Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7_Awal penderitaan (bagian 2)
Aku membuka mataku perlahan. Pandanganku masih kabur.
"apa yang terjadi??"
Pemandangan tebing yang sangat dalam menganga di atasku, sampai cahaya matahari tidak bisa masuk ke dasarnya. Gelap. Lembab. Pengap.
"ahh aku ingat.. aku dilempar oleh bos bandit itu ke sini"
Aku berusaha bangun dengan tangan gemetar.
"aduhh.. sakit.. sakit.."
*Nampaknya aku beruntung bisa selamat dari ketinggian itu* aku melihat ke sekitar dengan napas pendek.
Tanganku gemetar dengan hebat setelah melihat banyak sekali darah bercucuran dimana-mana, mengering di batu.
"kenapa ada banyak sekali darah di tempat ini??"
*GRARR*
Suara geraman berat menggema dari kejauhan, membuat dinding gua bergetar pelan.
Aku menutup telingaku dengan erat, jantungku langsung meloncat.
"suara monster?? Jangan-jangan tempat ini adalah.. lembah kehampaan?!"
_Jantungku berdetak kencang, seluruh tubuhku gemetar karena ketakutan. Apa yang terjadi?? Bagaimana bisa aku berada di tempat seperti ini!? Tempat yang bahkan para ksatria pun takut masuk!_
Aku mulai berjalan pelan walaupun kakiku tidak berhenti gemetar, lututku lemas.
"ini bohong kan.. ini pasti bohong" aku melihat ke arah kanan dan kiri ku dengan panik "tapi dengan bau bangkai dan tumpukan tulang belulang monster, juga dengan banyaknya bekas pertarungan disini.."
"Tidak salah lagi.. aku berada di tempat yang tidak seharusnya orang tidak berbakat seperti ku berada"
Tanpa sengaja aku melihat aliran sungai dan juga didekatnya ada sebuah gua kecil yang gelap, tanpa pikir panjang aku pun langsung memasuki gua itu untuk bersembunyi dan memulihkan diriku.
Aku pun duduk bersandar setelah masuk ke dalam gua tersebut, napasku masih memburu.
"tapi ini aneh?? Bagaimana bisa aku tidak terluka setelah jatuh dari tempat setinggi itu?? Harusnya ada bagian anggota tubuhku yang hilang atau lebih buruknya nyawaku melayang"
"Sekarang aku harus berpikir.. tempat ini memiliki suhu yang rendah, aku harus menemukan cara untuk menghangatkan diri" aku langsung memunguti ranting-ranting kering yang ada di dekat gua dan langsung menyusunnya untuk membuat api unggun kecil untuk menghangatkan tubuh yang mulai menggigil.
Setelah itu aku langsung menggesekkan dua batu untuk membuat api, walaupun itu perlu waktu yang lama dan aku bahkan harus merobek sedikit pakaianku yang sudah compang-camping untuk perantara api tersebut.
*Krek... krek... krek...*
*WHOOSS*
Api pun muncul kecil, bergetar tertiup angin gua. Aku pun langsung menjulurkan kedua tanganku yang membeku ke arah api unggun tersebut.
_untung saja aku pernah diajari cara membuat api dengan ibu_
_Air mataku menetes tanpa sadar. Panas di ujung mata._
_Ibu... Aku sangat merindukanmu..._
Tanpa sadar aku pun tertidur pulas karena lelah, karena monster yang tinggal di tempat ini adalah Orc dan goblin, aku tidak perlu khawatir tentang Orc yang mungkin saja menyerangku saat tertidur, masalahnya hanya para goblin yang licik.
Mataku terbangun karena dingin. Suara monster menggema dimana-mana, bau yang menusuk dari bangkai monster yang menyengat juga mulai tercium menusuk hidung.
_orang yang memiliki bakat pasti akan berdoa kepada Dewi agar mereka dapat selamat, tapi.. aku berbeda, aku tidak akan pernah meminta pertolongan Dewi sialan yang membuat hidupku hancur itu_
*KRUKK.. KRUKK*
"Ouh iya.. aku belum makan selama 2 hari" aku memegang perutku yang berbunyi keras "sepertinya aku hanya bisa bertaruh apakah sungai itu ada ikan atau tidak"
Aku pun keluar dari goa untuk menangkap ikan, aku mulai masuk ke sungai yang dinginnya menusuk tulang dan tanganku mulai meraba-raba bebatuan di dalam air untuk mengecek apakah ada ikan atau tidak, tanpa butuh waktu yang lama aku berhasil menangkap seekor ikan kecil yang bersembunyi di sela-sela batu.
