Indonesia
NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 29 curiga

"Mobil hitam yang kita curigai menghilang setelah memasuki kawasan perumahan, Tuan." Suara pria di hadapan Elio memecah keheningan ruangan.

Sore itu, ruang praktik sudah kosong. Pasien terakhir telah pulang hampir tiga puluh menit lalu.Tatapan Elio yang tak lepas dari layar tablet di atas meja. Rekaman CCTV dari area pemakaman hingga jalan-jalan di sekitarnya terus diputar berulang kali.

Sudah satu bulan berlalu sejak hari itu. Sejak ia melihat sosok perempuan bercadar yang diyakininya adalah Kaia.

Sejak saat itu pula, pencarian dilakukan lebih besar dari sebelumnya. Orang-orang kepercayaannya disebar ke berbagai kota, bahkan jalur keberangkatan internasional kembali diperiksa.

Namun hasilnya tetap buntu. Seolah ada tangan tak terlihat yang sengaja menghapus seluruh jejak Kaia dari dunia.

Elio menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. "Lalu... siapa pria bertubuh besar yang selalu berada di belakang istriku itu?" tanyanya pelan.

"Itu bodyguard, Tuan."

"Latar belakangnya?"

"Kami belum berhasil menemukannya. Dia tidak tercatat di agensi keamanan mana pun yang kami telusuri."

Elio mengembuskan napas panjang. Tangannya memutar pulpen di sela jemari, meski pikirannya sama sekali tak berada di ruangan itu.

Beberapa detik kemudian, orang kepercayaannya kembali bersuara. "Oh iya, Tuan..."

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja. "Kami berhasil mendapatkan satu rekaman yang cukup menarik."

Alis Elio langsung berkerut. Rekaman itu diputar. Sebuah mobil sedan hitam melaju di tengah jalan yang masih basah oleh hujan dini hari.

Lalu... Perlahan kaca jendela belakang terbuka. Seorang perempuan memejamkan mata sambil menghirup udara malam.

Rambut panjangnya tergerai, diterpa angin. Meski hanya beberapa detik... Wajah itu terlihat cukup jelas.

Deg.

Jantung Elio seperti berhenti berdetak. Tangannya spontan mengambil ponsel itu lebih dekat. Bibirnya bergetar.

"...Kaia." Suara itu nyaris hanya berupa bisikan.

Empat tahun ia mencari wajah itu dan kini ia akhirnya melihatnya lagi. Meski hanya melalui sebuah rekaman CCTV.

Tanpa sadar jemarinya menyentuh layar, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar nyata.Rasa rindu yang selama ini ia tekan mendadak menghantam begitu keras hingga dadanya sesak.

"Di mana rekaman ini diambil?" tanyanya cepat.

"Itu dari jalur bandara menuju Northcrest Medical Center, Tuan. Beberapa jam sebelum Pak Hardja meninggal."

Elio langsung mengangkat wajah. "Northcrest..."

Orang kepercayaannya mengangguk. "Kami mencoba meminta akses CCTV rumah sakit. Tapi hanya mendapatkan rekaman jalan raya. Rekaman area parkir, lobi, hingga bagian dalam rumah sakit sama sekali tidak bisa diakses."

"Kenapa?" Elio menautkan kedua alisnya.

"Sepertinya seseorang sudah mengamankannya lebih dulu, Tuan."

Elio terdiam. Semakin dipikirkan, semuanya terasa terlalu rapi. Jejak Kaia selalu menghilang tepat sebelum bisa ia sentuh.

"Kalau berdasarkan penyelidikan kami selama empat tahun ini..." pria itu melanjutkan hati-hati, "saya curiga semua ini ada campur tangan Tuan Fadlan."

Tatapan Elio berubah tajam, ia tidak langsung menjawab. Namun jauh di dalam hatinya, ia memiliki dugaan yang sama.

Ayah mertuanya. Satu-satunya orang yang memiliki kekuatan, uang, dan koneksi untuk menghilangkan seseorang tanpa meninggalkan jejak.

Pria itu kembali membuka berkas lain. "Dan ada satu hal lagi, Tuan."

"Apa?"

"Orang yang sempat Tuan tabrak di area pemakaman... kemungkinan besar bukan kebetulan."

Elio mengangkat kepala. "Maksudmu?"

"Kami sudah menyelidikinya. Nomor telepon yang ia gunakan ternyata palsu.Alamat di kartu identitas juga tidak valid."

Pria itu menarik napas sebelum melanjutkan.

"Kemungkinan besar... dia memang sengaja menghalangi Tuan agar wanita bercadar itu sempat melarikan diri."

Rahang Elio mengeras.Ingatan tentang hari itu kembali berputar di kepalanya. Pria yang marah karena ponselnya pecah.Dan kartu nama yang ia berikan. Namun sampai hari ini tak pernah ada seorang pun datang meminta ganti rugi.

