Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Surat dari Masa Lalu

l

Malam kembali merayap menelan sisa-sisa binar senja di distrik utara. Di dalam rumah kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Di atas tempat tidur busa tipis, sang ibu sudah terlelap tenang berkat bantuan obat dan aliran oksigen portabel yang kini lancar tanpa hambatan—berkat keajaiban pelunasan anonim dari rumah sakit beberapa waktu lalu. Di sudut ruangan, lampu bohlam kuning temaram memancarkan pendar redup yang memantul pada tumpukan kardus mi instan dan dinding semen yang mengelupas.

Lin Meiying duduk bersimpuh di depan meja kayu kecil yang sudah miring sebelah. Di hadapannya terbentang sebuah buku catatan tua bersampul kain hitam yang pinggirannya sudah mulai usang dimakan usia. Di atas meja itu pula, kotak beludru hitam berisi cincin pernikahan serta secarik memo peninggalan mendiang suaminya, Chen Guowei, tergeletak berdampingan.

Setelah memastikan putrinya, Anqi, tertidur pulas di samping sang nenek, Meiying meraih memo kecil tersebut. Jemarinya yang kasar dan kering meraba setiap lekuk huruf tulisan tangan yang sangat ia kenali—goresan huruf 'y' yang melengkung tajam ke bawah dan cara suaminya menulis angka dengan garis tengah yang khas.

Setiap kali ia menatap tulisan itu, dadanya selalu bergemuruh hebat, dilanda rindu yang teramat dalam sekaligus kepedihan yang tak pernah menemukan ujung. Namun malam ini, ada hal lain yang mengusik pikirannya. Perjumpaan singkat di lift rumah sakit dan sosok pria berjas mewah yang menyelamatkannya di halte bus saat badai beberapa hari lalu kembali berkelebat di dalam kepalanya. Aroma parfum mahoni yang menguar dari tubuh Direktur Utama Lu Group itu... aroma maskulin yang persis sama dengan minyak wangi murah beraroma kayu yang selalu dikenakan Guowei semasa hidup.

Apakah ini hanya kebetulan yang kejam? batin Meiying bertanya-tanya, air matanya menetes pelan membasahi permukaan meja kayu. Ataukah semesta sedang mempermainkan ingatanku?

Dengan tangan bergetar, Meiying membuka halaman demi halaman buku catatan tua milik Guowei. Buku itu dulunya adalah jurnal harian tempat suaminya mencatat rincian anggaran belanja keluarga, impian-impian kecil mereka untuk masa depan Anqi, serta catatan teknis kerja harian dari proyek-proyek konstruksi tempat Guowei mencari nafkah.

Di tengah-tengah halaman jurnal yang mulai menguning, sebuah amplop surat tertutup rapat yang belum pernah ia lihat sebelumnya terselip di antara lipatan kertas. Amplop itu tidak memiliki nama pengirim, namun di bagian depannya tertulis rapi sebuah kalimat menggunakan tinta hitam: “Untuk Meiying, bacalah jika suatu saat aku telah tiada.”

Napas Meiying seketika tertahan. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Selama setahun menyortir barang-barang peninggalan suaminya pasca kecelakaan murgi, ia tidak pernah menemukan amplop ini.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Meiying merobek bagian atas amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas surat yang terlipat rapi di dalamnya. Ia membentangkan kertas itu di bawah temaram lampu meja, lalu mulai membaca baris demi baris tulisan tangan suaminya:

“Meiying, istriku tersayang. Jika kau membaca surat ini, itu berarti aku tidak lagi berada di sisi untuk memelukmu dan Anqi. Maafkan aku karena pergi begitu cepat, meninggalkan beban hidup yang begitu berat di pundakmu seorang diri.

Selama beberapa minggu terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi, aku merasakan ada hal yang sangat ganjil di tempat kerjaku. Proyek pembangunan lantai 35 gedung utama Lu Group dipaksa berjalan di bawah standar keamanan minimum. Para pengawas senior menutup mata atas retakan struktural pada rangka baja utama demi mengejar bonus target anggaran yang dijanjikan oleh Direktur Operasional, Zhao Tianming.

Aku sempat menolak dan mengancam akan melaporkan pelanggaran SOP ini ke komite independen. Namun, malam sebelum kecelakaan itu terjadi, seseorang menemuiku di area parkir basement, memberikan peringatan keras agar aku menutup mulut rapat-rapat jika tidak ingin keselamatan keluargamu terancam.

Aku menulis surat ini bukan untuk menakut-nakutimu, Meiying. Aku menulisnya agar kau tahu bahwa kematianku bukanlah kecelakaan murni akibat kelalaianku sendiri. Jika suatu hari nanti keadilan itu runtuh, jangan pernah menyerah. Kebenaran mungkin tertimbun di bawah reruntuhan beton, tetapi ia tidak akan pernah bisa mati.”

Seketika itu juga, dunia di sekitar Meiying seolah runtuh seketika. Isak tangis yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah memenuhi ruangan kecil itu, berubah menjadi raungan kesedihan yang teramat sangat.

Jadi, dugaannya selama ini benar! Suaminya tidak mati karena kecerobohan kerja! Chen Guowei dibunuh secara sengaja oleh para petinggi korup di Lu Group untuk membungkam kebenaran proyek jahanam tersebut!

Nama Zhao Tianming terukir jelas di dalam surat itu sebagai monster utama yang merenggut nyawa suaminya.

Di tengah amarah dan kepedihan yang membakar dadanya, sebuah ingatan tajam tiba-tiba menyambar pikiran Meiying. Baru kemarin sore, ia membaca berita utama dari surat kabar ekonomi lokal yang ditinggalkan di kedai kopi tempat ia melamar kerja: “Direktur Utama Lu Group, Zhao Tianming, Resmi Dicopot dan Ditangkap atas Tuduhan Korupsi Berat serta Manipulasi Proyek Lantai 35.”

Berita itu terpampang jelas, mengabarkan kejatuhan Zhao Tianming secara mendadak atas instruksi langsung dari dewan komisaris dan pewaris utama Lu Group—pria arogan berdarah dingin yang selama ini terus muncul di sekitarnya: Lu Jingyan.

Meiying menatap lembaran surat di tangannya dengan pandangan kabur oleh air mata. Kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berserakan kini mulai menyatu membentuk sebuah garis lurus yang mengerikan sekaligus mengharukan.

Siapa sebenarnya pria bernama Lu Jingyan itu? Mengapa ia mendadak datang ke kontrakan kumuh ini? Mengapa ia melunasi biaya rumah sakit ibunya? Dan mengapa bayangan serta aroma tubuhnya begitu mirip dengan suami yang telah dikubur setahun lalu?

Di luar jendela rumah kontrakan, angin malam berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang gang sempit. Meiying menggenggam surat peninggalan suaminya erat-erat ke dadanya, sementara tekad yang luar biasa kuat mulai menyala di balik sisa-sisa air matanya. Permainan besar baru saja dimulai, dan ia tidak akan tinggal diam membiarkan kebenaran terpendam begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!