Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : DI BALIK MEJA RAPAT
Pukul sepuluh pagi. Ruang rapat utama lantai 88 Vantec Tower senyap.
Pendingin ruangan bekerja maksimal, tetapi hawa di dalam tetap berat. Para direktur divisi duduk kaku di sekeliling meja mahoni panjang. Tidak ada yang berani bergeser terlalu cepat atau bernapas terlalu keras. Peluh dingin merembes di pelipis kepala divisi keuangan. Di ujung meja, Vion Mahardika duduk tanpa menyandarkan punggung. Setelan jas arangnya melekat sempurna. Ia tidak perlu membentak. Aura dinginnya saja sudah menekan seluruh ruangan.
Di sebelah kanannya, Alesha duduk tenang. Blazer putih gading longgar sengaja ia kenakan untuk menutupi perutnya yang mulai membesar. Di hadapannya, agenda terbuka dengan catatan rapi.
"Laporan divisi logistik kuartal ini mengalami keterlambatan distribusi empat persen," kata kepala divisi operasional dengan suara bergetar. Ia menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan tajam sang Presdir. "Kami sudah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengejar—"
_Bzzzt._
Getaran ponsel di atas meja mahoni memotong kalimat itu seketika.
Beberapa kepala direktur langsung melengkungkan punggung, menahan napas. Aturan di ruang rapat Vantec Tower mutlak: seluruh perangkat komunikasi wajib dalam mode senyap. Tidak ada satu pun yang berani melanggar aturan itu, kecuali Vion.
Vion melirik layar ponselnya. Ia mengangkat tangan kiri tanpa ragu.
"Lanjutkan nanti," potongnya dingin.
Kepala divisi operasional langsung mengangguk patuh dan menarik napas lega, seolah baru saja lolos dari hukuman.
Vion membaca pesan singkat dari dokter kandungan keluarganya yang masuk satu menit lalu. _Hasil lab Bu Alesha stabil. Jadwal kontrol tetap jam empat sore._ Ketegangan di garis wajahnya sedikit mengendur. Ia menggeser kursinya merapat ke arah Alesha.
Di bawah meja, jauh dari pandangan para direktur yang sibuk menunduk, tangan kokoh Vion terulur. Ia menempelkan telapak tangannya di atas perut Alesha, mengusapnya perlahan di balik kain blazer. Gerakannya singkat, tetapi penuh arti.
Alesha melirik suaminya sesaat, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jam empat sore, kan?" bisik Vion sangat pelan, hanya cukup didengar Alesha.
"Iya," balas Alesha pelan. "Jangan sampai terlambat, Tuan Mahardika."
"Aku tidak akan terlambat," jawab Vion. Janji itu bukan untuk rapat, melainkan untuk anak mereka.
Vion menarik tangannya kembali, menegakkan tubuhnya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan dengan tatapan menusuk.
"Kita lanjutkan."
Manajer keuangan berdehem gugup, membuka kembali lembar laporan. "Mengenai anggaran ekspansi gudang Cikarang, ada kenaikan biaya logistik dua belas persen akibat penyesuaian tarif bahan bakar dan—"
Vion mendengarkan sambil melipat tangan di atas meja, namun pikirannya sudah terbagi antara target perusahaan dan jadwal sore nanti di rumah sakit.
"Perbaiki laporan logistik dalam dua hari," potong Vion tegas saat sesi tanggapan dibuka. "Saya tidak terima alasan keterlambatan pengiriman barang jenis apa pun. Kalau empat persen ini terulang, saya ganti kepala divisinya."
"Baik, Pak!" jawab kepala divisi logistik cepat, wajahnya semakin pucat.
"Rapat selesai."
Vion langsung berdiri tanpa basa-basi, meninggalkan ruang rapat dengan langkah panjang. Para direktur tetap duduk membeku di tempat duduk mereka selama beberapa detik, menunggu bayangan sang Presdir benar-benar hilang di balik pintu. Begitu pintu tertutup, mereka mengembuskan napas secara bersamaan, bahu merosot karena beban ketegangan yang luar biasa. Tidak ada yang berani bersuara sampai lift eksekutif berbunyi di luar.
Sementara itu, Alesha berjalan berdampingan dengan Vion menuju lift. Di dekat lobi lift, Hendra sudah berdiri tegak dengan membawa map laporan tambahan dan tablet di tangan.
"Pak Vion, laporan evaluasi keamanan lift dan akses basemen yang Anda minta," lapor Hendra cepat begitu atasannya mendekat.
Vion menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam. "Ada celah?"
"Tim IT menemukan satu terminal di B3 yang sempat diakses di luar jam operasional kemarin malam, pukul 02.17. Tapi sistem keamanan otomatis langsung memutus jalurnya. Log aksesnya dihapus manual."
Vion menoleh ke arah Alesha sekilas, lalu kembali menatap asistennya. "Perketat pengamanannya. Saya tidak mau ada celah sekecil apa pun di lantai bawah. Ganti semua kredensial B3 hari ini."
"Baik, Pak. Saya urus sekarang."
Hendra memisahkan diri. Vion dan Alesha masuk ke dalam kabin lift pribadi yang meluncur mulus ke lantai 99.
Di dalam kabin yang senyap, Vion langsung merangkul pinggang istrinya, menariknya mendekat ke sisi tubuhnya.
"Kamu masih memikirkan terminal di basemen itu?" tanya Vion pelan, menyadari raut wajah Alesha yang tampak menyendu.
Alesha menunduk sejenak, merapikan ujung lengan blazernya. "Semalam aku mimpi buruk soal B3, Vion. Aku seperti mendengar suara langkah kaki di lorong basemen yang gelap, tempat Clarissa menjalani hukumannya. Gelap sekali, dan bau desinfektannya menyengat."
Vion mempererat rangkulannya, memberikan kehangatan nyata di tengah dinginnya dinding besi kabin lift. "Itu cuma mimpi. Clarissa diawasi ketat oleh kamera pengawas setiap detik. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mengepel lantai."
"Tapi rasanya terlalu nyata," balas Alesha mendongak menatap suaminya lekat. "Menurutmu siapa yang mencoba meretas terminal utilitas itu kalau bukan orang dalam? Clarissa tidak mungkin punya akses itu."
Vion terdiam sesaat, rahangnya mengeras. "Hendra sedang melacak alamat IP-nya. Kita akan tahu siapa yang mencoba bermain api di belakang layar. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kamu lagi, apalagi sekarang."
Alesha meletakkan tangannya di atas tangan Vion yang ada di pinggangnya.
Lift berdenging pelan dan berhenti sempurna di lantai 99. Pintu kaca terbuka otomatis memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Namun, sebelum mereka melangkah keluar, ponsel Vion di saku jas mendadak berdering nyaring. Bukan pesan singkat, melainkan panggilan darurat dari nomor internal Vantec Tower dengan nada dering khusus.
Vion langsung mengangkatnya dengan gerakan tegas. "Ada apa?"
Suara Hendra terdengar dari ujung sambungan, jauh dari kesan tenang dan profesional yang biasa ia tunjukkan. Napas asisten itu terengah-engah, disusul suara bising latar belakang yang kacau seperti alarm kecil.
"Pak Vion... cepat turun ke lantai B3! Sistem keamanan kami baru saja mendeteksi seseorang... seseorang yang sengaja memadamkan seluruh aliran daya di sektor sanitasi basemen tempat Clarissa bekerja. CCTV B3 mati total!"
Vion dan Alesha saling pandang.