Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana B
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu. Zane mengepalkan tangan dan menghantam dinding.
Bang .... beton kamar itu mengaung oleh hantaman keras petarung terkuat di keluarga Starling itu.
"Irish ... jika kau memang mata-mata, aku sendiri yang akan membunuhmu!" Ancam Zane menatap tajam ke mataku.
"Apa kau sengaja menghalangi tembakan itu agar menarik perhatianku?" sambung Aldrik.
"Aku tidak percaya, ternyata benar, tidak ada wanita yang tulus,"
"Sudah ku katakan pada kalian berdua, setiap wanita yang mendekati keluarga Starling pasti membawa niat yang tak baik."
Kata demi kata yang terdengar hanya desakan dan asumsi tak berdasar dari mereka. Walaupun sebenarnya itu semua benar, tapi aku tak ingin mereka tahu identitasku yang asli.
Zane penuh amarah, laki-laki itu menarik kerah bajuku hingga tubuhku terangkat.
"Irish... jawab! Siapa kau sebenarnya?"
"Lepaskan aku!"
"Irish... aku baru saja menaruh harapan padamu, tapi kau ... "
"Tenanglah Zane, kau akan tahu siapa aku sebenarnya." Ucapku memotong kata-kata kecewa itu.
Mata Zane yang berkaca-kaca mendadak berubah menjadi sorot mata yang bebahaya. Dia melepaskan genggaman tangannya dan menghempaskan tubuhku ke kasur dengan kasar. Bagai seseorang yang membuang sampah dengan perasaan muak.
"Jika kau memang kiriman organisasi rahasia, yang datang hanya untuk menyakiti keluarga Starling, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang!"
"Ouh benarkah?"
Ancaman Zane terdengar lucu bagiku. Aku terkekeh kecil. Aku memang datang untuk menghancurkannya, tapi aku menutupi kebohongan ini dengan kebohongan lain. Karena di antara ke empat cucu Alexander Starling, hanya Aldrik dan Zane yang tampak mudah di ajak bicara dan di dekati. Dua lainnya sangat sulit di hadapi. Bahkan aku belum sampai di tahap mendekati Caspian.
Zane kembali menaruh genggaman tangannya di kerah bajuku. Sorot matanya menggila. Tatapan itu bagai pandangan putus asa dan kecewa pada orang yang baru saja jatuh cinta.
Aku melihat ke arah Aldrik, dia hanya mematung lesu. Aku tersenyum kecil.
"Irish... jika kau benar-benar musuh Starling, aku akan menghambisimu dengan tanganku sendiri!"
"Jika tebakanmu salah, kau lah yang akan menyesal, Zane."
"Aku baru saja merasa ada seseorang yang bisa mengerti diriku, tapi kau malah ... "
"Jangan pernah menyesali hari ini, Zane. Kecurigaan kalian akan membuat kehancuran!" Ancamku.
Mendengar ancaman itu, Zane tampak murka, dia hendak membentakku dan mencengkeram kerah bajuku lagi, namun langkahnya terhenti ketika terdengar suara helikopter yang sedang mencari tempat pendaratan di atas rumah sakit ST Markus.
Ketiga lelaki di kamar itu pun panik. Beton rumah sakit bergoyang hebat. Angin dari baling-baling helli itu mengibas seluruh tanaman yang ada di sana. Mereka mengira akan ada serangan dasyat. Mereka memperketat keamanan rumah sakit.
"Cepat kepung seluruh area!!" Teriak Zane panik meninggalkan aku yang terhempas ke ranjang.
"Sambungkan seluruh sistem keamanan dan cctv ke laptopku!" jerit Aldrik.
Aku hanya tersenyum puas menyaksikan wajah mereka yang tampak tegang. Aldrik buru-buru mengeluarkan laptopnya, menyambungkan beberapa kabel, lalu membuka layar laptopnya dengan tergesa-gesa.
Entah apa yang ia ketikkan di atas keyboard itu, tampak jari lentiknya bermain indah di atas papan bertombol datar itu. Suara ketikan setiap keyboard nya membuatku tertawa. Pantulan cahaya laptopnya terpancar ke dua bola matanya yang tampak tetap fokus.
"Aku sudah menyiapkan rencana ini sejak lama, jika identitasku di ragukan, maka asosiasi akan memberikan sebuah identitas baru yang bahkan tidak bisa di bantah keluarga Starling. Tapi kejutan ini sungguh di luar prediksiku. Harus menggunakan helikopter? Ouh ... ayolah ... sandiwara ini berhak mendapat award."