Berarti... Semua itu memang sandiwara untuk mengulur waktu, agar Kaia berhasil lolos darinya.Elio perlahan berdiri dari kursinya. Ia meraih jas dokter yang tergantung di sandaran, lalu mengambil ponsel dan kunci mobil.

Tatapannya kini tak lagi dipenuhi kebingungan.

Melainkan keyakinan. "Aku sudah terlalu lama mencari ke tempat yang salah..."

Ia menenteng tas kerjanya sambil melangkah menuju pintu. "Kalau memang Fadlan yang menyembunyikan Kaia..."

Matanya menyipit tajam. "... maka mulai hari ini, aku akan membuat beliau sendiri yang menunjukkan di mana Kaia berada."

Orang kepercayaannya ikut berdiri. "Perlu saya ikut, Tuan?"

Elio menggeleng pelan. "Tidak. Ini urusan antara seorang suami... dan ayah dari istrinya."

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu ruang praktik. Langkahnya mantap. Tujuannya kali ini ke kantor Fadlan Hadinata.

Sekitar enam puluh menit Gedung Aventis Global Lines berdiri megah di kawasan pelabuhan.

Dari balik dinding kaca ruang kerja lantai paling atas, deretan kontainer warna-warni tampak tersusun rapi.

Crane-crane raksasa bergerak mengangkat peti kemas dari kapal menuju truk pengangkut. Suara klakson kapal terdengar samar dari kejauhan.

Pintu ruang direktur diketuk dua kali.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Beni membuka pintu. "Pak,Mas Elio datang."

Fadlan yang sedang menandatangani beberapa dokumen ekspor hanya mengangguk kecil. "Suruh masuk."

Beberapa detik kemudian, Elio melangkah masuk. Jas dokternya sudah berganti dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya penuh tekad.

"Silakan duduk."

Fadlan tetap menatap berkas di hadapannya.

Elio tidak langsung duduk."Saya datang bukan untuk urusan bisnis, Pa."

"Begitu juga Papa." Jawaban singkat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Baru setelah tanda tangan terakhir selesai, Fadlan menutup map hitam di depannya. Ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Ada apa?"

Elio akhirnya duduk.Tatapannya lurus. "Saya melihat Kaia."

Fadlan tetap tenang, tak ada perubahan berarti di wajahnya. "Oh ya?"

"Di pemakaman Kakek, bulan lalu."

Fadlan mengangguk pelan. "Lalu?"

"Saya yakin itu Kaia."

Fadlan menautkan kedua tangannya di atas meja. "Kamu yakin... atau hanya merasa yakin?"

Elio menarik napas panjang."Saya mengenal Kaia. Empat tahun saya mencarinya. Saya tidak mungkin salah."

Fadlan tersenyum tipis."Elio. Kamu seorang dokter.Kalian diajarkan mengambil keputusan berdasarkan bukti bukan berdasarkan firasat."

Elio mengepalkan jemarinya. "Ada bodyguard yang mengawal perempuan itu. CCTV rumah sakit tempat Papa merawat Kakek juga tidak bisa saya akses. Dan orang yang menabrak saya di pemakaman ternyata identitasnya palsu."

Ia menarik napas sejenak."Semuanya terlalu rapi."

Tatapannya semakin tajam. "Papa menyembunyikan Kaia."

Ruangan kembali hening.Tak ada nada tinggi dan juga bentakan.Fadlan bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju dinding kaca yang menghadap langsung ke pelabuhan.

Sebuah kapal kargo perlahan merapat ke dermaga.

"Tahu kenapa Papa membangun perusahaan ini dari nol?"

Elio mengernyit. Pertanyaan itu sama sekali tidak ia duga.

"Karena dalam bisnis..."

Fadlan menatap kapal di kejauhan. "...emosi selalu membuat orang kalah." Ia membalikkan badan, menatap Elio. "Kalau memang Papa menyembunyikan Kaia... Apa untungnya buat Papa?"

Elio langsung menjawab."Karena Papa ingin melindunginya."

Fadlan menggeleng pelan."Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan Papa dengan Kaia. Selama dua puluh tiga tahun, Papa bahkan gagal menjadi ayah yang baik."

Ia menjeda kalimatnya sebentar. "Lalu menurutmu... Kenapa tiba-tiba Papa harus mempertaruhkan nama perusahaan, relasi bisnis, bahkan melanggar hukum hanya untuk menyembunyikannya?"

Elio terdiam. Argumen ayah mertuanya itu memang masuk akal. Namun firasatnya tetap berkata sebaliknya.

"Kalau begitu..." suara Elio mulai melemah, "kenapa Papa tidak pernah membantu saya mencarinya?"

