Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Xiao Yu menguji kerapatan kain di wajahnya, lalu menoleh tenang. "Justru karena akting siang tadi berhasil, Bao'er. Semua orang mengira aku selir tidak berguna. Pengawasan di paviliun ini sedang longgar."
"Tapi kenapa harus latihan lagi malam ini?!" Bao'er menekankan pertanyaannya, matanya membelalak penuh ketidakpahaman dan ketakutan. "Untuk apa risiko sebesar ini, Yu'er? Kau bukan sedang di medan perang perbatasan! Kau di dalam istana kerajaan! Kalau sampai ketahuan keluyuran malam-malam dengan baju hitam, kita berdua bisa dipenggal atas tuduhan penyusup!"
Xiao Yu menghentikan gerakannya. Pandangannya menggelap, menyisakan tatapan tajam khas seorang prajurit.
"Justru karena kita di dalam istana, Bao'er," sahut Xiao Yu pelan namun menusuk. "Sudah tiga hari aku tidak memegang busur berat. Otot bahuku mulai kaku. Bagi seorang prajurit perbatasan seperti kita, fisik yang tumpul dan refleks yang lambat di tempat asing ini sama saja dengan membiarkan leher kita disembelih."
Bao'er menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. "Tapi tidak harus malam ini, Yu'er... ini terlalu bahaya..."
"Jika penyamaran kita terbongkar besok, yang bisa menyelamatkan nyawa kita bukan akting canggung, tapi ketajaman refleks tubuhku," potong Xiao Yu dingin. "Aku harus memastikan kondisi fisikku tetap di puncaknya. Aku hanya akan ke arena latihan di dekat taman bambu itu sebentar. Melatih fleksibilitas otot, mengecek papan sasaran semalam, lalu kembali. Hanya itu."
Bao'er menarik napas memburu, menyadari ia tidak akan bisa menggoyahkan keteguhan Nona mudanya. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau ada orang di sana?"
"Tempat itu sepi dan terlupakan. Aku sudah memetakan titik buta patrolinya," bisik Xiao Yu seraya melangkah ke ambang jendela. "Kunci pintu dari dalam. Berpura-puralah aku sudah tidur karena kelelahan dari acara siang tadi."
Tanpa menunggu balasan Bao'er, tubuh Xiao Yu meluncur keluar jendela tanpa suara, membaur rapat dengan pekatnya malam.
*
*
*
Malam merayap makin pekat di atas langit Istana Barat. Angin dingin meniup dedaunan bambu. Menciptakan bunyi gesekan halus yang menyamarkan langkah-langkah tersembunyi. Dari balik kegelapan atap Paviliun Anggrek, sebuah bayangan serba hitam meluncur turun tanpa suara. Menyatu sempurna dengan bayang-bayang tiang istana.
Itu Xiao Yu.
Wanita itu bergerak lincah menembus rute patroli. Akting canggungnya di hadapan Ratu dan Zhang Li tadi siang telah berjalan lancar. Ia yakin statusnya sebagai "selir canggung dari perbatasan" sudah terkunci rapat di pikiran semua orang.
Kini, fokus utamanya adalah menjaga kondisi fisiknya. Bagi seorang prajurit perbatasan, tubuh yang tidak terlatih selama beberapa hari adalah awal dari kemunduran insting.
Tujuannya malam ini sederhana, yaitu arena latihan panah di pinggir taman bambu. Tempat sepi yang menurutnya paling ideal untuk melatih kelenturan otot.
Namun, Xiao Yu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keheningan arena latihan malam ini, sebuah perangkap tak kasatmata telah dibentangkan.
Di atas dahan pohon bambu yang tinggi dan rimbun, Pangeran Zhang Li berdiri mematung. Jubah malamnya menyatu dengan kegelapan.
Napas dan detak jantungnya ditekan hingga ke titik terendah, sebuah teknik pengendalian ki tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh pembunuh gelap kelas atas. Di belakangnya, area arena dibuat seolah-olah tanpa penjagaan. Sebuah umpan yang disengaja.
Zhang Li menajamkan penglihatannya saat menangkap pergerakan halus di batas arena. Bayangan serba hitam itu melangkah masuk.
