Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KEHANGATAN DI TENGAH DESA
Kehidupan di desa memiliki ritme yang tak bisa diukur dengan detak jarum jam, melainkan diukur dengan perputaran matahari dan eratnya tali persaudaraan antarwarga.
Bagi Zaki, beradaptasi dengan ritme komunal ini adalah sebuah proses penyembuhan jiwa yang paling efektif.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
Malam itu, bulan separuh menggantung di langit malam yang bersih tanpa awan. Angin pegunungan berhembus cukup kencang, menembus jaket tebal yang dikenakan Zaki.
Pemuda itu tengah berjalan menuju Gardu Pos Ronda yang terletak di pertigaan jalan utama desa. Seutas sarung bermotif kotak-kotak melingkar di lehernya untuk menahan hawa dingin.
Sesampainya di Pos Ronda, suasana sudah sangat riuh.
Lampu petromaks berbahan bakar minyak tanah yang digantung di tengah gardu memancarkan cahaya kekuningan yang temaram namun hangat. Beberapa bapak-bapak dan pemuda desa tampak duduk melingkar di atas dipan bambu. Asap rokok klobot dan kretek mengepul tebal, berbaur dengan uap panas dari gelas-gelas kopi yang tersaji rapi di tengah mereka.
"Wah, iki lho jawarane awake dhewe teko! Mas Zaki! Ayo, Mas, lungguh kene, melu main gaple!" (Wah, ini lho jagoan kita datang! Mas Zaki! Ayo, Mas, duduk sini, ikut main gaple!) seru Mas Somad sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
Zaki tertawa renyah, melepaskan sandalnya, lalu ikut duduk bersila bergabung dalam lingkaran itu.
"Ampun, Kang. Saya nggak terlalu jago main gaple, nanti malah bikin kalah terus," tolak Zaki merendah, mencomot sebiji kacang rebus yang terhidang di atas piring kaleng.
"Halah, mboten nopo-nopo, Mas! Sing penting rame-rame! Lha wong kene iki nek main gaple hukumané mung dikorek raine gawe areng kok, hahahaha!" (Halah, tidak apa-apa, Mas! Yang penting ramai-ramai! Lha orang sini itu kalau main gaple hukumannya cuma dicoret mukanya pakai arang kok, hahahaha!) timpal seorang pemuda bernama Yanto, yang wajahnya kebetulan sudah penuh dengan coretan arang hitam layaknya prajurit yang gagal perang.
Tawa meledak di Pos Ronda itu.
Zaki tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tertawa lepas hingga perutnya kram. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa.
Di Jakarta, ia hidup bersebelahan tembok dengan puluhan penghuni kos lainnya, namun tak satu pun dari mereka yang saling mengenal nama.
Akan tetapi, di sini, di sebuah gardu bambu reyot, Zaki merasa memiliki puluhan saudara laki-laki yang siap melindunginya kapan saja.
Kegiatan membaur Zaki tak hanya terbatas pada jadwal ronda malam.
Pemuda itu membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "orang kota yang sedang singgah", melainkan warga asli yang kembali ke akar masa lalunya.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
Keesokan malamnya, Zaki mengenakan baju koko putih bersih, sarung samarinda berwarna gelap, dan sebuah peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya.
Ia melangkah mengikuti rombongan warga, termasuk Pak Doyo, menuju ke rumah salah satu warga yang sedang mengadakan acara Tahlilan peringatan seratus hari meninggalnya salah satu kerabat mereka.
Suasana di ruang tamu yang dialasi karpet plastik memanjang itu terasa sangat khusyuk.
Aroma kemenyan Arab yang dibakar di sudut ruangan berbaur dengan wangi kuah gulai kambing yang sedang dimasak di dapur belakang.
Zaki duduk merapat, bahu-membahu dengan para tetangganya.
Ketika lantunan Surah Yasin dan zikir Laa ilaaha illallah mulai bergema, diucapkan serempak oleh puluhan bibir, dada Zaki bergetar hebat. Ada getaran spiritual komunal yang membuat air matanya nyaris menetes.
Ia tak lagi berdoa sendirian dalam keheningan malam yang dicekam ketakutan. Ia berdoa bersama jemaah, menyatukan frekuensi batin manusiawi yang murni mengharap ridha Ilahi.
Selesai acara Tahlilan, saat warga mulai menikmati hidangan berkat yang dibagikan dalam besek anyaman bambu, Zaki beranjak untuk pamit keluar sebentar mencari udara segar.
Tepat saat ia melangkah ke halaman depan, langkahnya terhenti.
