vendrick mengenakan kacamata baca berbingkai perak tipis, membalik lembar demi lembar kertas laporan investigasi tersebut dengan gerakan tangan yang tenang namun penuh konsentrasi.

Sebagai pemimpin mutlak imperium Thorne, Vendrick terbiasa membaca laporan keuangan miliaran euro, peta geopolitik perdagangan global, hingga profil rahasia para pesaing bisnis paling berbahaya di dunia. Namun, lembaran kertas yang sedang ia baca sore ini berhasil membuat kening pria paruh baya itu berkerut dalam, sebelum akhirnya napasnya tertahan dan seulas senyuman lebar perlahan terkembang di sudut bibirnya.

"Luar biasa..." gumam Vendrick pelan, suaranya yang berat bergeming di dalam ruangan yang sunyi.

Ia memandang lembar foto seorang gadis berambut hitam kecoklatan di halaman pertama laporan tersebut—foto Freya Zivanka yang diambil secara diam-diam oleh agen lapangannya di Amsterdam. Vendrick membaca garis keturunan, silsilah keluarga, hingga masa lalu gadis itu secara rinci dan terperinci.

Selama ini, istrinya, Valen, meyakini bahwa Freya hanyalah seorang gadis miskin rendahan dari pinggiran kota yang sengaja mendekati Victor demi mengeruk kekayaan keluarga Thorne. Annelise Van Der Bilt bahkan terus mengipasi api kemarahan Valen dengan cerita-cerita manipulatif. Namun, laporan intelijen tingkat tinggi di tangan Vendrick menceritakan narasi yang sama sekali berbeda—sebuah kebenaran mengejutkan yang terkubur rapi di balik badai masa lalu dunia maritim Eropa.

Freya bukanlah gadis sembarangan.

Jari telunjuk Vendrick menyusuri barisan teks di atas kertas, menuturkan nama lengkap gadis itu dengan suara pelan penuh penghormatan bercampur rasa kagum:

"Freya Zivanka... Houten."

Ya, nama belakang itu bukanlah kebetulan. Freya adalah darah daging dari Sammuel Zefs Houten—taipan pelayaran raksasa di wilayah barat Belanda yang merupakan mitra sekaligus rival bisnis terhormat Vendrick di masa lalu. Kecelakaan takdir, ancaman musuh-musuh bisnis, dan keputusan pelarian belasan tahun lalu telah memutus jalur komunikasi keluarga itu, membuat dunia mengira keluarga Sammuel telah musnah. Tanpa disadari oleh siapapun, putri sulung sang taipan pelayaran kini hidup berdampingan dengan pewaris tunggal imperium Thorne.

Vendrick melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja, lalu bersandar pada kursi kulit sambil tertawa kecil. Tawa penuh kepuasan seorang ayah yang melihat takdir mempermainkan garis keturunan dengan cara yang begitu menakjubkan.

Di dalam benak Vendrick yang tajam, berbagai kalkulasi strategi langsung berputar cepat. Pertanyaan utamanya kini adalah: apakah ia harus membocorkan rahasia besar ini kepada istrinya, Valen, atau kepada pihak lain?

Jawabannya adalah: Tidak.

Vendrick tahu betul karakter istrinya. Jika Valen mengetahui bahwa Freya adalah putri dari Sammuel Zefs Houten—meskipun dari garis keluarga terhormat—Valen tetap akan memandangnya dengan kacamata status sosial dan intrik bisnis masa lalu, yang justru akan memicu penolakan dan kekacauan baru di dalam keluarga besar Thorne. Valen dan Annelise akan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka.

Selain itu, Vendrick menyadari bahwa putranya, Victor, bergerak dengan insting yang luar biasa tajam. Victor memilih Freya bukan karena keterpaksaan atau manipulasi, melainkan karena tarikan takdir darah dan jiwa yang mengenali kualitas sejatinya.

"Biarkan teka-teki ini berjalan dengan sendirinya," ucap Vendrick bicara pada dirinya sendiri, senyuman misterius kembali terukir di bibirnya. "Aku tidak akan memberitahu siapapun, bahkan pada Valen. Biarkan kebenaran ini muncul ke permukaan dengan sendirinya pada waktu yang tepat. Drama keluarga ini akan jauh lebih menarik dari yang kuduga."

Namun, meskipun ia memilih untuk menutup mulut rapat-rapat dari dunia luar, bukan berarti Vendrick akan tinggal diam. Sebagai seorang patriark yang melindungi wilayah kekuasaannya, ia langsung mengambil tindakan nyata di balik layar.

Vendrick meraih ponsel satelit pribadinya. Ia mendial nomor langsung kepada kepala logistik dan pengamanan domestik keluarga Thorne di wilayah Belanda.

"Dengar instruksi dariku baik-baik," ujar Vendrick dengan nada suara dingin, tegas, dan mutlak yang tidak membantah. "Mulai hari ini, pastikan seluruh jaringan keamanan di sekitar keluarga Freya Zivanka di Amsterdam berada dalam level siaga tertinggi. Lindungi mereka dari segala ancaman, termasuk jika ada pihak-pihak usil dari lingkaran sosialita Van Der Bilt yang mencoba mendekati mereka. Lakukan secara rahasia. Jangan biarkan siapapun, bahkan putraku Victor, mengetahui bahwa kita ikut campur dalam pengamanan ini."

"Baik, Tuan Vendrick. Perintah dilaksanakan," jawab kepala pengamanan di ujung sana dengan cepat.

