Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Sinar yang Menghapus Bayangan

Tekanan gravitasi di ruang bawah tanah itu terasa seperti dasar samudra terdalam.

Ye Cangtian berdiri tegak, lengan kanannya yang terbuka memancarkan cahaya merah keemasan yang berdenyut pelan. Pilar Qi murni yang menyelimuti tubuhnya bertabrakan langsung dengan aura hitam pekat Jenderal Bintang Lian.

Jurang bayangan ciptaan Jenderal Lian berhenti menyebar. Kegelapan itu terdorong mundur oleh cahaya dari tubuh sang Kaisar.

Di balik ketiadaan wajahnya, Jenderal Lian merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun: hawa dingin kematian.

"Kepadatan energi ini..." bisik Jenderal Lian, suaranya bergetar. "Kau bukan lagi Tingkat 1. Kau memaksakan terobosan dalam waktu sesingkat ini? Mustahil. Tubuh fana seharusnya meledak!"

"Kalau kau memakai dewa sebagai tolok ukur batas tubuh fana," jawab Cangtian pelan, suaranya dingin, "wajar kalau kalian berulang kali kalah oleh kemustahilan kami."

Jenderal Lian tahu ia tidak akan bisa memenangkan pertarungan frontal melawan Master Bela Diri Tingkat 2. Tie sudah membuktikan otot dewa bisa dipotong, Lu membuktikan kecepatan dewa bisa dihentikan. Jenderal Lian pembunuh bayangan. Instingnya menyuruh segera melarikan diri.

Tapi arogansinya menolak kembali dengan tangan kosong. Kalau ia tidak bisa membunuh sang Kaisar, ia setidaknya harus membunuh sang Iblis Kecil.

Jenderal Lian tiba-tiba mencair jadi genangan cairan hitam. Dalam sekejap, genangan itu meledak menjadi seratus klon bayangan yang melesat ke segala arah.

Klon-klon tak berwujud itu terbang melintasi ruangan, tapi tak satu pun mengarah ke Cangtian. Semuanya melesat membentuk lengkungan tajam menuju Xing Yun yang masih terduduk lemah di lantai.

Seratus bilah pedang bayangan bersiap memenggal ahli taktik itu dari seratus sudut berbeda.

"Cangtian!" teriak Long Zhan, mencoba bangkit meski kakinya lumpuh.

Cangtian tidak panik. Tidak mencoba menebas klon-klon itu satu per satu.

Ia hanya mengangkat kaki kanan, menghentakkannya ke lantai batu.

Kubah energi perpaduan Qi keemasan dan api meletus dari tubuhnya, mengembang dalam hitungan detik hingga menutupi seluruh ruangan bawah tanah.

Saat seratus klon bayangan Jenderal Lian menabrak kubah api keemasan itu, mereka tidak menembusnya seperti benda fisik biasa.

Api Yang murni dari Lembah Naga Api bertindak sebagai pemurni mutlak. Klon-klon bayangan itu terbakar dengan jeritan melengking yang memekakkan telinga, menguap jadi asap putih tipis bahkan sebelum pedang mereka menyentuh kulit Xing Yun.

"Bayangan," ucap Cangtian pelan, "hanyalah ketiadaan cahaya. Di hadapan cahaya mutlak, bayangan tidak punya hak untuk ada."

Di sudut ruangan yang paling gelap, wujud asli jenderal Lian terlempar keluar dari persembunyiannya sambil memegangi dadanya yang hangus terbakar ledakan aura tadi.

Kepanikan akhirnya menguasai sang dewa bayangan. Ia memusatkan seluruh sisa Otoritasnya untuk merobek dimensi bayangan di dinding, berniat melarikan diri kembali ke ibu kota surga.

"Mau ke mana?"

Suara itu terdengar persis di sebelah telinganya.

Sang Jenderal Bintang menoleh. Ye Cangtian sudah berdiri di sampingnya. Kecepatan Master Bela Diri Tingkat 2 itu melampaui kemampuan persepsi Jenderal Lian, ia bergerak tanpa membelah udara, seolah berteleportasi.

Mata emas-kemerahan Cangtian menatap dingin wajah Jenderal Lian yang kosong. Pedang Pemutus Surga di tangan kanannya sudah dalam posisi terayun. Tidak ada jeda persiapan. Garis emas bertekanan tinggi sudah terbentuk sempurna di bilah pedangnya.

"Seni Pemutus Surga," bisiknya.

Cangtian mengayunkan pedangnya, membelah dada sang dewa bayangan.

Berbeda dari pedang Long Zhan yang menembus seperti angin, Niat Pedang Tingkat 2 milik Cangtian punya kepadatan yang luar biasa. Api keemasan di pedang itu merobek dan membakar konsep bayangan itu sendiri.