Zane menjulurkan kepalnya ke jendela, ia melihat ada dua helikopter yang mendarat di atas rumah sakit ST Markus. Tampak dokter itu juga cemas, ia mengambil headphone dan menelpon seluruh anak buahnya agar bersiaga terhadap serangan, begitupun Zane.
Aku tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa!!" Teriak serentak tiga bersaudara itu.
"Bukankah kalian ingin tahu siapa aku? Kenapa sekarang panik?"
"Apa itu semua adalah orang-orangmu, Irish? Siapa kau sebenarnya?! Kenapa sebuah pasukan yang datang seperti mau perang?!" Teriak Zane geram.
"Pasukan?" Aku malah ikut bingung.
"Apa harus seheboh itu?"
"Kau pasti seorang mafia kelas atas yang menjadi musuh Starling Group, kan? Pantas saja kau bisa menggunakan tekhnik militer, kau pasti mata-mata."
Aku tertawa kecil. 'Aku memang mata-mata Zane, tapi aku bukan mafia, aku adalah orang yang akan menghancurkan seluruh Starling Gruop. '
Aku bangkit dari tempat tidur, ku tekan layar merah di ponselku untuk menghubungkan kembali chip di telingaku. Baru saja chip itu tersambung, telingaku langsung berdengung sakit oleh jeritan seseorang.
"Irish... syukurlah, kita akhirnya terkoneksi lagi. Semalaman koneksinya terputus. Markus keparat itu, menekan tombol di belakang telingamu dan mematikan sinyal chips di tubuhmu. Untungnya satellite GPS masih aktif." Kata Mike yang akhirnya terdengar lagi di telingaku.
Aldrik merasa geram, karena tangkapan layar laptopnya menampakan beberapa orang turun dari helikopter itu menuju ruangan. Dia mencoba melacak kode helicopter yang tertera di bagian bahu sayap kendaraan baja itu.
Sebuah kendaraan yang mungkin hanya di miliki oleh orang-orang elit mendarat tepat di atas landasan atap rumah sakit. Baling-balingnya terus berputar membawa angin yang menerbangkan apapun di dekatnya.
Mata Aldrik terbelalak saat memeriksa nomer yang tertera di punggung helikopter itu, sesuatu yang ia lihat membuatnya tak percaya.
"Zane, Marcus ... ini ..." ucap Aldrik ketakutan.
"Irish... kau?" Tanya serentak ketiga saudara itu menbuatku ikut terkejut.
Aku mengernyitkan alis dan mengangkat bahu.
"Ada apa? Apa orang yang keluar dari helikopter itu pangeran Harry?"
Aku tersenyum lebar. Tawaku hampir pecah. Aku sebenarnya juga tidak tau, apa yang di lakukan asosiasi kepadaku. Aku hanya meminta, jika penyamaranku terbongkar, berikan aku identitas baru yang akan membungkam targetku itu. Aku jadi penasaran, apa mungkin aku di berikan identitas sebagai ratu Inggris? Tak masuk akal kan.
Braaaaaakkkk. Tiba-tiba saja suara gebrakan pintu terdengar. Ketiga saudara itu terperanjat, begitu juga aku yang ikut-ikutan kaget. Pintu ruangan itu terbuka lebar.
Aku mencari sosok yang akan masuk melawati pintu itu. Kepalaku tarik ulur, tapi ah sudahlah, mungkin pak Jojo mempersiapkan kejutan untuk membungkam mereka. Aku kembali berbaring dengan santainya.
Dari kejahuan terdengar serbuan tapak kaki dari sepatu yang berat memenuhi ruangan kamar rawat inap itu.
Sekumpulan pria bertubuh besar dengan seragam serba hitam lengkap earphones dan kacamata berbaris memegang senjata satu persatu masuk lewat pintu. Aku duduk dengan penasaran di atas tempat tidur itu.
Aku menatap ke samping, mataku terbuka lebar memandang seseorang di dalam barisan itu yang tampak mendekat.
"Sir ... you ... " Ucapku pelan tak percaya akan apa yang aku lihat.
Aku terkejut, begitu pula ketiga orang lainnya yang berada di dalam kamar itu. Aku tak menyangka, petinggi nomer satu asosiasi datang membawa rombongannya menjawab pesan yang ku kirimkan ke markas.
"Siapa yang berani menyentuh cucuku?" Bentaknya nyaring sambil menghentakan tongkat emasnya.
"Cu ... cucu? Aku?"
***** Nah buah teman-teman pembaca setia, di sini emang alurnya agak rumit ya. Karena author ingin menghadirkan plottwist yang seru di bab-bab selanjutnya. Karena di sini bukan cuma tentang action, lebih tepatnya author mengangkat kisah thriler yang akan berjalan dengan plot twist yang mendebarkan. ***