Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Dentang jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Lorong-lorong mansion yang luas terasa sunyi dan hening. Ruby melangkah pelan memegang pegangan tangga, berhati-hati agar tak menimbulkan suara.

Tenggorokannya terasa sangat kering, namun ia tidak tega jika harus membangunkan Bi Ratna hanya untuk secangkir air hangat.

Di dapur berarsitektur modern yang remang-remang, Ruby mengisi gelas kacanya hingga penuh. Rasa dingin dari uap air sedikit menenangkan tenggorokannya. Namun, tepat saat ia membalikkan badan untuk kembali ke kamar, sosok tegap berjas hitam tanpa dasi sudah berdiri tepat di belakangnya.

"A-ah!"

Kaget yang luar biasa membuat genggaman tangan Ruby terlepas. Gelas di tangannya terjatuh dan pecah menghempas lantai marmer, memercikkan air ke mana-mana. Refleks ketakutan membuat Ruby melangkah mundur secara tiba-tiba, namun kakinya justru menginjak genangan air yang licin.

Ruby kehilangan keseimbangan. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai dingin.

Namun benturan itu tak pernah datang.

Satu lengan kokoh menyambar pinggangnya dengan sangat cepat dan presisi, menarik tubuh ringkuh Ruby hingga membentur dada bidang Luca. Tangan pria itu mendekapnya erat, menahan seluruh bobot tubuh Ruby agar tak terjatuh ke atas pecahan kaca.

Napas Ruby memburu cepat karena terkejut. Saat ia perlahan membuka matanya, wajah Luca berada begitu dekat—hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Untuk pertama kalinya, Ruby bisa melihat detail paras pria misterius itu dari jarak selingkup ini: rahang tegas yang kaku, hidung mancung, serta iris mata hitam pekat yang menghujam tajam ke dalam matanya.

Aroma maskulin bermotif kayu cendana dan samar-samar aroma wiski yang mahal merayapi indra penciuman Ruby. Keheningan malam seolah mengunci waktu di antara mereka. Tidak ada satu kata pun yang terucap. Tatapan mata mereka terkunci rapat cukup lama dalam hening yang mencekam sekaligus mendebarkan.

Di dalam dekapan dingin sang penguasa mansion, Ruby bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup gila-gilaan, sementara pria di depannya tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan bak patung es.

Ruby buru-buru menarik tubuhnya begitu cengkeraman kokoh di pinggangnya mengendur. Wajahnya memanas hebat, menahan rasa malu yang membakar pipinya sampai ke ujung telinga. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap pecahan kaca dan genangan air yang mengotori lantai dapur yang bersih.

"M-maaf... maafkan saya, Tuan..." cicit Ruby dengan suara bergetar, kedua tangannya meremas gaun tidurnya erat-erat. "Saya... saya ceroboh banget. Nanti saya bersihkan—"

"Siapa yang izinkan kamu berkeliaran jam segini?"

Suara Luca mengalun rendah, dingin, dan sarat akan amarah yang tertahan. Pria itu menyapu pandangannya dari lantai yang basah kembali ke wajah pucat Ruby.

"Saya cuma... haus, Tuan," jawab Ruby makin pelan, hampir tak terdengar. "Saya nggak tega mau bangunkan Bi Ratna malam-malam begini, jadi saya turun sendiri."

Luca melangkah satu tapak lebih mendekat, mengikis jarak hingga bayangan tubuh tingginya kembali mengurung Ruby. "Kamu pikir rumah ini tempat penampungan umum yang bisa kamu jalani sesuka hati di tengah malam?"

"B-bukan begitu..." Ruby mendongak sedikit, matanya berkaca-kaca menatap rahang Luca yang mengeras. "Saya sungguh-sungguh minta maaf—"

"Dengar baik-baik, Ruby," potong Luca. Suaranya menyusut menjadi bisikan berbahaya tepat di atas kepala gadis itu, membuat bulu kuduk Ruby berdiri seketika. "Saya menyembunyikan kamu dari dunia luar bukan supaya kamu bisa bertindak ceroboh dan melukai diri kamu sendiri di dalam rumah saya."

Jantung Ruby berdegup kencang, terpacu antara rasa takut dan sensasi aneh yang tak ia pahami saat mendengar namanya diucapkan dari bibir pria itu untuk pertama kalinya secara langsung.

"Kalau sampai kaki kamu terluka kena kaca atau terjadi sesuatu karena kecerobohan kamu malam ini..." Luca miringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Ruby yang bergetar. "...saya nggak akan segan-segan mengunci kamu di dalam kamar dan membuang kunci pintu itu. Paham?"

Ancaman halus itu terasa begitu nyata dan menekan dada Ruby. Namun, di balik ketegasan yang dingin itu, ada sesuatu yang membuat dadanya makin berdebar tak karuan.

"P-paham, Tuan..." bisik Ruby pasrah, tak mampu memalingkan pandangannya.

