Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingat Ulang Tahun Pertama
Malam beranjak larut, menyelimuti sudut-sudut jalanan ibu kota dengan hawa sejuk yang menenangkan. Di dalam dapur bersih apartemen Arga yang bernuansa hangat dengan pencahayaan kayu warm white, aroma manis adonan kue yang baru matang menguar lembut, memenuhi udara.
Di balik meja bar dapur, Kirana berdiri seraya mengoleskan whipped cream secara perlahan di atas sebuah kue bolu cokelat sederhana. Wajahnya tampak begitu fokus, sesekali merapikan helai rambutnya yang jatuh ke pipi. Di sampingnya, Arga memperhatikan setiap gerakan wanita itu dengan binar mata yang hangat. Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas formal atau kemeja kaku; ia hanya memakai kaos kasual berwarna kelabu—sosok Arga Pratama yang utuh, rileks, dan sepenuhnya telah terbebas dari beban masa lalu.
Malam ini bukan sekadar malam biasa. Ini adalah momen perayaan ulang tahun pertama hubungan mereka sejak Arga secara resmi menutup lembaran kelam hidupnya dan memulai kisah baru bersama Kirana.
"Selesai juga," gumam Kirana pelan, mengusap dahi dengan punggung tangannya yang menyisakan sedikit bekas tepung. Sebuah senyuman manis terukir di bibirnya tatkala ia menatap kue buatan tangannya sendiri.
Arga terkekeh pelan. Ia meraih selembar tisu dapur, melangkah mendekat, lalu mengusap bekas tepung di pipi Kirana dengan gerakan yang teramat lembut.
"Kue cokelat buatan pengacara ternama ini kelihatannya lebih berbahaya daripada sidang adendum," goda Arga halus, membuat pipi Kirana merona merah di bawah pendar lampu hangat.
"Jangan mengejek dulu," sahut Kirana seraya tertawa kecil, melipat kedua tangannya di dada. "Ini kue pertama yang aku buat dari nol setelah tiga tahun tidak menyentuh oven. Rasanya mungkin tidak semewah kue restoran bintang lima, tapi..."
"Tapi kue ini dibuat oleh orang yang paling tulus dalam hidupku," potong Arga pelan namun pasti.
Suara Arga mengalun begitu dalam, memotong gurauan Kirana dan mengubah atmosfer ruangan menjadi sangat pekat oleh chemistry serta emosi yang murni. Arga menatap iris mata Kirana yang bening—mata yang dulu selalu melihatnya dengan ketegasan profesional, namun kini memancarkan kehangatan dan rasa cinta yang tanpa syarat.
Arga membawa kue sederhana itu ke meja makan kecil di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pendar lampu-lampu kota. Di atas meja, dua lilin kecil dinyalakan, membiaskan cahaya keemasan yang menari-nari di wajah mereka.
Ketika mereka duduk berhadapan, pikiran Arga melayang kembali pada kenangan setahun yang lalu. Logika narasi kehidupannya bergerak memutar ulang perjalanan panjang yang telah mereka tempuh.
"Satu tahun..." bisik Arga, menatap nyala lilin yang bergoyang lembut. "Kalau aku ingat-ingat lagi setahun lalu, Kirana... saat pertama kali aku bertemu denganmu di kantor hukummu."
Kirana menyandarkan dagunya di atas jemari yang bertaut, menatap Arga dengan kelembutan yang dalam. "Waktu itu kamu datang dengan mata yang penuh badai, Arga. Pria yang terluka, penuh rasa cemas, dan tidak percaya lagi pada siapa pun di dunia ini."
"Aku memang hancur saat itu," puji Arga jujur, mengalirkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya tanpa ada lagi tembok pertahanan yang menyembunyikan kerapuhan. "Aku mengira hidupku sudah selesai setelah pengkhianatan Reza dan Nabila. Bagi diriku yang dulu, hubungan atau rasa percaya adalah hal yang menakutkan. Tapi kamu datang... bukan cuma membantuku menegakkan keadilan di mata hukum, tapi juga mengajariku bagaimana caranya memaafkan diriku sendiri."
Kirana mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menyambut jemari Arga dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak melakukan apa-apa selain berdiri di sampingmu, Arga," kata Kirana, suaranya bergetar halus oleh emosi yang nyata. "Kamu sendiri yang memilih untuk bangkit. Kamu memilih untuk tidak membiarkan dendam mengubahmu menjadi orang jahat."
"Tapi tanpa hadirmu, aku mungkin akan tersesat di dalam kegelapan itu," balas Arga mantap.
Di malam perayaan ulang tahun pertama mereka ini, Arga menyadari betapa jauh karakter dirinya telah berkembang. Ia bukan lagi pria yang mengukur kebahagiaan dari kemewahan semata atau validasi orang lain. Di hadapan kue cokelat sederhana dan wanita yang mencintainya dengan tulus ini, Arga merasakan kedamaian yang sejati—sebuah pijakan hidup yang kokoh, murni, dan tak tergoyahkan.
Arga merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Ia meletakkannya perlahan di samping kue bolu cokelat tersebut.
Kirana menahan napasnya. Binar matanya membesar saat Arga membuka kotak itu, menampilkan sebuah cincin platinum bermata berlian kecil yang berkilau lembut di bawah cahaya lilin. Bukan cincin besar yang mencolok, melainkan sebuah simbol keindahan yang elegan dan bersahaja.
"Arga..." desah Kirana pelan, tenggorokannya mendadak terasa tertahan oleh rasa haru yang membuncah.
Arga menatap Kirana lurus ke matanya, mengikis seluruh jarak di antara mereka.
"Cincin ini bukan untuk mengikat masa lalu, Kirana," tutur Arga dengan ekspresi bahasa yang begitu puitis namun mengalir jujur dari dasar jiwanya. "Ini adalah tanda terima kasihku untuk satu tahun terindah dalam hidupku... dan sebuah janji bahwa untuk tahun-tahun mendatang, aku ingin terus melangkah bersamamu. Di setiap ulang tahun, di setiap badai, dan di setiap kebahagiaan yang akan kita temui."
Airmata kebahagiaan akhirnya meluncur mulus di pipi Kirana. Sebuah senyuman paling indah merekah di bibirnya. Tanpa ragu sedikit pun, Kirana menganggukkan kepalanya.
"Iya, Arga... aku mau," bisik Kirana tulus.
Arga menyematkan cincin itu di jari manis Kirana. Sentuhan hangat jemari mereka berpadu dengan detak jantung yang selaras. Arga menggenggam kedua tangan Kirana, lalu mendiup lilin di atas kue cokelat itu bersama-sama.
Kegelapan sejenak menyelimuti ruangan sebelum pendar lampu kota di luar jendela kembali menyinari mereka. Di dalam keheningan malam yang indah itu, Arga memeluk Kirana dengan erat—menyerap kehangatan tubuh dan jiwa wanita yang kini menjadi pelabuhan terakhir kehidupannya.
Mengingat ulang tahun pertama ini bukan hanya tentang menandai berlalunya waktu, melainkan tentang merayakan kebangkitan sebuah jiwa yang telah sembuh, menemukan cinta yang murni, dan siap menyambut masa depan yang terang benderang.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt