Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Alya Mulai Lelah

Hari ketiga di rumah sakit datang tanpa kabar yang menenangkan.

Alya terbangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya terasa dingin meski selimut menutupi tubuhnya hingga dada. Kepalanya berdenyut pelan. Napasnya terasa berat, seolah ada beban kecil yang duduk di atas dadanya.

Ia menoleh ke sisi ranjang.

Arga masih ada.

Lelaki itu tertidur di kursi dengan kepala bersandar ke tepi kasur. Satu tangannya masih menggenggam jemari Alya. Rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang jelas.

Alya menatap wajah suaminya lama.

Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin menyentuh rambut Arga. Ingin membetulkan poni yang menutupi dahinya. Ingin berterima kasih karena lelaki itu benar-benar tetap tinggal.

Namun ada bagian lain yang takut.

Takut jika ia terlalu cepat percaya, lalu Arga kembali pergi begitu Alya mulai membaik.

Alya menarik tangannya perlahan.

Arga terbangun.

“Kamu kenapa?” tanyanya langsung.

“Nggak apa-apa. Aku cuma mau minum.”

Arga segera bangkit dan mengambil gelas air. Ia membantu Alya minum dengan hati-hati. Setelah itu, ia menyentuh dahi Alya dengan punggung tangannya.

“Tidak panas,” katanya.

“Bagus.”

“Tapi kamu pucat.”

“Mas sudah bilang itu dari kemarin.”

“Karena kamu memang pucat.”

Alya tersenyum tipis. “Mas khawatir?”

Arga terdiam.

Lalu ia mengangguk.

“Ya.”

Jawaban itu sederhana.

Namun bagi Alya, mendengar Arga mengaku khawatir terasa seperti mendengar sesuatu yang jarang. Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi yang mulai berubah.

“Mas nggak perlu berpura-pura,” katanya pelan.

“Aku tidak berpura-pura.”

“Mas takut aku sakit atau takut merasa bersalah?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.

Alya menatapnya. “Aku nggak mau jadi alasan Mas merasa baik tentang diri Mas sendiri.”

“Alya—”

“Aku nggak mau Mas tinggal di sini karena merasa wajib, lalu setelah aku membaik, Mas kembali seperti dulu.” Suaranya tetap pelan, tetapi setiap kata terasa berat. “Aku sudah terlalu sering menerima perhatian yang datang hanya sebentar.”

Arga menatap Alya lama.

Ia ingin membantah. Ingin berkata bahwa perasaannya bukan sekadar rasa bersalah. Namun ia tidak yakin apakah dirinya sendiri sudah benar-benar mengerti.

“Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu,” kata Arga jujur.

Alya menunduk.

“Tapi aku tahu satu hal,” lanjut Arga. “Aku tidak ingin kamu pergi.”

Alya menatapnya.

“Kamu tidak ingin aku pergi, atau kamu tidak ingin kehilangan?”

Pertanyaan itu menusuk.

Arga mengatupkan rahang.

“Aku tidak tahu perbedaannya sekarang,” jawabnya. “Tapi aku tahu aku tidak mau kehilangan kamu.”

Alya menghela napas panjang.

“Mas terlambat, Mas.”

“Ya.”

“Dan aku sudah capek.”

“Ya.”

“Tapi aku masih di sini.”

Arga menatap Alya.

Kalimat itu terdengar seperti harapan kecil yang tidak berani ia ucapkan terlalu keras.

“Terima kasih,” bisik Arga.

Alya tidak menjawab.

Ia hanya memalingkan wajah ke arah jendela.

***

Pukul sepuluh, dokter datang membawa kabar yang membuat ruangan kembali tegang.

“Hasil laboratorium tambahan sudah keluar sebagian,” kata dokter hematologi. “Kondisi Ibu Alya masih perlu dipantau ketat. Trombosit Ibu terus menurun, dan hemoglobin Ibu juga belum membaik.”

Alya menatap dokter. “Artinya saya harus transfusi?”

“Belum tentu. Kami menunggu hasil lengkap dan evaluasi dokter. Namun kemungkinan itu ada.”

“Kalau saya transfusi, itu berbahaya?” tanya Alya.

“Transfusi adalah tindakan medis yang umum dilakukan untuk membantu tubuh mendapatkan sel darah yang dibutuhkan. Risiko komplikasi ada, tetapi tim kami akan memantau dengan cermat.”

Arga berdiri di sisi ranjang. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Kami akan memantau kondisi Ibu Alya setiap beberapa jam. Jika angkanya terus turun atau Ibu mulai sesak, pendarahan, atau pingsan lagi, kami akan segera bertindak.”

Alya menunduk.