Luca menatapnya sebentar lagi, meneliti napas Ruby yang memburu, sebelum akhirnya mendengkus pelan.

"Kembali ke kamarmu sekarang," perintah Luca datar tanpa memutus pandangan. "Biar pelayan yang bersihkan ini besok pagi. Dan jangan pernah turun lagi sebelum matahari terbit."

Keheningan kembali menyelimuti dapur setelah langkah kaki cepat Ruby menghilang di balik kegelapan lorong.

Luca berdiri sendirian di tengah remangnya ruangan, menatap genangan air dan pecahan kaca yang berserakan di atas marmer. Jemarinya yang tadi sempat mendekap pinggang halus gadis itu mengepal pelan, merasakan sisa kehangatan tubuh Ruby yang masih tertinggal di telapak tangannya.

"Brengsek," umpat Luca rendah pada dirinya sendiri.

Rasa kesal merayapi dadanya. Rahang tegasnya mengeras, penuh keheranan atas refleks tubuhnya sendiri beberapa detik lalu. Untuk apa dia melompat secepat itu hanya untuk menangkap seorang wanita ceroboh? Sejak kapan dia peduli jika ada orang asing yang terluka di rumahnya?

"Dia cuma umpan," bisik Luca dingin, menegaskan kenyataan itu pada pikirannya sendiri.

Di mata Luca, Ruby tak lebih dari sebuah pion berharga dalam papan catur politik dan bisnisnya melawan keluarga Archelio. Sebuah alat yang ia simpan rapat-rapat untuk memancing Kavano masuk ke dalam jebakannya, hingga pria iblis itu hancur tanpa sisa. Ruby bukan siapa-siapa, hanya korban bernasib malang yang kebetulan bersembunyi di bagasi mobilnya.

Luca mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayangan tatapan mata Ruby yang panik dan ketakutan saat berada di dekapannya tadi—tatapan rapuh yang entah bagaimana berhasil menembus dinding pertahanan dingin yang ia bangun bertahun-tahun.

Dengan langkah lebar dan gusar, Luca berbalik meninggalkan area dapur. Ia enggan memikirkan wanita itu lebih jauh. Apapun yang terjadi pada Ruby, gadis itu harus tetap menjadi pion yang tak bernyawa di matanya, bukan sesuatu yang sanggup mengusik fokusnya.

...****************...

Hampir satu tahun berlalu sejak malam kelam saat Ruby lenyap tanpa jejak. Kehidupan di luar mansion dingin milik Luca terus berputar, meninggalkan kenangan pahit yang perlahan mengabur ditelan waktu.

Tisa dan Aprilia, dua sahabat terdekat Ruby semasa kuliah, kini telah melangkah ke babak baru dalam hidup mereka. Rasa duka, kepanikan, dan pencarian tanpa hasil yang sempat menyiksa mereka di bulan-bulan awal kehilangan Ruby kini berganti menjadi kepasrahan yang sunyi. Mereka tidak lagi menangis saban malam atau melacak rumor-rumor tak pasti. Di dalam hati kecil mereka, nama Ruby telah menjadi sebuah doa yang selalu dipanjatkan diam-diam—berharap di mana pun gadis itu berada, takdir baik dan perlindungan Tuhan selalu menyertainya.

Keduanya kini telah resmi menyandang gelar sarjana dan memasuki dunia kerja.

Aprilia kini sibuk dengan rutinitas barunya sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan swasta di pusat kota.

Hari-harinya diisi dengan lembar dokumen, tenggat waktu rapat, dan riuk-pikuk kehidupan pekerja muda. Sementara Tisa meniti kariernya di bidang sumber daya manusia di sebuah instansi terkemuka, mencurahkan seluruh fokus dan energinya untuk menata masa depan.

Suatu sore di sebuah kafe dekat kawasan perkantoran, Tisa dan Aprilia duduk berdua menikmati cangkir kopi mereka setelah jam kerja usai.

"Nggak kerasa ya, Pril," ujar Tisa pelan, menatap riak kopi di cangkirnya. "Kita udah kerja sekarang. Kadang kalau pas lagi lengang begini, aku masih suka kebayang momen kita bertiga waktu nyusun skripsi bareng."

Aprilia tersenyum tipis, ada raut rindu sekaligus ikhlas di matanya. "Aku juga, Tis. Tapi kita nggak bisa terus-menerus hidup dalam rasa cemas. Kita cuma bisa berdoa semoga Ruby ada di tempat yang aman dan bahagia, apa pun jalur hidup yang lagi dia jalani sekarang."

"Iya," angguk Tisa pelan. "Semoga dia baik-baik aja."

Mereka berdua tidak pernah membayangkan bahwa sahabat yang mereka doakan setiap hari itu sebenarnya tidak berada sangat jauh dari mereka—bukan berada di dalam kubur atau neraka Kavano, melainkan hidup dalam naungan dan lindungan tak terduga dari sang penguasa tertinggi di kota ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!