Kali ini senyum tipis Fadlan menghilang. Tatapannya berubah lebih dalam. "Papa mau tanya sesuatu."

Elio mengangguk pelan. "Ya?"

"Saat Kaia pulang ke apartemen dengan mata sembab hampir setiap hari... Di mana kamu?"

"Saat dia memasakkan makanan yang bahkan tidak pernah kamu sentuh... Di mana kamu?"

"Saat dia berusaha menjelaskan agar kamu percaya kalau almarhum mamanya bukan perempuan perebut suami orang... Di mana kamu, El?"

Rahang Elio mengeras. Bibirnya seolah terkunci. Tak ada jawaban yang keluar.

Fadlan kembali melangkah mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah. "Dulu.. Papa memang bukan ayah yang baik. Tapi kamu... Kamu juga bukan suami yang baik."

Kalimat itu menghantam dada Elio jauh lebih keras daripada bentakan. Ia menundukkan kepala.Bayangan Kaia yang selalu menyambutnya dengan senyum, secangkir kopi hangat, dan meja makan yang tak pernah kosong kembali memenuhi pikirannya.

Semua itu... Tak pernah benar-benar ia hargai. Beberapa saat kemudian ia kembali mengangkat wajah.

"Kalau memang Kaia masih hidup... Saya akan menemukannya."

Fadlan menatap menantunya cukup lama. Tak ada kebencian di matanya, hanya rasa iba. "Masalahnya..." lanjutnya pelan, "apa kamu yakin Kaia masih ingin ditemukan olehmu?"

Deg.

Jantung Elio seperti diremas. Ia membuka mulut, tetapi tak satu kata pun keluar.

Fadlan kembali duduk di kursinya. Merapikan beberapa dokumen yang sempat tertunda. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan... Papa masih ada rapat dengan mitra dari Rotterdam tiga puluh menit lagi."

Kalimat itu menjadi penutup yang halus. Baginya, pembicaraan ini sudah selesai.

Elio perlahan berdiri.Tangannya mengepal di samping tubuh. "Maaf mengganggu waktu Papa."

Fadlan hanya mengangguk kecil.

Elio berbalik melangkah keluar. Begitu pintu tertutup... Fadlan mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Tatapannya kembali mengarah ke pelabuhan. Lalu bergumam lirih, nyaris tak terdengar. "Mungkin dengan cara ini, Papa bisa menebus semua kesalahan Papa di masalalu, Kai."

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

* Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Ariany Sudjana
waduh, Elio akan ke Bali? berarti akan ketemu lagi dengan Kaia dan juga si kembar
Rahmi
Lanjut thorr
Ariany Sudjana
tapi meskipun sepandai-pandainya Kaia menyembunyikan sea dan ocean, suatu kali akan ketahuan juga, apalagi akan kembali ke Indonesia, pasti akan ketemu
Marini Suhendar
Fadlan dan kaia tdk mendengarkan alasan kenapa elio berbuat buruk dulu dan sekarang mencari kaian untuk apa..suatu saat pasti akan pertemukan..
Marini Suhendar
Fadlan kamu aj seorang ayah ..menyalahkan kematian ibu nya kaia slma 23 th..apalagi elio klo g percaya wajar donk..jangan merasa paling benar..
Ariany Sudjana
bagus Fadlan, jangan biarkan Elio tahu keberadaan Kaia, apalagi tentang si kembar, biarkan Elio mau cari ke ujung bumi, sampai gila sekalian 😂😂🤣🤣
Marini Suhendar
kaia..hrs tau alasan elio berbuat kasar dulu..karena elio termakam.hasutan..smoga segera d pertemukan dan itu aku serahkan kepada othor aj🤭
Ariany Sudjana
wah seru ini, hampir saja Elio ketemu Kaia.
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara
Ariany Sudjana
tetap sabar dan kuat pa Fadlan dan Kaia, juga Farida, kakek Hardja sudah sembuh
Lilis Sumiati
lanjut thor jangan lama-lama update nya😍
Ariany Sudjana
kasihan ocean sama sea, mereka ingin ketemu papa kandungnya, sedangkan elio tidak menghendaki kehadiran mereka
Ariany Sudjana
waduh, Kaia akan pulang ke Indonesia, apakah akan ketemu sama Elio juga? semoga sih ga yah. biarkan saja Elio mencari seperti orang gila
Lyeend
ya..semoga Elio dipertemukan semula dengan Kaia dan anak kembar mereka dan semoga nda jadi bercerai.berbahagia lah mereka
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sedih Elio? kan selama ini kamu mengabaikan Kaia dan lebih percaya sama si pelacur murahan itu, tanpa mau mencari tahu kebenarannya, katanya kamu dokter, tapi bodohnya kebangetan
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!