Ia merasa tubuhnya bukan miliknya lagi.

Dulu ia hanya merasa lelah. Ia mengira itu karena kurang tidur, kurang makan, atau karena hatinya terlalu berat. Ia tidak pernah menyangka bahwa di dalam tubuhnya ada sesuatu yang perlahan menggerogoti kekuatannya.

“Dok,” panggil Alya pelan.

“Iya, Bu?”

“Kalau hasilnya memang buruk… apakah saya masih bisa sembuh?”

Dokter menatapnya dengan simpati.

“Banyak kondisi dapat ditangani, terutama jika ditemukan lebih awal dan pengobatannya sesuai. Saya tidak bisa memberi janji, tetapi saya juga tidak ingin Ibu menyerah sebelum kita tahu diagnosisnya.”

Alya mengangguk.

Arga menggenggam tangannya.

“Kamu tidak sendirian,” katanya.

Alya menoleh kepadanya.

“Mas bilang itu sekarang.”

“Aku bilang karena aku di sini.”

“Mas bilang itu karena aku sakit.”

“Mungkin.” Arga menunduk sebentar. “Tapi aku juga di sini karena aku tidak mau kehilangan kamu.”

Alya menatap suaminya.

Untuk pertama kalinya, Arga mengatakan kalimat itu tanpa segera mengalihkan pembicaraan.

Namun Alya hanya mengangguk.

Ia belum tahu harus percaya sejauh mana.

***

Sore hari, Alya mulai merasa sesak.

Awalnya hanya terasa berat ketika ia menarik napas. Ia mengira itu karena kelelahan. Namun lama-kelamaan, dadanya terasa sempit. Setiap tarikan napas membuatnya harus berusaha lebih keras.

Arga sedang duduk di kursi samping ranjang ketika melihat Alya memegang dadanya.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

Alya menggeleng. “Nggak apa-apa.”

“Jangan bilang tidak apa-apa.”

“Aku cuma capek.”

“Tarik napas pelan.”

Alya mencoba.

Namun napasnya semakin pendek.

Wajahnya memucat. Keringat dingin muncul di dahinya. Ia mencoba duduk lebih tegak, tetapi tubuhnya terasa tidak memiliki tenaga.

“Arga…” bisiknya.

Arga langsung menekan tombol panggil perawat.

“Tolong!” suaranya meninggi untuk pertama kalinya.

Perawat datang hampir seketika.

“Bu Alya sesak,” kata Arga cepat. “Napasnya pendek.”

Perawat memeriksa Alya, lalu segera memanggil dokter. Beberapa menit kemudian, ruangan dipenuhi gerakan cepat. Alya dipasangi alat pengukur oksigen. Selang kecil ditempelkan di hidungnya. Perawat memeriksa tekanan darah dan denyut nadinya.

Alya menutup mata.

Ia mendengar suara-suara di sekitarnya, tetapi semuanya terasa jauh.

“Tekanan turun,” kata salah satu perawat.

“Siapkan transfusi,” perintah dokter.

Arga berdiri kaku di sisi ranjang.

“Transfusi?” ulangnya.

“Kondisi Bu Alya perlu bantuan segera,” jawab dokter. “Bapak bisa menunggu di luar sebentar.”

“Tidak.” Arga menatap Alya. “Aku mau tetap di sini.”

“Pak, kami perlu ruang kerja.”

“Aku nggak akan mengganggu.”

Dokter menatapnya sejenak. “Baik. Tapi Bapak harus tetap tenang.”

Arga mengangguk.

Alya membuka mata sedikit. Wajahnya pucat, tetapi ia masih mencari sosok Arga.

“Mas…” bisiknya.

Arga segera mendekat. “Aku di sini.”

“Jangan pergi.”

“Tidak.”

“Janji.”

Arga menggenggam tangan Alya.

“Aku janji.”

Alya menutup mata lagi.

Beberapa saat kemudian, perawat membawa kantong darah yang telah disiapkan. Arga memperhatikan cairan merah itu mengalir perlahan melalui selang infus ke tubuh Alya.

Ia tidak pernah suka melihat darah.

Namun malam itu, darah yang mengalir ke tubuh istrinya terasa seperti harapan kecil.

Harapan bahwa Alya akan tetap ada.

Harapan bahwa ia masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya.

***

Setelah kondisi Alya sedikit stabil, dokter menyuruh Arga keluar sejenak untuk berbicara.

Mereka berdiri di koridor yang lebih sunyi.

“Kondisi Ibu Alya memang memprihatinkan,” kata dokter. “Trombositnya rendah dan hemoglobinnya turun. Kami sudah melakukan transfusi untuk menstabilkan kondisinya sementara.”

