Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu. Bagaimana Char dicintai secara ugal-ugalan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Tujuh hari paska menjadi istri dari Alexander Romanov. Char makin hari tubuhnya makin berbobot. Makanan yang bisa ia makan kapan saja, membuat berat badannya makin bertambah.
Seperti hari ini, mata Char tak lepas dari timbangan digital di bawah kakinya. Berat yang tadinya empat puluh lima kini berada di lima puluh dua kilogram. Char menggeleng tak percaya, ia turun dari timbangan itu dan kembali menaikinya. Beratnya tetap sama, 51kg.
"Aku gendut!" teriaknya lalu merengek kesal.
Rudolph yang ada di bawah mendengar teriakannya sampai terkejut. Kepalanya langsung melihat arah kamar di mana Char berada.
"Astaga ... Hilda ... coba kau lihat. Kenapa dengan Nyonya!" suruhnya cemas.
Salah satu maid bernama Hilda langsung berlari ke lantai tiga di mana nyonyanya berada. Rudolph sampai menepuk keningnya ketika melihat kebodohan maid itu.
"Kenapa kau tak pakai lift!" teriaknya kesal.
Pemecatan Rovelet seminggu lalu membuang nyaris seluruh maid mundur dari pekerjaan mereka. Alih-alih ingin membela sang kepala maid, para maid melakukan mogok hingga Alexander dengan senang hati mem-blacklist mereka.
"Lucu!" kekeh Rudolph sering tertawa sendiri ketika mengingat kejadian pemecatan Rovelet berikut enam pengikutnya.
Waktu itu Rovelet tak terima dipecat. Wanita kurus berkaca mata itu menolak pemberhentian kerja dari Alexander.
"Saya telah mengabdi pada anda selama enam tahun. Saya menghabiskan hidup saya melayani anda, Tuan!"
"Apa? Jadi karena itu aku tak bisa memecatmu? Maksudnya begitu?" tanya Alexander menyeringai.
"Bukan ... maksud saya. Saya memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaan saya ...."
"Rovelet!" potong Alexander tak mau mendengar perkataan perempuan kurus itu.
"Aku tak butuh pekerja loyalitas yang melanggar batasan. Beberapa kali kau abai dengan perintah dari istriku, yang notabene adalah majikanmu ...."
"Tapi tugas saya hanya bekerja pada yang membayar saya! Saya tidak bekerja pada orang yang tiba-tiba datang dan sok mengatur semuanya!"
Ceklek! Alexander menarik pelatuk dan mengarahkan senjatanya ke kening Rovelet dengan cepat. Perempuan itu langsung pucat pasi.
"Katakan sekali lagi!"
Char hendak maju untuk menenangkan suaminya, tetapi Rudolph gegas menahan lengannya.
"Grandpa?" bisik Char memohon. Tetapi Rudolph menggeleng.
"Dia sudah mengalah untuk keluargamu. Jangan buat dia gila karena hal ini," peringatnya.
Char terdiam, ia menatap suaminya yang menegang.
"Aku hanya takut orang-orang yang tak bersalah kena imbasnya," cicit Char.
"Sudah, lebih baik kita membelakanginya. Jangan dengarkan apa pun!" perintah Rudolph lalu membalikkan badannya.
Char pun mengikuti apa yang dilakukan oleh kakek suaminya. Sementara Rovelet sudah gemetaran karena ditodong senjata api tepat di keningnya.
Suasana di ruang pribadi Alexander seketika membeku. Keheningan yang menakutkan melingkupi lorong utama Kastil Romanov, hanya diselingi napas Rovelet yang memburu ketakutan. Kerat gigi Alexander terdengar jelas saat jemarinya melekat erat pada pelatuk pistol hitam nan dingin itu.
"Siapa yang membayarmu, Rovelet?" desis Alexander, suaranya teramat rendah hingga nyaris menyerupai bisikan maut. "Aku yang membayar gajimu. Dan seluruh harta milikku, kastil ini, bahkan napas yang kau hirup saat ini adalah milik istriku! Kau berani menyebutnya orang asing yang tiba-tiba datang?"
"T-Tuan... mohon... maafkan saya..." cicit Rovelet. Air mata ketakutan akhirnya merembas keluar dari balik kacamata tebalnya, membasahi pipinya yang kuyu.
CLACK!
Alexander menarik bagian atas senjatanya, mengokang peluru ke dalam sarang. Bunyi logam yang beradu itu membuat Rovelet terkulai lemas di lantai, berlutut pasrah membenturkan dahinya ke ubin marmer.
"Raph," panggil Alexander tanpa mengalihkan pandangannya.
"Saya, Tuan," sahut Raphael yang berdiri tegap dua langkah di belakangnya.
"Seret dan usir dia dari kota Seradam. Aku tak mau melihat apalagi sampai mendengar namanya!" perintah Alexander mutlak.
"Baik Tuan Muda!" Raph membungkuk hormat.
Ia berjalan mendekati Rovelet, menyorot mata sang perawan tua itu dingin. Rovelet berdiri dengan lutut bergetar.