Dari ketinggian, Zhang Li mengamati setiap gerak-gerik penyusup tersebut.
Di bawah temaram cahaya bulan yang tertutup awan tipis, sosok itu melangkah menuju pelataran kayu. Cara berjalannya tidak menyerupai wanita atau selir istana mana pun. Langkahnya ringan dan berpusat pada kestabilan tubuh seperti prajurit kawakan.
Saat penyusup itu meraih busur militer baja hitam berbobot dua ratus pon yang sengaja ditaruh Zhang Li di rak, sosok tersebut merenggangkan bahunya. Dalam kegelapan pekat yang membungkus siluetnya, postur tubuh itu terlihat begitu kokoh, tegap, dan penuh tenaga.
Gerakannya yang presisi serta garis bahunya yang tegas sama sekali tidak memancarkan lekuk ketubuhan seorang wanita. Zhang Li di atas pohon makin menguatkan sangkaannya. Penyusup ini adalah seorang prajurit pria berpostur ramping atau pembunuh gelap bertubuh terlatih dari faksi saingannya di ibu kota.
Tikus ini akhirnya memakan umpannya, batin Zhang Li dingin. Matanya memancarkan kilat perburuan yang pekat.
Zhang Li menunggu momen paling tepat. Saat penyusup itu membelakanginya dan mulai menyeimbangkan tumpuan kakinya untuk mengangkat busur berat tersebut, Zhang Li bergerak.
Srett!
Tanpa menimbulkan hembusan angin yang berarti, Zhang Li meluncur turun dari dahan bambu seperti hantu malam. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit terulur secepat kilat, membidik titik saraf di leher belakang penyusup itu untuk melumpuhkannya seketika.
Namun, Zhang Li sedikit meremehkan insting bertahan hidup lawannya.
Tepat saat jemari Zhang Li berjarak hanya beberapa inci dari lehernya, Xiao Yu merasakan perubahan tekanan udara di sekitarnya. Udara di tengkuknya mendadak bergetar hebat. Sebuah sinyal bahaya mati-hidup yang sudah terlatih ratusan kali di medan perang perbatasan.
Ada jebakan!
Otak Xiao Yu berteriak seketika. Tanpa sempat menoleh, ia melakukan gerakan spontan. Tubuhnya melengkung menghindari cengkeraman tangan Zhang Li yang menyambar udara kosong.
Zhang Li membelalakkan mata tipis karena terkejut atas refleks luar biasa tersebut. Tak memberi ruang bernapas, Zhang Li memutar tumitnya dan melayangkan sabetan telapak tangan kedua ke arah dada penyusup itu.
Xiao Yu tahu betul ia tidak boleh membalas dengan teknik beladiri militer perbatasan. Satu tangkisan saja akan langsung membeberkan asal-usulnya. Maka, Xiao Yu memilih bertaruh pada kelincahan murni. Ia memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan dorongan lantai kayu untuk berguling menjauh.
Sreeek!
Cengkeraman tajam Zhang Li meleset dari tubuh Xiao Yu, namun jemarinya sempat mencakar bagian penutup wajah dan lipatan lengan gaun malam yang dikenakan Xiao Yu. Kain serba hitam itu robek secara dramatis, menciptakan celah pelarian bagi Xiao Yu.
Xiao Yu tidak membuang kesempatan sedetik pun. Begitu kakinya menyentuh tanah rumput di luar pelataran, ia melompati pagar bambu dengan teknik dorongan kaki yang sangat cepat.
Tubuhnya segara membaur rapat ke dalam pekatnya malam dan menghilang tanpa jejak menuju arah kediaman interior istana.
Zhang Li mendarat di tanah dengan sempurna. Ia berdiri tegak, membiarkan angin malam mengibaskan jubahnya. Ia tidak langsung mengejar. Mengejar ke dalam area kediaman malam-malam hanya akan memicu alarm pengawal kerajaan dan membuat Ratu mencampuri perburuannya.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah semak-semak. Feng Chuan muncul dengan pedang terhunus, wajahnya penuh kecemasan.
"Yang Mulia!" bisik Feng Chuan tegang.
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