Di teras samping, duduklah seorang wanita sepuh yang sedang mengunyah sirih. Kerutan di wajahnya adalah peta perjalanan usianya yang panjang.
Itu adalah Mbah Jum.
Zaki segera menghampiri sosok wanita yang pernah menjadi ibu asuhnya semasa kecil itu.
"Assalamu'alaikum, Mbah Jum... Nembe dhahar nggih?" (Lagi makan ya?) sapa Zaki seraya menunduk dan mencium tangan keriput Mbah Jum dengan takzim.
Mbah Jum mendongak, matanya yang mulai rabun memicing sejenak sebelum seulas senyum lebar memamerkan giginya yang kemerahan akibat sirih.
"Wa'alaikumsalam... Lha dalah, Le Zaki to iki! Rene, Le, lungguh cedhak Mbah kene," (Wa'alaikumsalam... Lha dalah, Nak Zaki toh ini! Sini, Nak, duduk dekat Mbah sini) titah Mbah Jum sambil menepuk tikar di sebelahnya.
Zaki menurut. Ia duduk bersila di samping wanita sepuh itu.
Mbah Jum meletakkan sisa sirihnya ke dalam wadah kuningan kecil.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, kedua tangan keriput Mbah Jum yang terasa kasar namun hangat itu terulur, membingkai wajah Zaki.
Wanita itu menatap lurus ke dalam bola mata Zaki, menelisik setiap inchi guratan di wajah pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zaki hanya diam, membiarkan Mbah Jum memindai wajahnya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Mbah Jum menghembuskan napas lega. Matanya yang sayu kini berbinar terang, memancarkan kelegaan yang luar biasa besar.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Gusti Pangeran..." (Alhamdulillah... Alhamdulillah, Tuhan) gumam Mbah Jum berulang kali.
Tangan keriputnya perlahan mengusap pipi Zaki dengan penuh kasih sayang.
"Le... Mbah iki wis tuwo, mripate Mbah pancen wis lamur nek nggo ndelok barang adoh. Nanging, batiné Mbah isih landhep," (Nak... Mbah ini sudah tua, mata Mbah memang sudah rabun kalau untuk melihat barang jauh. Tapi, batin Mbah masih tajam,) ucap Mbah Jum, suaranya bergetar menahan haru.
Zaki mengerutkan kening. "Wonten nopo to, Mbah?" (Ada apa toh, Mbah?)
"Pas pertama kowe bali wulan wingi, Mbah weruh raimu kuwi peteng, Le. Koyo ono mega mendhung ireng sing nggandhul nang pundhakmu. Aura-mu abot banget, koyo wong sing lagi mikul mayit," (Waktu pertama kamu pulang bulan lalu, Mbah lihat wajahmu itu gelap, Nak. Seperti ada awan mendung hitam yang menggantung di pundakmu. Auramu berat sekali, seperti orang yang sedang memikul mayat).
Zaki tersentak pelan.
Mbah Jum, dengan kepekaan spiritual orang tua zaman dulu, ternyata bisa melihat beban gaib wujud Sekar Mayang yang saat itu masih menempel padanya.
Mbah Jum tersenyum makin lebar, matanya berkaca-kaca.
"Nanging wengi iki... raimu sumringah, Le. Bersih, padhang njingglang. Mega ireng kuwi wis ilang bablas ora ono sisane. Kowe wis bener-bener dadi anak manungso seutuhé, Le. Beban gaib sing mbok pikul wis rontok kabeh. Mbah melu seneng, Le... Mbah ayem saiki weruh kowe," (Tapi malam ini... wajahmu berseri-seri, Nak. Bersih, terang benderang. Awan hitam itu sudah hilang sama sekali tidak ada sisanya. Kamu sudah benar-benar menjadi anak manusia seutuhnya, Nak. Beban gaib yang kamu pikul sudah rontok semua. Mbah ikut senang, Nak... Mbah tenang sekarang melihatmu).
Mendengar penuturan jujur dan tulus dari Mbah Jum, tenggorokan Zaki tercekat.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu, membasahi punggung tangan keriput Mbah Jum yang masih memegang pipinya.
Zaki memeluk wanita sepuh itu dengan erat. "Inggih, Mbah... Zaki sampun bebas saiki. Zaki sampun tenang," (Iya, Mbah... Zaki sekarang sudah bebas. Zaki juga sudah merasa tenang) bisiknya parau.
Malam itu, di bawah kerlip bintang pedesaan dan diiringi lantunan zikir dari dalam rumah, Zaki merasakan pengesahan absolut atas keputusannya.
Ia telah memenangkan peperangan melawan takdir astralnya sendiri.
Ia telah kembali pada hangatnya pelukan sesama manusia.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya