Indonesia
NovelToon NovelToon
Bangkitnya Kaisar Dewa

Bangkitnya Kaisar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.

Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —

Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puteri Ping Yue

Adipati Wu Ling yang sudah mengenal keluarga kerajaan segera memberi hormat yang dalam kepada Puteri Ping Yue. "Mohon maafkan hamba, Tuan Puteri. Hamba tidak menyambut kedatangan Puteri dengan layak karena tidak tahu bahwa Puteri ada di Kota Awan."

"Tuan Adipati tidak perlu sungkan, " jawab Ping Yue dengan suara lembut namun berwibawa. "Aku sengaja tidak memberitahukan kedatanganku sebelumnya. Ada sesuatu yang harus kulakukan secara diam-diam di kota awan."

Mu Yan yang tadinya santai kini kembali bersikap formal, namun tatapannya tetap hangat seakan mereka sudah lama saling kenal. "Mengapa Yue Yue… eh, mengapa Tuan Puteri datang ke sini? Bukankah Paman Ma Teng sudah mengurus semua barang yang dimenangkan Nona Puteri tadi?"

Ping Yue langsung duduk di kursi yang ditawarkan, melipat tangannya di atas meja. "Paman Teng tidak mau memberitahuku siapa orang VIP yang duduk di sebelahku tadi. Dia bilang aku harus bertanya langsung kepada Kakak Yan."

Semua orang di ruangan itu terdiam dan tertegun. Rupanya… Puteri Ping Yue-lah wanita misterius yang tadi bersaing dengan Ye Hu! Dialah yang terus menaikkan harga, memperebutkan Batu Ratna Ungu, Lempengan Perak, dan Pil Yinyang itu.

Mu Yan tampak bingung, seakan tidak tahu harus menjawab apa. Ye Hu menyadari kesulitan itu dan segera berdiri dengan tenang. Dengan sopan ia membungkuk sedikit kepada Puteri itu.

"Jika Tuan Puteri mencari orang yang duduk di sebelah, maka akulah orangnya," ucap Ye Hu dengan tenang. "Apakah ada yang bisa hamba bantu?"

Ping Yue terbelalak kaget. Ia menatap Ye Hu dari atas hingga ke bawah, seakan baru pertama kali melihatnya dengan sungguh-sungguh. Pemuda di hadapannya ini belum berusia dua puluh tahun, namun dialah yang menjadi saingannya di pelelangan tadi — orang yang berani menawar dan menaikkan harga hingga membuatnya harus mengeluarkan biaya berkali-kali lipat.

"Kau…" Ping Yue menatapnya tajam namun penuh rasa ingin tahu. "Siapa sebenarnya dirimu? Dan mengapa kau mengincar keempat barang itu? Hanya empat barang itu saja yang kau inginkan, dan yang lain tidak kau pedulikan sama sekali. Apa maksudnya?"

Adipati, Mu Yan, dan Wu Jing menahan tawa mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya Ye Hu hanya benar-benar mengincar dua barang — Batu Ratna Ungu dan Lempengan Perak. Sedangkan dua butir Pil Yinyang itu sengaja dinaikkan harganya semata-mata untuk membuatnya membayar lebih mahal. Tentu saja hal itu tidak mungkin dikatakan sekarang.

Ye Hu tersenyum tipis. "Hamba tahu mengapa Tuan Puteri mengincar keempat barang itu juga. Pil Yinyang… itu untuk memulihkan meridian yang menyempit Tuan Puteri, bukan?"

Ru Shun yang berdiri di samping Puteri itu menyipitkan matanya. "Bagaimana kau tahu hal itu?"

"Beberapa kali bibir Tuan Puteri bergetar pelan saat bernapas," jawab Ye Hu tenang. "Itu tanda bahwa sebelumnya Puteri pernah bertarung dan menderita luka dalam yang belum pulih sepenuhnya. Istana kerajaan pasti memiliki banyak obat, namun tampaknya belum ada yang tepat untuk menyembuhkan kerusakan meridian itu."

Ru Shun terdiam. Matanya melebar sedikit — pemuda itu benar sekali.

"Benar, Aku bertarung dengan kakak perempuanku di arena kerajaan dan dikalahkan oleh kakakku hingga menderita sakit. " Ping You mengakuinya.

"Batu Ratna Ungu itu untuk meningkatkan Qi di dalam dantian," lanjut Ye Hu tanpa ragu. "Batu itu dapat meresap lebih cepat dan dapat digunakan berkali-kali, mutunya jauh lebih tinggi daripada beberapa batu roh tingkat tinggi sekaligus. Benar bukan?"

Ping Yue dan Ru Shun saling berpandangan, lalu kembali terdiam. Tidak ada yang dibantah.

"Dan selanjutnya… Lempengan logam itu," ucap Ye Hu menatap lurus ke arah benda yang kini disimpan di lengan Ping Yue. "Lempengan itu ada dua lembar. Dan Tuan Puteri pasti sudah memiliki lembaran yang satunya."

Ping Yue berdiri kaget, suaranya naik sedikit karena takjub. "Bagaimana kau bisa tahu hal itu? Siapa sebenarnya dirimu?"

"Tuan Puteri tidak mungkin berminat terhadap lempengan itu dengan harga tinggi jika tidak memiliki pasangannya. Tidak penting dari mana hamba tahu," jawab Ye Hu tenang. "Tapi hamba ingin mengajak Tuan Puteri bertransaksi, jika Puteri berminat."