“Lalu penyakitnya apa?” tanya Arga.

“Hasil lengkap masih belum keluar. Namun berdasarkan pemeriksaan sumsum tulang dan angka darahnya, kami khawatir ada gangguan serius pada produksi sel darah.”

Arga menatap dokter.

“Gangguan serius seperti apa?”

“Kami masih perlu memastikan. Bisa berkisar dari gangguan autoimun, infeksi berat, hingga penyakit yang memengaruhi sumsum tulang.”

“Kanker?” Arga bertanya lagi.

Dokter tidak langsung menjawab.

“Kami tidak bisa menyimpulkan sebelum hasil lengkap keluar,” katanya hati-hati. “Tetapi Bapak harus siap menghadapi kemungkinan apa pun.”

Arga merasa tubuhnya dingin.

Ia menatap pintu kamar Alya dari kejauhan.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.

“Temani Ibu Alya. Jangan biarkan ia merasa sendirian. Dan jika keluarga perlu diberi tahu, sebaiknya dilakukan dengan tenang.”

Arga mengangguk.

“Terima kasih, Dok.”

Setelah dokter pergi, Arga tetap berdiri di koridor.

Ia mengeluarkan ponselnya.

Ada beberapa panggilan tak terjawab dari kantor. Ada pesan dari Keisya. Ada pesan dari ayahnya.

Namun yang pertama ia buka adalah kontak ibunya.

Ia menatap nama itu cukup lama.

Ibu Alya.

Ia ingat perempuan itu selalu menyambutnya dengan senyum setiap kali mereka berkunjung. Ia ingat ibu mertuanya selalu bertanya apakah Arga sudah makan, apakah Alya baik-baik saja, apakah mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Setiap kali, Arga hanya menjawab singkat.

“Alya baik-baik saja.”

Padahal ia tidak pernah benar-benar tahu.

Arga menekan tombol panggil.

Telepon tersambung setelah beberapa detik.

“Arga?” suara ibu Alya terdengar hangat. “Kamu baik-baik saja? Alya ada di mana? Sudah lama tidak kabar.”

Arga menahan napas.

“Ibu,” katanya, suaranya berat. “Alya sedang dirawat di rumah sakit.”

Hening.

Lalu suara ibu mertuanya berubah panik.

“Dirawat? Kenapa? Sakit apa?”

“Belum pasti, Bu. Kondisinya sedang dipantau.”

“Arga, kamu jaga dia baik-baik.” Suara perempuan itu mulai bergetar. “Alya itu anak yang kuat. Dia tidak pernah mau menyusahkan siapa pun. Kalau dia sampai sakit, pasti dia sudah menahannya lama sekali.”

Kalimat itu menghantam Arga lebih keras daripada yang ia bayangkan.

“Iya, Bu,” jawabnya pelan. “Aku akan jaga dia.”

Setelah telepon berakhir, Arga menatap ponselnya.

Ia merasa seperti orang yang baru saja diberi tahu bahwa ia telah gagal menjaga sesuatu yang paling berharga.

Ia masuk kembali ke kamar.

Alya masih terbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Wajahnya pucat, tetapi matanya sedikit terbuka ketika mendengar pintu terbuka.

“Mas?” bisiknya.

Arga segera mendekat.

“Aku di sini.”

Alya menatapnya lemah.

“Mas telepon orang tuaku?”

Arga mengangguk.

“Maaf.”

Alya menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”

“Mereka akan datang.”

“Iya.”

“Kamu tidak marah?”

Alya tersenyum kecil. “Aku nggak marah.”

Arga duduk di sisi ranjang.

“Kenapa?”

“Karena aku juga kangen mereka.”

Kalimat itu membuat dada Arga semakin sesak.

Alya menutup mata.

“Mas,” panggilnya lagi.

“Iya?”

“Kalau aku benar-benar sakit parah… jangan suruh aku bertahan hanya karena Mas belum siap kehilangan aku.”

Arga menatapnya.

“Aku tidak akan melakukannya.”

“Mas harus janji.”

“Aku janji.”

Alya membuka mata sedikit.

“Dan kalau aku pergi…”

“Jangan bicara begitu.”

“Dengarkan aku.” Suara Alya lemah, tetapi tegas. “Kalau aku pergi, jangan cari aku hanya karena Mas merasa bersalah. Cari aku kalau Mas benar-benar siap mencintai aku.”

Arga menatap istrinya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa langsung menjawab.

Karena Alya tidak hanya bertanya apakah ia akan mencarinya.

Alya bertanya apakah ia benar-benar siap mencintainya.

Dan Arga belum yakin dengan jawabannya sendiri.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!