Rudolph dan Char bernapas lega, tak mendengar suara letusan senjata.
Pria tua itu mengelus dadanya, mengingat kejadian waktu itu pun di luar dugaannya. Karena seingatnya. Alexander tak ada belas kasihan sama sekali. Jika ia tak suka, maka yang tak dia sukai akan dihilangkan saat itu juga.
Matanya kembali menatap lantai empat di mana kamar Alexander berada.
"Kau merubah segalanya sayang," gumamnya senang.
Tak lama, pintu lift terbuka, di sana Rudolph melihat wajah basah Char dan bibirnya yang cemberut. Ia mengerutkan keningnya. Sementara Hidla yang menenangkan majikannya tampak menahan senyum.
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu!" sentak Rudolph tak suka hingga membuat Hilda terkejut bukan main dan membuat lengkungan di bibirnya langsung berubah jadi mengerut ketakutan. Hilda menjawab ketakutan ...
"Ti-tidak....."
"Grandpa ... Aku gendut ... Huwaaa!" rajukan manja keluar dari mulut Char.
Rudolph terkisap, terlebih Char mendatanginya lalu memeluknya dan menangis di dadanya.
"Huuuu ... uuuu ... uuu!"
Rudolph menepuk-nepuk punggung cucu mantunya dengan canggung, sementara matanya melotot tajam ke arah Hilda yang merapat ke dinding karena panik.
"Astaga, Char... Kakek pikir ada penyusup atau musuh yang menyerang!" ujar Rudolph dengan napas terengah, separuh lega dan separuh gemas. "Cuma karena naik berat badan, kau sampai menangis begini?"
"Bukan cuma naik, Grandpa! Tujuh kilo dalam seminggu!" tangis Charoen kian pecah di dada Rudolph.
"Aku tak mau jadi bola menggelinding....."
Mendengar rengekan Char membuat Rudolph tak bisa menahan tawanya. Hal itu makin membuat Char menangis keras.
Lalu sebuah langkah cepat terdengar dari luar. Pintu terbuka secara keras, wajah Alexander terlihat tegang dengan napas memburu.
Lalu mata kelabunya menatap wajah basah istrinya. Rahangnya langsung mengeras seketika terlebih mendengar suara tawa kakeknya.
"Siapa yang membuatnya menangis dan malah menertawainya!" seruan keras Alexander menghentak, tawa Rudolph seketika berhenti mendadak. Mulutnya yang terbuka langsung menutup cepat. Ia menelan ludah.
Char yang masih sedih langsung mendekati Alexander seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
'Sayang.... hiks ... hiks ... aku gendut.....'
Mata kelabu Alexander yang memerah karena marah tiba-tiba mengerjap lucu saat mendengar aduan istrinya.
"Apa?"
"Huwaa ... Sayang ... aku gendut. Satu hari satu kilo. Aku baru menikah denganmu tujuh hari lalu, tubuhku mengembang seperti roti ...."
Alexander memperhatikan bentuk tubuh istrinya yang memang ada perubahan di beberapa tempat. Terutama bagian dada, lengan dan pipinya. Ia bukan dokter, tetapi bentuk tubuh Char bukan seperti orang gendut kebanyakan.
"Sayang," ujarnya lembut.
"Aku mau diet!" putus Char.
"Kita periksa dulu ya," ujar Alexander.
"Sayang, aku ini gendut. Bukan sakit!" protes Char.
"Sayang, kau tidak gendut. Berat dan tinggimu sudah sesuai. Kurang malahan!" sahut Alexander menenangkan istrinya.
"Tapi tujuh kilo ...."
"Baiklah, kita harus konsultasi dengan dokter ya, biar kamu tahu apa saja yang dilakukan agar berat badanmu ideal," ujar Alexander kembali menenangkan Char. Wanita itu mengangguk setuju.
"Kalau begitu. Raph!" panggil Alexander pada ajudannya.
"Saya Tuan!"
"Telepon Livia, suruh kemari memeriksa istriku!" perintah Alexander.
"Baik Tuan!"
Dua puluh menit berlalu, Char berada di kamarnya. Ia baru diperiksa oleh dokter keluarga.
Perlahan ia mengusap perutnya yang rata.
"Aku hamil?"
Sementara di lantai bawah, Rudolph langsung berteriak-teriak kesenangan mendengar kabar baik itu.
"Aku punya cicit!"
Livia tersenyum, Alexander gegas naik ke atas berlari ke kamarnya. Rudolph kembali berteriak.
"Alex ... Ada lift!"
Livia menatap pria yang tadi berlari ke atas.
'Kamu kok makin tampan setelah menikah ya?' gumamnya memuji dalam hati.
'Tapi sayang ... istrimu tidak layak sekali.' lanjutnya bergumam menyayangkan.
Bersambung
Dih ... Ada Grace versi dua nih?
Next?
pengen nabok rasanya biar otak si Grace sedikit berfungsi
char lucu
makin seru n penasaran