"Tidaakk!"

Jenderal Lian menjerit. Api keemasan menjalar dari luka tebasannya, membakar tubuh ilahinya dari dalam ke luar. Otoritas Bayangannya berusaha memadamkan api itu, tapi esensi Yang murni dari kawah purba terlalu merusak.

Dalam tiga detik, sang Jenderal Bintang Bayangan itu lenyap sepenuhnya, berubah jadi tumpukan abu putih yang perlahan tersapu angin malam dari atap.

Ruang bawah tanah itu kembali sunyi. Tekanan gravitasi yang mencekik perlahan memudar.

Long Zhan, yang sedari tadi menahan napas, akhirnya tertawa serak. "Pukulan awalku... yang membuat dia lengah," gumamnya membanggakan diri, sebelum matanya tergulung ke belakang dan ia jatuh pingsan akibat kelelahan ekstrem.

Cangtian menyarungkan pedangnya, berjalan mendekati Xing Yun.

Xing Yun masih duduk berlutut di lantai. Ia menatap abu putih sisa Jenderal Lian, lalu menatap Cangtian. Sang ahli taktik yang dingin dan manipulatif itu perlahan menundukkan kepala hingga dahinya menyentuh lantai batu yang dingin.

"Kaisar." Suara Xing Yun bergetar pelan. "Hamba telah melanggar perintahmu. Hamba gagal melindungi markas ini. Dan sekarang kau punya kekuatan mutlak, kau tidak lagi butuh iblis sepertiku untuk melakukan pekerjaan kotor. Hamba siap menerima hukuman eksekusi atas pembantaian Danau Cermin."

Cangtian terdiam menatap pria di bawahnya.

Ia membungkuk, meraih bahu Xing Yun dengan kedua tangannya, termasuk tangan kanannya yang kini sudah sembuh total, dan menarik sahabatnya itu untuk berdiri tegak.

"Aku turun ke pegunungan vulkanik dan membakar tubuhku sendiri agar bisa cukup kuat," ucap Cangtian lembut, menatap mata Xing Yun yang memerah. "Agar sahabatku tidak perlu lagi merasa harus mengotori tangannya, atau menanggung dosa sendirian, demi melindungiku."

Xing Yun tertegun. Ia membalas tatapan kaisarnya, mencari kebohongan atau rasa iba, tapi hanya menemukan ketulusan mutlak.

"Kita memang butuh bayangan untuk memenangkan perang ini, Xing Yun." Cangtian menepuk bahunya perlahan. "Tapi mulai sekarang, biarkan musuh-musuh kita yang jadi bayangan. Kota Fajar harus tetap benderang. Jangan pernah menundukkan kepalamu lagi."

Satu tetes air mata turun dari sudut mata Xing Yun. Ia tidak berkata apa-apa, tapi di dalam hatinya, kesetiaannya yang dulu hilang kini ditempa ulang jadi pedang terkuat yang akan menjaga punggung sang Kaisar selamanya.

Sementara itu, ribuan mil di atas awan, di pusat Ibu Kota Terapung Surga Tiran.

Di dalam ruangan takhta yang terbuat dari emas putih dan bertabur bintang-bintang sungguhan, duduklah entitas tertinggi klan dewa: Penguasa Di Tian.

Ia memegang tiga kristal jiwa di tangannya.

Krak.

Kristal ketiga, hitam pekat milik Jenderal Lian, baru saja retak dan hancur jadi debu, menyusul dua kristal sebelumnya, Jenderal Tie dan Jenderal Lu, yang sudah lebih dulu hancur.

Mata Di Tian yang perak murni perlahan terbuka. Tekanan auranya saja membuat dua belas Jenderal Bintang yang tersisa di ruangan itu jatuh berlutut, keringat dingin membasahi zirah mereka.

"Seekor tikus tanah... baru saja membunuh tiga kucing terbaikku." Suara Di Tian menggema tanpa emosi, tapi menyiratkan kengerian mutlak.

Penguasa Surga Tiran itu meremas debu kristal di tangannya, menatap para jenderalnya.

"Main-mainnya sudah selesai." Titahnya, auranya meretakkan fondasi istana. "Kirimkan seratus kapal perang. Buka semua Gerbang Bencana. Aku tidak peduli berapa banyak gunung atau benua yang harus kalian hancurkan. Ratakan Kota Fajar hingga ke akar-akarnya, dan bawakan aku kepala 'Kaisar' itu dalam keadaan hidup."

1
Arinto Ario Triharyanto
Josss 💪💪
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!