"Akhirnya.. dengan ini aku bisa merasakan makanan setelah semua yang aku lalui" sambil mengangkat ikan tersebut tinggi dengan senyum lega yang pertama setelah sekian lama.
*DUMM.. DUMM*
Suara langkah kaki yang berat mulai mendekat ke arahku, membuat air sungai bergetar.
"jangan-jangan suara langkah kaki itu milik.." aku menoleh ke belakang perlahan dan melihat seekor Orc yang sedang melihatku dengan tatapan lapar, air liurnya menetes.
_Jantungku berdetak sangat kencang, nafasku tidak beraturan, mataku membelalak. Ini bercanda kan.. seekor Orc, mana mungkin orang tanpa bakat seperti ku bisa melawannya..._
*GRAUUU*
Orc itu mulai mengangkat tangannya yang besar, aku langsung berlari tanpa pikir panjang, tanpa menunggu lama dia memukul ke tempat aku berada dengan keras sampai tanah di sekitarnya hancur berantakan.
*BRAKK!!*
Lalu dia menoleh ke arahku dan mulai mengejarku, aku yang sangat panik pun terus berlari tanpa henti, lalu aku mengarahkan tanganku ke arahnya dengan putus asa.
"Fireball.."
Namun tidak terjadi apa-apa. Hanya angin dingin.
Aku pun mulai berteriak menyebutkan semua mantra sihir yang kutahu karena panik dan putus asa.
"Magic Accel... Sihir Roh... Defender strength.. percuma aku memang tidak berbakat dalam hal seperti ini" aku menggertakkan gigiku sambil memejamkan mataku, air mata hampir keluar.
Lalu saat aku memejamkan mataku, tanpa sadar aku pun tersandung batu dan terjatuh keras.
*BRUKK*
"Sakit.. hahh... Aku harus lar-" tangan Orc itu sudah ada di samping tubuhku, bayangannya menutupi tubuhku.
*BOOKK*
Dia memukulku dengan sangat keras sampai tubuhku terpental ke arah dinding lembah yang kasar.
*BROOKK*
aku membuka sedikit mataku dengan napas terputus-putus, dan melihat lengan kananku yang hilang, putus, sambil berlumuran darah dan tubuhku yang hancur karena pukulan tadi.
"siall.. aku tidak ingin mati.. aku tidak ingin mati.. kenapa?? Kenapa?? Aku hanya ingin hidup damai dengan orang-orang yang ku sayangi.. Apa sesulit itukah?? Dasar Dewi sialan" aku memejamkan mataku dan melihat Orc itu yang mulai berjalan ke arahku dengan langkah berat, siap menghabisiku.
Tiba-tiba saja aku membuka mataku lebar karena kesakitan yang tidak tertahankan.
"arghhh... Sakit!! Sakit!! Berhenti!!" Aku melihat luka di tubuhku mulai menutup sendiri dan lenganku yang tumbuh kembali bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa, seperti tulangku ditarik paksa.
*Kretak... Krek...*
Orc itu terdiam sebentar melihatku, matanya membelalak, dan mulai melangkah mundur seperti sedang ketakutan melihat sesuatu.
Lalu dari dalam tubuhku, mana ku mulai keluar dari tubuhku, hitam pekat, dan memadat di tanganku dan membentuk sebuah pedang panjang yang berdenyut.
"a-apa yang ter-ja-di" aku berdiri perlahan menghadap Orc tersebut dengan tatapan dingin yang bukan milikku.
_Apa inikah salah satu kekuatan ku yang dikatakan orang itu??_ Aku mengangkat, dan mengarahkan pedang ku ke arah Orc tersebut, tanganku masih gemetar.
_Jangan terlalu banyak berpikir dalam kondisi seperti ini_ aku mengambil nafas dalam-dalam yang berat _pokoknya.. aku harus tetap.. hidup_ lalu aku mulai mengambil kuda-kuda yang diajarkan ibuku dulu, kaki gemetar tapi kokoh.
Lalu aku dan Orc itu saling bertatap-tapan dengan aura membunuh yang mulai keluar dari masing-masing dari kami.