Belum cukup sampai di situ. Pikiran Vendrick beralih pada informasi menarik berikutnya yang ia temukan di lembar terakhir laporan intelijen: Victor telah membelikan sebuah rumah tinggal klasik yang sangat megah dan asri di kawasan elit Oud-Zuid, Amsterdam, sebagai tempat tinggal bagi ibu Freya—Amartha—dan adiknya, Steven.

Vendrick menggelengkan kepalanya perlahan, rasa bangga yang amat dalam bergemuruh di dalam dadanya sebagai seorang ayah. Selama bertahun-tahun ia mendidik Victor dengan disiplin militer yang kaku, mengira putranya itu hanya akan menjadi mesin bisnis tanpa hati. Namun hari ini, Victor membuktikan sebaliknya.

"Kau benar-benar pandai mencari seorang wanita, Victor..." puji Vendrick pelan, suaranya sarat akan kekaguman yang tulus. "Cara anak itu memperlakukan wanita pilihannya... dia jauh lebih hebat daripada yang kulakukan di usianya dulu."

Sebuah ide cemerlang melintas di kepala Vendrick. Jika Victor sudah menyediakan rumah bagi ibu Freya di Oud-Zuid, maka sebagai bentuk "sambutan" tidak resmi dari seorang calon mertua yang tahu cara menghargai wanita berkelas, ia harus memberikan sentuhan khas keluarga Thorne.

Vendrick kembali menghubungi asisten pribadinya di Amsterdam melalui sambungan telepon yang berbeda.

"Dengar," instruksi Vendrick kepada asistennya. "Aku ingin kau segera mendatangi butik-butik fashion paling eksklusif di P.C. Hooftstraat, Amsterdam. Beli pakaian wanita bergaya klasik terbaik, koleksi kasmir lembut, selendang sutra, set perhiasan mutiara pilihan, serta keranjang stok makanan impor organik kelas atas dari seluruh penjuru Eropa."

"Baik, Tuan. Untuk siapa semua barang mewah itu?" tanya sang asisten keheranan.

"Kirimkan semuanya langsung ke alamat rumah baru di kawasan Oud-Zuid, kediaman Nyonya Amartha Zivanka," jawab Vendrick tegas. "Dan catat ini baik-baik: pastikan seluruh paket kiriman itu diatas namakan dan dikirimkan atas nama putraku, Victor Thorne."

Sore menjelang senja di kawasan perumahan elit Oud-Zuid, Amsterdam. Suasana di sekitar jalanan beraspal bersih yang dinaungi pohon-pohon ek tampak sangat tenang. Di dalam rumah klasik dua lantai berarsitektur bata merah yang baru saja disiapkan oleh Victor, Amartha sedang duduk santai di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat bersama Steven.

Ting-tong.

Suara bel pintu utama berbunyi nyaring. Steven yang sedang duduk di dekat jendela langsung beranjak berdiri. "Biar aku yang buka, Maa."

Steven melangkah ke pintu depan dan membukanya perlahan. Betapa terkejutnya remaja itu ketika mendapati tidak ada orang yang berdiri di depan pintu, melainkan sebuah barisan kotak hadiah berukuran besar berbalut pita emas rapi, diiringi oleh keranjang-keranjang anyaman rotan berisi buah-buahan segar langka, botol-botol wine non-alkohol kelas dunia, serta setelan pakaian kasmir mewah yang tertata elegan di atas troli pengiriman khusus.

Seorang kurir bersetelan jas rapi membungkuk hormat kepada Steven. "Selamat sore. Apakah benar ini kediaman Nyonya Amartha Zivanka?"

Amartha yang mendengar keributan kecil di pintu berjalan mendekat dengan dahi berkerut heran. "Ya, benar. Saya sendiri. Ada apa ini?"

Kurir itu menyerahkan sebuah amplop tebal berlogo eksklusif kepada Amartha. "Seluruh kiriman perhiasan, pakaian, dan persediaan makanan ini dikirimkan khusus ke alamat ini, Nyonya. Dan ini adalah kartu ucapan resminya."

Amartha membuka amplop tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Ia membaca tulisan tangan yang tercetak rapi di atas kartu ucapan berlogo Thorne:

“Selamat menikmati kediaman baru Anda di Oud-Zuid. Semoga kesehatan dan ketenangan selalu menyertai keluarga Anda. — Victor Thorne.”

Amartha tertegun, menatap tumpukan hadiah mewah di hadapannya dengan perasaan campur aduk antara takjub, terharu, dan rasa tidak percaya. Ia menoleh menatap putranya, Steven, yang bersorak kecil karena kegirangan melihat isi keranjang makanan mewah tersebut.

Di balik jendela kaca rumah seberang jalan, seorang pengawal bayaran suruhan Vendrick Thorne mengamati pemandangan itu dari dalam mobil sedan hitam yang terparkir rapi. Ia tersenyum tipis, lalu mengirimkan pesan singkat laporan ke ponsel Vendrick di Perancis: “Paket telah diterima dengan sempurna, Tuan. Nyonya Amartha sangat terkesan.”

Ribuan mil jauhnya di bawah terik matahari Mediterania yang mulai tenggelam di garis horizon, Vendrick menutup ponselnya. Ia meneguk sisa espresso di cangkirnya, menyunggingkan senyuman kemenangan di wajahnya. Permaianan baru saja dimulai, dan sang patriark Thorne memastikan bahwa setiap bidak catur bergerak tepat di tempat yang ia inginkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!