Ru Shun mengerutkan kening dan hendak memarahi pemuda yang berani-beraninya mengajak bertransaksi dengan Puteri Kerajaan, namun Ping Yue segera mengangkat tangan mencegahnya. "Biarkan dia bicara. Aku ingin mendengar apa yang ingin dia tawarkan."

"Berikan kepada hamba Batu Ratna Ungu itu," kata Ye Hu pelan namun tegas, "Maka hamba akan memberikan tiga butir Pil Penguat Tubuh Tingkat Tiga dengan kemurnian 99 persen."

Ru Shun mendengus tidak percaya. "Jangan sembarangan bicara, anak muda! Pil dengan kemurnian 99 persen itu sangat sulit dibuat. Alkemis tingkat tinggi pun butuh berkali-kali percobaan baru bisa mendapatkan satu butir yang sempurna. Bagaimana mungkin kau punya tiga butir sekaligus?"

Tanpa banyak bicara, Ye Hu mengeluarkan sebuah kotak batu giok dari lengan bajunya dan membukanya. Tiga butir pil berkilau dengan cahaya pekat dan tanda emas samar terlihat jelas di dalamnya. Ru Shun ternganga, mulutnya terbuka lebar tak mampu menutupnya kembali.

"Kemurnian 99 persen… semuanya!" Ru Shun menatap Ye Hu dengan tatapan tak percaya bercampur kagum. "Siapa kau? Tidak mungkin pemuda seumuranmu adalah alkemis tingkat tiga!"

"Tidak penting siapa hamba," jawab Ye Hu menutup kotak itu. "Ini hanyalah transaksi."

Ping Yue yang sedari tadi tertegun akhirnya bertanya lagi. "Lalu bagaimana dengan lempengan itu?" Pertanyaannya sebenarnya menyembunyikan rasa ingin tahu yang besar — ia ingin tahu seberapa banyak hal yang diketahui pemuda ini tentang benda itu.

"Dua lembar lempengan itu adalah peta harta peninggalan jaman kuno," jawab Ye Hu perlahan. "Di dalam tempat itu banyak binatang iblis dan formasi ruang rahasia. Tidak ada yang bisa mendapatkan seluruh harta di sana… jika hamba tidak ikut. Jangan tanya bagaimana hamba tahu, karena tempat penyimpanan harta itu milik leluhur dari guru hamba. Jadi hamba tahu semua seluk-beluknya, bahasa kuno yang digunakan, serta formasi pelindung yang ada di sana."

Ru Shun maju selangkah, matanya menatap tajam. "Siapa nama marga gurumu?"

"Guru hamba bernama Xuan," jawab Ye Hu tenang. "Dan leluhur dari guru hamba bernama Xuan Ling. Tuan Ru Shun pasti sudah membaca tulisan bahasa kuno di dalam lempengan itu."

Ping Yue mengerutkan dahi. "Kau bisa saja memiliki pengetahuan tentang benda kuno, tapi bagaimana kau tahu bahwa lempengan itu milik leluhur gurumu?"

"Sangat mudah," kata Ye Hu. "Pantulkan cahaya ke permukaan lempengan itu dan arahkan ke dinding. Maka Tuan Puteri akan melihat buktinya sendiri."

Ping Yue ragu sejenak, lalu mengeluarkan lempengan perak itu. Ia memantulkan cahaya lampu ke arah dinding di samping mereka. Seketika itu juga, bayangan cahaya membentuk garis-garis tipis bagai peta wilayah yang rumit, dan di salah satu titik yang ditandai tanda X, terlihat jelas tulisan kuno: Xuan Ling.

Semua orang di ruangan itu terbelalak takjub. Bahkan Mu Yan dan Adipati yang tidak terlalu paham tentang benda kuno pun terpana melihatnya. Hanya Ping Yue dan Ru Shun yang tidak terlalu kaget — karena mereka sudah melihat hal yang sama pada lempengan pertama yang mereka miliki.

"Lempengan pertama yang Tuan Puteri miliki menunjukkan letak gunung tempat lokasi penyimpanan itu berada," jelas Ye Hu. "Itu adalah lempengan bagian lokasi. Sedangkan lempengan kedua yang baru saja dimenangkan Puteri ini adalah peta bagian dalam gunung yang menunjukkan letak pasti harta karun itu disimpan."

Ping Yue menatap bayangan peta di dinding, lalu kembali kepada Ye Hu. Ia merasa seakan pemuda di hadapannya ini bukanlah orang biasa. Ia mengetahui hal-hal yang bahkan peneliti istana pun tidak temukan. Nama Xuan Ling… dan pengetahuan tentang formasi serta bahasa kuno itu… siapa sebenarnya dia?

1
Nanik S
Chu Hua sangat licik
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
Nanik S
Chu Hua juga bengis dan kejam
Nanik S
Menuju jalan didepan yang yak terbatas
Nanik S
Ye Ba... dan seluruh keluarga harus mengetahui
Nanik S
Apakah Pemuda tampan itu Ayah Xuan Ling
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
Nanik S
Kesepakatan yang bmenguntungkan
Nanik S
Ambil saja sekalian lempenganya
Nanik S
Rhu Shun ketua bayangan malam
Nanik S
Keren dan keren ... apakah bisa didapat lempenganya
Nanik S
Sebenarnya Ye Hu anak siapa
Nanik S
Banyak sekali musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!